
"Boleh," jawab Vano tersenyum.
Vano dan Bintang naik ke atas tempat tidur dan duduk bersama saling bercanda.
Memandang wajah tampan Vano dengan tersenyum, ia yakin suatu saat nanti suaminya itu bisa mencintainya meski mungkin harus menunggunya bertahun-tahun.
"Jangan memandangku seperti itu!" ucap Vano, tersenyum sambil mengusap wajah Bintang.
"Diamlah, aku sedang mengamati wajah tampan suamiku yang teramat sangat tampan ini," ucap Bintang, masih tidak mengalihkan pandangannya.
"Apa jika suatu saat ada orang yang lebih baik dari aku, kamu akan meninggalkan aku sema seperti Havivah?"
"Tidak!"
"Apa kamu yakin?"
"Ya, aku yakin akan hal itu, karena selama ini aku sudah menemukan banyak lelaki yang jauh lebih tampan dan baik dari pada Kak Vano, tapi hatiku tetap untukmu dan tidak akan untuk yang lain!" ucap Bintang dengan tegas.
"Maafkan aku jika aku meragukanmu, aku hanya tidak ingin terluka untuk kedua kalinya! Aku harap kamu bisa menungguku hingga aku mencintaimu!"
Bintang memegang kedua pipi Vano dan menatapnya lekat-lekat.
"Kamu jangan khawatir, aku tidak akan mengkhianatimu, aku akan tetap menunggumu hingga aku menutup mata! Aku mencintaimu dan selamanya akan mencintaimu!"
Vano yang mendengar perkataan Bintang langsung memeluknya.
Terima kasih sudah mencintaiku dengan begitu besar, aku akan mencoba membuka hatiku untukmu."
Tok, tok, tok.
Disaat mereka sedang berpelukan pintu kamar mereka diketuk dari luar.
"Kak, kayaknya ada orang?" Bintang langsung melepaskan pelukan.
"Bukalah!" perintah Vano.
Bintang mengangguk turun dari tempat tidur melangkah menuju pintu.
Cklek
Bintang membuka pintu kamarnya dan melihat Salma didepan pintu.
"Ada apa, Bu? Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Bintang dengan tersenyum.
"Tidak, Ibu kemari hanya memanggil kalian untuk makan malam!" jawab Salma tersenyum.
"Oh, baiklah Bu, aku akan panggil Kak Vano dulu."
"Ya, kami tunggu dimeja makan."
"Baik, Bu."
Salma meninggalkan depan pintu kamar Bintang menuju meja makan.
Setelah kepergian Salma Bintang kembali menghampiri Vano yang masih duduk ditempat tidur.
"Kak, ayo kita makan malam, Ibu dan Ayah sudah kita dimeja makan."
"Ya."
Vano turun dari tempat tidur dan keluar bersama Bintang menuju meja makan.
"Malam Ayah, Ibu!" sapa Bintang dan Vano bersamaan.
"Malam, Nak!" jawab Salma dan Harun secara bersamaan.
__ADS_1
Kini mereka menikmati makan malamnya dengan diam tanpa membicarakan apapun.
"Ayah, Ibu, besok aku akan ke Bali bersama Bintang!"
Vano mulai bicara mengenai keberangkatannya ke Bali setelah Harun dan Salma menyelesaikan makannya.
"Apa kalian mau bulan madu kesana?" tanya Salma, tersenyum bahagia.
"Tidak, Bu!" jawab Vano dengan cepat.
"Lalu kalian mau apa disana?" tanya Harun dengan mengerutkan keningnya.
"Mau jalan-jalan saja," jawab Vano.
"Masak cuma jalan-jalan saja? Sekalian bulan madu dong! Kamu tenang saja kalau uangmu nggak cukup nanti Ibu tambahin!"
"Tidak usah Bu, uang Vano masih cukup!" tolak Vano.
"Kak Vano benar Bu, lebih baik disimpan saja untuk berjaga-jaga jika ada keperluan mendadak, lagipula kita ke Bali kan geratis," tutur Bintang.
"Memang siapa yang ngasih gratisan sama kalian?" tanya Harun dengan menatap Bintang.
"Tadi sebelum Oma pulang, beliau memberikan tiket bulan madu!"
Mendengar Bintang bicara soal bulan madu Vano langsung membekap mulut Bintang, ia tidak mau kalau Harun meledeknya terus.
"Eh, lepaskan Vano jangan membekap mulut Bintang!" perintah Salma.
Vano akhirnya membuka bekapannya atas perintah Salma.
"Maaf Kak, aku tidak tau jika ini rahasia," lirih Bintang kemudian ia menunduk.
"Ya sudahlah, lagian mereka sudah terlanjur tau!"
"Siapa yang marah, aku cuma malas saja Ayah meledekku terus."
"Kali ini aku tidak akan memelukmu! Bersenang-senanglah di Bali dan jangan lupa oleh-oleh cucu yang cantik seperti istrimu!"
"Akan dipertimbangkan" jawab Vano dengan santainya.
"Jangan lama mempertimbangkannya!"
"Ya, sekarang aku dan Bintang akan bersiap-siap dulu!" Vano berdiri dari duduknya.
"Ya, bersiaplah!"
"Ayo, Bi," ajak Vano.
Bintang mengangguk dan berdiri dari duduknya.
Sesampainya di kamar, Bintang segera menutup pintu kamarnya.
"Apa Kakak marah denganku?" tanya Bintang yang berdiri di depan Vano dengan wajah sedihnya.
"Aku tidak marah denganmu, sekarang ayo kita berkemas," ajak Vano.
Bintang langsung memeluk Vano dengan erat.
"Maaf," lirih Bintang dengan meneteskan air mata.
Vano yang merasakan bajunya basah karena tetesan air mata Bintang langsung menundukkan kepalanya melepaskan pelukannya.
"Jangan menangis, aku tidak marah denganmu." Vano tersenyum menghapus air mata Bintang dengan ibu jarinya.
"Ya," lirih Bintang.
__ADS_1
"Sekarang ayo kita mengemasi barang yang akan kita bawa besok!" ajak Vano, membelai kepala Bintang.
Mereka menyiapkan semua barang yang akan dibawa besok.
Setelah semuanya sudah dimasukkan ke dalam koper, Vano dan Bintang beristirahat.
"Aku mau dipeluk," pinta Bintang, setelah ia menggunakan selimutnya.
"Mendekatlah," perintah Vano.
Bintang menggeser tubuhnya mendekat pada Vano.
"Tidurlah," bisik Vano mendekap tubuh Bintang.
Bintang memejamkan matanya begitu pula dengan Vano. Kini keduanya sudah terlelap dalam tidurnya dengan saling berpelukan.
***
Keesokan paginya, Bintang dan Vano sudah rapi dengan penampilannya.
Vano mengambil kopernya dan mengajak Bintang keluar, karena semua anggota keluarganya sudah menunggu termasuk Ami dan Ahmad.
Sesampainya di ruang tamu, Harun menghampirinya.
"Kalian berdua sarapanlah dulu, jangan dulu berangkat sebelum sarapan!" perintah Harun.
"Ya, kalian harus sarapan karena perjalanan kalian sangat jauh," sambung Ahmad.
"Baiklah, kami akan sarapan, tapi kenapa tidak ada yang sarapan?" heran Vano
"Kami sudah sarapan dari tadi, karena kalian lama jadi kami meninggalkan kalian," jelas Salma
"Udah sana nanti keburu siang," perintah Ami.
"Oke, kami akan sarapan!" jawab Bintang dan Vano bersamaan.
Vano meletakkan kopernya di pinggir setelah itu, ia menggandeng tangan Bintang menuju meja makan.
Sesampainya di meja makan Vano dan Bintang segera sarapan.
Kini mereka berdua kembali ke ruang tamu menghampiri semuanya.
Setelah Vano dan Bintang berpamitan pada semuanya ia segera mengambil kopernya dan melangkah meninggalkan rumah bersama dengan Bintang.
Sesampainya di jalan raya, ternyata sudah ada yang menjemputnya sesuai dengan perintah Ratih.
Saat ini Bintang dan Vano sudah ada di dalam pesawat yang sudah siap lepas.
"Kamu kenapa, Bi?" tanya Vano, yang melihat Bintang celingukan.
"Tidak papa, Kak!" jawab Bintang tersenyum.
"Apa kamu yakin tidak ada apa-apa?" tanya Vano memastikan.
"Jujur sebenarnya aku belum pernah naik pesawat kelas bisnis maupun kelas ekonomi."
"Kamu pasti kalau bepergian menggunakan pesawat pribadi! Iya kan?"
"Iya, karena kemanapun aku pergi kalau nggak diantar oleh Om Bayu pasti diantar oleh Ayah," jawab Bintang dengan jujur.
"Mulai sekarang, kalau kamu pergi naik pesawat bersamaku, kamu harus terbiasa naik kelas ekonomi, karena suamimu ini bukanlah orang yang kaya!"
___
Bersambung....
__ADS_1