Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Coming Home


__ADS_3

Setahun berlalu sudah..


Dan Nura tak pernah lagi mendengar kabar tentang Yon. Entah di amna dan bagaimana kabar pemuda itu kini, terkadang Nura begitu penasaran. Sehingga ia hanya bisa menatap langit malam saja sambil bertanya sendiri dalam hati.


Entah kenapa, Nura selalu merasa tenang setiap kali ia melihat bintang-bintang di langit malam. Seolah-olah Yon pun sedang melihatnya dari bintang-bintang tersebut.


Pekan depan Nura akan menghadapi hari kelulusan. Rencana nya ia ingin mengambil perkuliahan di bidang astronomi. Kecintaan nya melihat bintang lah yang membuatnya memilih jurusan tersebut.


Nura pun tak perlu memikirkan biaya perkuliahannya. Karena Tio, sang adik yang akan membiayai perkuliahannya hingga lulus.


Sebenarnya sebagai kakak, Nura merasa malu. Karena Tio,nyang lebih muda darinya saja telah mamou hidup mandiri.


Perusahaan Tio yang bergerak dibidang pembuatan software kini melaju pesat. Ia sudah memiliki sebuah gedung kantor miliknya sendiri. Meski hanya dua lantai saja, namun di gedung kantor yang berukuran 150 meter tersebut, Tio mampu mempekerjakan sekitar 20 orang programmer.


Selama setahun ini, ada banyak hal lain yang terjadi. Semisal, Kak Eci yang rencana nya akan menikah dengan bos nya yang duda itu. Menurut Kak Eci, dirinya merasa sudah siap untuk menjadi ibu sambung bagi putri bos nya itu.


Terhadap keputusan Kak Eci itu, Kak Lili memberikannya nasihat.


"Jika nanti kamu sudha menikah dengan nya.. kamu harus belajar untuk menerima semua kekurangan dam kelebihan suami mu itu ya, Ci.. senantiasa introspeksi diri.. senantiasa mengagungkan kehormatan suami di hadapan orang lain.. jaga perasaan suami mu. Buat ia selalu tersenyum saat melihat mu..itu adalah pesan yang dulu pernah Emak sampaikan juga ke Kakak.." ucap Kak Lili menutup nasihat nya.


Mendengar nasihat dari Kak Lili, Nura dan Kak Eci pun seketika langsung bersimbah air mata. Kenangan tentang Emak terkadang masih sering membuat mereka menangis. Tak sering memang. Hanya sesekali saja.


Bagaimanapun juga, Emak adalah guru terbaik yang telah mendidik Nura dan ketiga saudaranya yang lain hingga tumbuh menjadi seorang yang baik.


"Sebagai tambahan dari Kakak, Ci.." imbuh Kak Lili lagi dalam nasihat nya.


"Kamu harus menganggap putri bos mu itu selayaknya putri mu sendiri ya.. kalau belum bisa. Tak aoa-aoa juga kalau kamu menganggapnya sebagai adik mu. Jaga dia..sayangi dia.. berikan dia kasih sayang yang tak sempat ia miliki dari sosok ibu nya yang telah lama tiada. kakak yakin, kamu bisa menjadi ibu yang baik bagi nya. Serta istri yang baik juga untuk suami mu nanti," ucap Kak Lili kembali.


"I..iya, Kak. Makasih ya Kak Lili.. Eci akan mengingat semua nasihat dari Kak Lili.." sahut Kak Eci dengan mata yang telah basah.


Dan selanjutnya, ketiga saudari itupun saling berpelukan di ruang tamu. Masing-maisng mencoba untuk mengalirkan kekuatan pada saudarinya satu sama lain.


***


Di acara kelulusan sekolah Nura..

__ADS_1


"Ciee. Yang jadi juara umum sekolah. Bagi traktirannya dong, Ra.." goda Sisil di samping Nura.


Saat ini Nura sedang merasa gugup karena sebentar lagi ia akan memberikan sambutan sebagai lulusan terbaik di sekolah nya tahun ini.


Nura merasa bangga pada dirinya sendiri. Namun saat ia diberitahukan kalau ia harus menyampaikan prakata di hadapan orang banyak, seta merta kegugupan itu sering menyerang nya.


Nura sudha berlatih sejak lama di rumah. Hampir setiap malam malah ia berlatih berpidato di kamar nya. Dan karena latihannya itu juga ia sering diledeki oleh Kak Eci.


Tapi karena Nura oun balas meledeki kakaknya itu yang akan segera melepas status lajang nya pekan depan, jadinya Kak Eci tak terlalu sering menggoda sesi latihan pidato nya Nura lagi.


"Aku gugup banget, Sil. Jangan godain terus dong!" Dumel Nura yang sungguh kesal dengan godaan Sisil.


"Iya. Iya. Maaf deh ya.. eh, sebentar. Rambut kamu kayaknya agak berantakan sedikit. Ku rapihkan ya, Ra.." tukas Sisil yang selanjutnya mengambil sisir dari dalam tas tangan nya.


Melihat sisir tersebut, Nura pun menyeletuk.


"Kamu tuh kan udah pakai jilbab ya, Sil. Tapi kok masih sering bawa sisir sih ke mana-mana?" Tanya Nura tiba-tiba.


Ya. Sejak liburan sekolah sepekan yang lalau, Sisil memutuskan untuk menutupi aurat nya (rambut). Sebenarnya Itu adalah keinginan Sisil sejak lama. Namun ia belum mendapatkan restu dari Mama nya untuk mengenakan jilbab.


"Apa salahnya, Ra? Sisir ku ini masih bisa bermanfaat untuk mu, kan?" Sahut Sisil dengan jawaban masuk akal.


"Ah.. benar juga sih.."


"Tunggu sebentar. Bagaimana kalau kau melepas kacamata mu dulu saat berpidato nanto, Ra?" Sisil memberikan saran.


"Ehh.. kalau aku melepasnya, aku akan kesulitan untuk melihat benda dalam jarak dekat, Sil.."


"Memang apa perlunya, Ra? Kamu kan sudha hafal diluar kepala isi pidato mu nanti kan? Jadi kamu tak perlu membaca teks nya lagi nanti.." Sisil memberikan alasan.


"Iya sih.. tapi.."


Nura tampak ragu-ragu.


"Ayo lah, Ra. Hanya saat pidato saja kok kamu melepas nya. Soalnya penampilan mu tanpa kaca mata jelas akan terlihat lebih baik di kamera nantinya. Fotomu akan dipasang di halaman majalah sekolah kan? Momen sekali seumur hidup, ini, Ra.." bujuk Sisil kembali.

__ADS_1


Nura tampak berpikir sejenak. Sementara Sisil terus merapihkan penampilan baju dan rambut Nura yang menurutnya masih terlihat berantakan di beberapa bagian.


"Oke deh.. tapi cuma buat pas pidato aja ya.." Nura memutuskan pada akhirnya.


"Nah. Gitu dong.. oke. Sini kacamata nya. Biar aku yang pegangin. Tuh, nama kamu udah dipanggil barusan. Ayo ra!" Ujar Sisil mendorong punggung sahabat nya itu untuk menaiki panggung.


Nura akhirnya naik ke atas panggung. Sementara itu Sisil langsung kembali ke tempat duduk nya bersama para siswa yang lain. Gadis itu sudha siap dnegan kameranya untuk merekam video Nura saat berpidato.


***


Tujuh menit kemudian, Nura berhasil menyelesaikan pidatonya dengan sangat baik baik. Ia mendapatkan tepuk tangan meriah karena telah menyemangati para siswa yang lain untuk meningkatkan prestasi mereka di sekolah seperti yang juga telah dilakukannya selama ini.


Selanjutnya, MC memanggil nama lain untuk naik ke atas panggung. Sementara itu Nura pun hendak turun ke bawah panggung.


Saat menuruni panggung, Nura yang tak terbiasa mengenakan sepatu heel pun sempat terpeleset karpet panggung.


Gadis itu hampir saja jatuh tersungkur ke lantai di samping panggung, jika saja tak ada sepasang tangan yang menangkap tangan nya dengan sigap.


"Aduh! Te..terima kasih.." ucap Nura yang masih sangat terkejut atas insiden barusan.


"Sama-sama.." jawab sang penolong.


Dan, tibw-tiba saja gerakan Nura terhenti seketika. Gadis itu langsung mendongak ke atas untuk melihat wajah penolong nya. Sayang nya..


'Uuh.. muka nya buram.. aku gak pakai kacamata sih..! Tapi suaranya mirip banget kayak suara..' Nura bergumam dalam hati.


"Yon..?" Panggil Nura tiba-tiba.


Tak ada sahutan dari si penolong yang masih menahan tangan Nura agar tak terjatuh.


Tapi setelah beberapa lama, seseorang yang Nura yakini adalah seorang pria (dirasakan dari kulit tangannya yang kasar dan tangan nya yang kokoh) itu oun lalu berkata.


"I'm coming home, Nura.. ya.. ini aku.. Yon.." ujar sang penolong di depan Nura. Membenarkan tebakan gadis itu, tadi.


***

__ADS_1


__ADS_2