Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Berbaikan


__ADS_3

"Siapa sebenarnya kamu, Yon? Kenapa kamu perduli pada ku?" Tanya Nura to the point.


Yon tak segera menjawab pertanyaan Nura. Terlebih dulu pemuda itu memandang Nura lekat-lekat. Sebelum akhirnya ia meraih kedua tangan Nura untuk ia genggam kemudian.


"Bisakah kita tak membahas soal siapa aku, Nura? Bisakah kamu menerima ku apa adanya diriku saat ini? Bisakah kamu cukup mempercayai kalau aku memang perduli kepadamu?" Tanya Yon sambil menatap lurus ke dalam mata Nura.


"Aku..."


"Ehemm!! Lagi apa kalian di sini?! Bukannya masuk ke dalam kelas. Malah asik dua-duaan di sini! Sekolah tuh tempat untuk belajar. Bukan untuk pacaran!"


Gelegar suara Bu Retno, sang guru killer pun seketika membuyarkan nuansa roman yang sempat tercipta di antara Nura dan juga Yon.


Dengan spontan, Nura menarik tangannya hingga terlepas dari pegangan tangan Yon.


"Ii..ibu Retno.." ujar Nura terbata-bata.


"Sudah! Masuk ke kelas kalian sekarang juga, sana! Kelas berapa kamu?!" Bu Retno bertanya kepada Nura.


"XI IPA 2, Bu.." cicit Nura ketakutan.


"Kamu?!" Gantian Yon yang kini ditatap oleh wajah Bu Retno yang sangar.


"Sama, Bu.." jawab Yon dengan sikap santai.


"Pantas saja. Kalian sekelas ternyata. Gak usah lah kalian pacar-pacaran dulu! Kasihan orang tua kalian. Sudah capek-capek bekerja. Tapi kalian yang seharusnya serius belajar malah sibuk pacaran!" Omel Bu Retno berlanjut.


Nura dan Yon pun seketika menunduk. Nura sungguh merasa bersalah saat Bu Retno menasihatinya seperti. Bayangan wajah Emak yang letih usai menyiapkan dagangan gorengan pun seketika muncul di benak gadis itu.


"Kalian mau, ibu laporkan ke orang tua kalian. Kalau kerjaan kalian di sekolah itu cuma dua-duaan pacaran aja?!" Ancam Bu Retno.


"Ja..jangan, Bu! Kasihan Emak!" Pekik Nura memohon pada sang guru.


"Kalau gitu. Yang serius lah belajarnya! Gak usah pacar-pacaran dulu! Kalau mau pacaran, nanti kalau kalian sudah bisa cari uang sendiri! Jadi kalian gak ngerepotin orang tua lagi!" Nasihat Bu Retno terus berlanjut.


"Iya, Bu.." cicit Nura yang sudah hampir ingin menangis.


Di samping Nura, Yon menyadari kondisi psikis Nura yang tampak terguncang karena dimarahi oleh Bu Retno. Karena itulah tiba-tiba saja pemuda itu menatap langsung kedua mata Bu Retno dengan cukup lama.


"Kenapa kamu berani lihatin ibu, begitu?!" Tuding Bu Retno tiba-tiba.


Pandangan Nura pun seketika terangkat. Pertama ia menoleh ke Bu Retno, baru kemudian ke Yon. Pemuda itu masih terlihat menatap Bu retno lekat-lekat dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.

__ADS_1


Nura hendak menegur Yon agar menundukkan kepala nya. Namun tiba-tiba saja sesuatu yang aneh terjadi.


Bu Retno tiba-tiba saja terdiam. Dan berbalik pergi begitu saja. Ia seolah lupa kalah ia sedang memarahi Nura dnlan juga Yon.


Kepergian sang guru pun sontak membuat Nura jadi takjub keheranan.


"A..ada apa dengan Bu Retno? Yon, apa kamu tahu kenapa..?!"


Ucapan Nura seketika terhenti. Karena sekilas tadi ia sempat melihat iris mata Yon yang berubah warna jadi kuning keemasan.


Walau Nura hanya melihat perubahan tersebut sepersekian detik saja. Namun Nura sangat yakin, kalau baru saja ia melihat keanehan lagi pada diri teman kelasnya tersebut.


"Yon! Mata mu tadi bercahaya keemasan! Apa yang ter.."


Teeeeeettt... Teeeeeetttt....


Bel masuk berdering nyaring.


Ucapan Nura pun terhenti dan tak lagi bisa ia selesaikan. Karena sesaat kemudian Yon langsung mengakhiri percakapan mereka saat itu jua.


"Sudha masuk. Nura. Kita ke kelas dulu yuk?!" Ajak pemuda itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Tapi satu hal yang bisa Nura pastikan. Kalau Yon, sang anak baru, memang memiliki rahasia yang sedang ia sembunyikan.


***


Dengan ragu-ragu, Nura mendekati siska.


"Mm.. Sis.. kurai ini.." Nura ragu-ragu berkata.


"Kamu pindah lagi saja, ke sana! Malas aku ngeladenin kalian berdua! Tuh! Ambil tas mu tuh!"


Siska lalu mlemparkan tas Nura dengan asal ke atas meja. Sementara Sisil yang sedari tadi diam saja lalu berkata kepada Nura.


"Gak apa-apa, Ra. Kamu duduk lagi saja di sana. Cepatlah. Sebentar lagi Pak Noh masuk ke kelas," usul Sisil menyarankan.


Pak Noh adalah guru pria yang mengajar pelajaran Seni Karya.


Nura pun mengangguk.


"Kalau gitu, aku duduk di sana lagi ya. sil.. Sis.." pamit Nura kepada dua orang temannya itu.

__ADS_1


Sisil memberinya senyuman mengerti. Sementara Siska bersikap acuh dan tetap memasang wajah cemberut.


Dengan perasaan campur aduk, Nura oun bergegas ke tempat duduk lamanya di pinggir jendela. Saat melangkah ke sana, pandangannya beradu kembali dengan kedua mata milik Yon.


Deg. Deg.


Deg. Deg.


Bahagia itu kembali dirasakan oleh nya. Nura jelas merasa senang karena ia akhirnya bisa kembali ke tempat favoritnya di pinggir jendela.


Dan yang paling membuatnya merasa senang adalah, karena kini ia bisa duduk dekat dengan lelaki yang diam-diam mulai mencuri hatinya itu.


Yon. Dialah lelaki yang mulai Nura sukai entah sejak kapan lamanya.


"Cie..cie.. Juliet balik nih ke Romeo.. asiikk.. gak ada tragedi dong nanti?!!" Boni, sang biang kerok kembali meneriakkan candaan kepada Nura dna Yon.


Selanjutnya beberapa teman yang lain ikut meledek. Sehingga Nura pun mempercepat langkahnya menuju kursi nya.


"Wahh.. bentar lagi ada manten nih di kelas kita. Asiik.. ditunggu traktirannya ya, Nuraini!" Teriak Boni kembali. Dan kelas pun menjadi riuh setelahnya.


Nura jelas sangat merasa malu. Meski begitu, ia pun tak bisa memungkiri kalau hatinya sungguh dipenuhi oleh kembang bahagia saat itu.


***


Saat jam istirahat, Yon mengajak Nura pergi ke kantin bersama. Nura pun mengangguk saja, mengiyakan ajakannya.


Gadis itu lalu mendekati Sisil dan mengajaknya pula untuk pergi ke kantin. Awalnya Sisil tampak ragu untuk ikut bersama ke kantin. Namun Nura terus membujuknya.


"Tapi aku takut ganggu quality time nya kamu sama Yon, Ra.." bisik Sisil di dekat telinga Nura.


Saat itu, Yon masih menunggu di depan pintu kelas.


"Sisil apaan sih? Quality time apaan coba! Kayak kita udah pa..pa..pacaran aja!" Seloroh Nura dengan tergagap malu.


"Serius nih gak apa-apa kalau aku ikut kamu juga?" Tanya Sisil kembali minta diyakinkan.


"Gak apa-apa, Sil. Lagian kan, kamu itu besti ku. Gak ada yang bisa usik persahabatan kita. Setuju?" Janji Nura dengan pandangan serius.


Mata Sisil tampak mengembun. Gadis itu jelas terharu dengan kalimat Nura barusan.


"Iya, Ra.. makasih ya.." sahut Sisil dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Kedua mudi itu pun kemudian menghampiri Yon. Dan bertiga, mereka pergi ke kantin bersama-sama dengan hati yang diliputi oleh rasa bahagia.


***


__ADS_2