
"Iya Kak, Alhamdulillah."
"Sekarang naiklah, nanti kita kesiangan sampai sekolahnya," ajak Vano, agar Bintang cepat naik ke atas motornya.
"Iya, Kak!" jawab Bintang tersenyum, kemudian ia naik ke atas motor Vano.
Setelah Bintang duduk dengan benar Vano mulai menjalankan motornya menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah, Bintang langsung turun dari motor sedangkan Vano segera memarkirkan motornya dan mengajak Bintang masuk ke dalam ruang guru.
Sesampainya di meja kerjanya, Bintang bergegas menyiapkan pelajaran yang akan diajarkan pada anak-anak.
"Kak, aku duluan ya?" pamit Bintang setelah ia siap masuk kelas.
"Iya," jawab Vano menganggukkan kepalanya, sambil mengambil buku bahasa Inggris untuk kelas enam.
Bintang keluar dari kantor menuju ruangan kelas lima dan mulai mengajar.
Kini jam istirahat telah tiba, Bintang pun mengakhiri pelajarannya, namu sebelum beristirahat ia terlebih dahulu memberi PR pada mereka.
"Kak Vano, tunggu!" panggil Bintang, kemudian ia berlari kecil menghampiri Vano yang berjalan di depannya.
Vano menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, saat ia mendengar bintang memanggilnya.
"Ada apa, Bi?" tanya Vano setelah Bintang ada di sampingnya.
"Hari ini aku tidak membawa bekal jadi maukah Kakak menemaniku ke kantin?" tanya Bintang penuh harap.
"Boleh, kebetulan aku juga sudah lapar," jawab Vano tersenyum.
Mereka berjalan bersama menuju ruang guru dan meletakan buku pelajarannya di atas meja kerjanya masing-masing.
"Ayo Bi," ajak Vano.
"Iya, Kak!"
Vano dan Bintang keluar dari ruangan menuju kantin sekolah. Sesampainya disana mereka memesan makanan kesukaannya masing-masing.
Kini makanan yang dipesan oleh mereka sudah tersaji di depan mereka.
"Bi, aku lihat setiap kamu makan ada ayam goreng, apa itu makanan favorit kamu?"
"Iya Kak, dari kecil aku suka makan ayam goreng," jawab Bintang tersenyum.
"Oh," Vano mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia mulai makan makananya.
"Kalau Kakak suka makan apa?" tanya Bintang dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Aku apa saja suka, Bi!" jawab Vano tersenyum.
"Wah, enak dong, nanti istri Kakak nggak bingung dalam membuat menu makanan," ucap Bintang dengan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ya ... begitulah! Sekarang makanlah jangan bicara terus, nanti bisa tersedak!"
"Iya, Kak!"
Mereka terdiam menikmati makanan masing-masing. Hingga akhirnya habis tidak tersisa lagi.
__ADS_1
"Ah, aku kenyang," ucap Bintang sambil mengelap mulutnya.
"Ya sudah, ayo kembali mengajar," ajak Vano.
"Baik, Kak. Aku bayar dulu makanannya," jawab Bintang berdiri dari duduknya.
"Biar aku saja yang membayarnya, Bi!"
"Ah, aku jadi malu, karena setiap kali kita makan pasti Kakak yang bayar."
"Tidak apa-apa, Bi!" ucap Vano tersenyum mengusap lengan Bintang.
"Baiklah, tapi lain kali aku yang akan mentraktir Kakak."
"Oke…."
Vano membayar semua makanan yang telah mereka makan, kemudian ia mengajak Bintang kembali ke ruangan.
Sesampainya di ruang guru, Bintang bersiap hendak mengajar kembali.
"Bi, nanti kamu langsung ke rumah sakit apa pulang dulu?"
"Aku langsung ke rumah sakit, Kak! Memangnya kenapa?"
"Tidak, cuma nanti kalau kamu mau langsung ke rumah sakit kita bisa bareng, soalnya aku juga ingin menengok Nenek!"
"Boleh, tapi kemarin Kakak bilang mau datang sama orang tua, apa mereka tidak jadi?"
"Jadi, tapi mereka membesuk Nenek tadi pagi," jelas Vano.
"Oh, baiklah Kak, nanti kita akan berangkat bersama ke rumah sakit. Sekarang aku akan mengajar dulu."
Bintang keluar dari ruangan dan tidak lama kemudian Vano juga keluar menuju kelas.
Usai mengajar, Bintang duduk di meja kerjanya menunggu vano yang masih belum selesai mengajar bahasa Inggris di kelas empat.
Hampir dua jam Bintang menunggu Vano mengajar, karena hari ini Vano ada tiga kelas yang harus diajar, sedangkan Bintang hanya ada dua kelas.
Vano yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersenyum melihat Bintang tertidur pulas di meja kerjanya.
"Bi, bangun," ucap Vano menepuk-nepuk pundak Bintang.
Bintang membuka matanya mendengar suara Vano.
"Oh, maaf Kak, aku ketiduran," ucap Bintang meringis.
"Tidak papa Bi, justru aku yang harusnya minta maaf, karena gara-gara menunggu aku kamu sampai ketiduran."
"Jangan merasa tidak enak, Kak! Ayo kita berangkat!" Bintang berdiri dari duduknya dan memakai tas selempangnya.
"Ya ayo!" Jawab Vano sambil meletakan buku di atas mejanya dan mengambil tas kerjanya yang ada di meja.
Mereka keluar dari ruang guru menuju parkiran motor.
"Ayo, Bi, naiklah!" perintah vano, setelah ia mengambil motornya.
"Baik, Kak!" jawab Bintang, kemudian ia naik ke atas motor Vano.
__ADS_1
Dengan pelan Vano mulai menjalankan motornya menuju rumah sakit. Dalam perjalanan mereka berdua menikmatinya sambil berbincang-bincang.
Namun sebelum sampai rumah sakit, motor Vano tiba-tiba saja mesinnya mati dan tidak bisa dinyalakan lagi.
"Kak, kenapa motornya?" tanya Bintang sambil turun dari motor.
"Entahlah Bi, sepertinya motorku mogok!" jawab Vano sambil terus menyalakan motornya.
"Apa bensinnya habis?"
"Tidak, Bi, tadi aku baru isi bensin! Sebentar, biar aku cek dulu!"
"Baik, Kak!"
Selagi Vano memeriksa motornya, Bintang duduk di pinggir trotoar sambil memandang wajah pria yang sangat ia sayangi dan cintai dari kecil.
'Kenapa ya, semakin hari Kak Vano semakin terlihat tampan. Bikin gemes aja dan membuatku makin cinta!' batin Bintang dengan senyum-senyum sendiri, tanpa Vano mengetahuinya.
Cukup lama Vano mengotak-atik motornya dan akhirnya ia menemukan apa yang membuat motornya itu mogok.
"Bi, ayo kita jalan!" panggil Vano.
"Memangnya motornya sudah jadi, Kak?" tanya Bintang sambil menghampiri Vano.
"Busi motornya mati dan harus diganti!" jawab Vano.
"Terus dimana mengganti businya?"
"Kita harus cari toko yang menjual peralatan motor atau ke bengkel," jelas Vano.
"Oh, yasudah ayo kita berangkat!"
"Maaf ya, Bi, kamu jadi jalan kaki panas-panas seperti ini!" ucap Vano yang merasa tidak enak dengan Bintang.
"Tidak apa-apa, Kak! Ini sudah sore sebentar lagi panasnya akan hilang," jawab Bintang tersenyum.
"Ya sudah, ayo kita jalan," ajak Vano.
Vano mendorong motornya sedangkan Bintang berjalan di di samping Vano.
"Terima kasih Tuhan, kau telah memberikanku kesempatan untuk bisa berlama-lama dengan, Kak Vano,' batin Bintang.
Cukup jauh mereka berjalan, namun belum juga menemukan bengkel atau toko yang menjual peralatan motor.
"Bi, apa kamu capek?" tanya Vano yang melihat keringat bintang bercucuran di dahinya.
"Tidak, Kak! Aku cuma haus saja," jawab Bintang tersenyum.
"Itu didepan ada penjual es, kita bisa beli disana sambil istirahat," ucap Vano menunjuk penjual es degan yang ada di depan.
"Iya, Kak!" jawab Bintang menganggukkan kepalanya.
Sesampainya di penjual es Vano bergegas memarkirkan motornya, kemudian ia memesan dua es.
Bintang dan Vano duduk di kursi yang sudah disiapkan sambil menunggu es yang masih diracik.
___
__ADS_1
Bersambung...