
"Ra.. makan dulu.. kamu belum makan dari siang, kan?" Titah Kak Eci di samping Nura.
Akan tetapi, Nura hanya terdiam saja sejak mereka pulang dari memakamkan Emak. Gadis itu terlihat melamun terus.
"Nura.. makan dulu. Kalau kamu gak makan, nanti yang ada penyakit lambung mu bisa kumat lho!" Tegur Kak Eci mengingatkan pada penyakit kambuhan nya.
Nura tetap saja tak bergeming. Ia kini menatap foto Emak yang ia simpan di ponsel nya. Dalam foto itu, ia sedang tersenyum lebar bersama Emak berdua di ruang TV.
Nura ingat, saat itu adalah hari libur. Dan Emak sedang mengupas wortel yang akan dibuat menjadi gorengan nantinya.
"Ya udah. Kalau gak mau makan nasi, makan gorengan aja, Ra! Ini.. hiks.."
Kak Eci, kelepasan terisak. Matanya sudah mulai mengembun lagi. Namun buru-buru gadis itu menahan tangis nya agar tak tumpah ke pipi.
Eci ingat dengan janji nya bersama dengan ketiga saudaranya yang lain. Bahwa mereka tak akan menitikkan air mata lagi atas kepergian Emak. Khawatir bila itu akan menahan langkah Emak menuju alam akhirat.
Setelah yakin kalau dirinya sudah lebih tenang, barulah Kak Eci kembali bicara.
"Ra.. ini gorengan yang dibuat sama Emak lho.."
Kalimat Kak Eci kembali terjeda. Di saat jeda itulah putri kedua Emak itu mengumpulkan kembali keteguhan di hatinya.
"Kamu masa tega ngebiarin masakan Emak terbuang sia-sia..?" Lirih suara Kak Eci terdengar mengiba.
Mendengar itu, pandangan Nura pun langsung tertuju pada piring putih berisi gorengan yang kini sedang disodorkan oleh Kak Eci ke arah nya.
Mata Nura seketika hendak kembali mengembun. Namun buru-buru gadis itu menengadah ke atas sambil membayangkan hal lain yang konyol ataupun lucu.
Sungguh sebuah usaha yang sia-sia. Karena pada akhirnya dua kristal bening itu kembali menganak sungai di pipi Nura. Meski wajah sang gadis masih tetap menengadah ke langit-langit kamarnya.
"Hiks!!
Menyadari kalau ia lagi-lagi tak bisa menahan tangis, Nura akhirnya menunduk dan menyembunyikan wajahnya sendiri dengan kedua tangan.
"Ma..maaf, Kak! Hiks.. Nura.. belum bisa..hiks.. untuk enggak nangis saat ini.. hiks Kepergian Emak.. hiks.. benar-benar begitu cepat..!" Sesal Nura dengan wajah yang kini masih ia tutupi.
Kak Eci langsung menepuk kepala Nura cukup kencang.
Keplak!
"Aduh!" Nura oun mengaduh kesakitan.
__ADS_1
Gadis itu lalu mengangkat wajah nya lagi. Dan memberi Kak Eci pandangan kesal. Untuk sesaat, air mata sang gadis kembali terhenti.
"Dasar dodol! Kan kita udah janji berempat, kalau kita gak bakal nangisin kepergian Emak, Ra! Gimana sih?!" Omel Kak eci dengan mata yang mulai memerah pula.
"Habisnya kan Nura sedih, Kak! Memangnya kakak gak sedih apa?!" Balas Nura mengomel. Sementara kedua matanya masih juga basah mengaliri air mata.
"Kata siapa kakak gak sedih! Kakak juga sedih lah!"
Kak Eci lalu mencubit pipi kanan dan kiri Nura. Hingga adik nya itu merasa kesakitan karena dijembel terus-terusan.
"Adudududuh! Sakit, Kak!" Protes Nura mengungkapkan rasa sakitnya.
"Lagian! Kalau ngomong tuh jangan asal! Kaka juga sedih banget lah! Secar, Emak pergi tiba-tiba dan ninggalin kita.. huaaa!! Emak!!" Tahu-tahu, Kak Eci malah jadi ikutan menangis pula.
Diikuti kemudian oleh Nura.
"Huaaa!!" Tangis Nura dan Kak eci bersamaan.
Kak Lili yang tadi sedang beristirahat di kamar almarhum Emak oun lalu mendengar tangisan kedua adiknya. Ia yang tadinya hendak tidur awal karena merasa pusing pun langsung bergegas bangun untuk melihat apa yang terjadi.
Di samping Lili, Alif sudah pulas tertidur.
Flashback dimulai...
"Dua adik perempuan mu itu, Li. Ya ampun! Mereka itu seperti anak kembar saja! Heran Emak! Ulahnya ada-ada aja! Kalau mereka akur, mereka malah bikin kekacauan di mana saja. Tapi sekalinya lagi gak akur, keduanya persis macam kucing garong yang mau kawin!" Rutuk Emak dulu kala.
"Hihihi.. iya, Mak. Lili juga heran.kok bisa ya Eci sama Nura bisa semirip itu sifat nya. Sama-sama keras keoala. Tapi juga sama-sama baik dna loyal.." komentar Lili.
Flashback selesai.
Percakapan yang terjadi saat Lili berusia lima belas tahun itu kini terulang di benak sang putri sulung. Setelah tersadar dari lamunan singkat nya, Lili lalu masuk ke dalam kamar Nura dan Eci.
"Eci.. Nura.. kok masih pada nangis sih?" Tanya Kak Lili sambil mendekati keduanya..
Putri sulung nya Emak itu menatap kedua adiknya dengan pandangan teduh. Nura dan Kak Eci pun lalu melepas pelukan mereka dan bergegas menoleh ke asal suara Lili berada.
Begitu tahu kalau Lili menghampiri, keduanya oun langsung bergegas bangun dan memperpendek jarak di antara mereka dan juga Kak Lili.
"Kak Lili.."seru Nura dan Kak Eci sambil memeluk Kak Lili.
Dipeluk oleh kedua adiknya itu, Lili sempat kepayahan jadinya. Ia bahkan hampir saja tersungkur ke belakang akibat dorongan pelukan dan Eci dan juga Nura.
__ADS_1
"Hey.. calm down, oke? Istighfar.. perbanyak istighfar, Ci.. Nura.. kan kita udah janji untuk gak nangisin kepergian Emak lagi..?" Tegur Kak Lili mengingatkan.
"Ingat ka alasan nya kenapa?" Tanya Kak Lili lebih lanjut.
Nura dan Kak Eci pun langsung menganggukkan kepala.
"Nah. Kalau begitu, jangan sedih-sedihan lagi dong!" Pinta Kak Lili sambil tersenyum sedih.
Sebenarnya, Kak Lili pun masih sangat bersedih atas kepergian Emak. Akan tetapi, ada hal lain yang menjadi fokus perhatian nya saat ini. Yakni janin dalam kandungan nya yang harus ia perhatikan juga asupan nutrisi dan juga ketenangan batin nya.
Bukankah ada penelitian yang mengatakan kalau perkembangan emosijanin juga bisa dipengaruhi oleh kondisi hati ibu yang mengandung nya?
Jika ibunya bersedih, maka janin oun akan turut merasakan sedih. Begitupun juga bila ibu nya senang, maka janin juga akan merasa senang.
Mom's happy, so do baby! (Ibu tenang, anak pun akan ikut senang!)
"Hiks.. tapi, Kak.. Nura nih biang keroknya!" Tutur Eci sambil mengeplak kepala Nura.
Aksinya itu langsung ditegur oleh Kaka Lili seketika.
"Eci! Jangan main pukul-pukul gitu ah! Itu kepala lho, bukan cobet batu untuk nyambal!" Tegur Kak Lili seraya berseloroh.
Eci pun langsung menyengir kuda. Namun cengiran nya itu langsung hilang kala ia mendengar sahutan balik dari adiknya, Nura.
"tahu tuh, Kak! Kak eci sering banget ngeplak kepala Nura!" Nura melapor pada Kak Lili.
Eci segera memelototi sang adik. Namun Nura malah bersembunyi di belakang Kak Lili.
"Hey.. sudah lah. Jangan saling menyalahkan juga.. akan lebih bagus kalau kita sering berintrospeksi diri, dibanding harus menyalahkan orang lain," tutur Kak Lili menasihati.
"Tuh! Dengar tuh!" Ledek Nura.
"Ee, kebangetan banget sih nih bocah!" Balas Kak Eci sambil meraih tubuh Nura yang bersembunyi di balik Kak Lili.
Kini. Kedua bersaudara itu kembali ribut seperti Tom & Jerry.
Kak Lili yang tadi sempat melihat keduanya berpelukan dan menangis bersama pun kini hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Dalam hatinya, ia berkata,
'Mak.. lihatlah mereka. Ribut seperti biasanya..' gumam Kak Lili dalam monolog nya.
***
__ADS_1