Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Kak Lili


__ADS_3

"Hah?!! Yon! Apa yang kamu lakukan?!" Pekik Nura terkejut setengah mati dengan aksi Yon membungkuk di depan nya.


'Apa katanya tadi?! Dia mau menggendong ku?! Di sini?! Di tengah tatapan banyak mata orang-orang ini?! Duh! Dia punya malu gak sih?!' rutuk Nura tanpa suara.


Tanpa berkata apa-apa, Nura langsung berlalu pergi meninggalkan Yon begitu saja. Namun setelah beberapa langkah, Nura kebingungan karena ia tak mendengar suara langkah Yon mengikuti nya di belakang.


Jadilah akhirnya Nura menoleh kembali ke belakang. Dan apa yang dilihatnya sungguh membuatnya tak habis pikir.


Ternyata Yon masih tetap dalam posisi nya duduk berjongkok di tempat nya tadi. Meskipun saat ini pemuda itu menatap lurus ke mata Nura dengan pandangan kebingungan.


Sadar kalau pemuda itu mungkin benar-benar tak mengerti kalau apa yang dilakukan nya tadi itu telah membuat mereka jadi topeng monyet, Nura akhirnya merasa kasihan. Gadis itu pun berjalan kembali ke tempat Yon. Dan selanjutnya, ia menarik tangan Yon. Sehingga mereka pun segera pergi dari tempat itu.


Tujuan keduanya masih sama. Yakni kantin sekolah.


Sesampainya di kantin, Nura masih terheran-heran karena orang-orang masih saja memandang ke arah nya.


'Ah.. mungkin aku terlalu ge er. Mereka mestilah melihat ke arah Yon yang tampan, bukan?' gumam Nura dalam hati.


Sesaat kemudian, gadis itu pun tersadar kalau ternyata ia masih menggandeng tangan Yon bahkan hingga kedua nya telah tiba di kantin.


'Ya ampun! Pantas saja mereka semua memperhatikan kami! Apa yang ku pikirkan sih? Hari ini aku sudah membuat diri ku malu berulang kali. Ini semua gara-gara cowok itu!' dumel Nura sambil melirik kesal ke arah pemuda di samping nya itu.


Sayang nya Yon tak melihat lirikan tajam dari Nura. Karena ia sibuk melihat-lihat beragam cemilan yang tersedia di kantin.


"Bak..so. aku mau itu. Kamu mau apa, Nu..ra? Nura!" Panggil Yon di ujung kalimat nya.


Yon melihat, Nura yang berjalan duluan ke tempat gerai cemilan yang lain. Ternyata Nura pergi ke warung Ibuu Zai.


Gadis itu lalu menyapa ibu paruh baya tersebut.


"Ibu Zai.." sapa Nura.


"Eh.. Neng Nura. Mau jajan ya, Neng?" Sahut Ibu Zai.


"Iya, Bu. Nura pesan es teh manis ya, Bu.." ucap Nura memesan es teh.


"Aku juga, Bu! Mau es teh seperti yang Nura pesan!" Ucap Yon tahu-tahu sudah berdiri di belakang gadis itu.


"Yon..?" Sapa Nura sedikit tak ramah.

__ADS_1


Gadis itu masih sedikit kesal dengan tingkah Yon yang kelewat agresif menurut nya.


'Ah.. bukan agresif. Ku rasa Yon hanya ingin mengerjai ku. Seperti Dom dulu..' gumam batin Nura.


Ekspresi Nura seketika menunjukkan raut sedih. Ia teringat pada siswa lain yang se angkatan dengan nya. Nama siswa itu adalah Dominiq. Akrab disapa Dom oleh Nura dan kawan-kawan nya.


Dominiq pernah hampir membuat Nura jatuh cinta kepada nya. Jika saja Nura tak segera mengetahui aksi pura-pura Dominiq yang mendekati nya hanya sebagai ajang taruhan semata dengan teman-teman Dominiq.


Pandangan Nura sedikit menggelap. Dan tanpa sadar ia pun kembali melamun.


"Nur.. Nura..?" Sebuah tepukan pelan di bahunya membuat Nura tersadar.


Dengan refleks ia segera menyingkir dari depan gerai warung Ibu Zai. Selanjutnya ia mengambil posisi duduk pada salah satu bangku yang kosong.


Yon mengikuti jejak Nura. Pemuda itu pun lalu mengambil posisi duduk di samping gadis itu.


"Ini, Kak. Es teh nya.." ucap Kilin, putra ke tiga Ibu Zai yang berumur sebelas tahun.


"Makasih ya, Kilin," sapa Nura.


"Sama-sama, Kak!" Sapa balik Kilin dengan ramah.


"Kamu kenapa lihatin anak itu begitu?" Tanya Yon tiba-tiba.


Nura langsung mengerutkan dahi.


"Begitu gimana maksud nya?" Tanya Nura tak suka dengan sikap Yon yang sedikit kelewat akrab terhadap nya. Pemuda itu sering kali bertanya ini itu kepada nya.


"Ya. Begitu. Seperti.. kasihan..?" Tebak Yon.


Nura meluruskan kembali pandangan nya ke depan. Menatap balok-balok kecil es batu yang ada dalam gelas es teh nya.


"Kasihan dia. Harus putus sekolah. Padahal anak nya cerdas.." gumam Nura pelan.


"Kenapa putus sekolah?" Tanya Yon kembali.


"Karena gak ada uang lah, Yon. Apalagi dia punya saudara yang cukup banyak. Jadi mau gak mau, dia mengalah demi adik nya biar adik nya bisa tetap sekolah," jawab Nura sedikit emosi.


Hening sejenak..

__ADS_1


"..."


"..."


"Kamu marah sama aku? Kenapa? Apa salah ku?" Tanya Yon tiba-tiba.


"Aku gak marah?! Siapa yang marah?!" Hardik Nura tanpa bisa dicegah nya.


Sadar kalau nada suara nya terlalu tinggi untuk dibilang 'tidak marah', gadis itu pun kembali menundukkan wajah nya menatap gelas es teh di meja.


Tanpa sadar tangan nya mengaduk sedotan ke dalam cairan es teh nya itu.


"Maaf. Aku cuma keingetan sama kakak sulung ku aja.." ujar Nura tiba-tiba.


"...siapa nama nya?" Tanya Yon kemudian.


"Kak Lili.." jawab Nura seketika.


"Memang nya Kak Lili kenapa?" Tanya Yon lagi.


"Soalnya Kak Lili juga gak bisa ngelanjutin sekolah SMA nya dan mengalah biar Kak Eci, aku dan juga Tio bisa lanjut sekolah.." jawab Nura dengan jujur.


Ya. Kakak sulung Nura, yakni Kak Lili telah berhenti sekolah sejak lulus SMP. Koh Acan yang dulu begitu baik membiayai sekolah nya tiba-tiba meninggal karena serangan jantung.


Setelah itu, tak ada lagi yang mau berbaik hati menyekolahkan Kak Lili lagi. Jadilah akhirnya Kak Lili membantu Emak menjual gorengan keliling.


Mula-mula ia berjualan sambil berjalan kaki. Kemudian ia memiliki gerobak dan mangkal di pasar melanjutkan jualan gorengan nya.


Hingga saat ini Kak Lili masih berjualan gorengan di tempat yang sama. Meski kini ia tak lagi sendiri. Karena berdua dengan suami nya, Kak Alif, mereka berjualan tak hanya gorengan saja, namun juga minuman es.


Ya. Sudah dua tahun terakhir ini, Kak Lili pindah rumah mengikut tinggal dengan Kak Alif, teman sekolah nya dulu. Ternyata telah lama Kak alif menaruh hati pada Kak Lili. Jadi, setelah lulus SMA, Kak Alif langsung meminta restu Emak untuk menikahi Kak Lili.


Emak merelakan Kak Lili menikah dengan Kak Alif. Karena mengetahui kalau Kak Alif adalah seorang lelaki yang baik. Apalagi dia juga seorang yatim piatu.


Mulanya Kak Lili hendak menolak lamaran dari Kak Alif. Dalih nya adalah Kak Lili ingin berbakti dulu kepada Emak. Namun dengan nasihat dari Emak, kaka Lili akhirnya menerima juga pinangan dari Kak Alif.


Kini, Kak Lili dan juga Kak Alif rutin berkunjung ke rumah kontrakan Emak dan Nura setiap dua pekan sekali.


***

__ADS_1


__ADS_2