
"Apa?!! Tu.. tunangan??!" Kali ini, Nura benar-benar terkejut dibuatnya.
Gadis Itu sungguh tak mengira, jika lelaki yang selama ini sudah ia sukai itu ternyata sudah memiliki seorang tunangan.
"Tapi itu dulu. Karena sekarang, aku tak lagi memiliki tunangan, Nura. Aku sudah mengakhiri pertunangannya dengan Bellinda dari planet asal ku,"
"Jadi, namanya Bellinda ya.." gumam Nura dnegan mata tertunduk ke lapangan di bawah nya.
Untuk sesaat, gadis itu tampak tak mengindahkan kalimat awal Yon barusan. Setelah beberapa lama berpikir, tiba-tiba saja Nura menegakkan pandangannya kembali.
"Ehh? Batalin pertunangan? Kenapa, Yon?" Tanya Nura penasaran
"Tentu saja karena aku menyukai mu! Tidakkah menurut mu itu alasan yang cukup, Nura?" Tanya balik Yon meminta pendapat Nura.
Nura tercengang.
"Ta..tapi.. orang tua mu.. mereka pasti marah padamu, Yon! Dan.. dan Bellinda.. dia juga pasti sedih kan??" Cecar Nura merasa bersalah.
"Ya. Pada awalnya Papa memang marah kepadaku. Aku bahkan sempat dikurungnya selama satu pekan di dalam kamar," ungkap Yon dengan sejujurnya.
"Papa meminta ku untuk introspeksi dan memikirkan baik-baik tentang niat ku untuk membatalkan pertunangan itu. Tapi Nura, keputusan ku sudah bulat. Sejak aku melihat mu lagi di kelas... Tidak! mungkin sejak pertama kali kita bertemu, aku sepertinya sudah jatuh hati padamu. I really really like you, Nur!" Yon begitu lantang menyampaikan isi hatinya kepada Nura.
Dan ini membuat gadis itu menjadi jengah setelahnya. Wajah Nura tak pelak jadi bersemu merah. Dan ia pun jadi salah tingkah.
Ton terkekeh singkat. Pemuda itu lalu meraih kedua tangan Nura untuk digenggamnya. Dua pasang mata pun kini saling beradu dalam waktu yang lama.
"So, Nura. Please tell me. What should i do to make you like me too (Jadi Nura..tolong beri tahu aku. Apa yang harus ku lakukan untuk membuat mu menyukai ku juga)? I can't stop thinking about you, Nur (aku tak bisa berhenti memikirkan mu, Nur).. my mind and life is so full about you (hidup dan pikiran ku sudah dipenuhi tentang mu)!" Ungkap Yon penuh emosi.
"Yy..Yon.." sahut Nura tergagap karena perasaan gugup.
Gadis itu lalu menunduk. Berpikir lama. Baru akhirnya menjawab pernyataan cinta dari pemuda di hadapannya itu.
"Sebenarnya, Yon.. aku juga.. suka sama kamu. Tapi.. aku takut.. aku takut kalau kamu nanti pergi lagi tiba-tiba. Kamu hilang lagi tiba-tiba. Aku.. takut untuk menyukai mu, Yon. Aku gak suka perpisahan. Aku juga punya keluarga di sini. Aku sayang sama kakak dan juga adik ku.." jawab Nura melantur ke mana-mana.
Tubuh gadis itu mulai bergetar dan Yon pun tahu kalau saat ini, Nura sedang merasa bingung. Sangat-sangat bingung hingga ia tak mampu menahan kesedihan yang tiba-tiba datang menggempur.
__ADS_1
Yon pun lalu menarik Nura ke dalam pelukan nya. Dan dengan tekad bulat, pemuda itu menyampaikan keputusan yang telah dibuatnya kepada Nura.
"Tentu saja aku gak meminta mu untuk pergi ke planet asal ku, Nura. Aku tahu, aku jelas gak bisa asal membawa kamu ke sana. Karena atmosfer di sana gak cocok untuk sistem respirasi (pernapasan) dan habit hidup mu," Yon berkomentar.
"Jadi..?" Nura pun mengangkat wajah nya untuk menatap Yon.
"Jadi.. biar aku yang tinggal menemani mu di sini. Kita akan membangun kehidupan yang kamu inginkan, Nura. Di sini. Kita berdua. Bagaimana?" Tawar Yon.
Kedua mata Nura seketika berlinang air mata. Ia terdiam lama, sebelum akhirnya memberikan jawabannya.
"Ya. Aku mau Yon. Aku mau hidup bareng kamu. Aku juga.. suka kamu!" Ungkap Nura yang lalu terburu-buru menyembunyikan wajahnya lagi di pelukan Yon.
Gadis itu lalu mendengar Yon terkekeh pelan. Dan ia pun kemudian ikut terkekeh pula. Nura tahu, mereka berdua akan membangun hidup bahagia bersama setelah ini.
***
Beberapa bulan kemudian..
"Kamu yakin, Dek, dengan keputusan mu ini? Kamu gak mau nunggu lulus kuliah dulu?" Tanya Kak Eci untuk ke sekian kalinya.
Gadis itu kini tampil cantik dan anggun dengan kebaya putih dan rambut yang ditata begitu apik. Hiasan hena membuat jemari tangannya terlihat jenjang dan juga menawan.
Ya. Hari ini, rencananya Nura akan menikah. Dengan siapa? Tentu saja dengan Yon, kekasih alien nya.
Tapi syuut... Hanya Kak Eci dan Tio saja yang mengetahui identitas asli Yon. Sementara bahkan Kak Lili oun tak mengetahui kalau calon ipar nya itu sesungguhnya bukan berasal dari bumi tempat mereka tinggal saat ini.
Nura lalu memandang Kak Eci yang duduk di kasur, tepat di samping nya. Ada kekhawatiran di wajah kakak nya itu. Dan Nura bisa mengerti sumber kekhawatiran itu ada di mana.
Dengan sikap dewasa, Nura langsung menghadiahi kakaknya itu sebuah pelukan.
"Tenang lah, Kak.. Nura gak akan pergi tinggalin Kakak kok. Yon sudah berjanji kalah kami akan tetap tinggal di bumi. Walau mungkin sesekali dia harus pulang ke planet asalnya untuk membawa kembali pasokan plasma yang dia butuhkan untuk bertahan hidup di bumi.." tutur Nura menenangkan hati sang Kakak.
"Hh.. kamu akan menghadapi masa yang berat bila hidup dengannya Nur.. terutama kalau dia pulang ke planet asalnya.. kakak gak mau kamu jadi sedih.."
Nura melepas pelukannya. Ia lalu menatap Kak Eci dnegan tatapan dewasa.
__ADS_1
"Tapi Yon kan akan selalu kembali lagi, Kak. Yon sudah berjanji. Dan Nura percaya sama dia. Yon gak akan pernah mengingkari janjinya. Insya Allah.."
"Hh.." kak Eci terlihat menghela napas dalam.
"Kak.. tolong doakan Nura untuk bisa hidup bahagia seperti Kakak dan juga Kak Lili, ya? Nura yakin dengan hubungan kami. Nura hanya memerlukan restu dan doa dari Kakak agar semua harapan Nura untuk bisa hidup bahagia bersama Yon akan berlangsung untuk selamanya. Restui kami ya, Kak?" Mohon Nura dengan pandangan mengiba.
"Hj.. tapi.."
Nura kembali memotong ucapan Kak Eci.
"Kakak gak boleh mikir yang macam-macam deh. Cukup mikirin kebahagiaan Kakak aja ya. Apalagi sekarang Kakak lagi hamil muda juga kan?" Goda Nura sambil mengusap perut Kak Eci yang masih tampak rata.
Ya. Kak Eci memang sedang hamil saat ini. Pernikahannya dengan sang bos pada dua bulan lalu, ternyata langsung diberkati dengan kehadiran pewaris yang baru. Kebahagiaan ini membuat Nura dan semuanya ikut bergembira untuk saudari mereka itu.
"Hh.. baiklah.. tentu saja Kakak akan mendoakan kamu untuk bahagia juga, Nur.. kamu kan adik kesayangannya kakak!" Seru kak Eci sambil mencubit pelan pucuk hidung sang adik.
Kedua saudari itupun saling bertukar senyuman. Dan keduanya sama-sama yakin, kalau kehidupan mereka akan membaik setelah melewati masa kelam di waktu lampau.
Perpisahan dengan Ayah dan juga Emak di usia muda telah membuat keduanya, beserta juga Tio dan Kak Lili menyadari. Bahwa setiap detik dalam hidup ini sungguhlah berarti.
Karena itu, keduanya tak ingin menyia-nyiakan setiap detiknya untuk bersama dengan orang-orang yang mereka cintai.
Apapun hambatan yang menantang di hadapan. Betapa pun sulitnya kehidupan yang akan mereka hadapi nanti. Selama mereka tetap bersama dengan orang-orang yang mereka kasihi, dan selagi harapan untuk bahagia itu masih bercokol dalam hati. Maka mereka yakin, kalau segalanya akan baik-baik saja.
"Udah ah curhatnya! Sekarang, kita ke depan yuk! Kita jemput pangeran luar angkasa mu itu, Nur. Siapa tahu dia sekarang lagi grogi karena kelamaan nungguin kamu!" Ledek Kak Eci mengajak canda.
Dan Nura menanggapinya dengan kekehan tawa yang terlepas begitu bebasnya.
Ya. Nura yakin, kalu kehidupannya akan tetap baik-baik saja. Karena ia tahu, kalau ia telah melabuhkan hati dan cintanya pada orang yang tepat.
***
TAMAT
***
__ADS_1