
"Nura! Ngapain kalian gandengan tangan begitu? Jangan bilang kamu udah jadian sama si Anak baru?!" Tuding suara barito yang sangat dikenal baik oleh gadis berkacamata itu.
"?!!"
"Lepasin tangan Nura!" Titah pemilik suara barito tadi.
"Dom! Jangan kurang ajar kamu ya!" Tegur Nura langsung pada Dominiq yang barusan memukul kasar lengan Yon, sehingga pegangan nya ke tangan Nura pun terlepas.
Nura tahu kalau Dom pastilah memukul cukup kencang ke lengan Yon tadi. Itu terdengar jelas dari suara 'Trak' saat tangan nya memukul tadi.
"Dia yang kurang ajar, Nura! Main pegang tangan cewek orang aja!" Balas Dom masih diselaputi emosi.
Nura langsung menyipitkan matanya tajam ke arah Dominiq.
"Maksud kamu, aku cewek nya siapa hah?" Tanya Nura dengan nada mengancam.
"Ya cewek ku lah!" Sahut Dominiq seketika.
"Aduh!"
Pemuda itu langsung mengaduh kesakitan manakala Nura menghadiahi nya cubitan kencang di pinggang.
"Rasain tuh! Jangan main ngaku-ngaku deh jadi cowok ku! Dan stop ikutin aku terus, Dom. Pertemanan kita udah berakhir, sejak kamu jadiin aku sebagai bahan taruhan sama teman-teman bodoh mu itu! Well, ku koreksi! Kita jelas gak pernah berteman sebelum nya! Catat itu!" Ujar Nura dengan berani, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi.
Dominiq lantas bergegas hendak mengejar Nura kembali. Namun bahu nya ditahan oleh Yon yang masih berdiri di tempat nya tadi.
"Heh! Kunyuk! Lepasin tangan gue! Mau gue bikin mercon lu?!" Ancam Dominiq dengan sikap bak mafia jalanan.
"Nura bilang, kamu jangan mengikuti nya lagi. Dan kalian tidak lagi berteman, bukan? Jadi jangan dekati dia lagi!" Yon mengingatkan Dominiq dengan nada datar.
Wajah pemuda itu pun tanpak datar tanpa ekspresi. Kedua mata gelap nya saja yang memandnag fokus ke arah Dominiq.
Dominiq langsung menepis tangan Yon hingga ia bisa terbebas kemudian. Setelah nya, pemuda itu menghadapkan tubuh nya ke arah Yon.
"Memang apa hubungan Lo sama Nura, hah? Lo juga bukan siapa-siapa nya Nura, kan? Jangan sok akrab deh Lo! Ban*i!" Umpat Dominiq yang begitu kesal kepada Yon.
Yon menaikkan sebelah alis nya ke atas. Sesaat kemudian, ia menyipitkan kedua matanya ke arah Dominiq.
__ADS_1
Kedua pasang mata pun saling bertatapan selama beberapa detik. Dan, sesaat kemudian, pandangan Dominiq tiba-tiba jadi tak fokus. Ia seperti terhipnotis oleh tatapan mata Yon.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Dominiq langsung berjongkok di tempat nya berdiri. Dan pemuda itu terus duduk di sana menatap udara kosong. Bahkan setelah Yon telah lama berlalu pergi.
Jelas sekali, Dominiq memang telah dihipnotis oleh Yon. Dan semua itu, disaksikan dengan sangat jelas oleh Tio yang hendak ke toko alat tulis di pinggir jalan besar untuk membeli spidol kelas.
Tio tak sengaja melihat perseteruan di antara Dominiq dan Anak Baru. Yang pada akhirnya malah berakhir dengan Dominiq yang tampak seperti orang linglung.
Saat Ton melewati Tio, pemuda itu berpura-pura bersiul dan tak mengenal nya. Padahal dalam hati nya, jelas Tio merasa gentar terhadap si Anak Baru.
Begitu memastikan Yon sudah berjalan jauh, Tio lalu mendekati Dominiq. Ia meneouk bahu Dominiq dua kali, baru akhirnya pemuda itu tersadar.
Sadar nya Dominiq pun berakhir bingung pula.
"Ehh?? Mana si ban*i tadi?! Kok sia ngilang tiba-tiba sih?!" Dumel Dominiq sambil celingukan ke sekitar nya.
"Heh! Elo! Ehh, kakak kelas Tio..! Sorry Bang. Gua nyari cowok yang tadi ada di sini smaa gua. Abang lihat gak, ke mana dia pergi?" Tanya Dominiq yang tiba-tiba langsung berubah sopan saat ia menyadari dengan siapa ia berhadapan kini.
Tanpa berkata apa-apa, Tio hanya menggelengkan kepala nya sekali. Sebelum akhirnya melanjutkan kembali langkah nya menuju toko alat tulis di pinggir jalan.
Di perjalanan nya menuju ke sana, Tio merenungkan kembali apa saja yang sudah disaksikan nya sesaat tadi.
***
Sementara itu di kelas Nura..
Nura langsung menujukan langkah nya menuju bangku tempat Sisil, salah satu kroni nya Siska duduk.
Dengan ragu-ragu, Nura mendekati tempat Sisil.
"Duduk sini, Ra!" Ajak Sisil dengan ramah.
Baru setelah Sisil mengajak nya duduk di samping nya lah, Nura berani duduk di sana. Ia melirik ke bangku nya yang masih kosong.
'Tumben Siska belum datang. Biasanya dia udah datang duluan..' gumam Nura dalam hati.
"Siska udah datang. Tapi tadi dia mau touch up dulu ke toilet," ujar Sisil tiba-tiba.
__ADS_1
"Huh?" Nura memandang bingung kepada Sisil.
"Iya.. katanya biar dia tampil sempurna waktu John datang nanti. Jadi dia make up an dulu.." imbuh Sisil menjelaskan.
"Ooh.." barulah Nura paham penjelasan sisil tadi.
"Tapi, apa Siska gak takut kena jaring sama petugas disiplin kalau dia pakai make up berlebihan?" Tanya Nura ragu-ragu.
Sisil membetulkan kacamata nya yang melorot turun dari pangkal hidung nya yang tak terlalu tinggi itu.
"Yah.. Itu sih risiko yang harus dia hadapi nanti. Tapi ku kira, Dia bakal pasang make up natural aja sih. Jadi gak terlalu kelihatan banget make up nya," papar Sisil menjelaskan.
"Hmm.. dia udah ahli banget ya soal merias wajah," gumam Nura setengah iri.
Ia pun sebenarnya ingin belajar merias wajah seperti Kak Eci. Rasanya menyenangkan setiap kali ia melihat Kak Eci menyapu wajah nya dengan kuas yang berwarna-warna. Entah oleh blush on, eye shadow, ataupun juga sekedar memerahkan bibir nya saja.
Menurut Nura, dengan make up, seorang wanita bisa tampil begitu berbeda dari dirinya yang asli. Dan Nura langsung sadar pada rupa wajah nya yang pas-pasan ini.
"Hh.." tanpa sadar, Nura menghela napas dalam.
Dan Sisil yang duduk di samping nya pun salah paham. Ia mengira Nura tak suka dengan aksi pertukaran meja ini.
"Sabar ya, Nur. Daripada kamu maksa duduk bareng si John. Nanti yang ada kamu malah kena bully dari Siska.. mending kamu duduk sama aku aja di sini.. aku janji, aku gak se bully kayak Siska, kok!" Bisik Sisil di dekat telinga Nura.
Nura melihat ke arah Sisil. Dan teman kelas nya itu memberinya senyuman kecil. Dua gadis berkacamata itu pun saling melempar senyum pada akhirnya. Dan sebuah pertemanan baru pun terbentuk sesudah nya.
Setelah beberapa lama, keduanya asik berbincang tentnag PR Fisika hari ini. Dan Nura merasa nyaman saat bertukar kata dengan salah stau kroni dari pem-bully di kelas ini.
Sampai pada suatu ketika, Nura pun memberanikan diri untuk berkomentar.
"Aku heran, Sil. Kenapa kamu bisa nyaman sih gabung sama.. Siska?" Ucap Nura dengan suara sangat pelan saat ia menyebutkan nama terakhir tadi.
Sisil memberinya senyuman kaku.
"Soal itu.."
Sayang nya ucapan Sisil harus terpotong oleh sapaan suara barito yang memanggil Nura tiba-tiba.
__ADS_1
"Nuura? Kenapa kamu duduk di situ?" Tanya suara barito itu.
***