Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Adik yang Cerdas


__ADS_3

Setelah itu, Nura dan kawan-kawna nya mendapat peringatan keras dari Bu Retno dan guru BP. Mereka juga menerima hukuman harus membantu petugas perpustakaan sepulang sekolah.


Hukuman ini dilakukan dengan berpasangan. Nura dengan Siska. Dan Sisil dengan Tiwi. Hukuman ini akan dilakukan berselang-seling dalam setiap hari nya selama satu pekan terhitung sejak hari Senin depan.


Jadi Nura Siska akan membantu petugas perpustakaan pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Sementara Sisil dan Tiwi akan membantu di hari Selasa, Kamis, serta hari Sabtu.


Untuk Siska dan Tiwi yang terbukti menginisiasi kericuhan, akan mendapat tugas tambahan, yakni membaca sebuah buku apapun yang ada di perpus. Kemudian menulis rangkuman nya untuk diserahkan kepada guru BP di hari Sabtu berikut nya.


Dengan hukuman ini diharapkan Siska dan Tiwi akan menjadi jera untuk tidak berbuat rusuh lagi. Sementara hukuman bersama yang dilakukan mereka bersama dengan Nura dan Sisil diharapkan akan memperbaiki hubungan pertemanan di antara ke empat murid tersebut.


***


"Tio dengar, kakak habis ribut sama teman sekelas kakak? Siapa, Kak? Dan kenapa?" Tanya Tio, selepas maghrib hari itu di kamar Nura.


"Syuuut! Jangan berisik-berisik dong, Yo! Gimana kalau sampai Emak dengar? Kan bisa gaswat!" Tegur Nura dengan wajah pucat ketakutan. Berkali-kali mata nya ia lirikkan ke arah pintu kamar nya yang separuh terbuka saat ini.


"Emak lagi ke rumah Kak Lili, kok, Kak. Katanya sore tadi kak Alif (suami Kak Lili) mampir dan cerita kalau Kak Lili lagi hamil, tapi mabuk parah. Kak Alif minta saran ke Emak soal Kak Lili. Tapi Emak jadi pingin nengokin habis maghrib tadi," tutur Tio panjang kali lebar.


"Ehh? Kok Emak gak bilang sih?" Tanya Nura dengan nada protes.


"Bilang kok, pas selesai shalat maghrib tadi. Kak Nura kan lagi M, jadi gak shalat dan ngerem aja di kamar. Kak Nura dengerin musik pakai headset ya?" Terka Tio begitu tepat.


Ditembak seperti itu, Nura pun jadi salah tingkah. Ia memang tadi tergoda untuk mendengarkan musik setelah adzan maghrib lama berkumandang.


"Yeyy! Orang mah bukan nya dengarin kaset murotal atau shalawatan. Ini malah dengerin musik cinta-cinta an!" Ledek Tio kembali.


"Tahu dari mana aku dengar musik cinta-cinta an?!" Tuding Nura dengan emosi kesal.


"Tahu lah! Tuh masih lumayan kedengaran. Itu lagu nya D'Revinzer yang judul nya 'Kupandang Foto mu' kan?" Tebak Tio lagi dengan sangat tepat.


Pemuda itu memang diberkati, tak hanya dengan otak yang kelewat cerdas, namun juga indera pendengaran yang sangat tajam.


Nura melirik ke headset nya yang samar-samar memang masih memutar lagu yang disebutkan judulnya oleh Tio tadi. Ia lalu menatap sebal pada sang adik.


"Sudah ah! Kamu mau apa sebenar nya ke sini? Pasti bukan cuma untuk kepoin soal Kakak aja kan?" Tanya Nura dengan nada mendumel.


"Tio memang mau kepoin urusan kakak kok! Jadi berita kakak ribut itu benar, Kak?" Tanya Tio yang kini menarik kursi belajar Nura mendekati kasur. Pemuda itu lalu duduk di atas nya, menghadap sang kakak yang kini sedang duduk sila di atas kasur.

__ADS_1


"Iya, benar. Tapi bukan Kakak yang ngajak ribut lho ya! Teman sekelas Kakak tuh yang cari ribut duluan. Rambut kakak sama Sisil sampai dijambak nya juga!" Jawab Nura dengan kalimat jujur.


"Hah?! Sisil juga terlibat, Kak?! Terus gimana kondisi Sisil sekarang? Kok dia gak bilang apa-apa ya ke aku pas teleponan tadi?!" Tanya Tio dengan nada sedikit tinggi.


Hinata langsung melempari Tio dengan bantal.


Pluk!


Dan Tio berhasil menangkap nya.


"Kenapa sih, Kak? Ditanya, bukan nya ngejawab. Malah ngajakin main lempar bantal!" Protes Tio yang kesal.


"Kamu nya jadi adik tuh gak berperasaan banget! Masa lebih peduliin orang lain daripada kakak kandung sendiri sih?! Lagian sebenarnya hubungan kamu sama Sisil tuh apa sih, Yo? Kalian pacaran? Atau cuma TTM-an aja?" Selidik Nura dengan tatapan tajam.


TTM \= Teman Tapi Mesra.


"Iih.. apaan sih, Kak Nura ini! Mana ada Tio main pacar-pacaran! Tio sih pingin nya langsung nikah aja. Tapi.."


Pluk!


Lagi-lagi Nura melempar bantal ke arah Tio. Sayang nya kali ini Tio tak berhasil menangkap nya. Jadi wajah nya pun berhasil ditepok oleh bantal guling nya Nura.


"Kamu yang asal banget kalau ngomong! Kamu mau ngajak Sisil nikah? Hey! Ingat!Kamu masih sekolah, Yo!" Omel Nura seketika.


"Siapa juga yang mau ngajak Sisil nikah sekarang?! Tio kan cuma bilang kalau Tio gak mau pacaran, Kak. Bukan berarti Tio mau nikah sekarang juga lah!" Balas Tio mengomel.


"Berarti, kamu TTM-an dong sama Sisil?!" Tebak Nura kembali.


Kali ini, Tio tak segera membalas tudingan nya. Pemuda itu malah berkilah menatap ke arah lain sambil bergumam pelan.


"Apaan sih, Kakak! Udah lah gak usah bahas soal itu! Kenapa juga bisa bahas soal Tio sih? Kan Tio tadi cuma nanya gimana kondisi Sisil aja.." protes Tio.


"Nah! Itu dia yang bikin kakak kesal! Kamu malah lebih perduliin Sisil daripada Kakak! Tega banget sih sebagai adik, kamu, Yo!" Omel Nura kembali.


"Lha? Tio kan udah tahu kalau Kak Nura baik-baik aja! Kelihatan jelas begini, kok! Ngapain Tio nanyain kondisi kakak lagi? Yang ada juga Tio penasaran soal anak baru di kelas kakak itu! Yang punya kekuatan aneh itu, Kak! Gimana tadi, apa kakak udah labrak dia?" Tanya Tio mengalihkan pembicaraan.


Nura paham dengan niatan adik nya itu. Namun ia tak bisa melewatkan perbincangan tentang Yon begitu saja. Ia pun akhirnya menjawab pertanyaan Tio tersebut.

__ADS_1


"Gimana mau labrak, Yo. Orang nya juga dua hari ini gak masuk sekolah!" Jelas Nura.


"Hah? Dia bolos, Kak?!" Vmcecar Tio.


"Bukan bolos. Tapi ijin. Katanya sih ada urusan keluarga gitu.." imbuh Nura menjelaskan.


"Tahu dari mana, Kak?" Tanya Tio kembali.


"Tahu dari ketua kelas kakak lah!" terang Nura sedikit emosional. Kesal karena Tio yang terlalu banyak bertanya.


"Maksud Tio, ketua kelas kakak itu tahunya dari siapa?" Cecar Tio kembali.


"Huh? Ngomong apaan sih kamu, Yo. Ya dia tahu nya dari Yon lah!" Ujar Nura yang mulai semakin kesal dengan pertanyaan beruntun sa g adik.


"Dari sms gitu?"


"Ya kali.. kenapa sih tanya-tanya melulu? Apa guna nya coba?" Tanya Nura yang sudah tak sabar menghadapi rentetan pertanyaan dari Tio.


"Kalau si Yon sms ke ketua kelas Kakak, kenapa Kakak gak minta nomor telepon nya si Yon aja! Dengan begitu, Kakak kan jadi bisa hubungin si Yon. Dan tanya langsung ke orang nya. Gak perlu capek-capek nunggu dia masuk sekolah lagi!" Papar Tio menjelaskan kecerewetan nya dalam bertanya.


Ting!


Lampu di kepala Nura tiba-tiba saja menyala terang.


Dengan refleks, ia menepuk jidat nya sendiri.


"Ya ampun! Kok ya Kakak gak kepikiran sampai situ ya?! Lupa, aku, Yo!" Gumam Nura merutuki dirinya sendiri.


"Nah! Itulah guna nya adik mu yang cerdas ini, Kak!" Seru Tio memuji dirinya sendiri.


Nura langsung mencibirinya.


"Ya. Ya.. Kamu memang adik yang cerdas sekali!" Puji Nura tak ikhlas.


Sesaat kemudian, gadis itu menambahkan.


"Cerdas.. Ceroboh dan Pemalas..ahahahaaa!!" Ledek Nura pada akhirnya. Diiringi oleh derai tawa nya yang membahana.

__ADS_1


Sementara Tio, jangan ditanya. Sudah pasti ia merasa sangat sebal pada kakak perempuan nya itu.


***


__ADS_2