
Keesokan paginya, Nura langsung menodong Derik, ketua kelas nya.
"Rik! Aku mau ngomong sama kamu. Bisa kita keluar sebentar?" Tanya Nura malu-malu.
Saat itu Derik baru saja datang. Namun ia sedang berbincang dengan Arul, teman sebangku nya, di depan kelas.
"Ooh.. iya. Lo ke dalam duluan deh, Rul!" Ujar Derik kepada teman sebangku nya itu.
Arul memandang Nura dengan pandangan heran. Namun ia segera masuk ke dalam kelas. Meninggalkan Nura dan Derik berdua di sana.
"Ada apa, Aini?" Tanya Derik.
"Err.. Kenapa sih, kamu masih juga panggil aku dengan nama itu? Panggil aku dengan nama Nura saja, Rik. Jangan Aini.. rasanya seperti bukan nama ku saja itu," koreksi Nura seketika.
"Lho? Nama Lo kan memang Nur'aini. Jadi wajar kan kalau gue panggil Aini? Kalau Nura malah aneh, lho, Ni.." komentar Derik terua terang.
"... Yah.. terserah kamu deh, Rik. Jadi, begini. Kamu.. bisa kasih tahu aku nomornya Yon enggak?" Pinta Nura to the point.
"Yon?...maksud kamu, John?" Tanya Derik memastikan.
"Iya. Maksud ku John. Kamu punya nomor nya kan?" Tanya Nura penuh harap.
"Yaah.. Maaf Aini.. gue gak punya nomor si John," jawab Derik terus terang.
"Lho? Tapi, Yon ngasih kabar kamu kalau dia ijin gak masuk sekolah kan dua hari kemarin?" Tanya Nura kembali.
"Iya ngasih kabar. Tapi bukan lewat nomor ponsel. Tapi lewat telepon umum," terang Derik.
Seketika itu jua Nura langsung dibuat kecewa. Dengan lesu, ia pun menyahut.
"Oh.. gitu.. oke. Makasih ya, Rik.." ucap Nura dengan lesu.
"Sama-sama..Aini! Eh, itu orangnya datang! Mending Lo minta aja langsung deh ke orang nya ya, Aini!" Ujar Derik tiba-tiba seraya melihat ke arah belakang Nura.
Spontan saja Nura menoleh.
"Yon!" Pekik Nura terkejut sekaligus senang.
Akan tetapi, Yon seperti tak mendengar panggilan Nura padanya. Karena pemuda itu langsung saja masuk ke kelas tanpa balik menyapa Nura.
Nura tertegun. Ia merasa malu sekaligus bingung. Selama beberapa saat gadis itu hanya menatap punggung Yon yang berlalu meninggalkan nya. Sampai kemudian Nura merasa bahu nya ditabrak oleh seseorang.
"Misi..misi! Ngapain sih bengong di tengah jalan?! Gangguin orang mau lewat aja!" Gerutu Siska yang baru saja datang.
Nura meringis sakit di area bahu nya yang ditabrak oleh Siska. Sementara mata nya tak pernah lepas dari memperhatikan gerak-gerik Yon yang kini sedang memandang ke luar jendela.
__ADS_1
Nura lalu melihat saat Siska berinteraksi dengan Yon. Dan Yon balas menyapa gadis itu. Melihat interaksi keduanya, Nura langsung merasa kesal.
Tanpa bisa ia cegah, tahu-tahu kaki nya sudah membawa gadis itu hingga berada tepat di hadapan Yon.
Brak!
Nura menggebrak meja Yon. Tingkahnya itu membuat Nura seketika menjadi pusat perhatian teman-teman sekelas nya.
Anehnya, Nura tak perduli. Bahkan ketika Siska mengomelinya pun Nura tak lagi perduli.
"Aku mau ngomong sama kamu! Ayo kita keluar sebentar!" Ucap Nura bernada perintah.
Sepanjang ia mengatakan itu, kedua matanya tak henti lepas dari memandang kedua mata Yon. Sayang nya, Yon masih juga terdiam.
"Ayo ikut aku keluar!" Ajak Nura seraya menarik lengan kanan Yon untuk bangun.
Saat itulah Siska langsung berdiri dan kembali mengomel.
"Heh Upik! Lo mau ngajak berantem lagi ya?! Lepasin tangan John sekarang juga! Dasar cewek kegenitan!" Omel Siska mulai tak sabar.
Nura menoleh singkat ke arah Siska. Selanjutnya ia hanya balas berkata.
"Jangan ikut campur deh, Sis! Ini urusan ku sama Yon!" Hardik Nura dengan tatapan berani.
Entah darimana datangnya keberanian itu. Tapi sejak kejadian kecelakaan itu, Nura jadi merasa sangat penasaran pada teman barunya itu.
Nura tak menggubris ucapan Siska. Ia masih berusaha menarik lengan kanan Yon dengan sekuat tenaga.
"Ikut aku sebentar keluar, Yon! Aku mau bahas soal kejadian pagi itu! Atau.. kamu mau aku ngomongin 'itu' di depan teman-teman, sekarang juga, hah?!" Tantang Nura dengan pandangan berani.
Ujung mata Yon nampak bergetar sedikit.
Sementara itu, Siska yang sudah tak sabar, langsung saja menarik paksa tangan Nura agar terlepas dari lengan John. Namun, belum juga tangan Nura terlepas, tiba-tiba saja tangan Yon melepas tangan Siska yang menarik tangan Nura.
"Lepaskan tangan Nura, Sis.." pinta Yon dengan suara datar.
"Tapi John..!" Siska nampak hendak protes.
"Lepaskan tangan nya sekarang!" Titah Yon dengan nada sedikit lebih keras.
Gusar karena Yon nampak seperti membela Nura, Siska pun menghempas tangan Nura dengan kencang. Tak lupa pula ia sedikit mencengkeram tangan Nura demnan cikup kencang. Sehingga meninggalkan bekas cengkeraman yang cukup menyakitkan dan meninggalkan jejak.
"Aduh!" Nura spontan meringis nyeri.
"Siska!" Hardik Yon menegur Siska.
__ADS_1
Kemudian pemuda itu bertanya kepada Nura.
"Kamu gak apa-apa, Nuura?" Tanya Yon tampak jelas khawatir.
Nura menggeleng pelan.
"Gak apa-apa, Yon.. cuma.."
Belum selesai Nura bicara, tahu-tahu ada koor suara yang meneriaki dirinya.
"Cie..cie.. kayaknya ada yang baru jadian nih! Udah gak diam-diaman lagi nih ceritanya?" Ledek Boni, si Biang Kerok di kelas.
Nura pun langsung tertunduk malu. Sementara Yon tampak tak terpengaruh oleh candaan dari Boni.
"Cie.. yang mukanya udah kayak bunga mawar merah nan berduri.. itu duri apa komedo ya?! Ahahaaaahahaa!" Boni kian semangat meledeki Nura.
"Boni!" Yon menggertak Boni dengan tampang serius. Sehingga Boni pun perlahan tak lagi meledek mereka berdua.
Setelahnya, Yon menarik tangan Nura dan mengajaknya keluar kelas.
"Yy..Yon..?" Panggil Nura dengan pandangan bertanya.
"Kita bicara di luar saja, ya.." tutur Yon menjelaskan.
"Oh!.. oke.."
Akhirnya kedua muda dan mudi itu pun bergandengan tangan keluar kelas. Diiringi tatapan penasaran dari teman-teman sekelas nya.
...
Yon terus menarik tangan Nura menjauh dari kelas mereka. Sampai akhirnya keduanya kini duduk di taman sekolah.
Sejenak, suasana menjadi hening.
"Apa yang mau kamu tanyakan, Nuura?" Tanya Yon to the point.
"Aku.. "
Nura terlihat bingung berlata-kata. Padahal sebenarnya ada banyak hal yang ingin diketahuinya dari Yon. Namun setelah berada di hadapan pemuda itu, anehnya ia malah jadi bingung harus mulai bertanya tentang apa.
Setelah berpikir sebentar, tiba-tiba saja sebuah pertanyaan muncul di benak Nura.
Gadis itu lalu memberanikan diri untuk menatap Yon tepat di kedua matanya. Setelah itu bertanya.
"Siapa sebenarnya kamu, Yon? Kenapa kamu selalu perduli kepada ku?" Tanya Nura to the point.
__ADS_1
***