Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Misteri Yon


__ADS_3

"Kak Nuur!" Panggil Tio yang langsung bergegas mendekati Nura dan juga lelaki yang masih memeluk nya hingga saat ini.


Saat itu lah Nura tersadar kalau ternyata ia masih hidup. Dan ia lebih tersadar lagi pada sosok yang kini sedang melingkari pinggang nya dengan sangat erat.


Seketika itu pula Nura langsung menoleh ke belakang. Dan ia tertegun saat kedua netra nya bertatapan langsung dengan kedua mata milik Yon, si Anak Baru.


"..Yon?" Panggil Nura dengan suara yang masih sedikit tercekat.


John tak menyahuti panggilan Nura. Ia hanya mengeratkan pegangan nya saja pada pinggang Nura.


"Yon..?" Panggil Nura kembali.


Nura memandang bingung ke arah wajah Yon yang terlihat pucat pasi. Ia lalu balas memegang lengan Yon dan mere mas nya. Dan akhirnya sesaat kemudian Yon pun seperti tersadar dari kondisi trans nya.


Tiba-tiba saja pemuda itu melepaskan pegangan nya di pinggang Nura. Agak sedikit mendorong nya malah. Sampai Nura jadi terhuyung maju ke depan.


Beruntung saat itu Tio sudah berada sangat dekat dengan posisi keduanya berada. Jadi dengan sigap, Tio pun menangkap lengan sang kakak sehingga Nura tak sampai jatuh tersungkur ke depan.


"Kak Nura gak apa-apa kan?!" Tanya Tio terlihat begitu khawatir.


Nura pun lantas membalas kekhawatiran sang adik, dengan gelengan kecil. Ia lalu berbalik dan menatap Yon dengan seribu pertanyaan di mata nya.


"Bagaimana bisa kamu..tiba-tiba ada di belakang ku, Yon? Dan.. seingat ku, tadi aku sudah berlari sampai di..sana.."


Nura lalu menunjuk titik tempat di mana terakhir kali ia hampir saja mengalami kecelakaan. Pandangan Nura lalu kembali berbalik ke wajah tampan yang masih juga terlihat pucat hingga saat ini.


"Kamu juga yang waktu itu nolongin teman ku, kan? Di rel kereta, ingat?" Tio pun ikut-ikutan melempar tanya kepada Yon.


Sementara itu yang ditanya masih juga diam tak bergeming.


Sampai, secara tiba-tiba, tanpa berkata apa-apa lagi, Yon berjalan cepat meninggalkan kedua bersaudara itu pergi. Dan Nura serta Tio memandang nya tak percaya.

__ADS_1


"Yon!" Nura memanggil teman sekelas nya itu lagi.


Tapi Yon tak berbalik, atau bahkan hanya sekedar menyahut saja. Ia tak melakukan nya.


"Yon!" Nura lagi-lagi memanggil teman kelas nya itu. Namun Yon tetap berlalu pergi meninggalkan nya. Sampai kemudian pemuda itu akhirnya hilang di balik tikungan sana.


"Kak! Tio yakin banget kalau si Yon ini yang kemarin udah nolongin Heru juga! Kejadian nya juga sama persis kayak kakak tadi!" Seru Tio tiba-tiba.


"Maksud kamu, gimana, Yo?" Tanya Nura sambil lalu, sementara pandangan nya masih juga terpaku menatap ujung jalan tempat terakhir kali ia melihat sosok Yon di kejauhan.


"Kejadian nya.." pandangan Tio lalu beralih ke sekitar mereka. Di mana kerumunan orang-orang menatap mereka berdua dengan pandangan aneh.


Merasa malu, Tio pun menarik tangan sang kakak untuk pergi dari tempat itu.


"Sebaik nya kita berangkat dulu sekarang, Kak. Itu ada angkot lagi ngetem!" Ajak Tio seraya menunjuk ke arah angkot biru putih lain nya. Karena angkot yang tadi sempat dinaiki oleh Tio, entah sejak kapan telah pergi. Mungkin karena tak ingin menunggu kedua bersaudara itu lebih lama lagi.


Dengan patuh, Nura mengikuti tarikan tangan Tio pada nya. Sementara beragam pikiran pun muncul di benak nya.


'Ada banyak hal aneh terjadi! Seharusnya tadi aku tertabrak motor kan?' gumam Nura dalam hati.


'Dan Yon.. ada yang aneh dari Yon.. aku tak menyadari keberadaan pemuda itu sampai ketika semua kecelakaan itu terlewati dengan begitu saja. Ada di mana dia sebenar nya tadi? Dan, apa yang dilakukan nya di sini? Memang nya rumah Yon ada di sekitar sini ya?'


Benak Nura dipenuhi oleh beragam pikiran dan dugaan-dugaan yang campur aduk jadi satu. Sementara itu di samping nya, Tio pun sama kalut nya seperti sang kakak.


Alhasil, dua kakak beradik itu pun melalui perjalanan mereka di angkot dengan berdiam diri.


Sesampainya angkot mengantarkan mereka di depan gerbang, Tio tak langsung mengajak Nura masuk melewati gerbang sekolah. Pemuda itu malah menarik Nura untuk memasuki gang kecil yang ada di samping sekolah.


Saat itu, gang kecil tersebut tampak sepi orang. Sehingga Tio pun dengan leluasanya berkata kepada Nura.


"Jadi, Kak.. waktu Tio dan Heru hampir kecelakaan di rel kereta, ada hal ganjil yang juga terjadi ke Heru. Dan kejadian nya itu mirip banget kayak yang Kakak alami tadi," ungkap Tio dengan raut serius.

__ADS_1


Nura masih tak berkomentar apa-apa atas penjelasan Tio barusan. Sehingga pemuda itu pun melanjutkan penjelasan nya lagi.


"Posisi Tio waktu itu ada di pinggir rel. Masih ada jarak sekitar tiga meteran dari rel lah. Sementara Heru masih ada di atas motor nya yang tiba-tiba mogok di tengah rel," papar Tio bercerita.


"Kenapa bisa begitu? Kamu ninggalin Heru, Yo?" Tanya Nura yang malah terfokus pada hal lain.


Dengan kepala tertunduk malu, Tio akhirnya mengakui kekhilafan nya itu.


"Waktu itu Tio panik Kak. Soalnya kereta udah kelihatan banget ada di depan mata. Paling sepuluh detikan lagi tu kereta bisa ngelewatin tempat di mana motor Heru mogok. Jadi, Tio refleks turun dari motor dan lari menjauh," ungkap Tio dengan jujur.


Dan Nura memberinya pandangan mencela. Yang diterima oleh Tio dengan lapang dada.


Jika bisa mengulang waktu, Tio pun ingin kembali ke waktu di mana saat itu terjadi. Ia pasti akan membantu Heru mendorong motor nya sekuat tenaga agar bisa ke tepi rel. Tapi tentu saja, itu hanya angan yang kelewat muluk saja.


"Terus, kereta itu akhirnya nabrak motor Heru. Suara tabrakan nya kencang banget kedengaran. Sampai-sampai lutut Tio lemas jadinya, Kak.."


"Terus?"


"Terus Tio tunggu sampai kereta nya udah lewat jauh, baru Tio cepat-cepat nyebrangin rel untuk cari Heru. Yang Tio lihat pertama kali tuh motor nya, lumayan ringsek, Kak.. ngelihat kondisi motor Heru yang ringsek aja udah bikin Tio makin hopeless tentang nasib Heru,"


"Aneh nya, Tio lalu melihat Heru ada di belakang kerumunan orang-orang yang lagi ngerubungin motor Heru, Kak. Heru lagi dalam posisi kayak jatuh terjengkang. Tapi kedua tangan nya ditahan sama si Yon tadi,"


"Jelas aja Tio kaget banget lah Kak. Soalnya Heru gak celaka atau bahkan lecet sama sekali. Dia cuma kelihatan pucat dan syok aja. Persis kayak Kak Nura tadi!" Tutup cerita Tio.


Dan sepanjang Nura mendengar cerita Tio, gadis itu pun teringat pada pengalaman mendebarkan nya tadi saat ia hampir ditabrak oleh motor.


Untuk alasan yang bahkan tak bisa ia jelaskan secara masuk akal, Nura pun nyatanya tak celaka sama sekali. Dan semua itu ia yakin adalah berkat bantuan dari Yon.


Pemuda itu, entah dengan cara bagaimana telah menarik tubuh Nura mundur hingga beberapa meter ke belakang. Sehingga Nura akhirnya bisa selamat dari kecelakaan mematikan yang hampir saja merenggut nyawa nya sesaat tadi.


Kemudian Nura beradu pandang dalam diam dengan Tio, sang adik. Secara hampir bersamaan, keduanya lalu berkata,

__ADS_1


"Kunci jawaban nya ada pada Yon!" Ucap keduanya hampir bersamaan.


***


__ADS_2