
"Halo? Halo? Kak Nura? Kamu di mana, Kak?"
Nura tersentak kaget saat ia mendengar suara Tio pada ponsel yang masih ia pegang saat ini.
"Yon! Tunggu sebentar!" Panggil Nura, yang selanjutnya memilih untuk berhenti berkendara.
"Kenapa, Nura?" Tanya Yon padanya.
Pemuda itu kini sudah berada di samping Nura kembali.
Nura tak menjawab. Ia hanya menunjukkan telunjuk nya ke arah ponsel di tangan nya itu.
Ternyata tombol yang Nura tekan sehingga membuat ponselnya berhenti berdering tadi adalah tombol menerima telepon.
Di bawah sana, ternyata Tio baru menyadari kalau panggilan teleponnya telah tersambung. Sehingga kini dengan nada sedikit panik Tio pun memanggil-manggil nama sang kakak via telepon.
Karena sudah terlanjur mengangkat telepon dari Tio, akhirnya Nura pun memutuskan untuk menjawab panggilan nya itu.
"Ya, Yo. Ada apa?" Tanya Nura berusaha menenangkan suaranya.
"Kakak sekarang di mana?" Tanya Tio.
"Kakak kan udah kirim pesan tadi. Sekarang kakak udah berangkat duluan ke sekolah.." jawab Nura dengan jujur.
"Lewat jalan mana, Kak? Jangan bohong deh!" Tuding Tio.
"Lewat jalan biasa lah!" Jawab Nura sekenanya.
Gadis itu tak sepenuhnya berbohong sih. Ia dan Yon memang pergi melewati jalan yang biasa ia lewati. Meski jalurnya adalah lewat jalur udara. Hihihi.
"Siapa yang bohong? Beneran Kakak udah berangkat ini, Yo! Udah. Mending kamu juga berangkat deh. Bye, Yo!" Pamit Nura yang kemudian buru-buru memutus panggilan itu.
Setelahnya, Nura merubah mode profil ponsel nya menjadi silent. Sehingga ketika detik berikutnya panggilan dari Tio masuk, ia tak akan lagi mendengar ponselnya berbunyi.
"Nah. Sekarang, ayo kita berangkat ke sekolah! Mm.. keranjang nya sini, Yon. Makasih ya udah mau pegangin itu.."
Nura meminta keranjang gorengannya kembali. Tadi Yon sempat menawarkan untuk memegang nya, sementara Nura berteleponan dengan Tio.
"Biar aku yang membawa nya. Sebaiknya kita pergi sekarang. Ayo, Nura!" Ajak Yon yang melayang terlebih dulu.
Nura pun segera menggaskan laju skuter terbang nya.
Sejujurnya, kali ini ia sudah mulai terbiasa dnegan aksi penerbangan nya itu.
Sepuluh menit kemudian. Keduanya tiba kuga di gang kuburan yang ada di samping sekolah.
Teringat dengan ucapan Yon kemarin terkait penghuni di area pekuburan itu, Nura pun segera mengajak Yon untuk bergegas pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Ayo yon! Aku harus mengantarkan gorengan ini dulu ke kantin," kilah Nura beralasan.
Padahal alasan sebenarnya ingin pergi dari tempat itu adalah karena ia merasa takut berada di sana lama-lama.
"Ayo!" Sahut Yon di sampingnya.
Sambil berjalan, Yon tak lagi mengatakan apa-apa. Begitupun dengan Nura Yang juga memilih untuk tetap diam di sepanjang jalan.
Saat memasuki gerbang sekolah saja lah Yon baru berbicara lagi.
"Besok Minggu, aku mau ajak kamu jalan-jalan. Kamu mau?" Tanya Yon tetiba.
"Jalan-jalan ke mana Yon?"
"Ada lah.. aku akan tunjukin kamu spot yang bagus banget!" Seru Yon tampak bersemangat.
"Oh ya? Baiklah. Jam berapa, Yon?"
"Menurutmu, apa jam sembilan tidak terlalu pagi?" Tanya balik Yon.
"Gak apa-apa. Itu gak terlalu pagi kok. Jadi, kita bertemu di mana nanti, Yon?" Tanya Nura kembali.
"Kamu tunggu saja aku di rumah. Nanti aku akan menjemput mu.." jawab Yon.
"Siip lah!"
Kedua muda dan mudi itu lalu melanjutkan obrolan nya lagi hingga mereka memasuki ruang kelas XI IPA 2.
Teet... Teeet...!
Dan pelajaran pun akhirnya dimulai.
...
...
Sewaktu jam istirahat berlangsung, Nura kembali mengajak Sisil untuk ke kantin bersama dengan nya dan juga Yon. Meski mulanya masih terlihat ragu, Sisil akhirnya tetap pergi juga dnegan rekan sejawatnya itu.
Di kantin, ketiganya mengisi perut mereka yang sedikit keroncongan. Nura sudah bisa bersikap biasa di hadapan Yon kini. Jadi ketiganya bisa terlibat perbincangan seru tentang beberapa hal. Bahkan Sisil pun ikut bisa membaur pula dengan Yon.
Akan tetapi, keseruan obrolan itu harus berhenti saat meja tempat Nura duduk saat itu tiba-tiba saja didatangi oleh Heru. Heru adalah teman sekelas Tio.
Dengan wajah panik, Heru pun berkata.
"Nura! Baru saja Tio ngasih kabar ke gue, kalau Emak kalian tertabrak motor!" Heru memberi tahu.
"Hah?!" Nura terkejut bukan main.
__ADS_1
"E..emak tertabrak motor? Kapan? Di amna??" Tanya Nura bertubi-tubi.
Meski sejujurnya hatinya tak ingin mempercayai ucapan Heru tersebut. Namun ia pun tahu, kalau tak mungkin juga kan bila Heru sengaja mengucapkan kebohongan serius seperti itu?
"Gue juga gak tahu! Gue cuma dititipin pesan sama Tio, Supaya Lo cepat datang ke rumah sakit Bunda. Oh ya! Kata Tio, telepon balik dia aja kalau Lo dah mau berangkat ke sana!" Tutur Heru kembali memberi tahu.
"O..oke.. makasih ya, Ru!" Ucap Nura dengan terbata-bata.
Hatinya masih kelimpungan menafsirkan berita buruk yang baru saja didengarnya dari Heru. Sehingga dengan linglung, Nura langsung saja berdiri dan hendak kembali ke kelasnya. Tujuannya adalah ponsel nya yang ia tinggalkan di kelas dalam keadaan silent kini.
"Nura! Tunggu sebentar!" Panggil Yon di belakang nya.
Akan tetapi Nura seolah tak mendengar panggilan itu. Pikirna nya masih terfokus pada kondisi Emaknya saat ini. Entah bagaimana kondisinya. Yang jelas Nura sudah langsung ingin menemui Emak di rumah sakit.
"Nura!" Yon kembali memanggil. Kali ini pemuda itu sudah berada di samping Nura.
Yon meraih kedua bahu Nura dan mengarahkan nya ke arah nya. Sehingga Nura pun kini berdiri menghadap padanya.
Pandangan gadis itu tampak tak fokus. Namun Yon bisa melihat jelas rasa gelisah, takut dan juga kekhawatiran di wajah gadis berparas biasa itu.
"Nura.." kali ini, Sisil lah yang memanggil nama Nura.
Teman wanita Nura itu ikut menggenggam tangan Nura yang terkulai lemas di samping tubuh nya.
"Ra.. kamu tenangin dirimu dulu ya. Insya Allah Emak akan baik-baik aja. Kita akan pergi ke rumah sakit sama-sama ya?" Tutur Sisil mencoba menenangkan Nura.
"Ki..kita? Kamu.. mau ikut juga ke rumah sakit, Sil?" Tanya Nura dengan suara terbata-bata jua.
Dan Sisil serta merta langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya. Aku akan menemani kanu ke sana. Kita minta ijin ke bu Laksmi ya nanti," tutur Sisil.
Mendengar kesediaan Sisil untuk menemaninya pergi ke rumah sakit, Nura langsung diliputi oleh perasaan haru. Gadis itu kemudian spontan saja langsung memeluk Sisil.
Sementara Yon, berdiri menyepi. Ia tahu pasti, kalau yang dibutuhkan oleh Nura saat ini adalah Sisil.
"Hiks.. Sil.. Emak, Sil.. Emak gimana ya kabar nya? Aku takut banget, Sil.." gumam Nura yang masih tampak panik.
Aksi keduanya yang berpelukan di pertengahan taman sekolah itupun kontan menarik perhatian siswa lain yang melewati mereka.
Tapi baik Nura ataupun juga Sisil tak perduli. Sisil lalu mengusap punggung rekan sejawatnya itu berkali-kali. Berusha mengirimkan ketenangan keoada Nura.
"Tennag, Ra.. insya Allah Emak gak akan kenaoa-kenaoa. Kamu jangan berburuk sangka apa-apa dulu ya!" Oesan Sisil keoadanya.
"I..iya.." Nura langsung mengangguk.
"Sekarang, ayo kita ke kelas dulu. Ambil oinsel mu dan telepon Tio. Yanyaain pastinyabke dia tentang apa yang sebenarnya terjadi. Oke?" Saran Sisil berikutnya.
__ADS_1
"I..iya, Sil.. makasih ya.." ucap Nura menyampaikan ucapan syukurnya.
***