
"Aku berterus terang kepadamu sekarang ini, karena aku sudah tak memiliki banyak waktu lagi di bumi, Nura.. aku harus segera kembali ke planet Terian. Planet asal ku. Kedua orang tua ku tampaknya yak percaya padaku. Sehingga mereka meminta ku untuk segera kembali malam ini juga ke planet Terian. Aku harus pulang.." tutur Yon panjang kali lebar.
Suasana di ruang tamu kembali berubah hening. Tak ada yang berkata-kata selama beberapa menit berikutnya.
Selama itu berlangsung, Yon masih tetao menatap Nura tanpa melepaskan pandangan nya sedikitpun dari gadis itu. Begitu juga dengan Nura.
Ada kesedihan yang tampak jelas terlihat pada sepasang netra milik Yon. Dan itu disaksikan juga oleh Kak Eci. Sampai-sampai Kak Eci mengendurkan pegangan nya pada tangan Nura sesaat kemudian. Dan ini disebabkan oleh rasa iba nya terhadap lelaki di hadapannya tiu.
Entah kenapa, Kak Eci akhirnya bisa menyadari. Kalau pemuda di depannya itu memang memiliki perasaan khusus terhadap adiknya. Sebuah perasaan yang tulus.
Bagaimana ia bisa tahu? Karena Kak eci telah belajar banyak dari pengalaman nya selama bekerja dan mengenal banyak orang di sekitarnya.
Seseorang bisa terlihat tulus tidaknya dari cerminan dalam mata mereka kala memandang sesuatu. Karena sebuah ketulusan akan selalu bisa mengena hati siapapun yang melihat nya.
Karena ketulusan, mampu mendobrak sekat pemisah yang membatasi hubungan antar manusia satu dengan manusia lainnya.
Dan karena ketulusan tak bisa dibuat-buat atau dipura-pura adakan. Karena sesuatu yang dibuat-buat, tak akan bisa bertahan lama. Sementara ketulusan yang sejati, akan selalu memancar dan sampai ke setiap hati yang menyaksikan eksistensi nya.
Seperti Itulah yang Kak eci lihat dalam kedua netra milik Yon saat ini. Pemuda itu jelas-jelas menyukai adiknya, Nura.
Meski, sebagai kakak, ia akan menentang hubungan di antara keduanya. Namun setelah mendengar penjelasan pemuda tiu, Kak Eci bisa menebak tujuan kedatangan Yon ke rumah mereka di waktu dini hari seperti ini.
Pemuda itu tampaknya hendak melakukan perpisahan dengan adik nya. nura. Karena sang alien tampan harus kembali ke planet asing nya.
...
"Pu.pulang? Kamu.. mau pp..pulang, Yon?" Tanya Nura dengan tergagap.
Hatinya sungguh didera oleh perasaan kalut.. dan juga takut. Pernyataan pulang dari mulut Yon tadi membuatnya resah dan kian gelisah.
Meski ia belum mempercayai benar kalau Yon adalah alien.. namun pernyataannya tentang pulang ke planet asalnya tiu sudha langsung membuat Nura jadi susah payah menahan sedih.
__ADS_1
Bagaimanalah tidak menjadi sedih? Kemarin, Emak baru saja pulang ke haribaan-Nya. Emak pulang dan meninggalkan Nura berama kakak-kakak dan juga adiknya di dunia ini.
Pernyataan pulang dari mulut Yon, sontak saja bak menjadi bom yang mengejutkan dunia Nura yang kerdil ini.
Hatinya belum siap untuk menghadapi perpisahan lagi. Namun kini pemuda itu mengatakan kalau mereka akan berpisah? Padahal perjumpaan mereka belum genap satu bulan!
Nura pun seketika dikuasai oleh perasaan marsh. Dengan tiba-tiba, gadis itu langsung berbalik untuk menghindari tatapan mata Yon kepadanya. Dan dengan nada dingin, Nura berkata.
"Kalau kau mau pulang, pulang saja lah! Siapa juga yang menginginkan mu di sini! Pergi sana pulang ke planet sia lan mu itu!" Umpat Nura dengan kedua tangan yang terkepal di samping tubuh.
"Nura.." Kaka Eci menegur pelan sang adik.
Eci tahu, apa yang dirasakan oleh adiknya itu saat ini. Ia mengerti sangat kalau adiknya itu tak siap untuk perpisahan lagi.
Sama seperti dirinya sendiri yang tadi sempat mengira kalau Yon akan mengajak Nura pergi bersamanya. Meskipun tadi sempat marah dan mengira kalau ia akan berpisah dengan Nura, adik nya.
Tapi ternyata, Eci telah salah sangka. Dilihatnya lagi Yon yang terdiam terpaku di tempatnya berdiri saat ini. Ada kesedihan yang terpampang nyata pada dua mata indah milik pemuda tampan tersebut.
"Ini. Ajak Nura jalan-jalan di luar. Aku akan mengijinkan mu mengajaknya keluar tak lebih dari satu jam. Ingat! Hanya satu jan saja ya!"
"Kak Eci! Apaan sih?!" Nura melayangkan protes nya.
Akan tetapi Kak Eci tak menghiraukan adiknya yang merajuk. Ia terus mendorong bahu Nura hingga Yon akhirnya spontan menangkap bahu Nura agar gadis itu tak terjengkang ke belakang.
"Sudah sana cepat pergi! Jalan-jalan pagi itu menyehatkan! Tapi ingat!" Kak eci tiba-tiba saja melayangkan tatapan tajamnya kepada Yon.
"Jangan berani macam-macam dengan adik ku ini, oke! Jangan bawa dia pergi juga! Kalau tidak, aku akan..ee.. aku akan.. melaporkan mu ke NASA! Mereka pasti akan sangat tertarik untuk mendengar cerita tentang alien seperti mu!" Ancam Kak Eci yang terdengar kosong bagi siapapun yang berada di ruang tamu tersebut.
Akan tetapi, baik Nura maupun Yon tak menganggap remeh ancaman Kak eci. Yon langsung mengangguk bersungguh-sungguh dan berkata.
"Baik, Kak! Aku akan mengajak Nura pulang tepat waktu. Terima kasih.." tutur Yon bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Hmm! Dan Nura! Jangan berani macam-macam juga ya kamu! Cuma sekali ini Kakak mau biarin kamu keluar malam-malam sama cowok!" Tegur Kak Eci mengingatkan sang adik.
"Kak Eci apaan sih? Nura gak mau pergi sama Yon! Nura mau tidur aja!" Omel Nura mulai berisik.
Tak lama kemudian terdengar suara kasur yang berderit dari kamar Emak. Sepertinya Kak Lili yang tidur di sana terusik dengan suara berisik di ruang tamu.
Menyadari kalau Kakak sulungnya akan segera bangun, Kak Eci pun buru-buru berkata lagi kepada Yon. Kali ini nada bicaranya terdengar genting.
"Kalian cepatlah pergi! Sebelum Kak Lili bangun dan melihat mu. Dia jelas tak akan membolehkan mu pergi mengajak Nura keluar!" Usir Kak Eci dengan suara berbisik.
Yon pun mengangguk. Sementara Nura langsung hendak berteriak dan meminta tolong pada Kak Lili. Akan tetapi Yon sudah siaga dsn menggunakan kekuatan nya untuk mengunci mulut Nura.
Jadinya gadis itu tak bisa mengeluarkan sepatah kata ataupun juga suara sekecil apapun.
Nura pun berbalik, dan hendak memukul dada Yon. Namun pemuda itu sigap menangkap kedua tangannya. Dan Yon juga membawa Nura ke dalam pelukan nya.
Sedetik kemudian, baik Nura maupun Yon telah menghilang dari ruang tamu. Meninggalkan Kak Eci yang diam terpaku menatap tempat di mana kedua muda mudi tadi berada.
"Ya ampun, Ci.. kamu gila banget sih.. dorong adik mu untuk dibawa pergi alien? Duh.. kalau Kak lili tahu apa yang sudah kulakukan, pasti dia bakal marah banget!" Dumel Kak Eci pada dirinya sendiri.
Sesaat kemudian, sebuah suara mengejutkan Eci.
"Eci? Ngapain kamu bengong di situ? Itu pintu juga terbuka. Kamu habis keluar kah?" Tanya Kak Lili menyelidik perhatian.
"Ee..i.. iya, Kak.. hoahmm..." Eci berpura-pura menguap. Demi menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba melanda nya.
"Tadi.. Eci cari angin aja ke teras rumah. Sekarang.. Eci mau tidur lagi deh. Kakak juga tidur lagi yuk!" Ajak Eci yang buru-buru mengunci pintu rumah kembali. Kemudian mendorong bahu sang kakak untuk kembali ke kamar nya lagi.
Dalam hatinya, Eci pun melirihkan harapan untuk hubungan Nura dan juga teman alien nya tadi.
'Kalian harus menuntaskan hubungan kalian malam ini juga, Nura. Akhiri semuanya, setelah itu, kehidupan kita bisa kembali normal lagi..' gumam batin Kak Eci.
__ADS_1
***