
Keesokan hari nya, Yon lagi-lagi tak masuk sekolah.
Nura jadi merasa cemas pada nasib kawan kelas nya itu.
"Menurut mu, apa yang terjadi padanya, Sil? Apa benar, dia memang sedang ada urusan keluarga?" Tanya Nura di sela jam istirahat.
"Gak tahu, Ra.. kamu mau tengok ke rumah nya kah?" Tanya Sisil.
"Memang nya kamu tahu di mana rumah nya, Ra?!" Tanya balik Nura penuh harap.
"Gak tahu juga sih.. hee.." jawab Sisil sambil menyengir malu.
"Hh.. terus gimana ya?" Gumam Nura dengan suara pelan.
Tiba-tiba saja Siska menghampiri meja tempat Nura dan Sisil duduk. Ia lalu duduk di samping Nura. Kemudian berkata kepada nya.
"Heh, Upik! Si John kok gak masuk sih dua hari ini?" Tanya Siska dengan nada ketus.
Masih terkejut karena Siska yang tiba-tiba menyapa nya, Nura pun tak segera menjawab pertanyaan teman kelas nya itu.
"Heh, Upik! Kuping Lo masuh fungsional gak sih?!" Omel Siska tak sabar.
"Sis.. ngomong nya bisa lebih pelan dikit kan? Kita juga gak tahu kok kenapa Yon gak masuk kelas," Sisil menjawab pertanyaan Siska.
"Diam deh Lo, pengkhianat!" Omel Siska kepada Sisil.
Sisil tersentak kaget. Tak menyangka kalau ia akan menerima bentakan dari teman kecil nya itu. Perlahan mata nya mulai memerah. Gadis itu merasa sedih.
Bagaimana pun kasar nya sikap Siska pada nya selama ini, Sisil tetap menyayangi teman masa kecil nya itu.
Nura yang melihat kesedihan di wajah Sisil pun seketika menemukan suaranya lagi. Kali ini ia berani menegur Siska langsung.
"Siska! Jangan sebut Sisil pengkhianat! Dia itu teman yang baik!" Tegur Nura dengan pandangan berani.
"Heh! Upik Abu! Tumben lo berani ngomong! Biasanya juga lo diam kayak semut yang gampang diinjak-injak!" Ledek Tiwi yang duduk di seberang Siska..
Nura pun tak mengerti, dari mana datang nya keberanian ini. Mungkin karena ia merasa iba pada Sisil. Sehingga keberanian itu muncul secara tiba-tiba.
Nura meneguhkan pandangan nya lagi. Ia menatap Siska dengan tatapan berani.
"Karena sudah saat nya ada seseorang yang berani negur kalian, Sis, Wi! Kalian itu seharusnya jangan kayak anak SD yang perlu ditegur buat tahu kalau kalian berbuat salah! Malu lah sama umur!" Ledek balik Nura.
BRAK!!
__ADS_1
Siska langsung menggebrak meja karena merasa geram usai mendengar perkataan Nura barusan. Gadis itu lalu menarik rambut Nura yang dikuncir ke belakang dengan keras.
"Aarghh!!" Nura pun mengaduh kesakitan.
"Siska! Lepasin Nura! Jangan kelewatan, Sis!" Teriak Sisil menegur Siska.
Siska tak menggubris peringatan dari Sisil. Ia malah berkata kepada Nura.
"Heh, Upik! Hati-hati Lo ya kalau ngomong! Lo nyamain gue kayak anak SD?! Kalau begitu, Lo lebih parah lagi! Dasar anak Tukang goreng!" Umpat Siska sambil menarik rambut Nura semakin ke belakang.
"Aduuhh!!" Nura lagi-lagu mengaduh.
Kepala nya terasa peras di bagian yang rambut nya ditarik oleh Siska. Rasanya sungguh sakit. Dan ia yakin, kalau beberapa helai rambut nya pasti sudah tercerabut karena tarikan tangan Siska itu.
"Siska! Jangan Sis! Kasihan Nura!" tak henti-henti nya Sisil mengingatkan Siska.
Kericuhan di meja kantin itu sontak saja menarik perhatian siswa lain yang berada di sana. Perlahan tercipta kerumunan yang mengelilingi meja tempat Siska menarik rambut Nura saat ini.
Beberapa dari mereka ikut mengingatkan Siska untuk melepaskan Nura. Beberapa lain nya malah menyoraki Siska dan Nura untuk lanjut bertengkar. Namun mayoritas dari kerumunan itu menjadi pemerhati keributan itu saja dalam diam.
"Ayo! Ayo! Tarik! Cakar!" Sorak beberapa siswa lelaki yang dikenal menjadi biang rusuh di sekolah.
"Ehh, jangan dong! Berhenti, jangan berantem!" Tegur beberapa siswi teladan.
Sisil hendak membantu Nura, namun Siska segera mengirim perintah nya kepada Tiwi.
"Wi! Urus si pengkhianat! Dua Upik Abu ini memang perlu dikasih pelajaran sesekali!" Titah Siska dengan berani.
Tiwi pun segera menahan tangan Sisil yang hendak meraih tangan Siska. Dan selanjutnya, Tiwi pun nengikuti jejak Siska dan menjambak rambut Sisil dengan cukup kencang.
Alhasil kini terdapat dua pasang wanita yang saling bergulat di meja kantin.
Akan tetapi, sedetik kemudian, tiba-tiba saja semuanya dikejutkan saat Siska tiba-tiba saja terjatuh ke atas lantai. Diikuti kemudian dengan Tiwi.
Semua siswa yang menonton kericuhan itu pun sontak saja terkejut dan keheranan. Semuanya yakin melihat kalau Siska dan Tiwi jelas-jelas mendominasi kericuhan itu. Jadi, kenapa tiba-tiba mereka malah terlempar ke lantai? Pikir semua yang ada di kantin saat itu.
Perlahan Nura dan Sisil segera berdiri dan menjauh dari posisi Siska dan Tiwi berada. Keduanya menatap gentar ke arah dua teman nya yang kini tersungkur di atas lantai tersebut.
Mereka pun dibuat heran dengan apa yang baru saja terjadi. Nura melayangkan pandangan nya ke sekitar. Dan ia pun tertegun saat ia tak mendapati satu orang pun yang berjarak dekat dengan nya saat ini.
'Siapa yang sudah menolong ku dan Sisil?' tanya Nura dalam hati.
Saat Nura Melihat ke sekitar, ia mendapati pandangan keheranan yang rata menghiasi wajah semua siswa di sekitar nya saat itu.
__ADS_1
Di saat kebingungan itu lah, terdengar suara langkah kaki yang mendekati kerumunan itu. Disusul kemudian suara teriakan kencang yang seketika membuyarkan kerumunan siswa di sana.
"Apa yang terjadi di sini?! Kenapa kalian semua berkumpul seperti ini?!" Teriak Bu Retno, dosen ter killer di sekolah Nura.
Seketika, siswa yang berkerumun itu banyak yang kembali ke kelas nya masing-masing. Namun Bu Retno segera menunjuk pada salah satu siswa yang terkenal teladan di sana.
"Cesil! Jelaskan apa yang sudah terjadi di sini?!" Titah Bu Retno dengan suara melengking tinggi.
"I..itu Bu.. tadi anak itu sama teman nya (Cesil sambil menunjuk ke arah Siska dan Tiwi)datang dan gangguin dua cewek itu, Bu..(kali ini ia menunjuk kepada Nura dan Sisil)" papar Cesil menjelaskan.
Bu Retno lalu melihat penampilan Nura dan Sisil yang rambut nya tampak berantakan. Wajah keduanya pun tampak jelas ketakutan.
Kemudian perhatian Bu Retno berpindah ke arah Siska dan Tiwi yang kini berusaha bangkit dari atas lantai sambil mengaduh kesakitan.
Setelah Siska kembali berdiri, ia langsung menuding ke arah Nura.
"Dia tadi dorong saya, Bu!" Tuding Siska menunjuk Nura.
"Iya, Bu! Dia juga tadi dorong saya, Bu!" Tiwi ikutan menuding Sisil.
Nura dan Sisil masih terdiam dan syok. Tak menyangka, setelah kejadian dijambak tadi, kini mereka malah dituding dengan perbuatan yang sama sekali tak mereka lakukan.
Selanjutnya Nura lah yang pertama kali menemukan suaranya lagi.
"Bb..bohong, Bu! Saya sama sekali gak pernah dorong Siska! Justru Siska yang tiba-tiba jambak rambut saya!" Tutur Nura membela diri.
Perhatian Bu Retno lalu beralih kepada Sisil.
"Kamu gimana? Benar kamu sudah dorong dia?!" Tanya Bu Retno menyelidik.
"Enggak, Bu! Saya juga gak tahu kenapa mereka tiba-tiba jatuh. Saya kira pastilah teman-teman di sini yang sudah menolong kami," tutur Sisil membela diri.
"Heh Upik! Berani bohong, Lo ya!" Omel Siska.
"Isi Pengkhianat juga nih ketularan bohong!" Ujar Tiwi meniru Siska mengomeli Sisil.
Keributan pun kembali terjadi. Karena kini terdapat dua kubu yang saling melempar tudingan dan pembelaan nya masing-masing.
"Sudah! Sudah! Diam semuanya! Kalian berempat, ikut Ibu ke kantor! Dan, siapa di sini yang bisa jadi saksi? Cesil?" Tanya Bu Retno kepada Cesil.
"Saya mau, Bu.. Ayu dan Lani juga bisa ceritain kejadian yang sebenar nya kok, Bu.." jawab Cesil kemudian.
"Ya sudah. Semuanya, ayo ke kantor sekarang juga!" Titah Bu Retno dengan suara menggelegar.
__ADS_1
***