
Di kantin...
Tio, Nura dan Yon kini duduk di bangku yang ada di kantin. Tio duduk di seberang Yon. Sementara Nura duduk di samping Yon.
Selama beberapa saat, ketiga nya tak ada yang bicara. Sampai tiba-tiba Nura bertanya kepada adiknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Yo? Tadi pagi, maksud nya.." tanya Nura sambil memandang sang adik.
Terlebih dulu Tio menghela napas. Nampak jelas keletihan telah menguras energinya usai menghadapi kejadian tadi pagi.
"Setelah Kak Nura dan Lo, Bro!" Tio sempat memelototi Yon singkat.
"..pergi menghilang tiba-tiba, ada mah sekitar sepuluh menitan Tio cari-cari Kakak!" Ujar Tio mendumel.
Nura pun jadi tak enak hati. Dengan suara cicit, ia berkata,
"Maaf ya, Yo.." cicit Nura.
"Udah Tio maafin, Kak. Tapi lain kali please jangan begitu lagi. Asli! Tio khawatir banget tahu! Kakak tiba-tiba aja menghilang! Memangnya kalian lewat mana sih? Kan seharusnya kalian cuma bisa lewatin pintu gang yang Tio jaga, buat pergi ke sekolah?!" Rutuk Tio lanjut mendumel.
"Itu.." Nura melirik ke arah Yon sekilas. Setelah berpikir cepat, gadis itu pun akhirnya menjawab,
"Nanti kakak ceritain deh ya. Jangan sekarang. Bisa tolong lanjutin cerita tentang Emak lagi?" Pinta Nura dengan wajah mengiba.
"Cehh.. iya deh. Lanjut deh nih ya! Habis kakak pergi duluan ke sekolah, Tio akhirnya mutusin untuk pergi juga ke sekolah. Tio kebetulan berangkat nya barengan sama Emak, Kak. Emak juga kan mau kuli nyuci ya di Perum. Tapi.."
Tio tiba-tiba menjeda kalimat nya. Wajah pemuda itu langsung mengernyit saat ia membayangkan kejadian naas yang terjadi berikutnya.
"Pas kita mau nyebrang, tiba-tiba aja ada mobil truk oleng. Terus drum bawaan nya berjatuhan. Nah.. pas di belakang nya tuh ada mobil yang kayaknya ngebut gitu, Kak.. tapi untuk menghindari drum di depan nya, itu mobil akhirnya spontan berbelok.."
"Tio sama Emak padahal udah buru-buru lari pas lihat drum yang juga mau ngenain kita. Tapi.. Emak tiba-fiba aja dorong Tio sampai jatuh ke pinggir jalan yamg aman. Sementara Emak sendiri malah.. ketabrak. Ini salah Tio kan, Kak?" Tanya Tio dengan mata berkaca-kaca.
Nura buru-buru mengusap punggung tangan sang adik. Setelah itu, ia menggenggam nya erat.
"Hey.. itu jelas bukan kesalahan kamu, Yo. Ini.. memang sudah jadi takdir nya Allah mungkin.. hh.. kamu jangan nyalahin diri sendiri ya?" Hibur Nura setelahnya.
Tio pun mengangguk. Ia mencoba menerima penghiburan dari sang kakak.
Dan sesaat kemudian, suasana di meja tempat mereka makan pun kembali hening. Keheningan tersebut tiba-tiba saja pecah oleh suara dering ponsel milik Nura.
Sang gadis kemudian mengeluarkan ponsel nya dnegan segera. Setelah itu dilihatnya nomor Kak Eci tertampil di layar.
"Nura! Tio! Kalian sudah makan nya?" Tanya Kak Eci terdengar genting.
"Sudah, Kak. Kakak udah sampai di rumah sakit?" Tanya balik Nura.
__ADS_1
"Udah.. ini Kakak juga baru ketemu sama Kak Lili. Ra.. kalau bisa cepat datang ke sini, ya. Emak udah sadar!" Tutur Kak Eci memberi tahu.
Mendengar informasi tersebut. Sontak saja hati Nura seketika jadi girang bukan kepalang.
"Alhamdulillah! Beneran, Kak? Iya. Iya. Nura ke sana sekarang deh ya! Makasih Kak eci!" Tutur Nura yang kemudian segera menutup sambungan telepon tersebut.
Klik.
Dan telepon pun terputus.
"Kak Eci udah sampai, Kak?" Tanya Tio menebak.
"Iya. Alhamdulillah! Katanya Emak juga udah sadar. Yuk kita ke sana lagi!" Seru Nura dengan wajah gembira.
Dan kegembiraan itu pun seketika menular ke wajah Tio. Anak bungsu di keluarga Nura itu pun seketika bangkit dan berjalan mengikuti langkah sang Kakak. Sementara Yon ikut berjalan cepat di belakang mereka.
***
Sesampainya di depan sebuah ruangan, Nura melihat ada Kak Eci yang sedang menunggu di luar. Ia tak melihat Kak Lili dan juga suaminya.
Nura menyalim tangan Kak Eci dan memeluknya singkat.
"Kak Lili mana, Kak?" Tanya Nura sambil celingukan.
"Kak Lili ada di dalam..kita tunggu dulu ya di sini. Yo, kamu masuk duluan ke dalam. Nanti gantian masuknya.." ujar Kak Eci memberikan titah.
Tik. Tak. Tik. Tak. Tik. Tak.
Nura dan Kak Eci akhirnya menunggu di depan ruangan tempat Emak berada, dalam keheningan.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Tio dan Kak Lili akhirnya keluar. Kedua mata mereka terlihat merah dan basah.
"Kak..?"
Nura hendak buru-buru masuk ke dalam. Namun Kak Lili tiba-tiba mencegahnya. Ia mengatakan,
"Nanti dulu ya, Ra.. Emak lagi ngomong sama Kak Alif.." tutur Kak Lili dengan suara sedikit serak.
Akhirnya Nura pun kembali menunggu. Sekitar lima menit kemudian, Kak Alif akhirnya keluar juga dari ruangan tempat Emak berada. Nura dapati wajah Kak Alif pun tampak kuyu.
Kakak ipar nya itu langsung menghampiri Kak Lili yang sedang duduk di kursi. Selanjutnya, Kak Alif membawa Kak Lili ke dalam pelukannya.
Nura sempat melihat saat punggung Kak Lili tampak bergetar. Ia juga melirik ke arah Tio, yang tampak termenung diam sedari tadi ia keluar usai menjenguk Emak.
Melihat situasi ini, entah kenapa Nura jadi merasa tak nyaman. Sebuah firasat tak enak tiba-tiba bersarang di benak dan pikirannya. Walau buru-buru ia tepiskan juga semua firasat buruk dari pikirannya saat itu.
__ADS_1
"Nura! Ayo!" Ajak Kak Eci sambil menarik tangan nya pelan.
Nura menoleh singkat ke arah Yon yang tetao terdiam setia sedari tadi.
"Yon.. aku masuk dulu ya.." pamit Nura pada teman sekelasnya itu.
Dan Yon pun mengangguk singkat. Seulas senyum lalu terpatri di wajahnya yang tampan.
Cklek.
Kak Eci menjadi pemandu dan membuka pintu tempat Emak berada kini. Dan, begitu Nura masuk ke dalam, ia dibuat sesak hati atas pemandangan yang ia lihat saat ini.
Di atas tempat tidur rumah sakit, Emak kini terbaring lemah. Kedua mata Enak separuh terbuka. Sementara sebuah masker dan selang oksigen terpasang pada mulut dan juga hidung nya.
Nura melihat dua kantong transfusi tergantung pada tiang di dekat Emak. Satu kantong berisi cairan transfusi. Sementara satu kantong nya lagi berisi cairan berwarna merah. Yang Nura yakini bahwa itu adalah darah.
Terdapat beberapa luka lecet di tangan dan wajah Emak. Sebuah perban pun tampak meliliti bagian hampir sekujur kepala Emak. Balutan perban itu hanya menyisakan sebidang wajah Emak saja.
Buru-buru Nura berjalan menghampiri Emak. Ia kini berdiri di sisi lain nya Emak. Dan Kak Eci sudha terlebih dulu berdiri di seberangnya.
"Mak..! Syukurlah Emak udah sadar.. Nura udah takut banget, Mak!" Pekik Nura yang mulai histeris memeluk Emak. Gadis itu kini menyandarkan kepala nya di bantal di dekat kepala Emak terbaring.
"Nura! Jangan berisik gitu dong! Emak kan masih sakit!" Tegur Kak Eci sambil memelototi Nura.
Nura pun seketika kembali berdiri tegak. Ia merasa bersalah atas kekhilafannya tadi. Namun sesaat kemudian, ia mendengar Emak berkata.
"Sudahlah.." ucap Emak dengan suara lirihan yang teramat pelan.
Dan Nura oun seketika sumringah karena telah dibela oleh Emak di hadapan Kak Eci. Dengan serta merta, ia pun menjulurkan lidah nya ke arah sang kakak. Namun Kak Eci hanya balas memelototinya saja.
Nura lalu merasa tangannya digenggam. Gadis itupun menunduk dan melihat kalau Emak lah yang sedang menggenggam tangan nya. Nura merasa cemas saat ia tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Tangan Emak agak dingin.. Nura gosok-gosok ya, Mak biar hangat?" Nura menawarkan bantuan.
Emak tak menanggapi apa-apa. Namun ia membawa tangan Nura hingga menumpuk ke tangan Kak Eci yang juga digenggam Emak sedari tadi.
Nura dan Kak Eci oun saling beradu pandang.
"Kalian.. yang akur.." pesan Emak dnegan suara teramat pelan.
Demi bisa mendengar suara Emak lebih jelas lagi, Nura pun sedikit membungkukkan badan nya mendekati wajah Emak. Begitu juga dengan Kak Eci.
"Kalian itu saudara..datang dari satu tubuh yang sama.. Emak berharap, kalian akan selalu akur ya, Eci..Nura.." Emak lagi-lagi mengajukan harapannya kepada dua putrinya itu.
"Iya, Mak.." sahut Nura dan Kak Eci hampir bersamaan.
__ADS_1
***