Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Menyusuri Sungai


__ADS_3

"Tentu saja, Nura. Di sinilah kita bertemu untuk pertama kalinya. Saat itu, kita berdua masih sangat-sangat muda..maaf. maksud ku, kita masih sangat kecil dulu itu.." tutur Yon sambil menurunkan skuter mereka ke area di pinggiran sawah.


Nura lalu melayangkan pandangannya ke hamparan rumah-rumah bilik yang dibangun berderet-deret di pinggiran bantaran sungai. Gadis itu lalu teringat saat ia masih tinggal di salah satu rumah bilik dari bahan bambu tersebut.


Seingatnya, kehidupannya semasa kecil dulu sangatlah susah. Mereka tak memiliki kakus. Dan haus bergantung pada debit air sungai untuk melakukan kegiatan MCK (Mandi Cuci Kencing).


Kondisi perekonomian keluarganya mulai membaik saat Emak menerima sebidang rumah dari paman nya yang telah meninggal. Pamannya itu tak memiliki seorang anak karena ia tak menikah. Dan dalam surat wasiatnya ia menghadiahkan rumah yang ia tempati kepada Emak.


Sejak itulah Nura beserta keluarganya langsung pindah ke rumah yang mereka tempati hingga saat ini.


"Aku.. bagaimana kau tahu kalau aku pernah tinggal di bantaran sungai ini?" Tanya Nura degan tiba-tiba.


"Bukankah sudah jelas?" Jawab Yon dengan pertanyaan kembali.


Nura menatap lekat pemuda itu selama beberapa waktu. Ia ingin mencari jejak dusta atau sesuatu sejenisnya di mata Yon. Namun Nura tak berhasil menemukannya.


Lelaki itu memang agaknya telah berkata jujur perihal pertemuan pertama mereka di sana.Nura pun berpikir keras untuk mengingat kembali kenangan masa kecilnya dulu. Sayangnya ia tak bisa mengingat banyak hal dari masa kecilnya dulu.


Entah karena ia yang memang ingin melupakan masa dukanya di masa kecil. Atau juga karena usianya masih terbilang muda saat ia tinggal di gubuk tersebut. Jadi membuat Nura tak bisa mengingat kembali pertemuannya dengan YOn.


Meski begitu, adakalanya Nura merasa seperti deja vu. SeolAh-olah ia pernah melakukan atau melihat sesuatu saat ia bersama dengan Yon.


Salah satu contohnya adalah saat ia menaiki skuter terbang milik Yon untuk pertama kalinya pada beberapa pekan silam. Nura merasa ia pernah melakukan itu. Namun ia tak bisa mengingatnya kapan dan di mana ia melakukannya.


"Nura?"


Nura tersentak dari lamunannya ingatnya akan masa lalu. Gadis itu lalu mengangkat pandangannya ke depan. Dan ia langsung beradu tatap dengan Yon yang menoleh ke belakang. Pemuda itu kini sedang menatapnya dengan pandangan khawatir.


"Yy..ya, Yon?" Sahut Nura tergeragap.


"Ayo, dari sini, kita berjalan kaki sebentar.." ajak Yon yang meminta Nura untuk turun dari skuter nya.


"Jalan?"


"Ya. Jadi.. pertama kali aku melihat mu itu adalah sewaktu kamu lagi melamun malam-malam di atas bale.."


Dan bla. Bla bla..

__ADS_1


Yon terus menceritakan ulang kisah pertemuan mereka kepada Nura. Ia menceritakan tentang pesawat luar angkasa nya yang diparkir di pertengahan sawah. Dan perjalanan mereka di atas skuter sambil menyusuri bantaran sungai Ciatar.


Mendengar cerita Yon, samar-samar Nura seperti mengingat kilasan-kilasan kenangan yang tak sempurna. Setelah beberapa waktu lagi mencoba untuk mengingat, sayangnya Nura tetap tak mengingat kenangannya bersama dengan Yon dulu.


"Hh.. aku sama sekali gak bisa ingat, Yon. Maaf.." ucap Nura kemudian.


Saat ini keduanya sedang duduk selonjoran di pinggir sungai. Sesekali Nura tampak mencabuti rumput lalu melemparnya asal ke arah sungai. Meski jelas, gerakannya itu tampak tak berarti apa-apa.


"Ya sudah gak aoa-apa. Mungkin, memang sudah takdirnya.." ujar Yon berkomentar.


"Huh? Takdir? Maksud kamu apa sih? Kita masih bahas hal yang sama kan, Yon? Tanya Nura yang merasa kalau pernyataan Yon tadi terdengar tak menyambung.


"Nah.. ini akan sulit untuk dijelaskan. Sebenarnya Nura.. kedatangan ku kembali ke bumi ini adalah untuk bertanya kepadamu tentang batu nun yang pernah ku berikan dulu.." tutur Yon mengungkapkan alasan kedatangannya.


Mendengar itu Nura mengerutkan dahi.


"Batu nun? Itu adalah batu.." ia tampak mencoba mengingat-ingat percakapannya dnegan Yon sesaat tadi.


Seingatnya Yon tadi sempat menceritakan perihal batu nun.


"Terus..?" Cecar Nura tak sabar.


"Kalau kamu masih mengingatnya, aku tadinya ingin memintanya kembali," tutur Yon dengan wajah uang tampak malu.


"Aku tahu ini perbuatan yang memalukan. Tapi karena ini adalah hal yang wajib ku penuhi sebelum aku mengikat jan.."


Yon tiba-tiba saja berhenti berkata-kata. Baru saja ia hampir keceplosan tentang kabar pertunangannya dengan Bellinda di planet Terian.


Di planet asal nya, setiap pernikahan dari dua makhluk terian maka akan disimbolkan dengan pertukaran batu kelahiran antara terian jantan dan terian betina. Sayangnya batu milik Yon telah diberikannya kepada teman manusia nya di bumi, yakni Nura.


Karena itulah Yon dayang kembali ke bumi. Ia dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tuanya karena telah memberikan batu berharga itu kepada manusia bumi.


Dan kini, Yon diwajibkan untuk mengambil kembali batu nun tersebut. Sayangnya, Nura yang ia berikan batu nun miliknya, malah melupakan tentang batu nun tersebut.


Jangankan mengingat tentang di mana ia menyimpan batu jun nya. Nura bahkan tak mengingat kenangan tentang pertemuan pertama mereka dulu sekali.


"Yon? "

__ADS_1


Kini gantian Yon yang tersentak sadar dari lamunan singkat nya perihal batu nun. Pemuda itu lalu memandangi wajah Nura lekat-lekat. Hingga gadis itu oun akhirnya dibuat jengah.


"Maaf.. apa batu itu begitu penting untukmu, Yon? Aku jadi merasa bersalah sekali padamu. Aku yak tahu tentang dimana keberadaan batu Nun tersebut, Yon.." tutur Nura dengan kepala tertunduk menyesal.


"Tak apa-apa, Nura.. aku tak menyalahkan mu. Jika memang batu itu sudah hilang, itu tak akan berarti aoa-apa bagi ku," sahut Yon menenangkan Nura.


Lebih lanjut, Yon pun bergumam dalam hati.


' Justru, dengan begini, aku bisa dengan mudah memberi alasan untuk..'


"Tunggu sebentar! Barus aja aku seperti mengingat sesuatu!" Seru Nura dengan tiba-tiba.


"Apa kita pernah menyusuri sungai dengan perahu?" Tanya Nura tiba-tiba.


Dan Yon oun seketika tersenyum cerah.


"Benar. Kita pernah menyusuri sungai. Tapi tidak dengan perahu, Nura. Melainkan dengan..ini," jawab Yon seraya menunjuk ke skuter terbang nya.


"Sungguh?! Ah! Ku rasa kita hanya perlu mengikuti jejak seperti yang pernah kita lakukan dulu, Yon. Mungkin dengan begitu aku akan bisa mengingat kembali, di mana aku meletakkan batu nun darimu," tutur Nura tiba-tiba bersemangat.


"Baiklah! Kalau begitu, sebaiknya, kita naik lagi ke skuter yuk. Kita akan pergi menyusuri sungai lagi seperti dulu.."sahut Yon seraya tersenyum cerah.


Kedua muda dsn mudi itupun langsung kembali berboncengan di atas skuter milik Yon. Keduanya lalu pergi ke tepian sungai. Setelah nga, Yon menonaktifkan mode tongkat kendali pada skuter nya. Jadilah kini skuternya itu lebih mirip seperti papan seluncur yang berukuran cukup besar untuk mereka duduki berdua.


"Ayo, Nura! Sekarang kita akan menyusuri sungai lagi seperti dulu!" Ajak Yon bersemangat.


"Apa akan aman bila kita menaikinya tanpa tongkat pegangan. yon?" Tanya Nura tiba-tiba saat Yon mengajaknya untuk duduk di atas papan melayang tersebut.


"Tenang saja, Nura. Papan ini sangat kokoh serta disertai dengan kekuatan gravitasi dan juga magnet yang cukup tinggi. Sehingga benda apapun yang berpijak pada permukaannya tak akan terlepas dengan begitu mudah," terang Yon menenangkan.


"Oo.. jadi begitu.."


"Ya. Jadi ayo, Nura! Kita menyusuri sungai sekarang!" Ajak Yon mengulang.


"Ayo!" Sahut Nura penuh semangat.


***

__ADS_1


__ADS_2