Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Curhatan Sisil


__ADS_3

Setelah sepuluh menit lagi beristirahat di ruang UKS, Nura memutuskan untuk kembali ke ruang kelas nya lagi. Saat itu ternyata masih termasuk jam olahraga. Namun permainan voli agaknya telah selesai.


Beberapa teman Nura terlihat sedang bersantai di dalam kelas. Hampir semuanya sudha berganti baju.


Nura lalu mengambil baju seragam putih abu nya untuk berganti baju. Ia mencari sosok Yon dan juga Sisil. Namun ia tak menemukan keduanya di ruangan kelas.


"Mar, Sisil ke mana ya?" Tanya Nura pada salah satu teman nya yang sednag mengobrol.


"Oh.. Sisil kayak nya lagi ganti baju deh!" Jawab Mar yang kemudian melanjutkan obrolan nya kembali dengan rekan nya.


Nura akhirnya memutuskan untuk pergi menyusul ke kamar mandi. Dan ternyata benar, ia menemukan Sisil sendirian di sana.


"Nura? Kamu udah baikan? Maaf ya, tadi aku gak sempat susul kamu ke UKS. Soalnya.."


Ucapan Sisil menggantung. Nura menangkap hal ganjil pada ekspresi Sisil.


"Aku ganti baju sebentar ya? Tunggu aku ya, Sil?" Pinta Nura kemudian.


Dengan bergegas, Nura langsung berganti baju. Setelah selesai, ia langsung menghadap ke Sisil lagi. Gadis itu sedang termenung menatap pantulan dirinya sendiri di kaca.


"Sil.??" Panggil Nura engan lembut.


"Humm? Ya, Ra? Maaf. Aku ngelamun tadi. Udahan ganti baju nya? Kita ke kelas sekarang yuk!" Ajak Sisil setelah nya.


"Mm.. sebenarnya.. aku pingin ke mushola dulu, yuk!" Ajak Nura kemudian.


"Ke mushola? Bukan nya kamu lagi haid ya, Ra?" Tanya Sisil kebingungan.


"Iya.. tapi.. ada yang pingin aku obrolin sama kamu, Sil.. boleh?" Tanya Nura ragu-ragu.


"Ayok! Kayak nya, aku juga perlu curhat sekarang-sekarang ini," sahut Sisil sambil tersenyum tipis.


Kedua mudi itu pun berjalan menuju area mushola yang sepi.


Saat itu memang masih jam pelajaran lama. Jadi hampir semua murid masih berada di kelas nya masing-masing. Terkecuali teman-teman kelas Nura dan juga Sisil yang kini bertebaran entah di kelas ataupun juga kantin. Karena memang mereka baru saja selesai jam pelajaran olah raga kan..

__ADS_1


"Kamu mau ngomongin apa, Ra?" Tanya Sisil kemudian, setelah keduanya duduk di teras mushola yang sepi.


"Aku.. eh, Sil! Itu bekas cakaran atau apa? Lumayan panjang itu lecet nya!" Seru Nura tetiba.


Sisil lalu menyentuh area rahang nya. Dan ia langsung meringis nyeri.


"Mm.. bukan apa-apa," Jawab Sisil terlalu terburu-buru.


Nura memandang nya curiga. Sehingga Sisil pun akhirnya menceritakan yang sebenarnya terkait luka panjang di rahang nya itu.


"Ini gak sengaja kena cakaran Siska. Tadi, dia sempat ajak aku ngobrol," cerita Sisil sambil menerawang sedih.


"Waktu kapan? Oh! Waktu aku lagi di UKS ya?" Terka Nura dengan sangat tepat.


Sisil mengangguk.


"Iya. Dia nanya. Kenapa akhir-akhir ini aku jarang kumpul sama dia lagi.." imbuh Sisil kembali.


"Maaf ya, Sil. Gara-gara aku kamu dan Siska jadi jauh.." sesal Nura merasa bersalah.


"Enggak.. ini bukan salah kamu ooo, Ra. Mungkin memang pertemanan kami cuma bisa sampai di sini aja," ucap Sisil menyimpulkan.


"Aku dan Siska udah kenal lama banget. Dari kami masih TK," sisil mengawali ceritanya.


"Wah! Berarti udah lama banget dong ya!" Komentar Nura terkejut.


"Iya. Lumayan lama kan? Dulu, Siska bukan pem bully seperti sekarang ini. Dulu, seingat ku Siska masih jadi anak baik-baik.."


"Oh ya?" Tanya Nura dengan ekspresi sangsi di wajah nya.


"Iya, ara. Dia masih ramah, suka nolongin teman yang kesusahan, dan ceria lah pokok nya. Semuanya ini mulai berubah, sejak usaha Papa nya berhasil. Sejak menjadi lebih kaya, barulah Siska mulai berubah.."


"Dia jadi lebih sombong. Dan juga angkuh. Siska mulai sering ngeledekin teman-teman di kelas kami. Dan bergaul sama anak-anak populer. Aku yang udah temenan paling lama sama Siska pun ikut diseret ke dalam lingkaran pertemanan nya itu. Yah.. walaupun sejujurnya aku sendiri mulai gak nyaman sih temanan sama dia.." ungkap Sisil sejujurnya.


"Ooh.. begitu.." komentar Nura.

__ADS_1


"Iya. Tadi, Siska minta aku pilih untuk tetap berteman dengan kamu atau dia. Terus, aku bilang ke dia, kalau aku pilih kamu," imbuh Sisil kembali.


"Sisil.." komentar Nura merasa terharu.


Sisil lalu menghadiahi Nura sebuah senyuman tulus.


"Aku jujur sejujurnya ya, Ra. Temanan sama kamu jauh lebih menyenangkan dibanding temanan sama Siska. Aku gak perlu lagi berpura-pura suka sama semua yang dia suka. Dan aku juga gak perlu sibuk tampil cantik seperti yang dituntut Siska ke aku dulu," ungkap Sisil dengan jujur.


"Siska nuntut kamu berdandan gitu maksud nya?" Nura menyimpulkan.


"Iya. Dulu oun, penampilan ku agak cupu, Ra.."


"Kayak aku sekarang ya?" Nura mengakui


Dan Sisil langsung terkekeh pelan seraya mengangguk, mengakui.


"Hihihi.. iya. Kayak penampilan mu yang sekarang.. eh, jangan tersinggung ya! Aku gak bermaksud untuk ngeledek lho!" Imbuh Sisil terburu-buru.


"Iya gak apa-apa. Aku juga sadar diri kok. Terus-terus? Lanjutin lagi cerita kamu, Sil!" Seru Nura mengingatkan kawan karib nya itu.


"Iya. Jadi, Siska nuntut banget biar aku bisa make up dikit-dikit kayak dia. Dan aku mulai kenal deh tuh sama lip balm, lip gloss, eye shadow, dan juga bulu mata," ujar Sisil mengakui.


"Kamu pakai bulu mata juga, Sil?!" Seru Nura terkejut.


"Iya. Eh, tapi yang ini bulu mata alsi ku ya, Ra. Maksud ku, setiap kali kami jalan-jalan di akhir pekan, Siska pasti make over aku dan Tiwi habis-habisan!" Ungkap Sisil.


"Mendadak jadi barbie doll dong kamu, Sil?" Seru Nura menggoda.


"Hahaha. Iya, Ra. Dan aku jelas gak ngerasa nyaman banget! Gak cuma soal make over itu aja sih. Intinya. Sikap Siska udah berubah jauh banget dari Siska yang dulu aku kenal sewaktu kecil,"


"Dan setelah ku pikir baik-baik, mungkin lebih baik aku menganggap nya sebagai teman biasa aja. Kami masih berteman, tapi helas, aku gak bisa sedekat kayak dulu lagi. Aku gak mau capek bertahan dalam sebuah hubungan pertemanan yang bikin aku gak nyaman, Ra. Capek banget rasanya!" Keluh Sisil mengatakan sejujurnya kepada Nura.


"Hmm.. iya juga sih. Daripada lama&lama ngegondok di hati, nanti malah jadi penyakit gondokan lagi! Hii.. amit-amit.. amit-amit!" Celoteh Nura ceplas-ceplos.


"Hihihi! Nura bisa aja! Sekarang, gantian kamu, Ra. Apa yang mau kamu obrolin ke aku, sampai-sampai ajak aku ke mushola gini?" Tanya Sisil penasaran.

__ADS_1


"Aku.."


***


__ADS_2