Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Curhat ke Kak Eci


__ADS_3

"Nura? Kenapa kamu duduk di situ?" Tanya suara barito itu.


Nura dan Sisil pun langsung menoleh ke sumber suara. Dan keduanya seketika berhadapan dengan John, si Anak Baru.


"Yon.."


"John.."


Sahut Nura dan Sisil bersamaan.


"Kenapa kamu duduk di sini? Kamu pindah tempat duduk?" Tanya Yon mengulang.


Tiba-tiba saja Nura merasa tak enak hati pada pemuda itu. Ia tak tahu, jawaban apa yang harus diberikan nya kepada Yon.


Nura menundukkan kepala nya dalam-dalam. Dan ia terus saja terdiam tak memberikan jawaban kepada Yon.


Setelah beberapa lama berlangsung seperti itu, Yon pun akhirnya berkata.


"Oh.. aku mengerti. Baiklah. Aku akan kembali ke kursi ku. Maaf. Kalau ucapan dan sikap ku kemarin membuat mu gak nyaman. Jujur saja, aku cuma mau berteman," ucap Yon berpamitan, sebelum akhirnya ia kembali duduk di meja nya.


Seketika Nura mengangkat wajah nya.


'Yon salah oaham! Bagaimana ini?' batin Nura dilanda resah karena kesalahpahaman yang terjadi di antara dirinya dan juga Yon.


Saat Nura hanpir memutuskan untuk berdiri dan mendekati Yon, demi bisa menjelaskan situasi sebenar nya. Ia menangkap profil Siska yang baru saja mausk ke dalam kelas.


Kedua netra nya langsung bertatapan dengan mata mengancam milik Siska. Jadilah akhirnya Nura tak jadi mendekati Yon. Gadis itu kembali duduk di samping Sisil. Namun pandangan nya memandang dengan tatapan penuh penyesalan ke arah Yon duduk kini.


Nura lalu melihat saat Siska menyapa Yon dengan wajah nya yang terlihat sangat cantik.


"Hay Yon! Nama ku Siska! Kemarin Nura minta tukeran tempat duduk sama aku. Jadi.."


'Siska berbohong! Kenapa dia tega bilang begitu sih?! Kan nanti Yon bisa makin salah paham ke aku!' pekik Nura tanpa suara.


Gadis itu sungguh merasa geram karena dusta yang sudah diucapkan oleh Siska kepada Yon. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi di samping nya, Sisil terus mengingatkan Nura.


"Biarkan Siska, Nur.. daripada kamu kena masalah sama dia nanti.." tegur Sisil terus mengingatkan Nura.


Nura mengangguk pelan. Menyadari kebenaran dalam peringatan Sisil tadi.


Alhasil Nura pun harus membiarkan Siska duduk berdua dengan Yon. Sementara pemuda itu mungkin menganggap nya begitu sombong karena tak ingin berteman dengan nya.

__ADS_1


'Ah.. mungkin memang ini yang terbaik..' Nura akhirnya menyerah untuk menjelaskan kebenaran pada Yon, Murid pindahan baru itu.


***


Selama beberapa hari berikut nya, Nura dan Yon tak lagi bertegur sapa. Sebenarnya Nura merasa tak nyaman dengan ketiadaan interaksi di antara mereka.


Pernah sekali ia memberikan senyuman pada pemuda itu saat keduanya berpapasan di kantin. Namun Yon melengos, dan berpura-pura tak mengenal nya.


Saat itu terjadi, sungguh, hati Nura serasa seperti dihantam oleh batu besar yang menyesakkan dada nya. Ia ingin menangis saat itu jua. Namun sekuat hati, ditahan nya air mata itu.


Beberapa hari kembali berlalu. Dan mereka tak pernah lagi bersinggungan. Nura hanya berani melihat Yon secara diam-diam, atau saat jarak keduanya sedang berjauhan.


Dalam diam, ia melirik si tampan berwajah dingin. Dan setuap kali itu terjadi, detak jantung nya berdentum cepat tanpa bisa ia kuasai.


Ba dump. Badump.


Malam-malam Nura mulai dihantui oleh mimpi-mimpi buruk. Dan di hampir semua mimpi itu. Ada Yon yang berjalan jauh meninggalkan nya.


Nura sering terbangun dengan perasaan sedih. Dan itu sama sekali tak disukai oleh dirinya sendiri.


"Kenapa sih muka tuh cowok gak bisa hilang dari ingatan?! Apa jangan-jangan aku beneran suka sama Yon ya?!" Gumam Nura saat ia sedang rebahan di atas kasur nya, pada suatu akhir pekan.


Tiba-tiba saja, Nura dikejutkan oleh pintu kamar nya yang terbuka lebar. Dan tampak lah kepala Kak Eci yang menyembul dari muka pintu.


Tanpa pikir panjang, Nura langsung bangkit duduk dan melempar bantal yang dipeluk nya ke wajah Kak Eci.


"Eits! Lagi sensi nih, Non! Kenapa? Kamu habis ditolak ya sama cowok?!" Tebak Kak Eci asal.


Kakak perempuan Nura itu lalu masuk ke dalam kamar sang adik. Selanjutnya ia menutup pintu kamar Nura rapat-rapat. Dan mendekati tempat Nura duduk saat ini.


Kak Eci lalu duduk di pinggir ranjang dan berkata lagi.


"Kamu kenapa, Ra? Cerita ke kakak. Siapa tahu kakak bisa bantu?" Tanya Kak Eci, dengan wajah yang tiba-tiba berubah serius.


Nura menghela napas dalam berkali-kali sambil memeluk lutut nya sendiri.


Sejujurnya, ia lebih nyaman untuk bercerita kepada Kak Lili. Tapi sekarnag Kak Lili sudah menikah dan tak lagi tinggal serumah dengan nya. Jadi, mau tak mau, ia hanya bisa menerima tawaran dari Kak Eci saja.


Nura melirik ke arah Kak Eci. Dilihat nya Kak Eci masih menunggu dengan sabar.


Akhirnya, dengan malu-malu, Nura pun menceritakan masalah nya pada Kak Eci.

__ADS_1


"Jadi begini Kak.. di kelas kan ada anak baru ya.." tutur Nura mengawali cerita nya.


"Cowok kan?" Tebak Kak Eci.


"Kok Kak Eci tahu sih?" Tanya Nura terheran-heran.


Gantian Kak Eci yang memberinya pandangan aneh.


"Memang nya kalau Anak Baru nya cewek, dia bisa bikin kamu jatuh cintrong kayak gini ya?" Tanya balik Kak Eci.


"Nura enggak jatuh cinta!" Sanggah Nura seketika.


"Lha terus tadi omongan mu itu apa coba?"


Kak Eci lalu menirukan ucaoan Nura yang tak sengaja ia dengar, sesaat sebelum ia masuk ke dalam kamar adik perempuan nya itu.


"'Kenapa sih muka tuh cowok gak bisa hilang dari ingatan?! Apa jangan-jangan aku beneran suka sama Yon ya?!'" Tiru Kak Eci dengan ekspresi kelewat dramatis.


Menyadari kalau kakak nya itu baru saja meledek nya, Nura kembali melempar bantal ke wajah Kak eci.


"Kakak kelewatan! Nura gak jadi cerita deh!" Kesal Nura yang kemudian merajuk, membelakangi sang kakak.


"Oke. Oke. Kakak minta maaf. Habis nya kamu lucu banget sih, Dek.. jadi ngingetin kakak sama pengalaman cinta monyet nya Kakak dulu.." ujar Kak Eci tetiba.


Nura seketika berbalik kembali menghadap Kak Eci.


"Kakak pernah jatuh cinta juga?" Tanya Nura tak percaya.


Kak Eci spontan tersenyum.


'Hihihi.. Nih bocah gak sadar kalau dia udah ngaku, lagi jatuh cinta!' komentar Kak Eci dalam hati.


"Ya pernah lah! Pas se umuran kamu juga, Ra, kejadian nya.." ungkap Kak Eci dengan jujur.


"Tapi.. Kak Eci gak pernah kelihatan pacaran atau pulang sama cowok!" Tangkis Nura.


"Karena kakak takut sama Emak lah! Memang nya kamu gak takut apa diceramahin Emak soal bawa cowok ke rumah??!" Tanya balik Kak Eci, mengingatkan Nura pada polisi keamanan di rumah mereka, yakni Emak.


Dan Nura pun seketika bergidik ngeri.


"Kak Eci bener. Emak jelas bakal ngasih ceramah yang panjang nan lebar nantinya ya.." sahut Nura menyetujui ucapan sang kakak.

__ADS_1


***


__ADS_2