Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Emak Wafat


__ADS_3

Nura melihat Emak tersenyum di balik masker. Senyuman yang, anehnya membuat hati Nura jadi berdesir aneh.


Lagi-lagi firasat aneh kembali melintas di pikirannya.


'Duh.. kenapa aku mikir yang enggak-enggak sih? Emak kelihatannya baik sih.. walau masih pakai masker dan selang oksigen..' gumam batin Nura.


"Kalian tahu? Dulu Bapak pernah bilang pingin punya anak perempuan kembar. Dan tahu kah kalian, Nak? Ketika kalian masih kecil, muka kalian sungguh mirip sekali. Mirip seperti anak kembar. Menurut Bapak, kalian itu anak kembar yang terlahir di tahun yang berbeda.."


Emak menjeda kalimat nya beberapa detik. Pandangan nya tampak menerawang ke langit kamar. Ke sesuatu yang tak bisa Nura dan Kak Eci lihat.


"Dan.. menurut Emak, kalian juga memiliki kepribadian yang mirip.. karena itu juga mungkin sejak kecil kalian seringkali tak akur.." lanjut Emak bercerita.


Nura dan Kak Eci langsung tertunduk kala mendengar cerita Emak.


"Karena itulah, Ci.. Ra.. Emak berharap kalian akan selalu hidup akur..saling tolong menolong satu sama lain.. dan juga tak segan untuk saling mengingatkan.. Bahkan jika nanti misalnya Emak gak ada pun.."


Sampai sini, Nura dan Kak Eci pun langsung mendongak dan meraung protes.


"Maak! Jangan ngomong gitu lah..!" Protes kedua bersaudara itu hampir bersamaan.


Maisng-maisng Nura dan Kak Eci lalu merasakan saat tangan Emak mere mas pelan tangan mereka. Kedua bersaudara itu lalu saling bertukar pandang.


Ada kalimat tak terkatakan namun bisa tersampaikan lewat adu pandang kedua gadis itu. Bahwa apa yang diucapkan oleh Emak hari ini adalah sesuatu yang akan selalu mereka ingat sampai nanti.


"Eci.." panggil Emak kini dengan suara yang terdengar semakin lemah.


Wajah Emak sedikit menoleh ke arah nya.


"Yy..ya, Mak..?" Sahut Kak Eci sambil mendekati mulut Emak agar bisa mendengar lebih jelas kalimat yang diucapkan oleh Emak.


"Emak masih ingin melihat kamu menikah, Nak.."


Tes.


Air mata Emak menitik ke atas bantal. Melihatnya, telah membuat mata Nura dan Kak Eci jadi ikut mengembun pula.


"Mak.. jangan nangis.." mohon Kak Eci dengan suara yang tersendat.


"Emak.. pingin ketemu cucu Emak.. anak kamu.. anak Lili.. tapi.. Emak takut.. waktu Emak tak lagi banyak, Nak.." ucap Emak mulai tersendat karena kepayahan mengatur napas.


"Mak!" Seru Nura dan Kak Eci kembali berbarengan.


Kedua bersaudara itu kian tak tega melihat kesedihan di wajah Emak. Kini keduanya pun ikutan menangis pula jadinya.

__ADS_1


"Pesan Emak, Nak.. kalau kamu..bertemu dengan lelaki... yang menurut mu baik agama nya.. baik akhlak nya.."


Lagi-lagi Emak menjeda kalimat nya.


"Terima lah dia dengan sepenuh nya ya, Ci.. hormati dia.. patuhi dia.. karena lelaki yang baik.. pasti akan membawa..kebaikan juga..bagi istrinya.. mau dia miskin.. atau kaya..mau dia..duda..atau perjaka..status di dunia itu.. tak ada artinya..bila dibandingkan dengan.. mulia nya akhlak..yang dia miliki.." ucap Emak mulai terengah-engah.


"Mak! Udah, Mak.. Emak istirahat dulu ya? Jangan kecapekan dulu.. "tutur Kak Eci kembali meminta Emak untuk berhenti berkata-kata lagi.


Emak hanya menggeleng pelan. Setelah itu pandangannya berpaling ke arah Nura. Kepada si pangais bungsu, Emak juga menitipkan petuahnya.


"Kamu juga, Ra.. sekolah yang..rajin..terimalah nasihat dari.. kakak-kakak mu.. jaga adikmu, Tio..dan.. raih kebahagiaanmu sendiri..dengan cara yang baik.."


Sesaat kemudian Emak tersengal-sengal seperti kesulitan bernapas.


Kontan saja Nura dan Kak Eci pun jadi panik seketika. Keduanya langsung berteriak secara bersamaan.


"Emak! Mak! Mak!" Panggil Nura berkali-kali.


Emak tampak tak mendengar panggilan dari putrinya itu. Ia masih memandang tak fokus ke satu titik di atas langit ruangan itu.


"Nura! Tungguin Emak dulu! Kakak mau panggil dokter dulu ya!" Teriak Kak Eci yang kemudian langsung melesat keluar kamar.


Begitu Eci keluar, ia langsung memberitahukan pada Kak Lili dan orang lainnya yang menunggu di luar kamar tentang kondisi Emak saat itu.


"Innalillah! Cepat panggil dokter!" Seru Kak Lili dengan tatapan genting.


"Biar Mas yang panggilkan dokter. Kamu tunggui Emak saja di dalam, Dek.. kamu juga Yo!" Titah Kak Alif menawarkan bantuan.


Semua mengangguk, menyetujui saran dari Kak Alif. Suami dari Kak Lili itupun langsung berlari dan mencari suster atau dokter. Sementara Kak Lili, Kak eci, Tio dan juga Yon bergegas masuk ke dalam kamar rawat Emak.


Kondisi Emak semakin memprihatinkan kini. Tatapannya benar-benar kosong. Emak seperti tak menyadari keramaian putra-putri nya sendiri di sekitar nya saat ini. Ia tetap menatap langit-langit kamar.


Dan, sesaat kemudian, Nura yang berada paling dekat dengan mulut Emak pun mendengar sebuah kalimat keluar dari mulut Emak. Meski dengan suara yang tersendat-sendat, namun Nura bisa mengenali kalimat tersebut.


"Asy.. hadu..allaa..ilaaha il..lallah..wa..asyhadu..anna..muhammadar..rosulullah.."


Dan


psh..


Emak akhirnya menghembuskan napas terakhirnya disaksikan oleh semua putra dan juga putrinya.


"Mak!!"

__ADS_1


"Emak!!"


"Mak!!!"


"Mak!!"


Kini. Keempat orang di dalam ruangan itu resi menjadi yatim piatu. Duka itu begitu pekat melingkupi maisng-masing mereka.


Tangis pun pecah terdengar dalam ruangan putih yang menjadi saksi seorang hamba kembali ke pangkuan Tuhan nya. Sementara kepergian nya telah meninggalkan jejak kesedihan yang teramat dalam pada setiap buah hati yang telah ia lahirkan.


Lili, Eci, Nura dan Tio.. keempatnya menangis sambil memeluk jasad Emak yang mulai terbujur kaku di pembaringan.


***


Beberapa jam kemudian...


Tanah merah basah..


Hujan gerimis turun membasahi area pekuburan yang letaknya gak terlalu jauh dari rumah Nura.


Hari itu juga jasad Emak dikuburkan. Pada Sore hari yang dihiasi oleh hujan yang menitik deras, tubuh Emak pun dikembalikan ke pangkuan bumi.


Semua kebaikannya terkenang kini. Semua nasihat nya terus terngiang di setiap imaji. Semua amuk amarah nya dikala kesal pun terus menari-nari dalam bentuk bayangan kenangan.


Kenangan yang saat ini terasa begitu manis sekaligus juga menyakitkan.


Air mata itu telah mengering dari keempat pipi putra dan putri nya Emak. Keempat orang itu telah tahu, bahwa kepulangan Emak ke haribaan-Nya tak sepatutnya diiringi oleh air mata. Meski sebenarnya, batin dan rasa setiap dari mereka masih sangat tersiksa untuk melepas kepergian Emak.


Tapi, demi ketenangan ruh Emak menuju alam baka, maka keempat bersaudara itu memutuskan untuk menangguhkan diri. Mereka tak ingin Emak pulang dengan hati yang tak rela.


Biarlah luka itu mereka simpan sendiri-sendiri di dalam hati. Sementara Emak akan pulang dengan hati yang ikhlas untuk melepas.


"Allahu Akbar, Allaahu Akbar!"


Suara adzan terdengar lantang dari dalam liang lahat yang telah digali untuk Emak. Suara itu milik Tio, Si bungsu.


"Allaahu Akbar! Allahu Akbar!"


Tio melantunkan adzan. Kalimat kedua yamg diajarkan oleh Emak kepadanya, setelah syahadat. Kini, kalimat itu pula yang ia hadiahkan kepada Emak untuk mengantarkan kepergian nya menuju alam akhirat.


Sebuah nyanyian merdu, untuk Emak yang sangat hebat!


***

__ADS_1


__ADS_2