
Kembali ke saat ini. Di mana Kak Eci baru saja mengingat kembali kenangan masa kecil yang dulu berusaha ia lupakan dengan susah payah.
"K..kamu?! Apa maksud ucapan mu itu?!" Tanya Kak Eci yang masih sulit untuk merangkai hubungan antara kenangan masa kecil nya dengan pemuda di hadapannya itu.
"Aku melihat mu, Ci. Kau bersembunyi di balik semak-semak ilalang. Tak jauh dari tempat Nura dan aku berpisah dulu sekali di pematang sawah.." tutur Yon menerangkan.
"?!! K..kau! Aku tak tahu apa yang kau bicarakan!" Hardik Kak eci setengah membentak Yon.
Padahal sebenarnya Kak Eci mulai bisa menduga apa yang ingin diungkapkan oleh pemuda tersebut.
'Maksud pemuda ini, dia adalah teman alien nya Nura dulu?! Itu.. jelas tak mungkin kan?! Dia tampak seperti manusia biasa..' benak Kak Eci berpikir cepat.
"Hh.. Nura, sayangnya, kamu sepertinya telah melupakan pertemuan kita. Jadi sekalipun aku memberitahumu saat ini, kau belum tentu juga bisa mengingat nya.." ujar Yon yang kini menoleh ke arah Nura.
Nura kini memandang bingung pemuda itu.
"Maksud kamu apa, Yon?" Tanya Nura.
"Maksud ku adalah..Nura.. dulu sekali.. sewaktu kamu masih sangat kecil, kita pernah bertemu sebelumnya. Aku pun saat itu masih kecil. Aku belum tahu genre ku sendiri apa. Kita menaiki skuter terbang bersama-sama, dan aku menunjukkan beberapa kemampuan ku kepada mu. Seperti ini misalnya.."
Tiba-tiba saja Yon menghilang dari pandangan Nura dan Kak eci. Dua bersaudara itupun terkejut bukan main. Keduanya langsung menoleh ke sekitar, dan mendapati Yon yang kini telah duduk santai di atas sofa ruang tamu mereka.
Dengan spontan. kak Eci langsung menarik tangan Nura hingga tersembunyi di belakang tubuh nya. Itu adalah reaksi spontan dari tubuhnya untuk melindungi sang adik.
"Nura, apa kau masih tak mengingat pertemuan kita dulu?" Tanya Yon kepadanya.
Nura melihat ke arah Yon dengan pandangan takjub dan.. kagum. Sama sekali tak ada jejak rasa takut di wajah gadis itu.
"Jadi begitu rupanya! Kau memang mempunyai kekuatan ajaib kan, Yon? Saat kecelakaan waktu itu juga kau menolongku dengan kekuatan mu itu kan, Yon?!" Nura menebak dengan bersemangat.
"Kecelakaan? Kecelakaan apa maksud mu, Ra?" Tanya Kak Eci yang langsung menoleh ke belakang. Menatap sang adik dengan pandangan bertanya.
"Ee.. itu Kak. Waktu mau berangkat sekolah beberapa hari yang lalu, Nura hampir aja tertabrak motor.. tapi, tahu-tahu.. wuuzz! Nura jadi pindah tempat dan gak jadi tertabrak! Waktu itu tuh Yon yang udah tolongin Nura. Iya kan, Yon?" Nura meminta pengakuan Yon untuk mendukung ceritanya pada Kak Eci.
__ADS_1
Dan pemuda itu langsung menganggukkan kepalanya sekali.
Wajah Nura pun seketika sumringah. Ia langsung berjalan dan hendak menghampiri teman kelas nya itu. Namun Kak Eci malah menahan tangan nya dari melangkah lebih maju.
"Nura! Jaga jarak dari lelaki itu! Bagaimana kalau dia punya maksud jahat ke kamu?!" Tanya Kak Eci seraya menuding ke arah Yon.
Yon tampak santai saat dituding oleh Kak Eci. Ia hanya fokus menatap Nura saja dalam diam.
"Kakak.. kalau Yon punya maksud jahat ke aku, terus kenapa dia nolongin aku? Berkali-kali lagi.. belum lagi.."
Ucapan Nura tiba-tiba terhenti. Pikirannya teringat pada momen ketika pemuda itu mengutarakan perasaan khususnya terhadap Nura. Seketika wajah Nura pun jadi merah merona.
Dan, Kak Eci pun bisa menyimpulkan sesuatu kala melihat perubahan di wajah adiknya itu.
"Jangan bilang, cowok yang nyatain rasa suka nya ke kamu itu dia?! Dia, Ra,?? Kalau gitu. Mending tolak aja deh langsung! Dia itu alien, Ra! Dia itu bukan manusia seperti kita!" Cecar Kak Eci dengan emosional.
"Alien? Yon? Kakak ngomong apa sih? Yon itu manusia juga Kak kayak kita.. yah.. dengan tambahan kekuatan ajaib juga sih.." imbuh Nura bersikukuh dengan pendapatnya sendiri.
Ia begitu takut bila adiknya sudah dipengaruhi oleh alien tersebut sehingga malah jatuh hati padanya pula. Eci tak ingin Mura dibawa pergi pula oleh alien tersebut. Kepergian Emak masih sangat baru terjadi di keluarga kecil mereka. Dan ia tak ingin menghadapi kehilangan lagi sekarang juga.
"Kakak.. Yon itu manusia. Alien itu kan penampilannya seram.. mata melotot.. kepala botak.."
"Ehem!" Tiba-tiba saja Yon berdehem. Deheman itu sontak saja menghentikan ocehan Nura tentang makhluk alien dalam persepsi nya.
Lebih lanjut, pemuda itu juga ikut berkata sesudahnya.
"Sebenarnya Nura.. aku memang alien. Makhluk yang lahir dan besar di planet Terian. Planet jauh yang berada di galaksi tetangga dari galaksi bima sakti," imbuh Yon memperkenalkan diri.
Galaksi bima sakti adalah galaksi tempat planet bumi berada.
Sesaat, ruangan tamu menjadi hening. Nura menatap Yon tanpa berkedip. Gadisbitu masih mencerna ucapan teman kelasnya itu secara perlahan.
Dan ketika otaknya sudah bisa mengerti maksud ucapan Yon secara harfiah, barulah gadis itu menunjukkan reaksinya.
__ADS_1
"Kamu alien?? Tapi.."
Tiba-tiba saja Nura menepis tangan Kak eci yang masih menahan nya. Dan dengan langkah cepat, ia langsung menuju tempat Yon duduk santai di atas sofa.
"Nura!" Pekik Kak Eci yang ketakutan karena Nura mendekati sang alien tamoan.
Akan tetapi Kak Eci tak berani mengikuti langkah Nura untuk mendekati sang alien. Ia tetap terpaku berdiri di tempatnya sedari tadi.
Setelah berdiri di hadapan Yon, dengan berani Nura langsung menjawil kedua pipi Yon. Ia menariknya dan merasakan keelastisan kulit yang ia pegang.
Nura pun mengernyit bingung. Karena ia yakin, penampilan Yon adalah penampilan yang asli. Karena kulitnya pun sama kenyalnya seperti kulit manusia pada umumnya.
"Kau jelas-jelas manusia, Yon. Jangan membuat alasan aneh seperti kak Eci dong. Yah.. walaupun mendengar Kak Eci menuduh mu sebagai alien juga sudah cukup mengejutkan. Tapi, kenapa kau juga jadi sama ngawurnya seperti Kak Eci?" Tutur Nura menegur pemuda itu.
"Hey! Bocah! Bisa-bisa nya kamu bilang kakak ngawur! Dia itu memang benar alien, Ra!" Omel Kak Eci di belakangnya.
"Lagipula.. kenapa tiba-tiba kamu menjelaskan identitas mu pada ku, Yon? Bukankah katamu kau sudah terikat janji pada orang tuamu untuk menyimpan rahasia? Ku pikir, rahasia yang dimaksud itu adalah tentang identitas aslimu ini kan?" Tanya Nura berinvestigasi.
Yon pun akhirnya berdiri. Pemuda itu lalu meraih kedua tangan Nura dan menatap gadis itu lama-lama.
Deg. deg.
Ba dump. Ba dump.
Pikiran Nura kembali kacau oleh sebab debur perasaannya terhadap Yon. Suasana romantis itu tiba-tiba pecah manakala Kak Eci menepis kasar tangan Yon yang memegang kedua tangan adiknya. Dan selanjutnya, Kak Eci kembali menyembunyikan Nura di belakang nya. Tatapannya mengawasi setiap gerak-gerik pemuda di depannya.
"Hh.." Yon tampak menghela napas letih.
Sepertinya pemuda itu sudah tak lagi berniat untuk menahan diri untuk mengatakan sejujurnya pada gadis pujaan hatinya itu. Dengan tatapan yang melekat tepat ke mata Nura, Yon pun berkata.
"Aku berterus terang kepadamu sekarang ini, karena aku sudah tak memiliki banyak waktu lagi di bumi, Nura.. aku harus segera kembali ke planet Terian. Planet asal ku. Kedua orang tua ku tampaknya tak percaya padaku. Sehingga mereka meminta ku untuk segera kembali malam ini juga ke planet Terian. Aku harus pulang.." tutur Yon panjang kali kebar.
***
__ADS_1