
Usai bel pulang berbunyi, Nura segera menahan langkah Yon dari beranjak pergi.
"Yon! Aku mau kita lanjutin obrolan yang tadi pagi!" Nura menahan lengan kanan Yon.
Keduanya kini berada di depan kelas. Beberapa teman mereka menatap keduanya penasaran.
Meski sejujurnya Nura merasa malu karena ia jadi tampak agresif mengejar Yon. Tapi ia jelas tak bisa menepis rasa penasarannya terhadap pemuda itu.
"Hh.. baiklah. Ayo ikut aku! Aku akan mengantar mu pulang!" Ujar Yon pada akhirnya.
Mendengar itu, wajah Nura pun seketika menjadi cerah. Ia lalu mengikuti langkah kaki Yon menuju tempat parkiran.
Nira kira Yon akan membonceng nya dengan sepeda motor. Namun ternyata ia malah pergi ke pos satpam untuk mengambil sebuah skuter.
"Eehh?? Sku..skuter??" Tanya Nura terheran-heran.
Yon tak memberikan penjelasan apapun kepada gadis itu.
"Jadi ikut aku enggak?" Tanya Yon dengan nada menantang.
"A..aku mau ikut! Ta..tapi.. kamu memang biasanya naik skuter ini, Yon? Rumah kamu dekat dari sini kah?" Tanya Nura dengan wajah tampak ragu.
"Yah.. lumayan lah," jawab Yon sekena nya.
"Jadi, kamu mau tetap ikut aku naik skuter ini?" Tanya Yon memastikan lagi.
"Aku.."
Sejujurnya Nura merasa malu. Dalam benaknya ia sibuk berpikir sendiri.
'Mana ada anak seumuran ku yang masih naik skuter kecil kayak begitu? Duh.. Yon setius naik itu atau cuma mau bikin aku mundur teratur sih?!' rutuk Nura dalam hati.
Setelah berpikir beberapa lama lagi, Nura akhirnya menjawab.
"I..iya! Aku tetap mau ikut sama kamu, Yon! Tapi.. kamu gak perlu antar aku sampai rumah deh. Soalnya rumah ku jauh banget. Apalagi kalau naik skuter ini.. bisa jadi baru satu jam-an kita sampai ke rumah ku nanti," seloroh Nura beralasan.
Yon tak menyahut apa-apa. Pemuda itu hanya menatap Nira lekat-lekat dalam diam.
Nura pun menjadi gugup karena ditatap lama-lama oleh pemuda tampan di depannya itu. Sehingga ia pun spontan menundukkan wajah nya lagi, menatap konblok di bawah kaki nya.
"Hh.. sebaiknya, kita duduk dulu di sana, Ra. Ayo!" Ajak Yon dengan tetiba.
Yon lalu menekuk bagian tongkat skuter. Sehingga kini skuter di tangan Yon tampak seperti sebuah papan kecil nan panjang saja.
__ADS_1
Pemuda itu lalu mengajak Nura untuk duduk di dekat pos satpam. Kebetulan saat itu Pak Satpam nya sedang tak ada. Jadi dengan leluasa, kedua muda mudi itu pun duduk dan melanjutkan perbincangan mereka yang sempat tertunda tadi pagi.
Keduanya kini melihat lalu lalang para siswa yang berjalan melewati gerbang sekolah. Entah mereka bertujuan untuk pulang ke rumah atau mampir ke perpustakaan kecamatan atau juga sekedar main dan jalan-jalan terlebih dulu dengan kawan.
"Aku lihat matamu berubah keemasan tadi, Yon!" Ucap Nura mengawali perbincangan.
Nurs merujuk saat keduanya ditegur oleh Bu Retno. Saat mata Yon berubah keemasan, tiba-tiba saja Bu Retno langsung pergi meninggalkan keduanya di taman. Sang guru seolah terlupa pada amarah nya sendiri.
Nura curiga, bila sikap aneh dari Bu Retno itu ada hubungan nya dengan perubahan mata Yon yang keemasan. Walaupun itu terdengar absurd. Tak masuk diakal.
Tapi Nura berani bertaruh, kalau tebakannya itu bisa jadi benar. Apalagi ia juga memiliki kecurigaan yang serupa terhadap Yon saat kejadian kecelakaan tempo lalu, yang hampir saja menabrak gadis itu.
"Ganti pertanyaan ya?" Bujuk Yon tanpa memandang Nura.
"Kenapa memang nya? Jadi, apa itu benar? Matamu memang tadi berubah keemasan kan?" Nura kembali menyimpulkan.
Sayang nya, Yon hanya mengangguk sekilas. Namun tak mengatakan apapun setelah nya.
"Yon?" Nura kembali menegur pemuda di samping nya itu yang hanya terdiam saja sedari tadi.
Yon menunduk.
"Maaf, Nura. Aku tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mu itu. Aku terikat janji pada seseorang untuk tidak mengatakan beberapa hal tertentu," ujar Yon beralasan.
"Janji? Sama siapa? Dan kenapa?" Tanya Nura dengan kalimat beruntun.
"Itu.." Yon terlihat rahu-ragu menjawab.
Pemuda itu tampak berpikir untuk menentukan apakah ia bisa menjawab pertnayaan Nura tadi atau tidak.
"Siapa Yon? Siapa yang melarang kamu mengatakan beberapa hal tertentu? Dan, apa yang kamu maksud dengan beberapa hal tertentu itu?" Tanya Nura menyelidik.
"Hh.. mungkin aku bisa menjawab beberapa pertanyaan mu ini, Mura. Aku.. sudah berjanji kepada orang tua ku untuk menjaga tahasia tertentu. Apa jawaban itu sudah cukup untuk mu?" Tanya balik Yon kepada Nura.
"Orang tuamu melarang mu mengatakan rahasia? Apa.. rahasia itu termasuk dengan penyebab semua hal tak masuk diakal yang terjadi saat kamu menyelamatkan ku dari tertabrak motor tempo lalu, Yon?" Tanya Nura terus menyelidik.
Yon lagi-lagi tak menjawab. Meski begitu, Nura sempat menangkap sinyal mata Yon yang berkedip cepat dua kali. Dari kedipan mata itu, Nura seolah bisa mendapatkan jawaban "ya" dari pemuda itu.
'Jadi, Yon diminta orang tuanya untuk menjaga sebuah rahasia. Dan rahasia itu adalah..' batin Nura sibuk bergumam sendiri.
"Apa rahasia itu adalah.. kalau kamu mempunyai kekuatan tersembunyi, Yon?" Tanya Nura tiba-tiba.
Akan tetapi, setelah mengucapkan kata terakhirnya tadi, Nura malah jadi malu sendiri.
__ADS_1
'Apa sih yang ku bicarakan ini? Masa iya Yon mempunyai kekuatan tersembunyi?! Memang nya kami hidup di dunia novel apa!' Nura merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Lagi-lagi Yon yak menjawab. Hanya saja, pemuda itu tiba-tiba terpikirkan sesuatu hal.
Setelah beberapa lama terdiam, Yon lalu berujar.
"Tunggu sebentar, Nura. Ku rasa, aku bisa memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mu itu, tanpa harus mengingkari janji ku kepada Ayah dan Bunda.." gumam Yon dengan pandangan seperti sedang menerawang.
"Maksud kamu apa, Yon?" Tanya Nura tak mengerti.
Yon tiba-tiba saja berdiri dan menarik tangan Nura bersamanya. Kedua nya lalu melangkah keluar melewati gerbang.
Saat itu, area sekolah mulai terlihat sepi karena hampir seluruh siswa nya yang telah pulang. Hanya beberapa siswa yang sedang latihan ekskul serta guru-guru dan staf TU (Tata Usaha) saja yang masih terlihat berada di sekolah.
"Kita mau pulang ke rumah sekarang, Yon? Tapi.. aku masih mau tanya banyak hal ke kamu!" Protes Nura menahan kaki nya dari melangkah lagi.
Yon pun berbalik saat dirasanya tangan Nura terasa berat untuk ia ajak melangkah lagi.
"Ayo kita pergi dulu, Ra.. aku akan menunjukkan sesuatu padamu.." ucap Yon dengan senyuman misterius.
"Kamu mau menunjukkan apa, Yon? Aku belum selesai bertanya.. aku masih mau ngobrol dulu sama kamu!" Protes Nura kembali berulang.
"Ikut aku saja, Nura. Aku janji, setelah kamu melihat apa yang akan ku tunjukkan padamu nanti, kau tak akan lagi penasaran dengan semua pertanyaan itu!" Janji Yon penuh keyakinan.
Merasa bingung namun penasaran, pada akhirnya Nura pun kembali membiarkan Yon menarik tangannya pergi. Keduanya kini berjalan bersama ke sebuah gang sempit di pinggir sekolah.
Gang tersebut tampak sepi dari lalu lalang orang. Dan ternyata penyebabnya adalah karena ujung dari gang tersebut malah membawa Nura dan Yon menuju sebuah area pemakaman.
Menyadari ke mana langkah kaki Yon mengajaknya pergi, Nura jadi didera perasaan takut.
"Ee.. Y..Yon..? Kenapa kita malah ke kuburan?" Tanya Nura sambil menatap takut ke hamparan batu nisan yang tersebar di sisi kiri dan kanan jalan nya.
"Nah. Sepertinya di sini tempat yang aman," gumam Yon dengan tetiba.
"Huh??" Nura kini fokus memandang bingung, pemuda di depan nya itu.
Yon tak mengatakan apa-apa lagi. Pemuda itu lalu menurunkan papan skuter yang sedari tadi ia jinjing ke tanah. Setelahnya, ia kembalikan posisi tongkat papan tersebut jingga bentuknya kembali menyerupai sebuah skuter.
Selanjutnya, Yon menekan tombol pada jam tangan yang ia kenakan. Dan.. voila! Tiba-tiba saja roda skuter pun menghilang. Untuk selanjutnya berganti menjadi sebuah skuter yang melayang lima belas senti meter di atas permukaan tanah.
"Me.. melayang! Yon! Skuter kamu melayang?!!" Nura terkejut setenagh mati saat melihat skuter yang tadi beroda dua itu kini berubah menjadi skuter melayang di udara.
***
__ADS_1