Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Kenangan yang Melarung di Sungai


__ADS_3

Flashback


"Nura, kamu pernah lihat bintang jatuh?"


"Pernah. Kenapa, Yon?"


"Sebenarnya bintang jatuh adalah kesempatan bagi para terrian di bumi untuk pulang ke planet Terra."


"Kok bisa?"


"Agak sulit untuk menjelaskannya secara rinci. Tapi yang pasti, meteor membentur bumi hingga memunculkan pijaran cahaya yang disebut bintang jatuh. Seringkali benturan antara meteor dan atmosfer bumi itu akan menghasilkan irisan Morf. Irisan inilah yang menjadi pembuka jalan untuk berteleportasi ke gerbang galaksi bima sakti."


"Ahh.. itu memang cukup rumit untuk dimengerti. Tapi intinya, Yon akan pulang kalau ada bintang jatuh?" tanya Nura.


"Ya. seperti itu."


"...Hmm.. "


"... Nura..?"


"Ya, Yon?"


"Kita masih bisa bertemu lagi."


"Sungguh?"


"Ya. Kamu tahu. Tadi ketika baru sampai di bumi, aku tak sengaja menangkap citramu. Kamu sedang mengedap-kedipkan matamu ke arah langit."


"Apa tadi? menangkap citra?? maksudnya Yon bisa melihat Nur dari jarak jauh??"


"Ya. itu kekuatanku lainnya. teleportasi. menangkap citra berjarak 50 yard. menggerakkan benda."


"Aaahh..kereeenn...!!!"


"Nura...terima kasih sudah mau berteman dengan ku. Kamu tahu? kamu adalah teman manusia pertamaku. Dan kamu adalah temanku yang paling ajaib."


"Ajaib?"


"Ya. ajaib. wajahmu cepat berubah-ubah. wajah berbinar. wajah tawa. wajah marah. wajah ingin tahu.."


"Wajah cantik juga, Yon!" potong Nura.


"Cantik? kurasa tidak.."


Mendengar itu Nura langsung cemberut. sampai...


"*Yang kulihat adalah wajah cute. dan aku ingin memiliki wajah -wajah sepertimu."


Kali ini, giliran wajah Nura yang bersemu merah. Sementara Yon serius menyaksikan wajah baru Nura itu. Wajah malu.


Flashback selesai.


Nura masih memandangi langit yang barusan dihiasi bintang jatuh. Ia menduga bahwa Yon dan keluarganya mungkin sudah pulang saat ini. Bersama para Terrian lain di bumi.


Memikirkan hal itu Nura langsung lemas. Ia pun kemudian duduk di bale. Kembali dipeluknya kedua kakinya dengan tangan. Dan ditopangkannya dagunya ke atas lutut. Sembari melihat bintang yang berkedap-kedip seperti di awal mula tadi sebelum ia bertemu Yon.


Nura kemudian mengedap-kedipkan matanya. Berharap, semoga dengan melakukan hal itu Yon akan kembali menghampirinya dalam bentuk cahaya melayang. Seperti tadi.


Dap...

__ADS_1


Dip...


Dap...


...


Dip...


...


Dap...


...


....


Dip....


....


....


Dap...


....


....


...


Dip....


...


....


Tahu-tahu, Nura malah terlelap tidur.


***


Ketika Nura kembali membuka matanya, ia sudah tak lagi berada di bale belakang rumah. Saat ini ia telah berada di atas kasur. Dengan bantal dan selimut samping batik kesayangannya.


Tetiba saja Nura ingin menangis. Menyadari bahwa kini ia telah berpisah dengan Yon, teman alien-nya.


Nura pun kemudian menangis. Tangisannya cukup kencang hingga membangunkan orang-orang seisi rumah. Kak Lili, Kak Eci, Tio, bahkan juga Emak ikut terbangun. Dan ketika seluruh keluarganya sudah duduk mengelilinginya, Nura masih terus menangis dan menyebut nama Yon.


"Yon.. Yon.. Yon.. huuu....."


***


Beberapa hari kemudian Nura tak lagi terlihat menangis. Ia sudah kembali menjadi dirinya yang lama. Ceria dan gemar terlibat perselisihan dengan Kak Eci.


Kali ini penyebab perselisihan keduanya adalah perihal keberadaan Yon. Apakah benar malam itu Nura bertemu dengan alien bernama Yon atau itu hanya mimpi saja.


Nura yakin bahwa ia benar telah bertemu dengan Yon, si alien. Tapi Kak Eci juga yang lain menganggap bahwa itu hanya mimpi saja.


Nura ngotot menceritakan perihal papan selancar yang melayangkannya hingga ke langit, juga menceritakan kemampuan teleportasi Yon.


Tapi tak ada yang menghiraukan ceritanya itu. Terlebih Kak Eci malah semakin iseng menjahilinya dengan bersikap seperti alien di televisi. Membuat Nura jadi tambah kesal saja.

__ADS_1


Ketika Kak Eci meminta bukti pada Nura, Nura sebenarnya hendak menunjukkan batu Arc yang seingatnya disimpan di saku bajunya.


Tapi ketika dirogohnya saku baju, Nura tak menemukan apapun di sana. Makin tambah senang lagi lah Kak Eci meledek Nura.


Dan makin meragu pula lah Nura pada dirinya sendiri. Ia pun jadi bertanya-tanya, mungkinkah apa yang dialaminya tentang Yon itu hanya mimpi belaka? hmm...


Setelah selama beberapa hari suasana rumah selalu bising oleh perselisihan perihal "Yon", akhirnya Emak tak bisa tahan lagi.


Dan suatu sore Emak habis-habisan memarahi Nura dan Kak Eci. Mereka dihukum memasak air lagi. Lagi-lagi bersama. Sungguh. Itu adalah hukuman terburuk bagi Nura.


Berminggu-minggu setelahnya, Nura mulai lupa dengan keributan perihal "Yon" itu. Ia sudah naik kelas tiga SD. Dan ada cukup banyak PR yang menantinya sepulang sekolah.


Kak Eci pun sudah masuk SMP, sehingga mereka mulai jarang bertengkar karena tak lagi satu sekolah. Kak Lili pun sudah duduk di bangku tingkat akhir SMP-nya. Tahun depan ia akan berganti seragam jadi abu-abu.


Dan Tio, ah... adik Nura itu pun mulai masuk SD tahun ini. Nampaknya Tio akan tumbuh menjadi anak cerdas seperti Kak Lili.


Lalu Emak, Emak masih tetap menjual kue-kue tradisional. Kue-kue yang kini mulai dititipkannya pula ke warung malam Mak Acih di seberang jalan.


Kehidupan keluarga kecil itu terus berlanjut. Menghadapi setiap harinya dengan segala rasa hidup yang bisa dinikmati.


Entah itu tawa. Tangis. Luka. Gembira. Getir. Prihatin. Bahagia. Semua hal itu dilalui mereka dalam kebersamaan yang nyata.


Seperti sungai di depan rumah yang tak henti mengalirkan airnya. Menuju muara yang menjadi akhir sekaligus juga menjadi sebuah perjumpaan.


Perjumpaan dengan air dari seluruh daratan di dunia untuk bersama-sama menguap menuju langit yang kuasa. Melebur dan kembali bersama-sama turun ke bumi. Menjelma dalam wujud hujan.


***


Di pinggiran sungai yang sama. Berjarak tiga kilometer dari tempat rumah keluarga Nura berada. Sekelompok anak usia belasan tahun tengah berkumpul dan membincangkan sesuatu.


"Ini gimana, Ru?" tanya seorang anak berperawakan kurus pada orang di sampingnya, Heru.


"Ya itu." jawab Heru.


"Kalo ini?" tanya seorang yang lain pada Heru kembali.


"Wah!! Bakal jadi Panca warna tuh. dimana dapetnya?" Tanya Heru.


"Tuh deket Getek sono" tunjuk Isman ke arah Getek di pinggir sungai.


"Besok nyari lagi lah ke sono." ucap Heru sambil memandang ke arah Getek.


Lalu seorang anak kembali bertanya pada Heru.


"Yang ini Batu mulia juga bukan?"


Heru mengamati batu yang kini ada di genggaman Acung.


"Bukan, itu mah. udah. buang."


Dan Acung pun membuang batu itu ke arah sungai. Setelahnya, anak-anak itu bergegas melangkah pulang karena hari mulai gelap.


Langit di sebelah barat sana memang menunjukkan matahari yang hendak kembali ke peraduannya. Meninggalkan kilau emas dan kemerahan di kanvas langit yang mulai kelabu.


Sementara itu di pinggir sungai. Sebuah cahaya merah nampak berkilau. Cahaya merah itu berasal dari batu yang tadi dilempar oleh anak bernama Acung ke pinggir sungai.


Cahaya merah di batu itu membentuk simbol huruf "nun" Arab yang sangat jelas terlihat. Sebelum akhirnya seekor katak tak sengaja menyenggolnya hingga membuat batu itu tergelincir jatuh ke dalam sungai dan tenggelam hingga ke dasarnya.


Menyisakan samar-samar kilau merah di permukaan air sungai. Yang beradu dengan cahaya bulan yang terpantul tak jauh dari kilau merah itu berada.

__ADS_1


**


__ADS_2