
"Yon! Skuter kamu melayang?!!" Nura terkejut setengah mati saat melihat skuter yang tadi beroda dua itu kini berubah menjadi skuter melayang di udara.
Rasa takut yang sempat menghampiri benak gadis itu pun seketika lenyap oleh perasaan takjub nya pada skuter melayang milik Yon.
"Tunggu sebentar, aku akan menduplikat skuternya dulu," ujar Yon kemudian.
Nura tak mengerti maksud ucapan Yon tadi. Pandangannya masih menatap takjub pada skuter di hadapannya itu. Jadi ketika tiba-tiba saja skuter tersebut benar-benar terduplikat menjadi dua skuter, Nura jelas lebih merasa takjub.
"A..apa yang terjadi?! Yon! Apa kamu yang membuat skuternya jadi dua?? Ta..tapi.. bagaimana caranya??" Tanya Nura bertubi-tubi.
"Caranya, seperti ini.."
Yon lalu menunjuk salah satu tombol kecil yang ada pada jam tangan nya.
"Sekarang, ayo kita segera naik! Bukankah aku sudah berjanji akan mengantarkan mu pulang, Nura?" Ajak Yon seraya tersenyum.
"Na..naik skuter ini??" Tanya Nura tak percaya.
Gadis itu lalu dengan polosnya melambai-lambaikan area di bawah skuter yang melayang itu. Dan memang, tak ada apapun di bawah skuter tersebut yang bisa membuatnya tampak melayang.
"Aku.. apa ini aman? Maksud ku, kita benar-benar akan terbang dengan ini? Tapi pasti nanti orang-orang akan melihat kita kan??" Nura kembali mencecar Yon dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Ah..ya. aku hampir lupa menunjukkan sesuatu padamu. Kupikir kamu masih mengingat nya, Nura," gumam Yon dengan suara teramat pelan.
"Huh??" Nura tak mendengar jelas gumaman terakhir Yon tadi. Jadi ia hanya melihat gerak-gerik Yon saja.
Pemuda itu lalu naik ke atas skuter melayang dengan santai nya. Nura sempat berpikir kalau skuter tersebut pastilah akan terjatuh ke bawah karena ditambahi oleh bobot Yon.
Tapi ternyata tebakan Nura itu salah. Nyatanya Yon tampak santai berdiri di atas skuter miliknya.
Selanjutnya, Yon menginjak salah satu tombol yang ada di pijakan skuter bagian depan. Ada tiga tombol yang berada di sana. Tombol merah, kuning, dan juga biru.
Dan baru saja Yon menginjak tombol warna biru. Dan.. voila! Yon beserta skuternya tiba-tiba saja menghilang dari pandangan Nura.
"Yon!! Yon!! Kamu di mana??"
Nura kembali didera perasaan takut. Bagaimana tak jadi takut. Jika Yon tiba-tiba menghilang begitu saja. Apalagi saat ini ia berada di area pekuburan yang sepi.
Nura sempat terpikir, jika sekiranya teman barunya itu adalah seorang hantu! Hii ngerii..
"Yonn!!" Nura kembali memanggil nama Yon. Dan akhirnya, ia mendengar suara sahutan Yon padanya.
__ADS_1
"Nura.. aku di sini!" Sahut Yon.
Asal suaranya seperti berada di hadapan Nura. Akan tetapi gadis itu tetap tak melihat wujud Yon.
"Nura.. aku di sini.." lagi, suara Yon terdnegar sangat dekat di hadapan Nura.
Dengan spontan, Nura pun melangkah mendekati asal suara Yon berada tadi. Kedua tangannya lalu meraba-raba ke depan nya. Dan, ajaib sekali, tangan nya seperti menyentuh sesuatu dari bahan kain. Padahal sepenglihatannya hanya ada udara kosong di depannya saat itu.
"Yon..?" Panggil Nura dengan perasaan cemas.
"Ya.. Nura.. aku di aini.. bisa kamu lihat ke bawah sebentar?" Pinta Yon dengan nada memerintah.
Seketika Nura pun menunduk ke bawah. Dan, ia baru menyadari adanya tiga lampu merah, kuning dan juga biru di tanah. Warna lampunya mengingatkan Nura pada tiga tombol yang ada pada skuter melayang milik Yon.
"Dengan begini, meski kita terbang ke atas pun, kita tak akan diperhatikan oleh banyak mata manusia. Karena yang akan mereka lihat adalah tiga warna lampu itu saja. Yang akan mereka duga seperti warna lampu pada pesawat gerbang, atau juga drone kecil," terang Yon menjelaskan.
"Ooh.. begitu.. tapi bagaimana aku bisa melihat mu lagi, Yon?" Tanya Nura tetiba.
Sesaat kemudian, Yon kembali menampakkan diri.
"Caranya. Kamu naik skuter yang satunya lagi, dan tekan tombol biru seperti punyaku tadi. Ayo, Nura! Cobalah!" Ajak Yon yang kemudian menuntun Nura untuk menaiki skuter satunya lagi.
"Jangan takut, Nura. Skuter ini aman kok. Ayo, naiklah! Dulu, kamu juga pernah menaikinya kan?" Komentar Yon kemudian.
"Du..dulu? Apa maksud mu, Yon?" Tanya Nura terheran-heran.
Yon tak menjawab. Ia hanya menuntun Nura hingga gadis itu menaiki skuter. Selanjutnya, Nura yang sudah ketakutan akan terjatuh, langsung saja memegang pegangan tangan yang ada pada skuter.
"Nah. Sekarang, kamu hanya perlu menekan tombol biru nya saja, Nura. Begini.."
Begitu kaki Yon selesai menekan tombol biru pada skuter, tahu-tahu sebuah perisai tembus pandang telah melingkari sekitar 2 meter di sekitar Nura dan skuter yang ia naiki.
"Y..yon! Bola apa ini yang mengelilingi ku?!" Tanya Nura sangat terpana.
"Kamu bisa menyebutnya bola pelindung. nura. Dengan begini, orang yang berada di luar tak akan bisa melihat keberadaan mu. Hanya orang yang menggunakan skuter lain dan mengaktifkan fitur perisai inilah yang bisa melihat mu," terang Yon yang berjalan ke arah skuter nya lagi.
Pemuda itu lalu menaiki skuternya jua dan mengaktifkan perisai seperti skuternya Nura. Dan, Voila.. Yon pun kini bisa menatap lurus kedua mata Nura kembali.
"Sekarang, kamu siap untuk berselancar dilangit?" Tanya Yon dengan tetiba.
"Aa..apa? Sekarang?? Maksud mu? Di hari terik seperti ini, kita mau menaiki skuter ini sepanjang jalan, Yon?!" Nura tergagap bicara.
__ADS_1
Saat itu hari memnag cukup terik. Maklum saja. Saat ini mereka memang baru pulang waktu sekolah. Jam mungkin sudah menunjukkan pukul satu lewat belasan menit.
"Hmm.. tunggu sebentar. Aku akan mengatur mode cahaya dalam bola pelindung. Dengan begitu, kita akan merasa seperti berselancar di waktu malam.." Yon bergumam.
Sesaat kemudian, langit tiba-tiba berubah menjadi gelap seketika.
"Kenapa lagi ini?! Yon! Apa kau bisa mengubah cuaca juga?!!" Pekik Nura terkejut.
"Tenang lah, Nura. Aku hanya mengatur mode cahaya dalam bola pelindung saja. Agar kita bisa lebih nyaman berkendara nantinya. Memangnya kau mau berselancar di langit dalam cuaca yang terik begini?" Sahut Yon menjelaskan.
"Maksud mu, semua yang ku lihat ini hanya.. ilusi, begitu?" Tanya Nura menyimpulkan.
"Ya. Benar.. kau bisa menyebutnya ilusi. Kalau kau tak percaya, tekan saja tombol biru nya lagi. Bila bola pelindung nya kau non aktifkan, maka kau akan bisa melihat langit yang apa adanya lagi. Walaupun itu juga akan membuatmu terlihat oleh orang-orang di luar sana nantinya," terang Yon kemudian.
Nura langsung mencoba menginjak tombol merah untuk membuktikan kebenaran ucapan Yon tadi. Dan, benar saja.
Begitu ia menginjak tombol biru tersebut, bola pelindung yang tadi mengelilingi ia dan skuternya, tiba-tiba saja raib entah ke mana. Dan suasana malam yang teduh pun berubah kembali menjadi cuaca terik di siang hari.
"He..hebat banget!!" Nura menatap Yon dengan tatapan kagum.
"Terima kasih.. sekarang, bisa kita berangkat sekarang? Aku khawatir, bila kita terlalu lama berada di sini, para penghuni daerah ini akan semakin tersinggung dengan kedatangan kita," ujar Yon tetiba.
Ekspresi Nura langsung berubah menjadi bingung.
"Huh? Penghuni? Maksud kamu siapa, Yon?" Tanya Nura penasaran sambil melihat ke sekitar pekuburan yang sepi tak ada orang.
"Itu.. mereka-mereka yang sudah tiada.. apa kamu menyebutnya? Mm.. ah.. ya! Hantu.. ada cukup banyak hantu yang sepertinya terusik dengan kedatangan kita, Nura. Jadi, sebaiknya kita bergegas pergi!" Ajak Yon dengan ekspresi datar tak berubah.
Sementara itu, Nura yang mendengar ucapannya seketika dirundung oleh rasa ngeri. Bulunya tahu-tahu meremang. Dan ia mulai merasakan hawa dingin yang tak biasa datang mendekati punggung nya.
Nura kian merasa takut, saat Yon tiba-tiba saja berseru ke sesuatu yang tak nampak di belakang Nura.
"Jangan ganggu dia! Pergilah!" Usir Yon dengan tatapan tegas.
Sesaat kemudian, hawa dingin itu menjauh dan tak lagi Nura rasakan.
Menyadari kalau ucapan Yon terkait hantu itu bisa jadi benar. Maka Nura pun buru-buru bertanya.
"Bb..bagaimana aku bisa menjalankan skuter ini, Y..Yon?" Tanya Nura dengan tergagap ketakutan.
***
__ADS_1