
Selesai berpisah dengan Tio di depan kelas, Hinata langsung masuk ke kelas nya sendiri. Mata nya seketika mencari sosok Yon. Sayang nya pemuda itu tak berada di kelas.
Sampai jam berbunyi pun, Yon tetap tak masuk ke dalam kelas. Akhirnya Hinata menyadari, kalau Yon memang tak masuk sekolah hari itu.
"Nura? Kamu kenapa?" Tanya Sisil saat keduanya sedang berjalan menuju kantin.
Bel istirahat baru saja berbunyi. Dan Sisil langsung mengajak nya untuk pergi ke kantin demi mengisi perut yang sudah keroncongan.
"Apa kamu masih haid, Ra?" Tanya Sisil menebak penyebab kawan nya itu terdiam sedari pagi.
Gadis itu berpikir kalau mungkin Nura masih merasa lemas karena haid.
Nura pun menggeleng.
"Gak apa-apa, Sil. Aku cuma.."
Nura menahan diri dari berkata-kata.
'Apa yang harus ku katakan kepada Sisil? Bahwa aku baru saja mengalami kejadian tak masuk diakal tadi pagi? Jelas tak mungkin. Bisa-bisa nanti Sisil menganggap ku membual lagi!' pikir Nura berdiskusi dengan dirinya sendiri dalam hati.
"Nura?"Lagi-lagi Sisil memanggil rekan sebangku nya itu. Karena Nura malah melamun kembali.
"Kamu mikirin tentang.. Yon kah?" Tebak Sisil dengan begitu tepat.
"Eehh??!!" Nura pun terperanjat kaget. Ia sama sekali tak menyangka kalau Sisil dapat menebak jalan pikiran nya dengan begitu mudah.
"Benar tentang dia ya.. hh.." Sisil menghela napas dalam-dalam.
Ia lalu menahan diri dari melangkah. Lalu mengajak Nura duduk sejenak di teras kelas lain yang ada di dekat mereka.
"Kamu tahu. Ra? Setelah ku pikir-pikir lagi, mungkin ada baiknya kalau kamu memperjuangkan perasaan mu sendiri," pesan Sisil to the point.
"Mak..maksud kamu apa Sil?" Nnura tergeragap malu.
"Maksud ku, kalau memang kamu mau balik ke bangku lama mu, gak apa-apa. Kamu balik lagi aja ke bangku lama mu. Jangan pusingkan soal Siska bakal marah atau enggak. Cuman ya.. kamu nya harus siap aja sama konsekuensi nanti nya," Sisil memberikan saran.
Nura terperangah malu.
'Sisil salah paham!' benak Nura berkomentar.
__ADS_1
"Ini bukan soal tentang pindah tempat duduk, Sil. Tapi.."
"Tapi apa, Ra?"
"Kamu percaya gak kalau ada orang-orang yang punya kekuatan super di dunia ini?" Tanya Nura tiba-tiba.
Sisil langsung melayangkan pandangan heran ke arah Nura.
"Maksud kamu apa, Ra? Kayak superman atau iron man gitu? maaf, Aku gak ngerti," tukas Sisil.
"Jadi.. tadi pagi hampir aja ditabrak motor. Tapi ternyata aku gak jadi ditabrak, Sil!" Setelah berpikir lama, Nura akhirnya memutuskan untuk menceritakan pengalaman nya tadi pagi kepada Sisil.
"Huh? Aku masih belum mengerti, Ra. Kamu bisa menghindari motor yang mau nabrak kamu. Gitu maksud nya?" Terka Sisil.
"Iya.. eh. Tapi bukan gitu juga sih! Maksud ku, aku diselamatin dari kecelakaan motor itu, Sil! Sama Yon! Dia yang udah nyelamatin aku!" Ungkap Nura kemudian.
Kesadaran pun melintas di wajah Sisil.
"Oo.. jadi begitu.. maka nya dari tadi kamu sering ngelihatin bangku lama mu tuh karena kamu lagi cari Yon gitu? Bukan karena kamu pingin balik ke bangku lama mu?" Komentar Sisil menegaskan.
"Iya, Sil. ini bukan soal bangku.."
"Bukan itu! Aku cuma.." Nura tampak kesulitan untuk menemukan kata-kata. Baru setelah jeda beberapa lama lagi, gadis itu pun bisa melanjutkan cerita nya lagi.
"Akal ku gak bisa jelasin caranya Yon bisa nyelametin aku, Sil. Kamu bayangin aja nih ya. Gimana caranya dia bisa narik aku sampai beberapa meter ke belakang dari tempat berdiri awal ku, hanya dalam hitungan detik? tujuh atau delapan meter lho itu jauh nya! Kan, gak masuk di akal banget tuh ya!" Nura melanjutkan curhat nya.
"Maksud kanu kayak.. 'Tring!' begitu??" Sisil menyimpulkan cerita Nura.
"Nah! Iya Sil! Benwr banget! Kayak tiba-tiba aja 'Tring' gitu! Masa iya dia pakai magic?"
Hening sejenak. Sampai Sisil lah yang kembali melanjutkan percakapan mereka.
" Tapi, kalau kamu mengira Yon punya kekuatan super, itu juga kan gak masuk diakal, Ra.. super man? seriously?" Sergah Sisil sulit memahami pemikiran Nura.
"Kalau begitu, penjelasan logis nya aoa dong? Aku penasaran banget nih. Tapi Yon nya malah gak masuk!" Keluh Nura secara terbuka.
Percakapan kembali terjeda.
"Jangan-jangan, Yon lah yang terluka parah kali, Ra?!" Tebak Sisil tiba-tiba.
__ADS_1
Tebakan nya itu seketika membuat jantung Hinata melompat terkejut.
"Masa iya sih, Sil? Tapi, enggak ah! Aku jelas-jelas lihat dia jalan cepat dengan kedua kaki nya sendiri, setelah dia selamatin aku," tukas Nura menyanggah pendapat Sisil tadi.
"Kalau begitu, karena apa dong?"
"Aku gak tahu. Maka nya aku berharap banget bisa nanyain langsung ke Yon. Tapi Yon nya malah gak ada. Kira-kira dia ke mana ya?" Gunam Nura dengan suara pelan.
"Kalau kata Derik sih dia katanya ijin gak masuk hari ini. Ada urusan keluarga kata nya, kan?" Ujar Sisil kembali.
Derik adalah ketua kelas mereka.
"Rumah nya di mana ya?" Nura lanjut bergumam.
Sisil pun terkejut mendengar nya.
"Kamu mau susul Yon ke rumah nya?!" Cecar Sisil tak percaya.
"Err.. enggak juga sih. Malu lah, Sil. Tapi, aku penasaran banget nih.."
"Nura, kamu yakin benar kalau tadi pagi kamu hampir tertabrak motor? Kamu gak lagi ngelindur kan?" Tanya Sisil memastikan kesadatan teman nya itu saat ini.
"Aku sadar banget, Sil. Mana ada sih nelgelindur sampai berjam-jam lama nya? Lagi pula, Tio juga ikut jadi saksi nya kok!" Tukas Nura memberitahu kan saksi kejadian tadi pagi.
Suasana kembali hening. Kali ini Sisil ikut terdiam seperti Nura.
Menyadari kalau teman sebangku nya itu terdiam sepertinya, Nura tiba-tiba saja teringat sesuatu hal.
"Oh ya. Ngomong-ngomong, kamu gimana bisa kenal dekat sama Tio sih? Hubungan kalian sebenarnya itu apa, Sil? Aku juga penasaran lho.." tanya Nura yang sungguh merasa ingin tahu.
Menerima pertanyaan itu, Sisil malah langsung berdiri bangun dari bangku teras di kelas lain. Setelah nya, ia mengajak Nura untuk meneruskan langkah mereka menuju kantin.
"Eh, takut keburu bel masuk nih! Kita jajan dulu aja yuk sekarang!" Ajak Sisil melarikan diri.
Di belakang nya, Nura segera mengejar langkah Sisil yang berjalan dengan terburu-buru.
'Yah.. lagi-lagi kabur..!' sesal Nura dalam hati.
***
__ADS_1