
Kini Vano dan keluarganya makan bersama dengan keluarga Bintang.
Usai makan mereka kembali ke ruang tamu dan berbincang-bincang. Hingga pukul sebelas malam keluarga Vano baru berpamitan pulang.
Saat ini Bintang sudah berada di kamarnya, tengah berbaring terlentang sambil memandang cincin tunangannya dengan Vano.
Bintang begitu bahagia bisa menikah dengan Vano, meski ia tau orang yang dicintai itu tidaklah mencintainya. Namun ia bertekad akan terus meraih cintanya meski itu akan sulit apalagi saat ini hati Vano tengah terluka.
"Aku harap Tuhan segera membuka pintu hati kak Vano untukku," gumam Bintang masih dengan memandang cincin di jari manisnya.
Pukul dua dini hari mata Bintang mulai mengantuk, dengan perlahan ia pun tertidur pulas.
***
Hari ini Bintang dan Vano tidak berangkat mengajar, karena besok mereka akan menikah.
Kini rumah Vano sudah sangat ramai dengan datangnya para kerabat sedangkan rumah Ahmad masih terlihat sepi, karena kerabat Kenzo baru akan tiba nanti sore bersama dengan Ratih.
Saat ini Bintang tengah duduk di kamarnya bersama dengan Winda, karena tadi setelah mengajar Winda langsung ke rumah setelah mendapatkan kabar dari sahabatnya itu.
"Bi, aku tidak menyangka jika kamu akan menika dengan Vano secepat ini dan aku masih tidak percaya jika Havivah menghianati cinta Vano," ucap Winda yang duduk di atas tempat tidur bersama mereka.
"Aku juga tidak percaya, Win, tapi ini semua nyata dan besok aku akan menikah dengannya! Aku benar-benar bahagia sekali, karena Tuhan telah menjawab doaku!" ucap Bintang, tersenyum bahagia.
"Ya, kamu memang orang yang beruntung dalam mendapatkannya," ucap Winda tersenyum.
"Eh, iya, mana Aldo? Kok tumben dia nggak ikut?" tanya Bintang dengan memandang Winda.
"Dia kerumah Vano, Bi!" jawab Winda
"Tumben sekali tuh anak kesana! Biasanya aja dia ngekor sama kamu!" ucap Bintang dengan terkekeh.
"Katanya sih ada urusan sama Vano, tapi aku nggak tau sih urusan apa!"
"Sudah tidak perlu kepo, itu urusan para pria! Sekarang lebih baik bantu aku masukin baju-baju aku ini dalam koper, karena kata kak Vano besok setelah kita menikah aku akan tinggal di rumahnya!" jelas Bintang sambil turun dari tempat tidur dan mengambil kopernya.
"Oke, boss!" jawab Winda tersenyum, kemudian ia juga ikut turun dari tempat tidur.
Bintang mengambil beberapa pakaian dan barang yang menurutnya sangat penting, sedangkan sebagian barang yang lain ia tinggal.
"Bi, apa kamu tidak membawa semuanya?"
"Tidak, Win! Nanti kalau aku membutuhkan barangku yang lain aku ambil disini saja!"
"Oh, begitu?"
__ADS_1
Mereka berdua memasukan barang-barang yang akan dibawa. Setelah selesai Bintang dan Winda kembali duduk di atas tempat tidur.
"Bi, apa kamu tidak membeli lingerie, untuk malam pertamaku?" tanya Winda dengan menahan tawanya.
"Idih, ngapain beli kayak gituan?" jawab Bintang dengan bergidik ngeri.
Winda tidak dapat lagi menahan tawa, melihat ekspresi Bintang.
"Jangan menertawakan ku! Aku tidak mau beli itu, karena takut nanti kak Vano akan kabur dariku di malam pertama!"
"Hahaha… dia tidak akan kabur darimu, tapi malah akan memakanmu sampai pagi!" ucap Winda dengan tertawa hingga mengeluarkan air mata.
"Huh, memangnya aku ini makanan yang bisa dimakan sampai pagi!" ketus Bintang, memutar bola matanya jengah.
"Hay, kau jangan salah, tidak akan ada laki-laki yang bisa menahan gituan saat ia melihat tubuh wanita yang indah!"
"Sudahlah, jangan bahas itu, lebih baik kita bahas yang lain saja!'
"Oke!"
Mereka berdua ngobrol kesana-kemari hingga tidak terasa hari sudah mulai sore dan Winda pun berpamitan pulang.
Setelah mengantar Winda hingga ke depan teras, Bintang segera masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu bersama Ami dan Ahmad. Namun baru saja ia duduk tiba-tiba saja terdengar pintu diketuk dari luar. Dengan segera Bintang membukanya.
"Oma…" Bintang langsung memeluk Ratih dengan erat.
"Ya ampun, aku tidak menyangka jika besok cucuku akan menikah!" ucap Ratih tak kalah erat memeluk Bintang.
"Oma, kami juga ingin memeluk Kak Bintang!" rengek Sena yang ada di belakang Ratih.
"Iya Oma, gantian dong!" sambung Rafa.
"Baiklah," jawab Ratih sambil melepaskan pelukannya.
Dengan segera Sena dan Rafa memeluk Bintang, melepaskan rasa rindunya.
"Sudah kangen-kangenannya, sekarang ayo kita masuk dulu," ujar Ahmad yang sudah berdiri di belakang Bintang bersama Ami.
Bintang melepaskan pelukan kedua adiknya dan menyuruh mereka semuanya masuk.
Kini semuanya sudah berkumpul di ruang tamu hingga kursi yang ada di ruang tamu tidak muat dan akhirnya Tea membentangkan kasur lipat untuk duduk.
Dengan memakan cemilan, mereka berbincang-bincang dengan sangat ramai.
"Nyonya Ratih, sebaiknya Anda istirahatlah dulu di kamar," tutur Ami setelah cukup lama mereka saling berbincang.
__ADS_1
"Terima kasih, Nyonya!" jawab Ratih tersenyum.
"Sama-sama, Nyonya. Mari saya antar!" ajak Ami.
"Baik, Nyonya!" Ratih berdiri dari duduknya melangkah mengikuti Ami.
Kini Tea, Ami dan Arum memasak di dapur, untuk menyiapkan makan malam. Sedangkan Bintang, Sena dan Carla ada di kamar.
"Aku tidak menyangka kalau kamu benar-benar akan menikah dengan cinta masa kecilmu itu, Bi!" ucap Carla yang duduk bersandar di atas tempat tidur.
"Kan aku sudah bilang, jika aku pasti akan mendapatkannya!" jawab Bintang, tersenyum bahagia.
"Jadi alasan Kakak selama ini ingin tinggal disini, karena ingin dekat dengannya?" tanya Sena yang tidur di pangkuan Bintang.
"Iya!" jawab Bintang dengan cepat.
"Ah, Kakak nggak asik! Masak bertahun-tahun tinggal di luar negri, tapi sukanya sama cowok lokal!" protes Sena.
"Bodo amat!"
"Tapi Bintang nggak salah pilih kok, karena cowok lokal ternyata lebih menarik dari pada cowok bule!" ucap Carla, tersenyum membayangkan cowok-cowok Indonesia.
"Sudah, jangan eyel-eyelan. Sekarang aku mau tanya sama kamu, Ca…."
"Kamu mau tanya apa, Bi?" tanya Carla, sebelum Bintang melanjutkan perkataannya.
"Kenapa kamu bisa sampai sini bersama mereka?" tanya Bintang memandang Carla.
"Setelah kamu telepon aku, dan memberitahu aku kalau kamu akan menikah, aku langsung memesan tiket ke Indonesia. Beruntung tadi Om Bayu menunggu kedatanganku jadi aku bisa berangkat bareng mereka," jelas Carla.
"Kenapa Om Bayu tau kalau kamu mau kesini?" tanya Bintang dengan mengerutkan keningnya.
"Sebelum berangkat aku memang mengabarinya, jika aku akan kemari!"
"Jangan bilang kamu suka sama Om Bayu!" ucap Bintang penuh curiga.
"Enak aja nuduh orang sembarang! Siapa juga yang naksir sama om-om sepertinya! Lebih baik naksir sama anaknya aja keren!"
"Awas saja kalau dia kamu embat!" ancam Bintang, menatap tajam Carla.
"Memang apa salahnya kalau aku suka sama anaknya!" canda Carla, dengan terkekeh.
___
Bersambung…
__ADS_1