Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Naik lah ke Punggung ku!


__ADS_3

"Psst.. psst.. aku lupa bawa pulpen. Bisa pinjam dulu gak?" Bisik John ke dekat telinga Nura.


Seketika bulu leher Nura meremang. Bukan oleh sebab perasaan takut. Nelainkan karena sebab rasa jengah akibat posisi wajah John yang dirasa terlalu dekat ke wajah nya.


Nura bahkan bisa mencium samar wangi parfum yang menguar dari tubuh John. Wangi yang membuat pikiran nya seperti berkabut. Karena wangi itu membuat pikiran nya menghayal tentang pengembaraan di laut.


'Ahh.. apa yang ku pikirkan? Lagi-lagi pikiran ku melantur ke mana-mana!' rutuk Nura dalam hati.


Tanpa suara, Nura mengambil bolpoin nya yang lain. Itu adalah bolpoin yang beli dengan harga sepuluh ribu untuk selusin nya. Pulpen yang sangat murah dan hanya dirinya saja yang menggunakan bolpoin itu di kelas ini. Bahkan mungkin juga di sekolah ini.


Tapi kini, pemuda tampan di samping Nura pun tampak senang menerima bolpoin pinjaman dari gadis itu.


"Terima kasih," ucap John dengan senyuman hangat.


Dan Nura pun seketika tersipu malu. Amat jarang seseorang di sekolah nya mengucapkan kalimat itu. Terkecuali Yana, teman nya yang kini sudah berbeda kelas.


"Sama-sama," balas Nura dengan pandangan tertunduk malu.


Tak berselang lama, ketika mereka sedang mengerjakan soal Matematika yang diberikan oleh Bu guru Hani, lagi-lagi John berbisik ke dekat telinga Nura.


Nura merasa serba salah. Ingin menghindar, namun ia tak bisa. Karena bagaimana pun juga posisi duduk nya sudah mepet ke dinding. Masa iya dirinya harus maksa nemplok menempel ke jendela juga?


Hahaha. Jelas itu tak mungkin.


"Cara pengerjaan mu terlalu panjang, Nura. Kita bisa meringkas cara penyelesaian nya seperti ini," bisik John ke dekat wajah Nura.


Pemuda itu lalu menuliskan cara penyelesaian soal logaritma di buku catatan nya sendiri. Namun buku tersebut ia dekatkan ke dekat Nura. Jadi sekilas keduanya tampak seperti sedang beradu kepala dan berbincang akrab di mata teman-teman sekelas nya.


"Wah! Kamu benar, Yon! Ah.. maaf.. maksud ku, John!" Ucap Nura terbata-bata.


"Tak apa-apa. Khusus untuk mu, panggil saja aku dengan nama Yon.." ujar John seraya tersenyum hangat.


Nura merasa netra nya terperangkap dalam mata John yang hangat. Kedalaman mata pemuda di hadapan nya itu membuat Nura seperti bisa menangkap rahasia lain yang sedang disembunyikan oleh pemuda itu.


Tanpa sadar, Nura pun bertanya.

__ADS_1


"Siapa sebenar nya kamu, Yon? Kenapa.. aku merasa tak asing dengan mu?" Tanya Nura dengan pikiran yang tak fokus.


Sesaat kemudian, gadis itu tersadar kalau ia telah mengucapkan hal yang memalukan. Karena itulah ia buru-buru menambahkan.


" Ahaha!" Nura tertawa kaku.


"Apa yang ku bicarakan. Tentu saja kita belum pernah bertemu. Bukan? Mm.. sebaiknya kita selesaikan tugas dari Bu Hani saja yuk!" Ajak Nura, sebelum akhirnya ia kembali bergelut sendiri dengan soal di buku tugas nya.


Nura tak menyadari, saat Yon/John masih menatapnya beberapa detik lagi dengan pandangan yang dalam. Dan kemudian pemuda itu bergumam pelan.


"I do as you said, Beib.." gumam John seraya mengikuti langkah Nura untuk mengerjakan tugas logaritma di buku nya sendiri.


Nura mendengar gumaman pelan dari John tadi. Dan ia tak bisa mencegah jantung nya berdegup lebih cepat dari biasanya saat mendengar panggilan, 'Beib' dari John tadi.


'Dia tak mungkin berbicara padaku, kan? Beib? Ya ampun.. pastilah kuping ku sudah salah dengar!' gerutu Nura dalam hati.


Kedua muda dan mudi itu pun kemudian ikut fokus mengerjakan tugas logaritma yang telah ditugaskan oleh Bu Hani kepada semua siswa nya di kelas itu.


***


Tiiiit...!!


Saat gadis itu hendak bangun, ia dibuat canggung ketika ternyata John juga bangun dari kursi nya di waktu yang bersamaan.


"Kita ke kantin yuk?" Ajak John kemudian.


"Ehh?? Ki..kita?" Tanya Nura terbata-bata.


"Kamu mau ke kantin kan?" Terka John.


Dan Nura spontan menganggukkan kepala.


"Nah. Kita barengan aja yuk. Aku juga lapar. Dan aku gak tahu jalan nya. Kamu mau kan anterin aku?" Tanya John dengan wajah sedikit memelas.


"Err... O..kay.." sahut Nura sedikit linglung.

__ADS_1


'Duh! Mak! Nih cowok asli ganteng banget.. sekali nya senyum bikin hati deg deg ser.. heran. Yon kok gak ngerasa risih ya jalan sama aku..?' gumam batin Nura.


Sepanjang jalan menuju kantin, Nura selalu menunduk menatap lantai dan sepatu butut nya. Sebisa mungkin ia berusaha jalan di belakang Yon. Akan tetapi pemuda itu seolah tahu niatan Nura, dan malah melambatkan jalan nya hingga akhirnya bisa berdampingan dengan gadis itu lagi.


Padahal kan, Nura merasa risih dengan semua tatapan siswa lain yang mereka lewati. Karena semua siswa itu menatap tajam Nura dengan pandangan tak percaya.


'Pasti mereka heran, kenapa Yon mau jalan ke kantin dengan ku. Maksud ku, lihat penampilan ku yang biasa ini..' keluh Nura sambil melirik pantulan dirinya di kaca jendela kelas yang ia lewati.


Rambut Nura hitam lurus sepanjang pinggang. Namun ia ikat tunggal di belakang kepala. Sebuah kacamata bertengger di mata nya yang minus. Di mana tanpa kaca mata itu, Nura akan kesulitan untuk melihat benda yang berjarak jauh dari nya.


Baju seragam yang Nura kenakan pun terbilang lusuh. Karena itu adalah seragam lungsuran milik Kak Eci. Itu berarti usia nya sudah lebih dari empat tahun. Terdapat beberapa noda kuning di bagian ketiak baju seragam nya. Sehingga Nura selalu sungkan untuk mengangkat tangan nya tinggi-tinggi.


Rok abu-abu yang Nura kenakan pun hasil lungsuran dari Kak Eci. Dengan panjang yang mencapai betis dan warna abu yang sudah lusuh.


Dalam sekali pandang, bisa terlihat jelas penampilan Nura yang mirip seperti si Upik Abu dalam dongeng lama itu.


"Hh.." tanpa sadar Nura menghela napas dalam.


Dan helaan napas nya itu didengar oleh Yon.


"Kamu kenapa?" Tanya John.


Masih sambil berjalan, Nura sekilas melihat kebingungan di mata John. Ia buru-buru meluruskan pandangan nya kembali ke lantai. Sedikit merasa bersalah karena ia telah membuat John khawatir.


"Mm.. gak apa-apa. Cuma sedikit capek aja," ujar Nura setengah jujur.


Jujur saja. Nura memang sering merasa letih akhir-akhir ini. Pinggang nya sering merasa pegal dan sakit sesekali. Padahal seingat Nura, ia tak pernah mengangkat benda-benda berat lagi.


Tak seperti dulu, saat keluarga nya masih tinggal di pinggir kali. Sejak lima tahun lalu, Nura dan keluarga nya sudah pindah ke sebuah kontrakan rumah.


Jadi Nura tak perlu sibuk mengangkut air dari sungai ke rumah nya lagi untuk dimasak. Karena kini ia hanya perlu mengambil air dari keran saja.


"Ooh.. tunggu sebentar. Bisa berhenti dulu?" Pinta Yon tiba-tiba.


Dengan bingung, Nura menuruti kata Yon. Namun detik berikutnya, ia langsung menyesali keputusan nya itu. Karena secara tiba-tiba, Yon duduk membungkuk di depan Nura. Dan pemuda itu lalu berkata,

__ADS_1


"Naik lah ke punggung ku! Biar aku menggendong mu!" Ajak Yon menawarkan diri.


***


__ADS_2