
"Nura.. aku menyukai mu.. apa yang harus ku lakukan sekarang?" Tanya Yon dengan hati yang gundah.
"Uhh? Yy.. Yon..? Apa kamu mengigau?" Tanya Nura dengan gugup.
Jantung gadis itu riba-tiba berdegup semakin kencang usai ia mendengar pernyataan Yon tadi.
'Apa Yon baru saja menyatakan cinta pada ku?? Ehh.. tapi.. masa iya sih??' batin Nura sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Selama beberapa saat suasana di antara keduanya berubah menjadi hening. Yon lah yang kemudian memecahkan keheningan itu pada akhirnya.
"Maaf.. aku.."
Belum selesai Yon berkata, Nura sudah buru-buru memotong ucapan nya.
"Ahh!! Ku rasa, angin nya mulai agak dingin. Apa sebaiknya kita cepat pulang saja sekarang? Lagipula, perut ku juga mulai lapar.." ucap Nura terburu-buru.
Gadis itu berusaha mengalihkan topik pembicaraan karena rasa jengah yang menyelimuti hatinya saat ini.
Yon menatap Nura lama dalam diam. Sebelum akhirnya pemuda itu mengangguk, mengiyakan ajakan Nura. Selanjutnya, kedua muda mudi itu mempercepat laju skuter nya lagi. Sehingga tak sampai lima menit kemudian, Nura sudah berada di depan rumah nya.
Siang itu, tak ada banyak orang yang berada di luar rumah. Mungkin karena cuaca yang memang sangat terik.
"Kalau begitu, aku pulang sekarang ya, Yon..mm.. ini. Ku kembalikan skuter nya. Terima kasih ya sudah mengantar ku pulang.." ucap Nura dengan canggung.
Nura sudah menonaktifkan mode perisai pada skuter nya. Dan segera setelah ia turun, Yon langsung membuat skuter itu menghilang. Lebih tepatnya mungkin kembali lagi ke wujud semulanya yang menempel ke skuter yang sedang pemuda itu naiki.
Kini Nura tak lagi bisa melihat Yon. Dan Yon menyadari itu. Anehnya, Yon membiarkan kondisi nya tetap seperti itu. Dengan Nura yang mengucapkan kalimat perpisahannya dengan kepala tertunduk.
Yon merasa tak ingin bertatapan langsung dengan Nura lagi untuk sementara waktu ini. Hati nya terlalu penuh oleh beragam perasaan yang campur aduk menjadi satu.
"Kak Nura!"
Panggilan dari Tio membuyarkan lamunan kedua muda-mudi itu.
Nura pun berbalik dan mendapati adik bungsunya itu berlari-lari kecil menghampirinya.
"Tio.. kamu baru sampai?" Tanya Nura terheran-heran.
__ADS_1
Tadinya gadis itu berpikir Tio akan sampai lebih dulu darinya. Mengingat adiknya itu kan pulang lebih dulu menaiki angkot. Apalagi perjalanan skuter nya tadi sengaja diperlambat juga.
"Iya. Tadi kan ada kecelakaan di jalan Margonda. Jadi lumayan macet. Kok.. Kak Nura sampai lebih dulu sih?" Tanya Tio yang gantian memandang Nura keheranan.
"Ee.." Nura bingung hendak menjawab apa.
Gadis itu lalu melirik ke titik di mana tadi Yon berada. Dan ia masih tak mendapati sosok Yon di sana. Nura jadi semakin bingung. Apakah ia harus mengatakan kepada Tio tentang keberadaan Yon di dekat mereka saat ini.
"Kakak naik ojek kah? Gak mungkin ada yang kasih kakak tebengan juga kan?" Ujar Tio setengah meledek.
Spontan saja Nura mencubit pinggang adik lelaki nya itu.
"Aduh! Sakit kak!" Keluh Tio seraya melangkah mundur menjauhi sang kakak.
"Lagian, ngomongnya gitu banget. Memangnya kalau kakak ada tebengan pulang kenapa, coba?" Tanya Nura balik menantang.
"Eh, beneran? Siapa lelaki yang sudah kasih tebengan ke kakak ku yang.. cantik ini?" Ucap Tio tergagap.
Pemuda itu sengaja menunda mengucapkan kata cantik di ujung kalimat nya. Itu adalah bentuk lain dari sindirannya kepada sang kakak. Karena Nura, dilihat dari sisi manapun, jelas tak bisa dibilang cantik.
Paras Nura terbilang sederhana dan rata-rata. Tak cantik. Tapi juga tak jelek. Hanya sedikit manis saja.
Diancam seperti itu, Tio pun jadi merasa gentar. Ia terburu-buru meminta maaf pada kakaknya itu.
"Ya ampun, Kak.. maaf. Maaf. Cuma bercanda aja kok diseriusin sih?" Tutur Tio yang sungguh menyesali ucapannya tadi.
"Awas kalau sampai kamu lupa lagi! Aku bakal bocorin semua nya ke Sisil! Gak pandang bulu, meski kamu adalah adikku!" Ancam Nura dengan sikap bersungguh-sungguh.
Sesaat kemudian, Nura kembali teringat kalau Yon mungkin masih berada di dekatnya. Seketika wajahnya pun merona merah karena rasa malu.
Gadis itu malu karena ketahuan bersikap kekanakan seperti tadi kepada Tio.
'Aduh! Kenapa aku bisa sampai lupa ya kalau Yon masih di sini? Yon nya gak kelihatan sih! Jadi waktu Tio ngeledek, aku kan jadi spontan ngomelin dia!' rutuk Nura tanpa suara.
"Kak? Kak Nura kenapa? Ayo masuk, Kak! Di luar panas banget!" Ajak Tio yang berjalan masuk ke dalam rumah terlebih dulu.
Sementara itu Nura masih berdiri di tempatnya. Ia lagi-lagi melirik malu ke titik di mana Yon berada tadi. Dengan ragu-ragu, gadis itu pun memanggil nama teman lelakinya itu.
__ADS_1
"Yy..yon..?" Panggil Nura dengan suara oelan.
Tak ada sahutan dari Yon. Nura lalu agak menegakkan pandangannya ke atas. Ke titik dimana kira-kira mata Yon tadi berada.
"Yon?" Panggilnya lagi. Namun sayang, panggilan itu tak jua menerima sahutan dari Yon.
"Kamu sudah pergi, Yon?" Nura bertanya ke udara kosong di depan nya.
Karena tak jua mendapat sahutan. Dan saat ia melihat ke sekitar, dan tak mendapati keberadaan tiga lampu nilik skuter Yon yang tak nampak, Nura akhirnya menyimpulkan kalau pemuda itu mungkin telah pulang.
"Iishhkk.. pulang gak pamit dulu. Bikin aku kayak orang gila aja, ngomong sendirian dari tadi!" Gerutu Nura yang sedikit kesal karena ditinggalkan oleh Yon tanpa pamitan.
Gadis itu kemudian menyusul langkah Tio memasuki rumah. Ia oun ingin menyegarkan diri di ruang TV. Bersaingan dengan Tio yang sudah duduk santai di bawah kipas angin kecil yang berputar di pertengahan atap ruangan tersebut.
"Geser dikit sana! Kakak gerah!" Titah Nura mendesak sang adik.
"Yee ini kan udah jadi spot nya Tio. Kakak duduk di samping situ kan bisa!" Protes Tio yang tak bergeming dari tempatnya duduk.
"Geser!" Titah Nura kembali mendesak Tio.
"Gak mau!"
"Geser!"
Dan, perdebatan antara dua kakak beradik itu pun terus berlanjut hingga sepuluh menit kemudian. Keduanya baru berhenti bertengkar saat Emak yang baru saja pulang dari warung, mendapati keduanya ribut di ruang TV.
"Nura! Tio! Kalian masih juga ribut?!" Tegur Emak dengan nada tinggi.
Seketika itu pula Nura dan Tio langsung mengunci mulutnya masing-masing. Keduanya tak lagi ribut karena takut pada amarah Emak yang bisa saja muncul nanti. Lebih tepatnya lagi adalah takut pada hukuman yang akan diberikan oleh Emak kepada maisng-maisng mereka nantinya.
Hii.. ngeri..
...
Sementara itu, tepat di atas atap rumah Nura, Yon yang sedari tadi diam berpikir di atas sana, tiba-tiba saja melajukan kembali skuter nya ke angkasa. Benak nya masih diliputi kebimbangan untuk membuat keputusan.
Haruskah ia memperjuangkan perasaannya terhadap Nura? Atau haruskah ia kembali kepada Bellinda yang menunggu nya di planet Terrian sana?
__ADS_1
***