
Bintang duduk di sofa panjang bersebelahan dengan Tea sambil memandang Ami yang tengah disuapi oleh Ahmad.
"Bun, aku mau tidur di pangkuanmu?" tanya Bintang memandang Tea.
"Sini, tidurlah!" Tea tersenyum menepuk-nepuk kedua pahanya.
"Terima kasih, Bunda!"
"Sama-sama," jawab Tea tersenyum.
Dengan cepat Bintang tidur di dalam pangkuan Tea merasakan kakinya yang begitu pegal akibat berjalan terlalu jauh saat bersama Vano tadi.
"Sayang, kamu tidak mandi dulu?" tanya Tea pada Bintang sambil membelai lembut kepala putri tercintanya itu.
"Besok saja, Bun. Hari ini aku capek banget dan mau tidur saja!"
"Walaupun capek tapi kamu senang kan?" goda Tea.
"Iya, sih," jawab Bintang dengan tersenyum lebar.
"Kamu harus sabar, suatu hari nanti Vano pasti akan menjadi milikmu."
"Aamiin."
Bintang mengamini apa yang diucapkan oleh Tea dengan mata terpejam. Tidak lama setelah itu, ia sudah terlelap dalam tidurnya karena terlalu kelelahan.
***
Seperti biasa, Bintang berangkat mengajar dan pagi ini ia berangkat dari rumah sakit menuju sekolahan dengan naik ojek.
Sesampainya di sekolah Bintang bergegas masuk ke dalam ruang guru, dilihatnya Vano sudah datang dan sedang sibuk membaca buku.
"Pagi, Kak," sapa Bintang dengan tersenyum.
Vano mendongakkan kepalanya saat ia mendengar sapaan dari bintang.
"Pagi juga, Bi," jawab Vano membalas senyuman Bintang.
"Tumben Kakak sudah ada di sekolah?" tanya Bintang sambil duduk di kursi kerjanya.
"Tentu saja aku sudah ada di di sekolah inikan sudah pukul tujuh dan anak-anak sebentar lagi akan masuk," jawab Vano dengan santainya.
"Astaga,ini itu baru pukul enam, Kak!" ucap Bintang dengan terkekeh mendengar jawaban dari Vano.
Vano langsung melihat jam yang melingkar di tangannya saat Bintang mengatakan jika sekarang ini masih pukul enam pagi.
"Iya, kamu benar Bi, sekarang masih pukul enam. Pantas saja tadi aku sampai sini sekolahannya masih sepi!" ucap Vano tersenyum dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Memangnya Kak Vano tadi mikirin apa sih, sampai salah melihat jam?" tanya Bintang memandang Vano.
"Sebenarnya tidak ada yang dipikirin, tapi mungkin jam dinding di kamarku mati, karena tadi aku lihat jam di kamar," jelas Vano.
"Ah, Kak Vano ini ada-ada saja," ucap Bintang dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh, ya, Bi, kapan Nenek bisa pulang dari rumah sakit?"
__ADS_1
"Nanti sore Nenek sudah boleh pulang."
"Syukurlah … tapi apa kamu mau menjemputnya di rumah sakit?" tanya Vano dengan mengerutkan keningnya.
"Tidak Kak, aku mau bersihin rumah dan masak untuk menyambut kedatangan mereka!"
"Boleh aku membantumu?"
"Dengan senang hati," jawab Bintang tersenyum.
"Baiklah, nanti kita pulang bareng."
"Oke."
Pukul tujuh lewat lima belas menit, Bintang masuk ke dalam ruang kelas enam dan mulai mengajar mereka.
Tidak terasa lonceng pun berbunyi, dengan segera Bintang mengakhiri pelajarannya dan menyuruh anak-anak beristirahat sebelum jam pelajaran kedua dimulai.
Semenjak Ami dirawat di rumah sakit Bintang tidak sempat pulang ke rumah dan membawa bekal. Maka dari itu ia selalu makan di kantin.
Bintang tersenyum melihat Vano ada di kantin dan sedang asik mengobrol dengan para guru yang lain.
"Bolehkah aku ikut duduk di sini?" tanya Bintang setelah ia ada di samping Vano.
"Duduklah, Bi!" perintah Vano tersenyum memandang Bintang.
"Oke, terima kasih!" Bintang segera duduk di depan Vano, kemudian memesan makanan kesukaannya.
"Van, sepertinya kamu dekat sekali dengannya?" tanya seorang guru laki-laki yang sebaya dengan Vano.
"Tentu saja aku dekat dengannya, Bintang itukan sahabat aku dari kecil," jelas Vano.
"Jangan mengada-ada, Aldo! Aku tidak mungkin menghianati Havivah!" bisik Vano.
"Kalian membicarakan apa sih? Dari tadi bisik-bisik terus?" tanya Bintang dengan mengerutkan keningnya.
"Tidak, ini cuma urusan pria," jawab Aldo tersenyum.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi," jawab Bintang sambil mengambil makanan yang baru saja disajikan.
"Sudah, ayo kita makan jangan banyak bicara," ajak Vano.
"Oke," jawab Bintang dan Aldo secara bersamaan.
Mereka bertiga mulai memakan makanannya dengan lahap tanpa berbicara lagi.
Usai makan mereka bertiga kembali ke meja kerja masing-masing dan bersiap untuk mengajar lagi.
Kini jam pulang sekolah telah tiba, Bintang menghampiri Vano yang tengah duduk di koridor sekolah menunggunya.
"Maaf, Kak, kalau lama menunggu," ucap Bintang yang sudah ada di dekat Vano.
"Tidak papa, ayo kita pulang," ajak Vano berdiri dari duduknya.
Bintang menganggukkan kepalanya kemudian ia berjalan bersama dengan Vano.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan menuju parkiran motor, sesampainya di sana Vano segera mengambil motornya dan menyuruh Bintang segera naik.
Setelah memastikan Bintang naik dengan benar, Vano segera menjalankan motornya menuju rumah Ahmad.
Sesampainya di rumah bintang turun dari motor dan mengajak Vano masuk ke dalam rumah.
"Kak, tunggulah disini dulu aku akan mengganti pakaianku," ucap Bintang setela mereka ada di ruang tamu.
"Iya," jawab Vano langsung duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Bintang melangkah pergi meninggalkan Vano dan masuk ke dalam kamar.
Dengan cepat Bintang berganti pakaian rumahan, kemudian ia kembali keluar menghampiri Vano.
"Kak, Vano mau aku buatkan apa?"
"Tidak perlu, Bi! Aku kemarikan untuk membantumu beberes rumah, bukan untuk bermain!" jawab Vano tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita mulai," ajak Bintang.
"Oke," jawab Vano berdiri dari duduknya.
Kini Bintang mengambil sapu dan kain pel untuk membersihkan lantai, karena semenjak Ami dirawat di rumah sakit Bintang tidak sempat beberes rumah dan Ahmad juga tidak pernah pulang.
Bintang menyapu lantai setelah itu baru Vano yang mengepel lantainya.
Usai mengepel dan beberes rumah, mereka melanjutkan dengan memasak karena ini sudah sore.
"Bi, kamu mau masak apa?" tanya Vano yang melihat Bintang membongkar isi kulkasnya.
"Aku mau masak, ayam goreng dan tumis kacang panjang saja Kak, soalnya hanya itu saja yang aku pelajari dari Nenek," jawab Bintang tersenyum lebar.
"Baiklah, kalau cuma itu aku juga bisa jadi aku akan membantumu memasaknya dan aku juga akan mengajarimu membuat sup iga."
"Oke."
Bintang duduk di kursi sambil memotong bahan sayuran yang akan dimasak. Sedangkan Vano mencuci daging ayam dan iga sapi.
Sambil bercanda Vano dan Bintang memasak bersama.
Butuh waktu satu jam untuk mereka berdua bisa menyelesaikan masakannya dan kini semuanya sudah siap di meja makan.
"Kak, nanti kau harus membawa makanan ini pulang untuk orang tua Kakak!" perintah Bintang, setelah ia selesai merapikan dapurnya.
"Tidak perlu, Bi," tolak Vano.
"Kenapa? Inikan Kak Vano juga ikut memasak?"
"Iya, tapi aku cukup memakan disini saja dan tidak harus membawanya pulang."
"Baiklah, sekarang Kak Vano mau makan apa?" tanya Bintang dengan memandang Vano.
"Sup aja deh! Kayaknya seger tuh!" jawab Vano dengan memandang sup iga yang terlihat nikmat.
___
__ADS_1
Bersambung….