
Selepas maghrib, Kak Eci, Nura dan juga kembali berbaikan. Seperti itulah biasanya interaksi dalam keluarga tersebut.
Setiap kali ada perselisihan atau pertengkaran dalam keluarga, Emak akan menjadi penengah dan agen pendamai bagi ketiga anak nya.
"Keluarga itu ibarat sapu lidi. Bila tercerai berai maka ia tak lagi berfungsi seperti yang seharusnya. Sementara bila ia terkumpul dalam satu ikatan yang kuat, maka ia akan menjadi benda yang memberikan manfaat," ujar Emak memberikan kuliah singkat selepas maghrib itu.
"Karena itulah, kita harus menjaga persatuan dan kesatuan dalam keluarga ini. 'quu anfusakum wa ahliikum naaroo'. Jagalah dirimu dan juga keluarga mu dari siksa api neraka," ucap Emak mengutip salah satu ayat suci dalam al Quran.
Kak Evi, Nura dan juga Tio menunduk mendengarkan dengan khidmat.
"Setiap dari kita memiliki kewajiban untuk saling menjaga satu sama lain di keluarga ini. Agar kita bisa kembali bersama lagi di syurga-Nya nanti. Menyusul Bapak kalian yang lebih dulu pergi,"
Emak menjeda kalimat nya sejenak. Dan Nura beserta kedua saudara nya tahu, kalau Emak sedang terpikirkan tentang Bapak mereka yang telah tiada.
Ketiga nya pun ikut sedih. Terutama Tio, yang bahkan tak pernah mengenal Bapak nya sama sekali, karena ia masih berada dalam kandungan saat Bapak meninggal.
Sementara Nura yang berumur setahun lebih juga tak memiliki memori apapun tentang Bapak nya itu. Hanya Kak Eci dan Kak Lili saja yang masih mengingat rupa Bapak dulu.
"Emak jangan sedih. Nura janji, Nura akan baik-baik aja sama Tio dan juga Kak Eci dan juga Kak Lili. Kalau pun kami marahan, Nura janji itu gak akan lama kok, Ma!" Janji Nura bersungguh-sungguh.
"Yah, Nur. Kami tuh kalau buat janji ya yang sekalian dong. Masa iya perlu diomongin juga sih kata-kata 'kalau ribut,' nya? Itu namanya gak serius janji nya!" Tegur Kak Eci seraya menyikut pelan ke samping Nura.
"Nura serius kok. kak. Nura berjanji sesuai dengan kemampuan Nura. Daripada Nura bikin janji kosong kan? Itu sama aja numpukin dosa. Bikin PHP in orang. Dosa. Janji kan hutang, Kak. Iya kan, Mak?" Nura mencari dukungan kepada Emak.
"Iya. Ucapan mu itu ada benar nya juga, Ra. Tapi ucapan Kak Eci juga ada benar nya. Kamu gak perlu ucapin kata-kata 'jika kalian ribut'. Cukup ucapkan yang baik-baik nya aja. Bilang begini, 'Janji akan berusaha menjaga keutuhan keluarga ini'. Begitu, Ra.." ucap Emak menasihati.
"Lagipula, setiap ucapan itu kan doa. Siapa tahu ada malaikat yang gak sengaja lewat pas kamu ngucapin kata-kata gak baik. Gimana kalau itu yang dikabulkan coba? Gak mau kan begitu?" Lanjut Emak berpetuah.
Nura mengangguk kaku. Satu ilmu baru bagi nya lagi dari Emak dan Kak Eci.
Petuah Emak terus berlanjut hingga hampir setengah jam berikut nya. Sementara ketiga anak Emak itu menunduk khusyu mendengarkan nya.
__ADS_1
Begitulah seharusnya sebuah keluarga. Berkumpul bersama mendiskusikan setiap permasalahan yang ada. Demi tercapai kemufakatan dan kebahagiaan dalam keluarga.
***
Keesokan hari nya, Nura dan Tio berangkat bersama menuju sekolah. Di sepanjang jalan menuju jalan besar dan menunggu angkot tiba, kedua nya berbincang tentang banyak hal.
"Apa lata Kak Eci kemarin itu benar, Kak?" Tanya Tio tetiba.
"Soal apa?" Tanya Nura tak mengerti.
"Soal ada cowok yang Kakak sukai?" Tanya Tio kembali.
"Jangan dibahas lagi bisa kan?" Tukas Nura tiba-tiba menggegaskan langkah.
"Serius ada? Siapa Kak? Ayolah kasih tahu Tio. Biar Tio selidiki dulu orang nya. Gak semua cowok itu baik, Kak. Dan rata-rata cowok jaman sekarnag ruh banyak sifat buaya nya daripada merpati nya!" Ucao Tio terburu-buru.
"Termasuk kamu juga gitu?" Tuding balik Nura.
"Ehh.. gak benar itu. Tio sih lelaki setia, Kak!" Ujar Tio berbangga diri.
"Setia ke Sisil nih maksud nya?" Goda Nura seraya tersenyum jahil.
Tio tampak salah tingkah dan tak menyahut apa-apa.
"Hahaha! Ayo lah, Yo! Kata mu tadi sesama keluarga harus terbuka. Kamu juga terbuka lah sama Kakak!" Goda Nura berlanjut.
"Eh, ada angkot tuh, Kak! Mau pergi angkot nya!" Tunjuk Tio ke ujung jalan.
Lelaki itu pun bergegas lari meninggalkan Nura untuk mengejar angkot yang hendak berjalan tersebut.
"Bang! Tunggu Bang!" Teriak Tio memanggil sopir angkot.
__ADS_1
Nura ikut berlari di belakang Tio. Keduanya kini sibuk berlari mengejar angkot yang tak jua berhenti.
'Sopir nya budeg atau apa sih? Kok ya gak berhenti juga, dipanggil-panggil!' rutuk Nura dalam hati.
Tak lama kemudian angkot putih biru itu akhirnya berhenti. Tio bergegas naik ke dalam mobil, dan berhasil duduk di bangku depan pintu. Kini ia melihat Nura yang masih berlari-lari dalam jarak sekitar delapan meter dari nya.
Sesaat kemudian, ada kejadian menegangkan yang terjadi dan hampir menimpa Nura.
Saat Nura berlari menghampiri angkot, sebuah motor dari arah belakang tiba-tiba saja mengambil jalur di samping kiri angkot. Memang, angkot tersebut berhenti nya tak sampai ke pinggir jalan. Mungkin pikir sopir nya tanggung. Toh ia akan melajukan angkot nya lagi segera.
Tapi, karena posisi angkot yang agak di tengah itulah yang akhirnya membuat sebuah motor melintas ke jalan kiri di samping angkot.
Tragis nya adalah pemotor tersebut seperti nya tak melihat Nura yang sedang berlari menghampiri angkot. Dikarenakan profil Nura yang sempat tertutupi oleh kerumunan di pinggir jalan.
Tak ayal, sebuah tabrakan pun terjadi.. tidak. Sebuah tabrakan pun seharusnya benar-benar terjadi. Dan Tio melihat jelas dan penuh keyakinan kalau seharusnya motor itu menabrak kakak perempuan nya dengan tabrakan yang kencang.
Akan tetapi, sama seperti kejadian di rel kereta tempo lalu, saat rekan nya, Heru hampir tertabrak kereta, kini kejadian tak masuk akal pun kembali menimpa saudari nya itu.
Sosok Nura tiba-tiba sjaa menghilang dari tempat seharusnya ia berdiri tadi.
Pengendara motor yang hampir menabrak nya pun sampai berhenti dan menoleh. Seolah ia dibuat terkejut karena tak jadi menabrak anak SMA yang tadi berada tepat di jalur motor nya melaju.
Setelah memastikan kalau ia tak menabrak siapa-siapa, dengan terburu-buru pengendara motor itu kemudian akhirnya menggaskan kembali motor nya. Meninggalkan tempat itu dengan segera.
Sementara itu, Tio yang syok, langsung turun dari angkot untuk mencari sosok Nura. Setelah pandangan nya dilayangkan ke sekitar, ia akhirnya menemukan Nura berada dalam pelukan erat seorang lelaki yang sangat dikenal nya dengan baik.
Posisi Nura berada kini jarak nya bergeser sekitar lima meter mundur dari tempat Nura berada tadi.
Wajah Nura tampak pias pucat. Ia pun sadar kalau ia hampir saja ditabrak oleh pengendara motor tadi.
'Apa aku sudah mati? Aku sungguh sudah mati sekarang?!' pekik Nura dalam hati.
__ADS_1
"Kak Nuur!" Panggil Tio, yang langsung bergegas mendekati Nura dan juga lelaki yang masih memeluk nya hingga saat ini.
***