Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Pernyataan Cinta?


__ADS_3

Sepuluh menit berikutnya, Nura dan Yon sudah berselancar sekitar lima belas meter di atas permukaan tanah.


Walau awal-awalnya Nura sempat gugup saat mengendarai skuter terbang tersebut. Ya. Kini ia menyebutnya dengan nama skuter terbang. Setelah ia mengetahui kalau ternyata mereka bisa membawa skuter nya melayang lebih tinggi.


Nura bahkan sempat hampir menabrak seekor burung kecil hitam yang ia tak tahu namanya apa. Jika bukan karena rasa talut akan terjatuh, bila ia melepaskan satu pegangan nya. Gadis itu pastilah sudah memberanikan diri untuk menangkap burung yang berjarak begitu dekat dengan tangan nya yang memegang pegangan kemudi skuter.


"Yon! Ini seru banget!" Teriak Nura yang separuhnya ditelan oleh angin.


Keajaiban dari skuter terbang ini juga membuat perjalanan Nura jadi sangat nyaman. Tak hanya mampu memodifikasi cahaya dalam perisai, skuter ini juga bisa mengatur suhu dan melindungi Nura dari terpaan angin kencang karena berkendara di atas langit.


Nura hampir-hampir merasa seperti ia sedang berjalan santai saja jadinya.


"Syukurlah kalau kamu masih menikmatinya!" Balas Yon berteriak.


"Nura, bagaimana kalau kita pergi ke atas sungai itu dulu?" Ajak Yon yang menunjuk sungai di bawah mereka.


Nura menoleh ke bawah. Meski ia masih dihinggapi oleh rasa takut akan ketinggian. Namun kini Nura mulai terbiasa dan tak lagi grogi seperti di awal mula.


Bagaimanapun juga menaiki skuter ini memang sangat aman. Karena ada magnet gravitasi yang akan membuat siapapun pengguna nya terpaku di pijakan skuter nya.


"Ayo!"


Nura pun mengikuti pergerakan Yon yang kini turun ke arah sungai. Pemuda itu lalu melambatkan laju skuter nya. Dengan jarak sekitar setengah meter di atas permukaan sungai. Tak lama kemudian, Nura menyusul berkendara di samping Yon.


"Apa kamu merasa pegal? Kita bisa duduk juga di skuter ini. Aku akan mengatur mode otomatis yang akan membawa kita tepat ke depan rumah mu, Nura," Yon menawarkan pilihan lain nya.


"Boleh.. "


Dan sisa perjalanan mereka oun akhirnya dilalui dengan Nura dan Yon yang duduk di atas skuter mereka maaing-maiang. Nura duduk mengang kang. Sementara Yon duduk menyamping.


Nura pun sebenarnya ingin duduk menyamping seperti Yon. Tapi ia masih terlalu takut jika ia akan terjatuh ke dalam sungai yang alirannya cukup deras di bawah mereka itu. Jadi ia memutuskan untuk duduk mengang kang saja di atas skuter nya.


"Kamu tahu, Yon? Aku merasa aneh sekali saat ini," ujar Nura tiba-tiba.

__ADS_1


"Aneh bagaimana, Nura?" Tanya Yon yang kini duduk menyandar pada tongkat skuternya.


"Aneh saja.. aku seperti pernah melakukan perjalanan ini.. maksud ku, terbang di langit seperti tadi.. dan berlayar di atas sungai seperti ini di malam hari.. itu seperti.. mimpi lama yang pernah ku alami semasa kecil ku dulu.." Nura bergumam pelan dengan pandangan menerawang.


Suasana sesaat menjadi hening.


"Bagaimana jika apa yang kau anggap mimpi itu sebenarnya bukanlah mimpi. nura?" Tanya Yon dengan tetiba.


"Maksud mu apa, Yon?" Tanya Nura tak mengerti.


"Bagaimana jika kamu pernah mengalami ini bertahun-tahun yang lalu.. entah itu berselancar di langit.. atau melarung di sungai seperti ini.. dengan menggunakan skuter yang sama.. dan bersama dengan ku juga.. bagaimana bila benar begitu. Nura?" Ungkap Yon kembali lewat pertanyaan.


Nura menatap Yon lama dalam diam. Ia mencari kebohongan di mata pemuda itu. Namun hanya kebenaran dan kesungguhan sajalah yang bisa Nura tangkap di mata indah sang pemuda tampan itu.


Nura buru-buru memalingkan wajahnya lagi ke depan. Menatap air kecokelatan yang mengalir cukup deras di bawah skuter nya.


"Katamu itu bukan mimpi? Tapi.. bagaimana bisa? Kenapa aku tak mengingat detailnya?" Gumam Nura dengan suara pelan.


"Nah. Soal itu, aku tak tahu jawabannya, Nura. Entah kau mempunyai memori yang lemah, atau kau sengaja menganggapnya sebagai mimpi.."


'Berani benar dia mengatakan memori ku lemah!' dumel Nura dalam hati.


Yon tersadar akan kesalahan ucapannya. Sehingga ia pun terburu-buru mengatakan maaf.


"Maaf. Bukan maksud ku untuk menyinggung mu, Nura. Aku hanya bisa mengemukakan berbagai kemungkinan yang bisa menjelaskan alasan kau menganggap kenangan mu sebagai mimpi," tutur Yon membela diri.


"Kenangan? Jadi maksud mu, kita pernah bertemu dulu, Yon? Sewaktu aku masih.kecil, begitu? Itu sungguh bukan mimpi ku?" Tanya Nura dengan kalimat beruntun.


"Untuk pertanyaan itu, hanya kau sendiri yang bisa menjawabnya Nura. Aku akan menyerahkannya kepadamu untuk bisa mengingatnya lagi atau tidak," jawab Yon dengan kalimat ambigu.


"Tapi.. bagaimana bisa?!" Tanya Nura masih tak percaya kalau yang ia alami saat ini bahkan benar-benar terjadi. Dan bukan sekedar mimpi.


"Hh.. lalu menurutmu, dnegan cara apa lagi aku bisa menjelaskan siapa diriku kepadamu, Nura? Aku tak bisa berkata banyak tentang identitas ku kepadamu. Karena aku sudha terikat janji pada orang tua ku. Bagi seorang terrian, sebuah janji adalah pegangan yang harus ia tunaikan!" Kilah Yon berapi-api.

__ADS_1


Sesaat kemudian, Yon menangkap suara lain di kepalanya.


'Yon! Apa kau sedang mengatakan rahasia kita kepada manusia yang kau kenal itu?!' tanya syara yang dikenal Yon sebagai milik ayah nya.


'A..ayah.. maaf. Aku tak sengaja mengucapkan kata terrian, tadi. Tapi sungguh, Ayah. Aku tak.. mengatakan apapun soal tujuan kedatangan kita ke bumi, kok!' ucap Yon dalam hatinya.


Suara ayah Yon pun kembali ditransfer lewat telepati.


'Berhati-hatilah dalam berucap, Yon. Dan segera bawa pulang kembali batu ajaib Nun mu. Pertunangan mu dengan Belinda akan dilangsungkan dua purnama lagi,' pesan Ayah Yon mengingatkan.


'Baik.. Ayah.. aku akan segera pulang,' jawab Yon lewat telepati pula.


...


"Yon? Yon? Apa kamu tertidur??" Suara Nura yang memanggilnya, kembali terdengar di indera pendengaran Yon.


Pemuda itu langsung menatap Nura dengan pandangan sedih.


Baru saja ia bertelepati dengan ayah nya. Dan ia diingatkan tentang pertunangannya dnegan Belinda, terrian wanita di planet asal nya yang akan segera dilangsungkan tak beberapa lama lagi.


Melihat Nura, Yon didera perasaan enggan untuk pulang. Tadinya ia pikir pertemuannya dnegan Nura akan berjalan mudah. Ia pikir perasaannya terhadap Nura tak akan berubah dari sekedar teman antar planet saja.


Tapi, sejak ia bertatapan dnegan Nura kembali, sesuatu dalam diri pemuda itu mengatakan kepadanya kalau ia tak menganggap Nura sebatas teman saja. Ia ingin memiliki Nura lebih dari yang ada di antara mereka saat ini.


Yon menaruh hati pada wanita di samping nya itu.


Dada Yon bergemuruh oleh perasaan sesak. Ia tak menyangka kalau perasaannya terhadap Nura ternyata jauh lebih dalam dibandingkan rasa suka nya kepada Bellinda.


'Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Bisakah aku pergi meninggalkan Nura lagi? Tapi jika aku tak pergi, bagaimana dengan Bellinda yang menunggu kepulangan ku kembali ke planet Terrian?' Yon sibuk bergumam sendiri.


"Yon? Katakan sesuatu! Jangan diam begitu? Kau membuat ku khawatir tahu!" Panggilan Nura padanya lagi-lagi membuat Yon tersadar pada kondisi di sekitarnya.


Pemuda itu dengan spontan nya berkata kepada Nura.

__ADS_1


"Nura.. aku menyukai mu.. apa yang harus ku lakukan sekarang?" Tanya Yon dengan hati yang gundah.


***


__ADS_2