Cinta Bintang

Cinta Bintang
Pesta Pernikahan


__ADS_3

"Ya ... siapa tau saja kamu salah.  ingat, nama pengantin wanitanya itu Bintang Erlangga bukan Havivah Nuraini," ucap Harun dengan terkekeh. Membuat yang lainnya pun ikut tertawa.


"Ayahmu memang benar, Van. Kamu harus istirahat agar nanti kamu bisa fokus dan tidak salah sebut, karena jika itu terjadi maka kau tidak hanya menyakiti Bintang, tapi juga mempermalukannya!" ucap Aldo.


"Tuh, dengari pakar cinta bicara," ucap Kris dengan tersenyum.


"Huh, pakar cinta kok jomblo," sinis Vano.


"Sudah sana tidur," perintah Aldo.


"Iya-iya," jawab Vano berdiri dari duduknya. 


"Ingat kawan, mimpikan saja Bintang jangan memimpikan Havivah!" ucap Kris dengan tersenyum, setelah Vano melangkah pergi.


Vano melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Sesampainya di kamar ia segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur kemudian ia memejamkan matanya.


***


Pukul empat pagi Carla membangunkan Bintang yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Bi, cepat bangun, ini sudah jam empat pagi!" Carla menggoyangkan lengan Bintang, agar ia terbangun dari tidurnya.


Bintang membuka matanya, kemudian ia menggeliat.


"Ada apa, Ca? Kenapa kamu membangunkanku sepagi ini?" tanya Bintang masih belum tersadar sepenuhnya.


"Apa kau melupakan hari pernikahanmu?" tanya Carla, memandang Bintang.


Mendengar perkataan Carla, Bintang langsung membuka matanya lebar-lebar dan dengan cepat ia bangun dari tidurnya.


"Ya Tuhan … kenapa aku bisa melupakan hal ini!" 


Bintang melompat dari tempat tidurnya berlari kecil masuk dalam kamar mandi.


Lima belas menit kemudian, Bintang keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah terlibat segar.


Dalam kamarnya sudah ada Ratih dan seorang wanita muda yang menantinya.


"Gunakanlah gaun pengantinmu ini!" perintah Ratih. 


"Baik, Oma!" jawab Bintang dengan mengambil gaun pengantinnya dari tangan Ratih.


Bintang memakai gaunnya dibantu  Ratih dan penata rias terkenal yang disewa khusus oleh Ratih untuk meriasnya.


Setelah mengunakan gaun pengantinnya Bintang duduk di depan meja rias. Dengan cepat penata rias tersebut mulai memoles wajah Bintang agar terlihat cantik dan menarik.


Hingga pukul enam pagi Bintang baru selesai dirias dan sekarang ia sudah cantik bak bidadari surga. Siapapun yang memandangnya pasti akan takjub akan kecantikan yang ia miliki.


"Waw, Kakak cantik banget!" seru Sena yang dari tadi menunggu Bintang sedang dirias.

__ADS_1


"Iya dong siapa dulu," bangga Bintang dengan tersenyum.


"Aduh, aku jadi pengen nikah juga deh, lihat kamu dirias menjadi seorang pengantin seperti ini!" ucap Carla dengan begitu hebohnya.


"Mangkanya cari kekasih dong!" jawab Bintang dan Sena secara bersamaan.


"Sepertinya aku memang harus mencari kekasih, tapi siapa?" ucap Carla dengan nada sedih.


"Jangan bilang kamu mau menggaet Hafif!" ketus Bintang melirik Carla tidak suka.


"Apa? Hafif? Kak Carla suka sama Hafid?" pekik Rafa yang tiba-tiba ada di depan pintu.


"Iya," jawab Sena menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan Bintang.


"Astaga, malang sekali nasip Hafif, dicintai sama bulu tua kayak dia!" ucap Rafa dengan lemas, sedangkan yang lainya tertawa melihat ekspresi Rafa yang sangat lucu apalagi dengan perkataannya itu.


"Huh, kalian ini mengada-ada saja!" kesal Carla.


"Sudah-sudah, jangan berdebat, ini sudah waktunya kita berangkat," kata Ratih, yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka.


Tea dan Kenzo masuk ke dalam kamar menghampiri mereka.


"Bi, apa kamu sudah siap?" tanya Tea tersenyum melihat Bintang yang begitu cantik.


"Sudah, Bun!" jawab Bintang dengan tersenyum.


"Ayo kita berangkat, mereka semua sudah menunggu," ajak Tea.


Kini Kenzo dan Tea menggandeng lengan Bintang sedang yang lainnya berjalan di belakang mereka, sambil memegang gaun pengantin Bintang begitu panjang agar tidak terkena tanah saat berjalan, karena mereka akan berjalan kaki menuju rumah Vano.


Bintang berjalan pelan digandeng kedua orang tuanya memasuki halaman rumah Harun. Disana keluarga Harun menyambutnya dengan sangat bahagia.


Kini Bintang dan Vano sudah duduk di depan penghulu untuk melakukan ijab Kabul.


"Sekarang apa sudah bisa kita mulai, Nak Vano?" tanya pak penghulu.


"Sudah, Pak!" jawab Vano menganggukkan kepalanya.


"Sekarang pak Kenzo silahkan nikahkan putri Anda dengannya," perintah pak penghulu.


"Saya wakilkan pada bapak saja!" jawab Kenzo.


"Baiklah." 


Pak penghulu pun mengulurkan tangannya di atas meja, kemudian disambut oleh Vano.


"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikah dan saya kawinkan engkau Vano bin Harun dengan Bintang Erlangga binti Kenzo Erlangga dengan maskawin seperangkat alat sholat dan perhiasan sepuluh gram dibayar tunai."


"Bismillahirrahmanirrahim, saya terima nikah dan kawinnya Bintang Erlangga binti Kenzo Erlangga dengan maskawin seperangkat alat sholat dan perhiasan sepuluh gram dibayar tunai."

__ADS_1


"Bagaimana saksi? Sah?" tanya pak penghulu pada para saksi dan tamu undangan yang hadir.


"Sah…," jawab mereka semua dengan begitu keras.


"Alhamdulillah," ucap pak penghulu dan yang lainnya.


Sekarang Bintang sah sudah menjadi istri Vano dan menjadi menantu keluarga pak RT di daerah kakeknya.


Vano menyematkan cincin pernikahannya dijari manis Bintang, setelah itu ia mengecup kening istrinya itu dengan sedikit malu karena disaksikan oleh banyak orang.


Kini giliran Bintang yang menyematkan cincin pernikahannya dijari manis Vano, kemudian ia mengecup tangan Vano dengan perasaan bahagia.


Setelah bertukar cincin, mereka mulai sungkeman pada kedua orang tuanya secara bergantian.


Acara akad nikah pun telah usai, saat ini Vano dan Bintang tengah berada di pelaminan menyalami para tamu undangan yang hadir silih berganti.


Banyak warga yang merasa aneh dengan pengantin wanitanya, karena jelas tertulis di undangan yang mereka terima tertera nama Havivah, tapi pada kenyataannya yang dinikahi oleh Vano adalah Bintang, guru SD di desa mereka dan bukan Havivah anak pak kepala desa.


 Dibalik gunjingan tersebut, banyak pula yang memuji kecocokan dan keserasian mereka berdua, karena Vano terlihat begitu tampan dan sangat pas jika disandingkan dengan Bintang yang sangat cantik.


"Selamat ya, Van. Atas pernikahannya, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucap Aldo dengan memeluk Vano.


"Terima kasih atas doanya, Do! Semoga kamu secepatnya bisa meluluhkan hati Winda!" jawab Vano tersenyum melepaskan pelukan Aldo.


"Semoga saja," gumam Aldo juga tersenyum.


"Bi, selamat ya, semoga kamu bahagia dan selalu sabar menghadapi Vano," ucap Aldo, kemudian ia memeluk Bintang.


"Terima kasih, Do," jawab Bintang.


"Sudah jangan lama-lama pelukannya nanti ada yang cemburu," ucap Vano dengan melirik Winda.


"Hey kenapa kamu melirikku?" ucap Winda yang berdiri di samping Aldo dengan memelototkan matanya ke arah Vano.


Bintang terkekeh kemudian ia melepaskan pelukannya mendengar perdebatan mereka.


"Aku tidak melirikmu, tapi melirik Bintang."


"Sudah-sudah jangan berdebat disini malu sama para tamu," lerai Bintang.


"Suamimu itu yang memulai duluan, tapi selamat deh atas pernikahan kalian berdua semoga langgeng sampai kakek nenek. Jangan lupa buka kado dari aku," ucap Winda tersenyum penuh arti.


"Kamu tidak memberi kado yang aneh aneh kan?" tanya Bintang penuh curiga.


Winda tersenyum, menggelengkan kepalanya.


Dari kejauhan sana, seorang wanita muda memandang Bintang dan Vano dengan penuh rasa cemburu.


___

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2