
"Berarti bos Kakak tuh udah duda dong! Duda satu anak gitu?" Seru Nura dengan suara tinggi.
"Syuut.. jangan teriak-teriak segala bisa kan, Ra..!" Tegur Kak Eci sambil menepuk asal ke tangan Nura di samping nya.
"Maaf.. Kak.. Maaf..hehehhe.."
"Hh.. itu dia yang bikin kakak ragu untuk nerima Langit atau enggak.." gumam Kak Eci kemudian.
"Langit? Namanya Langit?? Bentar. Bentar. Biar Nura tebak. Nama panjangnya pasti.. Langit Biru! Iya kan, Kak?!" Seru Nura asal menebak lelaki yang menjadi Bos nya Kak Eci.
"Hiishh! Ngasal melulu nih kamu kalau ngomong, Ra!" Tegur Kak Eci lagi.
"Habis namanya juga unik sih!" Komentar Nura.
"Itu sih masih biasa, Ra.. malah ada teman sekelas Kakak dulu yang namanya Pengki Kurniadi. Coba, Ra! Pengki! Nama panggilan nya Pengki! Kan kasihan banget tuh ya!" Celoteh Kak Eci ke lain topik.
(Pengki adalah alat untuk mengumpulkan sampah)
"Buahhaaaaa!! Ya ampun! Tragis banget sih itu namanya! Ya ampun.. gak kebayang, betapa malu nya teman kakak itu karena pasti diledekin terus sama orang-orang. Ya kan, Kak?" Tebak Nura kembali.
"Yap. Betul banget. Cerita dia sih, katanya dari awal bikin KK dan Akta udah salah ketik. Seharusnya Hengki.. ehh.. malah jadi Pengki. Karena udah terlanjur bikin, jadi ya udah lah. Dibiarin aja sampai SMA.." cerita Kak eci.
"Duh, ya ampun.. terus sekarang orang nya udah nikah belum, Kak?" Tanya Nura tetiba.
"Belum. Kenapa? Mau nyalonin diri kah kamu?" Tanya Kak Eci menggoda.
"Kak Eci ngawur! Nura kan masih sekolah. Yang ada, Kak Eci tuh yang lebih pantas nyalonin diri untuk jadi istri saleha.. hihihi.." Nura terkekeh lepas.
Kak Eci langsung mencebikkan bibirnya.
"Sekarang sih udah ganti nama, Ra. Pas dia udah kerja dan punya tabungan yang lumayan, dia minta ijin ke orang tuanya untuk ganti nama. Dan sekarang nama nya udah diganti deh.."
"Jadi apa, Kak?" Tanya Nura penasaran.
"Mene keteheng.. kepo banget sih!" Ledek Kak Eci.
"Huu.. payah!!"
Dan Kak Eci oun membalas Nura dengan cara menjulurkan lidahnya.
Nura lalu ikut merebahkan badan di samping Kak Eci. Jadilah kini dua kakak beradik itu menatap langit kamar Nura yang berwarna putih kekuning-kuningan.
"Balik lagi tentang Bos Kakak.. kak Eci terus gimana dong? Kalau nolak, nanti Kakak bakal dibully lagi sama Bos nya kakak. Iya gak sih?" Tebak Nura kembali.
"Suudzon itu namanya, Dek.. Bos kakak ruh orang nya dewasa banget kok. Jadi gak bakal lah bakal nyimpan dendam dan campur adukin masalah diluar kerja sama jam kerja," koreksi Kak Eci.
__ADS_1
"Iya kah? Kok Kakak bisa yakin banget, sih?" Tantang Nura.
"Bukan nya yakin, sih, Ra. Kakak cuma mencoba untuk tetap ber husnudzon aja. Kamu tuh ya. Udah dibilangin Emak, jangan suka su'udzon juga.. masih aja su'udzon sembarangan! Sebagian prasangka itu dosa lho, Dek! Ingat itu!" Tegur Kak Eci menasihati.
"Hehehe.. iya. Iya. Nura salah.. mm..ngomong-ngomong, anak nya Bos Kakak memang udah umur berapa tahun sih?" Tanya Nura yang juga masih kepo.
"Hampir lima tahun kalau gak salah.. anak nya cewek sih.. cantik kayak barbie," komentar Kak Eci.
"Kakak udah pernah ketemu anaknya, Kak?!" Seru Nura bertanya.
"Ya udah lah! Sering banget malah! Kan hampir tiap hari anaknya itu dibawa ke kantor sama Pak Langit. Terus, Anak nya sering banget dititipin ke Kakak gitu," jawab Kak eci.
"Kok gitu sih? Kenapa malah dititipin ke Kakak?"
"Karena mungkin, kalau dibandingkan dengan teman kerja Kakak yang lainnya.. cuma kakak yang bisa bikin Angel jadi nyaman,"
"Oo.. namanya Angel.." Nura berkomentar.
"Iya. Angel. Dia tuh maunya sama Kakak aja, Ra.. gak tahu juga deh kenapa. Tapi dugaan Kakak sih, mungkin karena Kakak lah yang paling punya aura keibuan kali ya.. hihihi.."
"Idih! Aura keibuan apa! Kak Eci tuh yang ada punyanya aura keharimauan! Alias, nyeremin! Hahahaha!!" Nura kembali meledek Eci. Dan Eci yang sudah kesal pun akhirnya bangkit duduk dan menimpuki Nura dengan bantal guling secara bertubi-tubi.
Bagh. Bugh.
Percakapan serius di antara dua kakak beradik itupun akhirnya berhenti sampai di sana. Terlebih tak lama kemudian, Tio tiba-tiba muncul di muka pintu Nura. Si bungsu itu hendak mengajak kakak-kakak perempuannya makan bersama.
Ya. Acara makan bersama adalah salah satu kegiatan rutin yang dilakukan dalam keluarga Nura. Menurut Emak, waktu makan bersama adalah waktu yang paling pas untuk para anggota keluarga berkumpul dan bertukar cerita. Tentunya itu dilakukan setelah selesai makan nantinya.
***
Keesokan harinya..
Nura menyambut hari yang baru dengan semangat yang menggebu-gebu. Alasan nya sudah pasti adalah karena ia akan kembali bertemu dengan Yon di sekolah nanti.
Sedari bangun, gadis itu tanpa sadar terus saja bernyanyi. Lagu nya oun tentang cinta. Dan Tio yang mendengar suara sumbang sang kakak akhirnya tak bisa menahan diri untuk tidak meledek Nura.
"Aduh.. Mak.. kuping Tio lama-lama bisa sakit ini, dengerin Kak Nura nangis!" Ledek Tio yang sedang membantu Emak mengangkat baskom berisi gorengan yang sudah siap untuk dibawa Nura ke sekolah.
Emak hanya tersenyum saja mendengar komentar bungsu lelaki nya itu. Sementara Nura yang sadar kalau Tio barus aja meledek dirinya, segera saja mencubit pinggang adik nya itu.
"Aduh! Mak! Kak Nuri main cubit-cubitan tuh!" Tio mengadu kepada Emak.
Emak yang sedang membalik gorengan di wajan pun hanya menyahut.
"Nura. Tunggu sampai Tio selesai bantu Emak, baru kamu boleh main cubit-cubitan deh ya.." seloroh Emak membela Nura.
__ADS_1
"Emak kok gitu sih?" Protes Tio pura-pura bersedih.
"Hihihi.. rasain kamu, Yo! Makanya jangan suka ngeledek! Aku tuh nyanyi tahu! Bukan nya nangis!" Nura mengoreksi kalimat Tio tadi.
"Serius nyanyi itu, Kak? Tapi kok.."
Tio tak sempat menyelesaikan ucapan nya. Karena ia langsung berlari cepat demi bisa menghidari cubitan Nura yang berikutnya.
"Sufah-sudah! Kalian sarapan saja dulu. Biar nanti Emak yang rapihin gorengan nya ke keranjang," titah Emak dengan nada yang tak bisa ditolak.
Tio dan Nura pun langsung menurut. Keduanya bergegas mengambil nasi goreng yang sudah disiapkan oleh Emak di atas meja.
Selesai makan, Nura baru saja hendak bangkit berdiri. Namun Tio tiba-tiba memanggil nya.
"Kak, Bentar!" Panggil Tio tiba-tiba.
"Ada apa, Yo?" Tanya Nura dengan satu tangan memegang piring bekas makan.
Gadis itu baru saja hendak mencuci piring nya langsung. Namun..
"Tio nitip piring nya sekalian ya, Kak. Tio mau boker dulu.. udah kebelet nih!" Tutur Tio terburu-buru meletakkan piring plastik bekas makan nya ke tangan Nura lainnya yang kosong.
"Heii!" Nura tak sempat mengomeli Tio. Karena adik lelaki nya itu audah kabur duluan ke kamar mandi.
"Iishkk..dasar adek super nyebelin!" Gerutu Nura sambil mencuci dua piring bekas makan nya dan juga Tio di wastafel.
Tak lama kemudian, terdengar suara orang mengucapkan salam dari pintu depan rumah Nura.
"Assalamu'alaikum!" Sapa suara seorang lelaki.
Nura mengerutkan kening. Ia merasa tak asing dengan suara orang yang datang bertamu di pagi hari itu.
"Siapa ya?" Gumam Nura penasaran.
"Nura.. itu ada orang di depan. Cepat temuin. Emak lagi pindahin gorengan ke keranjang dulu nih," titah Emak.
"Iya, Mak!" Sahut Nura.
"Wa'alaikum salam! Sebentar! Siapa yaa--??!! Yon?! Ngapain kamu pagi-pagi ke rumah ku?!" Tanya Nura terkejut setengah mati.
Ya. Saat ini teman sekelas Nura itu telah berdiri di teras rumah Nura. Seulas senyum tipis, terkembang di wajah nya yang tampan.
"Hay, Nura! Kita berangkat ke sekolah bareng-bareng, yuk!" Sapa Yon, dengan senyum terkembang sempurna.
***
__ADS_1