Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Pulang ke Rumah


__ADS_3

Kini, Nura dan Yon duduk di atas papan terbang yang meluncur sekitar setengah meter di atas permukaan air sungai.


Lingkaran pelindung masih melindungi mereka dari penglihatan orang-orang. Sehingga Nura tetap bisa merasa santai dengan duduk menyamping di atas papan terbang milik Yon.


Begitu juga dengan Yon. Ia pun duduk menyamping sambil menghadap arah yang sama seperti Nura. Karena memang, pergerakan papan seluncur nya telah diatur otomatis dengan laju lambat.


Dua Pasang kaki milik muda mudi itu kini berkecipakan kala terkena air sungai yang mereka lewati. Sementara mata keduanya sibuk menjelajahi jejeran rumah bilik yang dibangun liar di atas tanah milik negara di pinggir sungai.


"Kamu masih sedih soal mama kamu?" Tanya Yon tiba-tiba mengusik keheningan yang selama beberapa menit terakhir menemani perjalanan mereka.


"Emak? Tentu saja aku bersedih.. siapa juga yang gak akan sedih saat salah satu orang tuanya sudah.. meninggal," jawab Nura dengan tatapan sendu.


"Tapi kamu tak menangis lagi?" Tanya Yon lagi.


"Seharian kemarin aku sudah cukup lama menangis, Yon. Kalau ku teruskan, bisa-bisa nanti mataku terlalu sembab untuk ku buka lagi!" Sahut Nura dnegan jawaban asal.


"Oh.."


Hening..


"Hey! Kamu percaya begitu saja ucapan ku tadi? Tentu saja bukan karena hal itu, Yon! Masa iya hal seperti ini aja kamu gak ngerti sih?" Nura meledek pemuda itu.


Yon tak bergeming. Ia tetap terlihat tenang, tak merasa kesal atau sejenisnya.


"Aku.. tak bisa menangis terus, bukan? Maksud ku, setelah ku pikir-pikir lagi.. Jika Emak masih hidup, Emak juga gak akan suka kalau aku menangis terus. Karena Emak selalu berharap semua anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Tangguh seperti Emak kala membesarkan aku dan ketiga saudara ku lainnya," tutur Nura panjang lebar.


"Oh.."


"Ya.. jadi, setelah berpikir begitu. Aku akhirnya bisa berhenti menangis. Walau tetap saja sih.. rasa sedih itu masih ada. Tapi, bukankah hidup akan terus berlanjut kan. Baik itu dengan atau tanpa kita?" Imbuh Nura kembali.


"Ya.. ucapan mu memang ada benarnya Nura.." sahut Yon seraya menganggukkan kepala nya sekali.


"Aku jadi teringat pada kata-kata Emak dulu sekali.."


"Kata-kata apa, Nura?" Tanya Yon penasaran.


"Kita itu harus bisa hidup seperti air di sungai..Yang bisa fleksibel mengikuti beragam bentuk wadah yang ia naungi. Ketemu batu, dia berbelok.. ketemu penghalang, dia menerjang.. ketemu benda kecil dia menghanyutkan..hebat kan?"


"Intinya.. jangan pernah berhenti mengalir seperti air. Jangan berhenti bergerak selagi nafas masih dikandung badan. Coba tengok apa yang terjadi pada kubangan air yang menggenang? Kalau enggak dia jadi butek seperti sekumpulan air di danau yang butek. Iya kan?"


Yon kembali mengangguk.


"Dulu, aku gak terlalu mengerti dengan maksud ucapan Emak itu. Tapi baru sesaat tadi waktu kita berselancar di langit, aku baru kepikiran. Kalau semua nasihat Emak itu sungguh bermakna sekali,"

__ADS_1


"Selama kita masih hidup di dunia, kita harus terus bergerak.. move on.. jangan terpaku sama kesedihan yang berlarut-larut. Kita gak bisa merubah apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Seperti kematian misal nya. Yang bisa kita lakukan hanya menerimanya dengan ikhlas, dan.. terus bergerak!"


"Dan itulah yang sedang aku coba lakukan saat ini, Yon. Aku.. akan belajar untuk terus bergerak. Move on..cuma itu yang bisa ku lakuin saat ini.." lirih Nura berkata.


Suasana kembali hening selama beberapa waktu. Dengan Nura yang memandang pemandangan di pinggir sungai. Sementara Yon yang menatap gadis itu lekat-lekat.


Setelah beberapa lama, agaknya Nura merasa jengah karena terus diperhatikan oleh pemuda itu. Karenanya itu pun sengaja menciprati wajah Yon dengan air sungai yang ia ambil secara asal dengan telapak tangan nya.


Byur..


Yon segera memalingkan wajahnya untuk menghindar. Melihat reaksi pemuda itu, Nura jadu kecanduan untuk kembali mencipratinya dengan air sungai.


Byur. Byur.byur..


Nura terus menciprati Yon dengan kibasan-kibasan air sungai yang dilakukan oleh tangan nya.


"Ihihiiihi!!" Hingga Nura sampai terlekeh-kekeh dibuatnya.


Sesaat kemudian, Nura yang fokus melihat wajah Yon saat ia ciprati, tak menyadari kala ayunan tangannya pada air ternyata tak hanya menciprati air juga. Karena ada segumpal lumut hijau yang ikut tersapu tangannya secara tak sengaja dan malah menyangkut tepat di atas rambut pemuda itu.


Seketika, Nura lun jadi tertawa bahak. Penampilan Yon kini terlihat sangat berantakan dengan gumpalan lumut di atas kepala nya itu.


"Ahahahahahaha!!"


Sementara itu Nura masih juga tertawa bahak. Hingga tanpa sengaja ia terlalu membungkuk kala tertawa, dan membuatnya hampir terjungkal ke depan, tepat ke tengah aliran sungai.


Beruntung tangan Yon sigap menangkap bahu nya. Sehingga Nura tak jadi terjatuh ke dalan sungai. Namun, akibat nya, kini bahu kedua orang itu jadi beradu. Dan mau tak mau, debur jantung keduanya pun jadi kembali berpacu.


Wajah Yon terlihat bercahaya di bawah penerangan sinar rembulan yang tak bulat sempurna. Begitu juga dnegan wajah Nura.


Jarak di anatar wajah keduanya saat ini berkisar sangat dekat. Kurang dari tiga puluh senti, akibat tarikan Yon pada bahu Nura sesaat tadi.


Deg. Deg.


Ba dump. Ba dump.


'Aku.. beneran suka sama Yon.. tapi...dia bilang dia mau pulang ke tempat asalnya..?' batin Nura bergumam sendiri.


Mengingat pernyataan Yon tentang rencana pulang nya itu. Membuat momen romantis yang sempat tercipta di antara keduanya pun jadi ambyar seketika.


Nura segera menggeser tempat duduk nya lagi, hingga ia kembali berjarak dengan posisi duduk Yon di samping nya.


Pandangan gadis itu buru-buru ia alihkan pula ke tempat yang lain. Ia tak ingin pesona ketampanan Yon dan keteduhan di mata pemuda itu membuat hatinya tak ikhlas untuk melepas kepergiannya nanti.

__ADS_1


'Aku harus rela melepaskan Yon pergi. Bagaimanapun juga. Dia masih mempunyai keluarga yang ia sayangi..' lanjut Nura bergumam dalam hati.


"Nura.." tiba-tiba saja Yon memanggil nama gadis di sampingnya itu.


"Ya, Yon?" Nura pun spontan menoleh dan menyahut.


"Sebenarnya aku.."


Lagi-lagi Yon menggantungkan kalimatnya nya. Ia ragu untuk memberitahu Nura perihal acara pertunangannya dnegan Bellinda di planet Terian. Ia takut untuk melihat Nura terluka saat mendengar berita itu.


Dan Yon lebih-lebih merasa takut lagi hila ia tak mendapati ekspresi apapun di wajah Nura saat ia mengabarkan berita pertunangannya dengan Bellinda. Karena itu berarti, gadis di samping nya itu tak memiliki perasaan apapun terhadap nya.


"Hh.." akhirnya Yon hanya menghela napas saja.


"Yon?" Nura memandang Yon dengan tatapan bingung.


"Sebaiknya kita pulang sekarang. Sudah hampir satu jam akan berlalu sejak kita bertemu Kak Eci. Dia pasti sedang menunggu mu di rumah," tutur Yon mengalihkan topik.


Nura agaknya mengerti dnegan maksud Yon mengalihkan pembicaraan. Ia busa merasakan kalau ada yang pemuda itu berusaha sembunyikan darinya. Entah apa itu. Nura berharap, itu bukanlah sesuatu yang harus ia khawatirkan.


Sepuluh menit kemudian, Nura kembali tiba di depan teras rumah nya. Keduanya tak lagi menaiki skuter terbang. Jadi siapapun yang berada di dekat mereka bisa melihat keberadaan Yon dan juga Nura di teras sana.


Selama beberapa saat, suasana tampak menghening. Tak ada percakapan apapun lagi di antara Yon dan juga Nura. Keduanya tampak bingung untuk berkata-kata. Sehingga akhirnya hanya kediaman saja yang menjadi penghubung di antara keduanya.


Sesaat kemudian, smar-samar terdengar suara orang yang memulai pengajian menjelang subuh di mushola. Itu berarti sebentar lagi akan ada orang yang sudah bangun dan hendak pergi ke mushola. Karena itulah, Nura sigap berkata terlebih dulu dan berpamitan kepada Yon.


"Kalau gitu. Aku masuk ke dalam ya, Yon.. terima kasih.. udah ngajak healing bareng. Tadi itu sungguh.. menyenangkan!" Tutur Nura sambil sedikit membungkukkan badannya dengan sopan.


"Iya. Sama-sama.. aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu, Ra.. karena kamu mau mewujudkan permintaan ku untuk bermain malam-malam.." sahut Yon sambil sedikit membungkukkan badan pula.


Dan kembali, suasana kembali hening. Kedua muda dan mudi itu pun akhirnya jadi canggung.


"Ya sudah. Aku ke dalam ya, Yon!" Pamit Nura lagi sambil berbalik dsn hendak membuka pintu rumah nya. Namun..


"Ah.. pintunya terkunci. Gimana ya ini?" Gumam Nura dengan suara yang masih bisa jelas didengar oleh Yon.


"Dikunci? Coba permisi sebentar. Biar aku membuka nya," ujar Yon tiba-tiba.


"Kamu bisa membukanya, Yon?" Tanya Nura tak percaya.


"Yah.. bisa saja. Permisi sebentar, Nura.." tutur Yon kembali sambil menggeser posisi tubuh nya mendekati lubang pintu.


Akan tetapi, belum sempat ia melakukan apapun, tiba-tiba saja terdengar suara kunci diputar. Dan tak lama kemudian handel pintu pun bergerak. Seseorang dari dalam rumah, telah lebih dulu membuka pintu untuk Nura.

__ADS_1


***


__ADS_2