
"Nama ku Yon. Aku teman sekelas Nura," balas Yon memperkenalkan diri.
Hening sesaat.
Nura yang berada di antara kedua lelaki itu merasa yang paling canggung jadinya. Gadis itu langsung mengajak Yon untuk pergi segera.
"Udah kan kenalan nya. Sekarang, mending kita berangkat aja yuk!" Ajak Nura terburu-buru.
Akan tetapi, lagi-lagi Tio emmbuat ulah. Si bungsu menahan tangan Nura yang tak memegang keranjang gorengan. Sehingga kini keduanya berdiri sejajar.
"Nanti dulu lah, Kak. Masih cukup pagi kok! Ya kan, Bro!" Sanggah Tio yang masih berusaha untuk memperpanjang obrolan.
Nura langsung menyikut pinggang Tio diam-diam. Namun adiknya itu berhasil menghindar. Gadis itu sontak saja kesal. Ia akhirnya hanya bisa memelototi Tio saja.
"Jadi, Bro.. Lo ke sini naik apa?" Tanya Tio mencoba bersikap akrab.
"..."
"..."
Nura langsung melihat ke arah Yon. Kedua nya langsung terpikirkan satu alat transportasi yang super canggih. Yakni Skuter melayang.
"Skuter," jawab Yon dengan jujur.
Tiba-tiba langkah Tio pun terhenti seketika. Ia ikut memandang ke arah Yon. Meski ia memberi nya pandangan aneh.
"Skuter?" Tanya Tio memastikan. Ia pikir kalau telinga nya mungkin telah salah mendengar.
"Ya. Skuter. Itu skuternya!" Tunjuk Yon ke skuter miliknya yang terparkir menyender di depan teras rumah Nura dan Tio.
"..."
"..."
Nura pun refleks menepok jidat nya sendiri. Ia tahu kalau saat ini Tio pastilah berpikir kalau ada sesuatu yang aneh dengan kepribadian Yon.
'Anak seumuran mereka masih menaiki skuter? Yang benar saja!' begitu memang isi pikiran Tio saat ini.
"Rumah kamu memang di mana?" Tanya Tio kembali.
Menyadari kalau perkataan Tio jelas tak akan ada habisnya, akhirnya Nura pun memutuskan untuk mengusir halus Yon untuk berangkat sekolah terlebih dulu.
"Tio. Kakak mau ngomong sebentar sama Yon. Jadi, bisa tolong kamu berangkat duluan?" Pinta Nura tiba-tiba.
Tio langsung merengut tak suka karena kegiatan investigasi nya diganggu oleh Nura. Padahal itu dilakukannya demi kebaikan kakaknya sendiri. Tapi Nura malah..
__ADS_1
Nura kembali memelototi Tio. Sehingga pemuda itupun akhirnya mengalah dan berkata.
"Oke. Tapi aku tunggu kakak di depan gang sana ya!!jangan lama-lama! Bye, Bro!" Pamit Tio kepada keduanya.
"Yon! Sebaiknya kamu pergi duluan ke sekolah deh ya!" Nura memberi saran.
"Kamu gak mau berangkat bareng?" Tanya Yon padanya.
"A..aku mau. Tapi kamu lihat sendiri, kan. Adikku itu suka banget nanya ini itu.. maksud ku, aku takut kamu bakal ngerasa gak nyaman nantinya karena sering ditanya dia.." Nura menjelaskan alasannya.
Yon pun terdiam beberapa saat.
"Kita bisa pergi bersama sekarang juga dari sini?" Ajak Yon begitu tiba-tiba.
"Huh?" Nura terlihat kebingungan atas ucapan Yon tadi.
"Kita bisa berangkat bersama sekarang juga. Bukankah dengan skuter ini, kita akan tak terlihat dalam sekejap saja?"
"Tapi.."
"Kumohon, Nura. Aku ingin berangkat sekolah bersama mu. Waktu ku di dun.."
Tiba-tiba Yon berhenti berkata-kata. Pemuda itu seolah sedang menahan diri dari mengungkapkan sebuah rahasia.
Hal ini membuat Nura jadi penasaran. Sehingga perlahan gadis itu pun mengangguk, mengiyakan ajakan Yon tadi.
"Begitu kah? Kurasa tidak. Adik mu itu mungkin akan lebih fokus pada rasa penasaran saja, Nura," Yon berkomentar.
"Penasaran? Atas hal apa?"
"Menurut mu, apa dia tidak akan penasaran, lewat jalan mana kita bisa lolos melewati penjagaannya di depan gang sana. Karena hanya itulah satu-staunya akses menuju jalan besar menuju sekolah. Iya kan?" Tanya Yon sambil tersenyum simpul.
Dan Nura pun menyadari kebenaran ucapan Yon tersebut.
"Ah! Kamu benar, Yon!" Seru Nura.
Setelah beberapa lama, gadis itu kembali menambahkan.
"Hey.. kenapa aku merasa kalau kamu tampak senang mengerjai adikku itu ya, Yon? Apa dia pernah membuat mu jengkel atau apa?" Tanya Nura menyelidik.
Yon lagi-lagi hanya tersenyum simpul.
"Hahaha.. anggap saja seperti itu. Bukankah dia memang sering membuat mu jengkel, Nura?" Tanya balik Yon kepadanya.
Ditanya seperti itu, Nura pun spontan menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Yah.. Tio memang sering menjengkelkan sih. Ya sudah lah! Ayo kita berangkat ke sekolah duluan! Hihihi.. kenapa sekarang aku malah ingin melihat reaksi nya saat mencari-cari kita nanti ya?" Gumam Nura terkekeh sendiri.
Dan Yon hanya membalasnya dengan senyuman lebar saja.
Selanjutnya, Yon meng copy skuter miliknya menjadi dua. Dan Nura serta dirinya segera menaiki skuter tersebut. Setelah memastikan kalau tak ada orang yang akan melihat, Nura pun langsung menekan tombol biru, yang akan membuat skuter nya jadi tak terlihat lagi.
Tring.
Keduanya lalu mulai naik ke atas permukaan tanah. Hingga jarak mereka ke tanah berkisar lima meter jauhnya.
"Sekarang, kirim pesan pada adik mu itu, Nura. Kita bisa mengamati wajah nya dari sini, bukan?" Saran Yon kemudian.
"Baiklah. Sebentar.."
Nura lalu mengirimkan pesan singkat melalui ponsel nya. Pesan yang ditujukan untuk Tio itu berisi pernyataan kalau ia sudah berangkat ke sekolah terlebih dulu.
Tak lama kemudian, Nura melihat sosok Tio yang muncul kembali dari arah gang. Dan Nura jelas merasa sangat puas saat melihat wajah kebingungan Tio, saat menengok ke segala arah untuk mencarinya.
"Hihihi . Lihat itu, Yon! Kena, dia kita kerjai! Hh.. tapi kok ya aku ngerasa bersalah ya jadinya.." gumam Nura dengan suara berbisik.
"Kamu mau kita turun lagi ke bawah dan menemui adik mu itu?" Tanya Yon tetiba.
"Mm.."
Belum sempat Nura menjawab, namun tiba-tiba saja ponsel nya berdering nyaring.
Tinininiit..
Tinininiit..
Nura pun gelagapan mencoba mengeluarkan ponsel nya lagi dari dalam tas. Ia lupa untuk men silent mode ponsel nya. Jadi ketika dilihatnya saat ini Tio sedang memegang ponsel di telinganya. Nura akhirnya tahu kalau adiknya itu pastilah sedang menghubungi nomor telepon nya.
Di bawah sana, Tio ikut mendengar suara dering dari ponsel nya Nura. Anehnya, asal suaranya dari atas kepalanya.
Dengan reflek, Tio pun menengadah ke atas untuk memastikan pendengarannya. Dan, ia malah tercengang saat melihat tiga titik warna yang seperti melayang-layang di atas kepalanya. Jarak nya berkisar sekitar lima meter di atas permukaan tanah.
"Itu apa? Ehh.. bukan tiga.. tapi ada enam ternyata.. "
Tio mengucek-kucek matanya lagi. Mengira kalau pasti ia sedang salah melihat.
Dan kemudian ia tak lagi menemukan keberadaan enam titik warna tersebut. Begitu juga dengan suara dering yang tadi sempat ia dengar. Suara dering yang tadi ada di atas kepalanya itu kini tak lagi terdengar.
Jadilah akhirnya Tio semakin bingung.
"Mata dan kuping ku kenapa ya? Apa aku perlu pergi ke dokter THT dan juga dokter mata?" Tio bergumam sendiri.
__ADS_1
Sementara itu, saat ini Nura dan juga Yon sedang bergerak menjauhi titik di mana mereka berada tadi. Syukurlah tadi Nura bisa segera menekan tombol pada ponselnya. Sehingga ponselnya tak lagi mengeluarkan suara berdering kini.
***