
"Nama mu, Yon, kan? Apa yang kalian lakukan malam-malam begini?!" Hardik Kak Eci yang telah salah paham atas tujuan kedatangan Yon di saat hari masih gelap seperti sekarang ini.
Nura jelas sangat panik. Namun berbeda dengan Yon. Pemuda itu tetap terlihat tenang, meski kini ia berada di bawah tatapan intimidasi dari Kak Eci.
Sesaat kemudian, Yon pun berkata.
"Halo, Eci. Lama tak berjumpa..maaf karena kemarin aku tak memperkenalkan diriku yang sebenarnya kepada mu. Tapi ku kira, kau masih ingat dengan ku. Maksud ku, saat kau masih kecil dulu.. cakram melayang.. batu Nun.. kau ingat?" Ujar Yon mengingatkan Eci atas sesuatu.
Kak Eci tampak bingung dengan ucapan Yon barusan. Karena itulah ia hanya menatap pemuda itu dalam diam saja.
Sampai kemudian, tiba-tiba saja Kak Eci teringat dengan sebuah kenangan lama. Kenangan yang dengan susah payah ia sengaja kubur dalam tumpukan memori miliknya.
Ingatan lama semasa ia berumur sepuluh tahun..
Flashback sepuluh tahun yang lalu...
Eci, putri ke dua Emak saat itu berumur sepuluh tahun lebih beberapa bulan. Bocah perempuan itu terbangun dini hari untuk menunaikan hajat besar (Buang Air Besar).
Eci terburu-buru pergi ke depan rumah sambil membawa ember kecil. Eci lalu mengisi ember tersebut dnegan air sungai dan akhirnya masuk ke dalam WC Umum yang terdapat di atas sungai yang aliran air nya tak terlalu deras.
WC Umum tersebut hanya berupa bilik kecil berbentuk kubus ukuran 1,5 x 1 meter. Dan di setiap sisinya ditutupi oleh entah terpal ataupun karung. Di dalam bilik itu terdapat sebuah gayung yang diikat sehingga tak terjatuh ke dalam sungai di bawahnya. Sementara itu terdapat batang kayu yang melintang di dalam bilik, untuk menjadi tempat nongkrong seseorang yang hendak buang hajat.
Bila seseorang hendak BAB, maka ia hanya perlu masuk ke bilik, BAB, hingga tin ja nya nyemplung ke sungai di bawah. Setelah selesai, ia hanya perlu membersihkan diri dengan air yang ia ambil dengan ember nya.
Sungguh sebuah cara untuk buang hajat yang masih terbilang sangat tradisional.
Selesai menunaikan hajat nya, Eci pun kembali ke rumah lagi. Namun ketika ia sedang mengambil air minum di dapur, ia melihat pintu belakang rumah yang sedikit terbuka.
Bocah itu pun langsung mendekat untuk mengeceknya. Dan, benar saja. Pintu memang terbuka saat itu.
"Diih.. siapa sih yang lupa kunci pintu? Gak mungkin Emak lah ya.. paling juga si Nura atau Tio! Awas aja nanti ku laporin lah ke Emak! Hehehe.." kekeh Eci seraya menyeringai jahil.
__ADS_1
Eci pun berniat untuk mengunci pintu nya kembali. Namun mata nya tertarik pada sebuah benda yang tergeletak di tanah dekat balai yang ada di teras belakang rumah.
Bocah perempuan itu pun urung menutup pintu dan malah mendekati tempat sebuah sendal jepit kecil tergeletak di atas tanah.
"Ini kan sendal nya Nura.. ketahuan kamu, Ra! Biar nanti ku laporin ke Emak kamu! Hehehe!" Kekeh Eci dengan wajah yang tampak sangat puas atas penemuannya barusan.
"Eh.. kok sendal Nura ada di sini sih? Apa jangan-jangan.."
Eci langsung menengok ke kamar tempat Nura tertidur. Dan ternyata, adik perempuannya itu memang tak berada di sana. Eci pun terkejut bukan main.
"Ya ampun! Ke mana sih Nura?? Masa iya dia keluar main malam-malam? Bangunin Emak gak ya?" Gumam Eci sambil berjalan kembali ke teras belakang tumah.
Pandangan nya lalu menatap hamparan sawah di depan mata nya. Ia melayangkan tatapannya ke sekitar padang sawah tersebut. Namun tak kunjung mendapati sosok Nura, adiknya.
Merasa khawatir, Eci pun akhirnya memutuskan untuk mencari ke sekitar rumah. Namun ia tetap tak menemukan keberadaan Nura. Di saat ia hendak kembali ke dalam rumah untuk membangunkan Emak, tiba-tiba saja Eci mendengar suara tawa di kejauhan.
"Itu suara Nura!" Seru Eci menyimpulkan suara yang baru saja ia dengar.
Tak butuh waktu lama, Eci akhirnya menemukan sosok adiknya itu sedang berdiri santai di jalan sepetak sawah. Tadinya Eci hendak memanggil sang adik. Namun ekor matanya menangkap penampakan makhluk lain di samping Nura.
Makhluk tersebut mirip seperti anak kecil namun terdapat selaput bercahaya yang menyelubungi keseluruhan tubuh nya. Mulai dari atas kepala hingga ke ujung kaki.
Eci pun ternganga lama melihat penampilan makhluk yang tadinya ia kira sebagai hantu itu.
Ia hendak berbalik lari, namun kaki nya seolah terpaku ke bumi. Ia bahkan susah payah menahan hasrat ingin pipis nya saat itu.
"I..itu.. han..hantu?!" Gumam Eci dengan terbata-bata.
Setelah Memerhatikan interaksi antara si hantu dan Nura, benak Eci perlahan bisa kembali tenang.
"Ah.. tapi sepertinya bukan. Buktinya. nura kayaknya asyik ngobrol sama dia. Terus. Dia itu apa? Manusia pakai kostum, begitu ya?" Eci sibuk berpikir sendiri.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Eci melihat makhluk yang menyerupai anak kecil itu berubah bentuk menjadi bola cahaya. Dan selanjutnya bola cahaya itu pun melesat terbang menjauhi Nura.
Eci pun terkejut bukan main. Dengan rasa takut yang kembali menyerang pikiran bocah nya, ia pun langsung lari tunggang-langgang meninggalkan tempat itu. Tujuannya hanyalah satu, yakni pulang ke kamar nya lagi dan melupakan apa yang baru saja ia lihat tadi.
....
keesokan paginya, Eci terbangun dengan perasaan yang masih was-was. Namun kemudian tumah mereka dibuat gempar dengan celotehan Nura tentang teman alien nya yang datang ke bumi dengan pesawat berbentuk cakram melayang.
Tadinya Eci hendak bertanya pada adiknya itu. Bagaimana bisa Nura tak merasa takut saat berinteraksi dengan alien itu. Namun kemudian Nura memamerkan kepada semuanya tentang pengalamannya terbang di angkasa dengan skuter terbang, serta pengalaman lain yang membuat ECI terkagum-kagum bercampur rasa iri.
Karena rasa iri itulah akhirnya Eci tak jadi berkata jujur pada Nura tentang apa yang disaksikannya semalam tadi. Ia Justru menuding Nura melindur sampai tidur berjalan ke balai belakang rumah.
Karena memang, Nura ditemukan oleh Emak tertidur di bale belakang rumah saat menjelang subuh.
Eci terus merundungi adiknya itu dengan ledekan-ledekan jahat. Menyebut Nura pembohong lah, tukang ngibul lah, dan beberapa ledekan lain yang membuat Nura menjadi kesal dan jengkel padanya.
Selama beberapa hari berikutnya ia ribut dengan Nura dikarenakan teman alien adiknya itu. Eci tak menyesal karena ia terus meledeki Nura. Karena ia tak ingin menunjukkan rasa iri nya atas apa yang telah dialami oleh adiknya itu.
Eci tahu benar, kalau Nura tak berbohong dengan ceritanya. Karena Eci sendiri telah melihat penampakan alien yang menjadi temannya Nura itu.
Namun untuk mengatakannya kepada Emak, atau pun Kak Lili? Rasanya lebih baik Eci memilih untuk terus meledeki Nura saja. Biarlah ia lampiaskan kekesalan juga rasa iri nya terhadap adik perempuannya itu.
Dan, karena keributan itulah, ia dan Nura menerima hukuman berat dari Emak. Yakni memasak air di tungku berdua. Di mana ia bertugas untuk bolak-balik mengambil air dari sungai. Sementara Nura bertugas untuk menjaga api agar tak padam.
Itu adalah hukuman terberat dan paling melelahkan yang pernah Eci terima. Dan ia sedikit kapok karena sudah mengajak ribut adiknya.
Meski begitu, Eci tetap berpura-pura tak pernah melihat sang alien. Itu hanya akan menjadi kenangan masa kecil yang ia simpan baik-baik dalam memori masa kecilnya dulu.
Flashback selesai.
***
__ADS_1