Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Petuah Emak


__ADS_3

Pada akhirnya, Nura dan Tio tak bisa lari dari omelan Emak menjelang maghrib itu. Keduanya mendapat hukuman yang cukup berat bagi keduanya.


Nura dan Tio dihukum mencuci baju bersama pada akhir pekan nanti. Pekerjaan yang biasanya digeluti oleh Emak atau Kak Eci.


"Kenapa sebenarnya dengan kalian? Kalian kan sudah besar. Kenapa masih suka ribut seperti anak kecil sih?" Tegur Emak tak mengerti dengan keributan dua anak nya itu.


Nura dan Tio menundukkan kepala nya dalam-dalam. Mereka sungguh menyesal karena telah mengundang kemarahan Emak.


"Maaf, Mak.." ucap kedua nya hampir bersamaan.


"Coba ceritakan ke Emak. Apa yang sebenar nya terjadi? Kenapa kalian ribut-ribut kayak tadi sih?" Tanya Emak penasaran.


Tio seketika melayangkan tatapan mengancam kepada sang kakak. Dan Nura mengerti dengan arti tatapan adik nya itu.


"Mm.. gak ada apa-apa, Mak.." jawab Nura menutupi kenyataan yang sebenar nya.


'Duh. Dosa ini sih. Maaf ya, Mak.. kasihan Tio kalau Nura kasih tahu soal Sisil,' gumam batin Nura.


"Serius gak ada apa-apa?" Tanya Emak tak percaya.


"I..iya, Mak.."


"Assalamu'alaikum! Eh, pada ngapain nih? Kok diam-diaman begini sih?" Sapa Kak Eci yang baru saja pulang kerja.


Ia menyalami tangan Emak dan menjulurkan tangan nya ke arah Nura dan juga Tio untuk mereka cium. Setelah itu, Kak Eci mengambil posisi duduk di samping Emak.


"Kenapa, Mak?" Tanya Kak Eci pada Emak.


"Ini dua adik mu ini lho, Ci. Ribut banget sore tadi. Tio gedor-gedor pintu Nura. Lupa sama etika," cerita Emak pada Kak eci.


"Huh? Kamu kenapa Yo?" Tanya Kak Eci kini pada adik lelaki nya.


Namun Tio hanya diam saja.


"Ra? Bisa jelasin ke kakak apa yang bikin kalian ribut?" Tanya Kak Eci kemudian kepada Nura.


Dan Nura pun ikut kompak tak bersuara.


Keduanya tahu benar, jika Kak Eci sampai tahu alasan keributan di sore ini, pastilah Kak Eci akan membicarakan nya hingga bertahun-tahun bahkan sampai puluhan tahun kemudian. Karena Kak Eci adalah biang nya ember dalam keluarga kecil mereka.


Jadilah akhirnya kedua anak terkecil dari Emak itu pun memilih untuk menutup rapat mulut mereka.

__ADS_1


Menyadari kalau ia yak akan mendapat jawaban dari keduanya, tiba-tiba saja Kak Eci beranjak bangun dan berkata kepada semua orang di ruang tamu.


"Eci mau ke kamar dulu ya, Mak. Mau mandi dulu lah. Bentar lagi maghrib," pamit Kak Eci kemudian.


Akan tetapi, langkah Kak Eci tak langsung tertuju ke kamar nya sendiri. Melainkan ia melipir terlebih dulu ke kamar Nura yang separuh terbuka.


Dengan diam-diam, Kak Eci menyelinap ke dalam kamar adik nya itu. Dan ia pun menemukan selembar foto milik Tio tergeletak asal di atas kasur.


Tap. Tap. Tap. Tap.


Kak Eci bergegas keluar kamar dan menghampiri Emak. Ia lalu menunjukkan foto yang berhasil ia jarah dari kamar Nura.


"Mak! Mak! Mak! Eci tahu sebab dua krucil ini pada ribut! Si Tio udah punya cewek, Mak kayak nya!" Ujar Kak Eci terdengar terkejut.


"Apa?!" Pekik Emak yang langsung meraih foto dari tangan Kak Eci dan melihat nya lekat-lekat.


Sementara itu Tio yang telat menyadari kalau fotonya kini sudah di tangan Emak pun akhirnya hanya bisa tertunduk lesu.


'Ah! Sial banget sih! Punya saudara cewek memang menyusahkan saja!' rutuk Tio dalam hati.


Dan Nuta pun ikut menundukkan kepala nya. Ia merasa menyesal dan juga bersalah pada Tio, di samping nya. Karena keteledoran nya yang menaruh asal foto itu lah, sehingga Kak Eci bisa menemukan nya dengan begitu mudah.


Nura pun melayangkan protes nya pada Kak Eci.


"Ya habisnya kalian ditanya kenapa, malah diam aja. Mau gak mau kan Kak Eci cari tahu sendiri jawaban nya. Mana bisa Kakak sebagai kakak kalian diam aja kalau kalian terlibat masalah kan?" Shaut Kak Eci membela diri.


"Nura gak ada masalah kok!" Sergah Nura menangkis tudingan Kak eci.


"Serius gak ada? Itu soal curhatan kamu yang kemarin tentang vowok yang kamu taksir gimana tuh?" Todong Kak Eci membongkar aib sang adik.


"Kak Eci!! Kenapa dibahas di sini sih?!" Teriak Nura tak percaya.


Mata gadis itu sudah memerah senua nya.


"Maka nya, lain kali kalau orang tua tanya tuh jangan bohong dong!" Tuding kak Eci lagi, menegur sang adik.


"Nura gak bohong!" Sanggah Nura.


"Iya. Cuma nyembunyiin rahasia aja gitu kan maksud nya? Itu sih sama aja nama nya, Ra! Kita ini kan satu keluarga. Apa salah nya sih terbuka sama keluarga sendiri," omel Kak Eci kemudian.


Nura tak menjawab. Ia hanya menatap marah pada Kak Eci. Sementara itu Tio masih menundukkan kepala tanpa memberi komentar apa-apa pada perdebatan yang terjadi di hadapan nya.

__ADS_1


Tak lama kemudian Emak pun menengahi perdebatan itu.


"Eci! Sudah lah. Kamu kembali ke kamar mu dulu! Biar Emak yang tangani ini," ujar Emak tiba-tiba.


"Tapi Mak.."


"Eci..!"


Akhirnya, usai menerima tatapan tegas dari Emak, Kak Eci pun memutuskan untuk membawa langkah nya menuju kamar. Dan kali ini, ia benar-benar langsung pergi ke kamar nya sendiri.


"Nura, Tio.. Emak gak akan memaksa kalian untuk ceritakan semua yang kalian alami. Soal foto ini, Emak akan mengembalikan nya ke kamu, Yo. Tolong maafkan kakak kalian jika menurut kalian, Kak Eci sudah mengumbar aib kalian. Ia khilaf. Begitu juga dengan Emak yang salah dengan mengorek masalah ini terlalu dalam," tutur Emak panjang lebar, seraya mengembalikan foto milik Tio.


"Meski begitu, Emak bisa memahami kalau maksud Kak Eci juga baik. Ia, seperti juga Emak khawatir pada kalian berdua, Nak. Kami sayang kalian. Karena itulah, kami berharap kita bisa tetap bersatu menjadi satu keluarga yang utuh," lanjut Emak menyampaikan petuah nya.


"Janya saja, Emak berharap, setiap kalian menghadapi permaslaahan, apapun itu, kalian bisa tetap berpikir jernih. Agar kelak kalian bisa mengambil tindakan yang bijak. Yang tak menyakiti hati orang lain. Dan juga tak menyakiti diri kalian sendiri,"


"Tentang keributan di sore hari ini, Emak akan melupakan nya. Tapi hukuman untuk kalian harus tetap dilakukan. Kalian paham?"


Nura dan Tio seketika mengangguk.


"Emak sedikit banyak nya mengerti kalau kalian juga mulai beranjak dewasa. Kalian sudah besar. Dan mungkin juga sudah mulai suka dengan lawan jenis masing-masing,"


"Emak gak akan menyalahkan kalian hanya karena kalian menyukai seseorang. Hanya saja, tolong ingat pesan Emak ini, Nak. Kalian harus bertanggung jawab untuk setiap tindak tanduk kalian. Termasuk tentang perasaan suka tersebut,"


"Jangan menyakiti hati orang lain. Jaga pula diri kalian maisng-masing. Sukai sewajar nya saja. Karena kita yak pernah tahu, bila sewaktu-waktu rasa suka itu bisa berubah menjadi benci. Tapi Emak berharap, kalian tak pernah menyimpan bara benci di hati kalian, Nak.."


"Hidup lah dengan damai. Hiduplah dengan rasa bangga pada diri sendiri. Bersikap rendah hati lah pada sesama. Dan ingat juga norma dan etika yang ada di lingkungan sekitar kita. Termasuk juga norma agama,"


"Kalian mengerti kan, Ra? Yo?" Tanya Emak menutup petuah nya.


"Iya, Mak.." jawab Nura dan Tio kompak bersamaan.


Tak lama kemudian, terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Suasana di ruang tamu itu pun mendadak menjadi hening.


Ketiga nya khusyu mendengar lantunan adzan yang dikumandankan oleh muadzin di mushola yang letak nya cukup dekat dari rumah mereka itu.


Setelah lantunan adzan selesai dikumandangkan, Emak pun berkata lagi,


"Sudah. Sekarang, bersiap-siaplah. Kita shalat berjamaah di rumah. Yo, kamu jadi imam nya!" Titah Emak tak terbantahkan.


"Iya, Mak," lagi-lagi, kedua bungsu nya Emak pun menjawab dengan kompak dan lantang.

__ADS_1


***


__ADS_2