
Sementara itu beberapa meter jauhnya di kebun belakang rumah Nura...
"Yon! Lepasin aku! Aku mau pulang sekarang juga!" Teriak Hinata sambil terus meronta-ronta.
Gadis itu berusaha untuk bisa terbebas dari kurungan tangan Yon. Namun usahanya selalu berakhir gagal. Pegangan tangan Yon begitu kuat menahan pergelangan tangan Nura.
Tiba-tiba saja Yon melepas satu tangan nya, namun kemudian Nura merasakan pinggang nya ditarik hingga tubuh nya menempel ke tubuh lelaki itu.
Wajah Nura pun kini hampir beradu dengan wajah Yon. Sehingga Nura bisa melihat wajah Yon dalam jarak sekian senti saja. Dan itu berhasil membuatnya terdiam seketika.
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Jantung Nura kembali berdegup cepat. Ia pun serasa mampu mendengar suara degupan nya yang membuat sekujur tubuh nya terasa menghangat.
Dengan terburu-buru, Hinata memalingkan wajah nya ke samping. Dan, sesaat kemudian, Yon langsung menarik kepala Nura hingga menempel ke dada nya yang rata.
Nura kembali ingin berontak. Namun suara dalam Yon membuatnya berhenti dari bergerak-gerak lagi.
"Ku mohon, Nura.. ijinkan aku memeluk mu sebentar saja. Aku.." Yon menjeda kalimat nya sejenak.
Deg. Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump. Ba dump.
Kali ini, Nura dapat mendengar dentum jantung milik Yon di telinganya. Dan entah kenapa itu membuat gadis tersebut jadi bersikap lebih tenang.
Menyadari kalau ternyata bukan ia seorang yang merasa gugup, Nura akhirnya tak lagi berontak. Namun setelah beberapa lama keduanya berpelukan, Nura buru-buru mendorong Yon dengan sekuat tenaga. Dan Yon, yang tadi sempat mengira kalau Nura sudah mau menerimanya, akhirnya dikejutkan dengan aksi penolakan dari gadis itu lagi.
Seketika Nura menangkap pandangan terluka di kedua netra milik Yon. Kini terdapat jarak sekitar satu meter lebih di antara keduanya. Jarak yang menurut Nura tak terasa terlalu jauh seperti saat ia masih marah kepada Yon di rumahnya tadi.
Gadis itu merasa bersalah saat melihat kilatan kesedihan di mata Yon sesaat tadi. Karenanya, dengan terburu-buru Nura pun akhirnya berkata lagi.
"Aku.. kita.. "
Karena rasa gugupnya, Nura sempat kesulitan untuk menyusun kata-kata. Gadis itu lalu tampak salah tingkah dan menggaruk-garuk rambutnya yang sebenarnya tak gatal.
Melihat tingkah Nura, Yon pun menjadi terhibur. Pemuda itu lalu terkekeh pelan. Dan ini membuat Nura jadi semakin malu karena tahu kalau Yon telah menertawakan nya.
"Berhenti! Jangan menertawai ku!" Titah Nura menuntut Yon agar ia tak lagi tertawa.
Yon pun langsung menutup mulut. Akan tetapi bentuk garis matanya tak bisa menyembunyikan tawa yang hendak menyembul keluar di wajah lelaki tampan itu.
Nura pun akhirnya kembali dibuat kesal karenanya. Gadis itu spontan saja menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, sebelum akhirnya berbalik dan hendak pergi meninggalkan Yon di sana.
Menyadari kalau sikapnya telah kelewatan, Yon pun buru-buru mengejar Nura. Pemuda itu lalu berhasil menangkap salah satu pergelangan tangan Nura. Sehingga langkah gadis itu jadi kembali tertahan.
"Nura! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk.."
Ucapan Yon langsung dipotong oleh Nura.
Gadis itu tiba-tiba saja berbalik dan menghempaskan tangan Yon kembali. Dan Yon yang tak ingin melukai Nura pun akhirnya melepaskan tangan gadis itu begitu saja.
"Apa sebenarnya yang mau kau katakan, Yon? Cepat katakan sekarang juga! Bukannya kau bilang tadi kalau kau harus pulang?!" Tanya Nura dengan nada ketus.
__ADS_1
Pandangan Yon kembali menampakkan luka. Dan Nura lagi-lagi merasa bersalah karenanya.
Gadis itu lalu memalingkan wajahnya ke tanah. Dan ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menunggu Yon untuk menyampaikan prakata nya.
"Aku tak ingin berkata apa-apa, Nura. Aku hanya ingin menikmati waktu bersama dengan mu. Itu saja," jawab Yon tanpa berbasa-basi.
Pandangan Nura pun seketika terangkat kembali. Ia menatap Yon dengan tatapan bertanya.
"Maksud mu? Menikmati bagaimana, Yon?" Tanya Nura to the point.
Sesaat kemudian, Yon menekan tombol di pergelangan tangan nya. Dan tak berselang lama, sebuah papan tahu-tahu melesat terbang dan muncul di antara keduanya.
Itu adalah papan skuter, namun dengan ukuran yang jauh lebih panjang dan lebar dari yang pernah Nura pakai sebelumnya. Hampir dua kali lipat lah perbandingan ukurannya.
Yon lalu menginjak tombol kuning pada pijakan papan. Dan sesaat kemudian, sebuah tongkat pegangan pun muncul di ujung papan tersebut.
"Ayo kita berselancar?" Ajak Yon begitu tiba-tiba.
"Huhh??" Dan Nura pun terkaget-kaget mendengar ajakan dari pemuda itu.
"Kau hanya ingin berselancar saja?" Tanya Nura memastikan.
"Ya. Aku hanya ingin berselancar saja dengan mu, Nura. Ku mohon.. anggap saja ini sebagai hadiah perpisahan kita?" Tutur Yon dengan wajah yang lagi-lagi berubah sendu.
Ekspresi Nura pun sama sendu nya seperti Yon. Membincangkan tentang perpisahan, gadis itu jadi teringat lagi dengan kesedihannya karena telah berpisah dnegan Emak kemarin pagi.
Jika bisa memutar waktu, Nura ingin memeluk lama Emak sebelum ia berangkat sekolah kemarin. Ia tak tahu, jika pagi itu adalah perbincangan terakhirnya dengan Emak.
"Hh.. ayo. Ku rasa, aku juga perlu waktu untuk menghibur diriku sendiri!" Sahut Nura yang kemudian langsung menatap Yon lama.
"Ayo cepat digandain skuter nya, Yon! Katanya mau selancar?" Tegur Nura mengingatkan.
Dan Yon pun tetiba saja tersenyum lebar.
"Malam ini, kita berselancar di atas skuter yangs ama. Tak apa-apa kan?" Ujar Yon memberikan jawaban nya.
"Ehh? Maksud mu, kamu mau bonceng aku naik skuter ini, Yon?Memangnya skuter yang kecil ke mana?" Tanya Nura penasaran.
"Ada. Aku hanya ingin berselancar dengan skuter ini saja. Tak apa-apa kan?" Tanya Yon sambil tersenyum lebar.
Nura merengut kesal kala mendengar jawaban asal dari Yon. Gadis itu lalu memperhatikan skuter di hadapan nya. Dan ia kembali mengernyitkan dahi.
" Apa kamu yakin skuternya bakal kuat nampung badan kita berdua? Kelihatannya papannya tipis..",Nura ebrkomentar.
"Tenang saja, Nura. Papan skuter ini terbuat dari bahan yang sangat kuat. Ini bahkan bisa menahan bobot seekor anak gajah. Percaya deh!" Jawab Yon dengan nada bangga.
"Oh ya?" Tanya Nira skeptis.
"Ya. Mau dicoba? Boleh-boleh saja. Sayangnya, aku tak bisa menemukan seekor anak gajah di sekitaran sini. Jadi, aku tak bisa menunjukkannya pada mu saat ini," sahut Yon kembali.
"Huuu!! Dasar payah!" Nura meledek Yon.
Akan tetapi Yon tak merasa marah. Pemuda itu malah menjulurkan tangannya ke arah Nura. Sementara dirinya sendiri sudah naik ke atas skuter dan memegang kemudi nya dengan satu tangan.
",Ayo, Nura! Kita berselancar!" Ajak Yon bersemangat.
__ADS_1
Nura tampak ragu untuk sesaat. Namun itu tak berlangsung lama. Gadis itu akhirnya menerima uluran tangan Yon. Dan akhirnya memijakkan kakinya di atas papan skuter tersebut.
Setelah menaiki skuter nya, Yon berkata pada Nura.
"Pegang pinggang ku. nura! Aku akan sedikit mengebut untuk bisa sampai di tempat yang ingin ku tunjukkan padamu malam ini!" Tutur Yon mengingatkan gadis itu.
Nura langsung mematuhi perkataan Yon. Ia bergegas memegang baju Yon di bagian samping. Hanya memegang sedikit bagiannya saja.
Tapi Yon segers mengoreksi cara pegangan Nura di pinggang nya.
Dengan satu tangan, pemuda itu meraih tangan Nura, lalu meletakkannya ke depan perut Yon. Fan ia melakukan nya lagi pada tangan Nura yang satunya. Jadi kini, tangan Nura sontak saja melingkari pinggang pemuda itu.
Seketika, wajah Nura merona merah karena malu. Ini adalah pertama kalinya ia memeluk seorang pria dari belakang. Dan ini juga pertama kalinya ia berboncengan dengan seorang pria.
Yah.. walaupun Nura tak bisa mengatakan juga, apakah berboncengan di atas skuter, sama rasanya seperti boncengan di atas sepeda motor atau tidak.
Dalam hitungan detik, Yon mengaktifkan fitur pelindung pada skuter yang mereka naiki. Dan seketika sebuah lingkaran pelindung yang tembus pandang pun melingkari Nura, Yon beserta skuter yang mereka naiki.
Nura kini merasa nyaman, kalau aksi mereka berselancar nanti tak akan menarik mata manusia mana oun nantinya. Karena dengan adanya fitur lingkaran pelindung itulah, ia dan juga Yon tak akan terlihat oleh mata siapapun.
Wushh..!
Angin dingin menerpa kencang pinggiran lingkaran pelindung hingga memunculkan percik suara bising di telinga Nura. Tampaknya malam ini angin sedang berhembus cukup kencang.
Untunglah pelindung tersebut mampu melindungi Nura dan Yon di dalam nyam jadi meraka tak merasakan langsung serangan dinginnya angin malam ke kulit mereka.
Setelah berada sekitar lima belas meter di atas permukaan tanah, Nura pun bertanya kepada Yon.
"Memangnya kita mau ke mana. yon?" Tanya Nura.
"Aku mau kita pergi ke tempat pertama kali kita bertemu," jawab Yon
Nura terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya lagi. Kali ini dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya.
"Maksud mu dengan tempat pertama kita bertemu itu.. bukan di sekolah ya, Yon?" Tebak Nura dengan tepat.
Gadis itu bisa menyimpulkan begitu karena arah laju mereka pergi saat ini berlawanan dengan tempat di mana sekolahnya berada.
"Benar sekali, Nura.." jawab Yon seketika.
"Tapi, Yon.. aku hanya ingat kalau pertemuan pertama kita itu di kelas. Sewaktu kamu baru datang sebagai murid baru," kilah Jura menyampaikan argumentasinya.
"Nah.. sudah pasti kau memang tak mengingatnya, Nura.. sudah kuceritakan tadi pada mu saat kita masih di rumah mu?"
"Maksud mu.. apa Yon? Dan.. mengingat apa? Apa yang sudah ku lupakan sebenarnya, Yon?" Tanya Nura yang benar-benar dibuat kebingungan oleh pernyataan Yon yang ambigu itu.
"Tunggu sebentar. Kita akan segera sampai. Berpegangan lah yang erat. Kita akan turun ke sana! Nanti, aku akan menceritakannya lagi padamu, Nura.." Tutur Yon menunda penjelasannya kepada Nura.
Nura mengikuti arah telunjuk Yon. Dsn ia mendapati kalau mereka kini berada di bantaran sungai Ciatar. Itu adalah tempat di mana Nura tinggal semasa kecil.
Nura mengerutkan kening.
"Kita akan ke sana sekarang, Yon?" Tanya Nura lagi.
"Tentu saja, Nura. Di sinilah kita bertemu untuk pertama kalinya. Saat itu, kita berdua masih sangat-sangat muda..maaf. maksud ku, kita masih sangat kecil dulu itu.."
__ADS_1
***