Cinta Bintang

Cinta Bintang
Kedatangan Havivah


__ADS_3

"Siapa yang mematahkan hati kamu, Bi?" tanya Aldo dengan mengerutkan keningnya.


"Kak Vano," jawab Bintang dengan menundukkan kepalanya.


"Apa? Vano?" seru Aldo dan Winda secara bersamaan dengan membulatkan matanya.


"Iya," jawab Bintang menganggukkan kepalanya.


"Astaga, apa selama ini kamu tidak tau kalau Vano sudah punya tunangan?" tanya Aldo sambil memakan makanannya yang baru saja disajikan.


"Tidak!" jawab Bintang dengan menggelengkan kepalanya.


"Tuh, kan. Aku sudah duga kalau kamu itu suka sama dia," ucap Winda.


"Aku tuh heran sama Vano. Diakan sudah punya tunangan, tapi dia tidak membatasi diri dengan wanita dan tidak pernah membicarakan tunangannya itu dengan orang lain. Sebenarnya dia itu cinta nggak sih sama Havivah?!" Aldo sedikit kesal dengan sikap Vano.


"Jika dia tidak mencintai tunjangannya, aku tidak akan patah hati dan menyerah untuk mendapatkan cintanya."


"Sudahlah, Bi. Lupakan saja dia! Dulu aku juga mencintai nya, tapi semenjak dia bertunangan, aku mulai melupakannya dan bukan hanya kamu atau aku saja yang patah hati karenanya. Banyak gadis lain yang patah hati karena cintanya ditolak oleh dia," ucap Winda panjang lebar.


"Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya, jika dia cinta pertamaku dan cinta dimasa kecilku," ucap Bintang dengan begitu sedih.


"Sabar Bi, mungkin dia bukan jodohmu dan suatu hari nanti kamu pasti akan menemukan cinta sejatimu," hibur Aldo dengan mengusap-usap punggung Bintang.


"Aldo benar, Bi. Lebih baik fokus saja dengan karir mumpung kita masih muda, daripada memikirkan cinta." 


"Rasanya sulit sekali Win, menerima semua kenyataan ini," lirih Bintang dengan mata yang berkaca-kaca.


Winda berdiri dan bertukar tempat duduk dengan Aldo kemudian ia memeluk Bintang.


"Jangan sedih, kami akan selalu ada untukmu," ucap Winda dengan mengusap lembut punggung Bintang.


Bintang melepaskan pelukan Winda dan mengusap air mata yang sudah jatuh tanpa dapat ia tahan lagi.


"Terima kasih kalian sudah ada di dekatku saat aku tengah terluka," ucap bintang dengan memandang Aldo dan Winda bergantian.


"Sama-sama, Bi!" jawab Winda dan Aldo secara bersamaan dengan tersenyum.


Sekarang ayo kita makan nanti keburu dingin dan tidak enak," ajak Aldo, tersenyum.


"Ini memang makananya sudah dingin, Do!" jawab Winda dengan memutar bola matanya malas.


Mereka mulai memakan makanannya dengan lahap kecuali Bintang. Semenjak mengetahui Vano punya kekasih, ia jadi tidak nafsu makan dan hanya bersedih.


"Boleh aku ikut duduk disini?" tanya Vano yang tiba-tiba saja ada disamping Aldo.


"Duduklah! Tumben kamu telat keluar dari kelas?" tanya Aldo memandang Vano.


"Tadi aku memberi materi tambahan untuk mereka," jawab Vano tersenyum.


"Aku sudah selesai," ucap Bintang sambil mengelap mulutnya. 

__ADS_1


"Tumben makananmu tidak habis, Bi?" tanya Vano yang melihat makanan Bintang masih banyak.


"Perut aku mules, jadi nggak bisa menghabiskannya!" jawab Bintang dengan memegang perutnya.


"Buruan sana ke toilet, nanti makanannya aku yang bayar!" Perintah Aldo.


"Terima kasih, aku ke toilet dulu!" pamit Bintang.


"Bi, aku ikut ke toilet!" ucap Winda sambil berdiri dari duduknya.


"Ayo."


"Do, nanti bayarin dulu makananku!" pinta Winda.


"Beres," jawab Aldo tersenyum mengacungkan jempol tangannya.


Mereka keluar dari kantin menuju ruang guru dan bukan ke toilet, karena itu hanya alasan Bintang untuk menghindari Vano.


Vano hanya diam memandang kepergian Bintang, entah kenapa ia merasa aneh dengan sikap Bintang.


***


Vano berdiri di depan cermin dengan penampilannya yang kasual membuatnya terlihat semakin tampan dan menarik.


Sesuai dengan rencana kemarin, Vano akan menjemput Havivah di bandara, karena hari ini tunangannya itu akan tiba di Indonesia pukul tiga sore.


Setelah memastikan penampilannya sudah terlihat rapi. Ia segera keluar dari kamar, karena ini sudah pukul dua siang.


"Ciee … yang mau ketemu calon istri, wangi bener …," ledek Harun yang duduk di kursi teras, dengan terkekeh.


"Iya deh, sana berangkat!" perintah Harun.


"Iya, tapi kemana Ibu?" tanya Vano. 


"Dia masih pengajian," jawab Harun sambil mengambil cangkir kopinya di meja.


"Ya sudah, kalau gitu aku pergi dulu," pamit Vano.


"Ya, pergilah!" 


Vano melangkah meninggalkan Harun. Ia berjalan kaki hingga sampai jalan raya, untuk menunggu taksi yang lewat.


Tidak lama taksi yang ia tunggu pun lewat. Dengan cepat Vano melambaikan tangannya agar taksi tersebut berhenti.


Saat ini Vano sudah berada di dalam taksi yang akan membawanya ke bandara.


Sesampainya di bandara, Vano bergegas turun dari taksi dan membayarnya, setelah itu ia masuk ke dalam bandara dan duduk di ruang tunggu.


Tiga puluh menit sudah Vano menunggu kedatangan Havivah. Namun tunangannya itu belum juga menampakkan batang hidungnya dan itu membuatnya cemas.


Vano kembali melihat jam tangannya, ia semakin cemas dan khawatir setelah lewat satu jam dari jadwal penerbangan yang dikatakan oleh Havivah kemari.

__ADS_1


'Ya Tuhan, lindungilah Calon istriku dari segala marabahaya yang akan menimpanya,' batin Vano.


Lima belas menit kemudian.


"Mas Vano!" teriak seorang wanita cantik dari pintu keluar untuk para penumpang yang telah datang.


Vano menoleh dan tersenyum melihat Havivah yang sudah datang. Ia pun segera menghampirinya.


"Akhirnya kamu datang juga, Hav! Aku tadi sempat mencemaskanmu!" ucap Vano segera memeluk Havivah.


"Jangan cemaskan aku, yakinlah aku pasti baik-baik saja!" ucap Havivah dengan menikmati pelukan hangat Vano.


Mereka terdiam, saling berpelukan, menumpahkan kerinduan yang selama ini telah  terpendam. 


Setelah puas melepaskan rindu, vano melepaskan pelukannya.


"Ayo kita pulang Ayah dan Ibu kamu pasti sudah cemas menunggu," ajak Vano, menggandeng tangan Havivah sambil mengambil koper.


Saat ini mereka sudah ada di dalam taksi dengan tangan saling menggenggam.


"Hav, tadi kamu kok terlambat datang? Ada apa?" 


"Biasalah, delay," jawab Havivah, sambil menyandarkan kepalanya di pundak Vano.


"tapi kenapa kamu tidak mengabari aku?" tanya Vano dengan mendekap tubuh Havivah.


"Maaf, Mas, baterai ponselku habis," jawab Havivah tersenyum mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Vano.


"Kebiasaan," ucap Vano mentoel hidung Havivah dengan gemas.


Sepanjang perjalanan mereka berdua terus saja saling mendekap sambil berbincang-bincang menceritakan apa saja yang telah mereka berdua alami di tempat tinggal masing-masing.


Tidak terasa, taksi yang mereka tumpangi sudah sampai. Vano dan Havivah pun segera turun.


Mereka berdua berjalan saling bergandengan. Membuat para gadis yang melihatnya cemburu dibuatnya. Namun mereka berdua tidak peduli akan hal itu.


Sesampainya di rumah Havivah, Vano segera mengetuk pintu.


Tidak lama pintu terbuka dan nampak lah ibunya Havivah yang bernama Maya.


Maya segera memeluk Havivah dengan penuh kerinduan.


"Aku sangat merindukanmu, Hav," ucap Maya dengan menitikkan air matanya.


"Aku juga, Ibu," jawab Havivah.


"Sudah, gantian dong, Bu!" ucap Hamit, ayah Havivah yang berdiri di belakang Maya.


Havivah segera melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Hamit.


"Aku sangat merindukanmu, Ayah!" 

__ADS_1


___


Bersambung….


__ADS_2