Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Planet Terian


__ADS_3

Planet Terian..


Terletak sekitar 7,5 juta tahun cahaya dari pinggiran terluar dari galaksi bima sakti. Planet ini sering dinamakan juga sebagai planet silver, karena warna planet nya yang didominasi oleh warna keperakan di hampir seluruh permukaan dataran nya.


Di planet ini, kota-kota dibangun di bawah permukaan tanah. Sehingga bila dilihat secara kasat mata melalui satelit, seperti tak terdapat tanda-tanda kehidupan di planet tersebut.


Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, planet yang memiliki diameter 3000 kali lipat dari planet Jupiter (Planet terbesar di galaksi bima sakti), itu memiliki kehidupan modern yang lebih canggih dan elit dibandingkan kehidupan di perkotaan terelit yang ada di bumi.


Sistem pemerintahan di planet Terian dibagi menjadi 102 distrik. Di mana setiap distrik memiliki keistimewaan nya masing-masing.


Terdapat sejumlah distrik yang khusus dibangun untuk menyediakan pasokan makanan untuk para penduduk di planet Terian. Beberapa distrik lainnya dibangun untuk memenuhi pasokan barang-barang elektronik, serta non elektronik. Serta beberapa distrik lainnya yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan lain bagi para penduduk planet Terian.


Saat ini. yon berada di distrik 72. Distrik di mana para ilmuwan dan peneliti bertempat tinggal. Termasuk juga dalah kedua orangtua Yon yang memang salah seorang peneliti di sana.


Yon baru saja tiba di rumah nya yang berada di bawah tanah.


Begitu mendarat di planet Terian, pesawat Yon tiba-tiba saja berkamuflase dengan permukaan tanah di planet tersebut. Sehingga dengan begitu pesawat yang berbentuk cakram/piringan itu pun kini menjadi tak terlihat secara kasat mata.


Sementara itu, Yon langsung menuju salah satu titik di permukaan tanah yang memiliki tanda formasi batu berbentuk bintang 5. Dan ia pun mengalirkan sedikit plasma yang keluar sebagai keringat tubuh nya ke setiap batu tersebut.


Sesaat kemudian, sebuah pintu tangga pun muncul dari dalam tanah. Dan Yon pun menuruni tangga berwarna metalik tersebut.


Sekitar dua menit usai menuruni tangga, Yon segera memasuki sebuah lift yang berbentuk seperti kapsul transparan. Kapsul itu lalu mengantarkan Yon ke depan pintu rumah nya langsung.


...


Dalam salah stau ruangan di rumah Yon, pemuda itu duduk berhadapan dengan Papa dan juga Mama nya.


Secara fisik, penduduk planet Terian memiliki karakteristik mirip seperti manusia. Hanya sja, terdapat perbedaan dalam sistem pernapasan antara penduduk Terian dan penduduk bumi.


Di mana manusia di bumi bernapas dengan membutuhkan gas oksigen. Sementara penduduk planet Terian membutuhkan cairan plasma yang terdiri dari aquades (air murni) bercampur enzim yang hanya terdapat di planet tersebut.


Selama Yon tinggal di bumi, ia selalu mengkonsumsi berkantong-kantong cairan plasma yang ia bawa dari planet asal nya. Sehingga dengan begitu, ia bisa tetao hidup dengan nyaman di sana.


"Apa kamu sudah mendapatkan nya, Yon?" Tanya sang Papa dengan wajah menyelidik.


Yon menundukkan wajah nya.


"Maaf, Pa.. batu itu hilang. Yon tak bisa menemukan nya," jawab Yon dengan jujur.


"Hilang? Bagaimana bisa? Bukankah katamu kau memberikannya pada teman bumi mu? Kau sudah bertemu dengan nya kan?" Tanya Papa masih menatapnya curiga.

__ADS_1


"Sudah, Pa. Tapi dia tak mengingat telah menaruh bati nya di mana,"


Brak!


Papa menggebrak meja metalik di hadapan nya.


"Itulah kenapa Papa tak pernah bisa mempercayai manusia! Mereka memang spesies yang suka berkhianat! Perusak! Pengacau! Pembuat onar!" Papa mengamuk.


"Pa.. tenangkan dirimu. Kau tahu, tak semua manusia seperti itu.." tegur Mama di samping nya.


"Ya. Memang tak semua manusia itu jahat. Tapi sedikit saja dari manusia itu jelas memiliki kejahatan yang bisa membuat kerusakan sebanding dengan kerusakan yang dibuat oleh jutaan manusia!" Omel Papa kembali berlanjut.


Yon mengernyit bingung. Tak biasanya Papa semarah ini. Biasanya Papa nya selalu berkepala dingin dan tak mudah melepaskan emosi.


Yon pun melirik ke arah sang Mama dan bertanya lewat pandangan mata.


'Papa kenapa, Ma?' tanya Yon lewat suara batin.


'Ada masalah d laboratorium. Masalah yang cukup besar dan itu melibatkan seorang ilmuwan manusia yang dikenal Papa di bumi. Jadi.. Papa mu sedang tak bisa berpikir positif tentang manusia manapun, Yon.. mohon mengerti..' pinta Mama lewat telepati pula.


Ya. Yon dan Mama nya memiliki kemampuan telepati. Sementara Papa nya tidak. Ini bisa dijelaskan sebagai berikut.


Secara genetika, Yon mewarisi kedua kemampuan inti dari Mama dan juga Papa nya.


Karena itulah, Yon mewarisi kemampuan melesat cepat dari Papa nya, serta kemampuan melakukan telepati dari sang Mama. Sementara untuk kemampuan di laboratorium, ia tak memiliki kemampuan sedikit pun tentang nya.


'Ooh.. apa karena alasan itu juga sehingga Papa buru-buru meminta Yon untuk segera pulang, Ma?' tanya Yon lagi lewat telepati.


'Ya. Kira-kira begitulah, Nak..'


"Bisakah kalian tak melakukan tiu di hadapan ku? Bagaimana pun juga aku masih ada di depan kalian. Jadi jangan menyingkirkan keberadaan ku dengan percakapan telepati kalian itu, bisa kan?" Tegur Papa tiba-tiba.


"Ehmm.. maaf, Pa.." ujar Yon merasa malu karena telah tertangkap basah bertukar telepati dengan sang mama.


Begitu juga dengan Mama. Ia pun ikut merasa bersalah.


"Ehem! Yon tadi bertanya ke Mama, apa alasan nya sehingga kita meminta nya untuk pulang segera ke sini lagi.m begitu, Pa.." ujar Mama memberi tahu Papa.


"Papa khawatir dengan keberadaan mu di bumi, Nak. Akhir-akhir ini NASA mulai sering mempelajari irisan morf, yang menjadi jalur pintas antara planet kita menuju bumi.


Papa takut bilamana mereka menemukan rahasia jalur pintas tersebut, sehingga kamu nanti akan tertahan di sana. Apalagi seorang manusia di bumi telah berkhianat kepada Papa! Papa pikir dia seorang yang terpercaya. Tapi ternyata.. cih. "

__ADS_1


"Pa.. Arthur pasti memiliki penjelasan tersendiri kenapa dia memberi informasi kepada NaSA.. kita belum menanyakan apapun padanya.." tegur Mama kembali.


"Arthur?" Tanya Yon singkat.


"Arthur itu adalah teman manusia Papa dan Mama saat kami berada di bumi. Kebetulan dia juga seorang ilmuwan seperti kami. Baru-barunini kami mendapati kalau Arthur telah menjalin komunikasi dengan pihak NASA. Kami tak tahu apa yang sudah Arthur bahas dengan pihak NASA. Tapi, sejak komunikasi intens antara Arthur dan NASA, sejak itulah NASA terlihat sering memantau baik-baik setiap irisan morf yang terbentuk saat proses bintang jatuh berlangsung," jelas Mama panjang kali lebar.


"Sudah pasti Arthur telah berkhianat kepada kita, Ma. Dan karena itulah, kita tak lagi bisa melakukan visit ke bumi. Karena itu hanya akan mengancam keamanan kita di sana. Karena Arthur jelas sudah mengetahui kalau kita berasal dari planet lain selain bumi," imbuh Papa dengan berapi-api.


"Entahlah, Pa..kita masih harus menanyakannya sendiri kepada Arthur.. menurut Mama sih begitu. Maksud Mama, Arthur yang kita kenal jelas tak mungkin akan mengatakan apapun kepada NASA atau orang lainnya tentang kita kan?" Sanggah Mama yang masih bersikukuh untuk menempatkan kepercayaan nya kepada teman manusia nya di bumi.


"Kita lakukan itu, dengan begitu, NASA dapat melacak keberadaan kita. Apanitu yang kamu mau, Delifa?" Tanya Papa diikuti dengan menyebut nama asli Mama Yon.


"Jadi.. apa itu berarti, Yon juga tak boleh kembali ke bumi lagi, Pa?" Tanya Yon memotong pembicaraan kedua orang tua nya.


Perhatian Papa dan Mama pun sontak kembali ke wajah putra mereka.


Papa lalu mendengus kasar. Sementara Mama Yon memasang ekspresi menyesal di wajahnya.


"Dengan sangat menyesal, Mama akan mengatakan, ya nak.. sebaiknya untuk sementara waktu, kamu pun jangan kembali lagi ke bumi," jawab Mama.


"Tapi.. bagaimana dengan batu nun? Bukankah Yon memerlukannya untuk acara pertunangan dengan Bellinda nanti?" Tanya Yon berusaha mencari alasan agar ia bisa kembali ke bumi.


Mama pun mengerutkan kening.


"Tentang itu.."


"Kita akan membicarakannya dengan keluarga Bellinda. Semoga saja mereka bisa mengerti dan tak memerlukan keberadaan batu nun untuk acara nanti," Papa melanjutkan ucapan Mama.


Yon terdiam. Hatinya seketika mencelos. Pemuda itu pun terdiam cukup lama. Seketika wajah Nura pun kembali terbayang di benak nya. Dan Yon langsung merasakan rindu terhadap gadis itu.


Yon lalu membayangkan wajah Bellinda, calon tunangan nya. Dan anehnya, ia tak merasakan apa-apa terhadap putri dari sahabat Papa nya di planet ini.


Yon berpikir cukup lama. Dan, setelah mempertimbangkan banyak hal, pemuda itu akhirnya membuat sebuah keputusan.


"Pa.. Ma.. sebenarnya, ada yang ingin Yon sampaikan kepada Papa dan Mama. Ini tentang, pertunangan Yon dengan Bellinda," tutur Yon mengawali perbincangan nya dengan kedua orang tuanya.


"Ada apa, Yon?" Tanya Mama tampak khawatir. Ia menangkap keseriusan di wajah putra nya itu. Sesuatu yang biasanya hanya ia lihat, saat putra nya itu menginginkan sesuatu yang sangat ia inginkan.


"Yon ingin membatalkan pertunangan Yon dengan Bellinda, Pa.. Ma.." ucap Yon dalam satu kalimat pamungkas.


"Apa?!!" Papa dan Mama Yon pun seketika langsung dibuatnya terkejut.

__ADS_1


***


__ADS_2