
Malam harinya..
Nura sedang mengerjakan PR nya di ruang tamu, saat Tio, adik lelaki nya tiba-tiba saja menyapa nya.
"Nura.."
Nura mengacuhkan panggilan Tio kepada nya. Ia tetap saja menekuni soal Matematika yang sedang ia selesaikan.
"Nura!" Panggil Tio dengan suara lebih kencang.
"Apa an sih, Yo? Nura! Nura! Oke lah kalau di sekolah kamu cuek bebek gak anggap aku sebagai kakak kamu. Tapi kalau di rumah, panggil lah aku dengan nama Kakak! Minimal gitu aja kok gak ngerti sih?!" Tegur Nura.
Mendapat teguran dari kakak yang hanya beda usia setahun saja darinya itu membuat Tio tak merasa bersalah. Ia tetap saja memanggil Nura langsung dengan nama nya lagi.
"Aku mau tanya sesuatu, Ra.." ujar Tio kembali.
"Maaakk!! Tio niih!" Nura langsung berteriak memanggil Emak. Aksinya itu untuk menakuti Tio agar memanggil nya dengan gelar Kakak.
"Cih. Bocah! Oke deh kakak ku yang tersayang.." buru-buru Tio mengalah.
"Iishkk! Kamu tuh yang bocah! Biar gimana juga ya! Kamu itu tetap lebih muda dariku, Yo! Jadi, jaga kesopanan dikit dong sama orang yang lebih tua dari kamu!" Teguran Nura terus berlanjut.
PR Matematika pun terlupa dari benak nya. Dua saudara itu asik berseteru setelah nya.
Tak lama kemudian, keduanya sudah terlibat aksi piting memiting dan jambak menjambak.
Tio memiting tubuh Nura. Sementara Nura menjambak rambuk Tio.
Kedua saudara itu memang kerap ribut jika berada di rumah. Berkebalikan saat keduanya di sekolah. Karena di sana, Tio sebagai kakak kelas Nura akan mengabaikan kakak kandung nya itu sama sekali.
Jadi hanya segelintir orang saja yang mengetahui kalau keduanya sebenarnya bersaudara.
"Tio! Nura! Kenapa lagi sih kalian? Sudah besar juga, masih aja ribut!" Tegur Emak yang muncul tiba-tiba dari dapur.
Seketika, Tio langsung melepas pitingan tangan nya di leher Nura. Begitu pun dengan Nura yang langsung melepas jambakan tangan nya di rambut Tio.
Keduanya langsung duduk manis bagai anjing kecil yang tertangkap basah memakan daging milik tuan nya.
"Omelin aja, Mak! Sekalian balikin aja keduanya ke TK! Unur udah lewat ABG, tapi kelakuan lebih kekanakan dari bocah SD!" Kompor Kak Eci, yang baru saja pulang kerja.
Kak Eci adalah anak ke dua Emak. Itu berarti Kak Eci adalah kakak bagi Nura dam juga Tio.
__ADS_1
"Pulang nya telat banget, Ci? Biasnaya habis maghrib.." ucap Emak dengan nada tiba-tiba melunak.
Eci langsung mencium punggung tangan Emak dengan khidmat. Sementara saat menunduk itu ia menjulurkan lidah nya ke arah Tio dan juga Nura. Ia meledek kedua adik nya secara tersembunyi dari pandangan Emak.
Nura langsung memelototi kakak nya itu. Di antara Kak Lili dan juga Kak Eci, bisa dibilang Kak Eci adalah musuh bebuyutan Nura. Sementara Kak Lili adalah malaikat berhati baik nya Nura.
Kak Eci sering kali meledeki gadis itu, sejak ia masih kecil hingga kini saat ia sudah beranjak dewasa.
"Tadi Eci pergi ke ATM dulu, Mak. Alhamdulillah gajian nya dimajuin. Mungkin karena besok kan tanggal merah. Ini, Mak. Gajian Eci bulan ini," ucap Eci kemudian, seraya menyerahkan selembar amplop kepada Emak.
Emak menatap haru pada putri nya itu. Sementara Nura dan Tio langsung saja berkomentar.
"Tumben Kak Eci gak beli martabak? Biasanya tiap gajian juga beli.." komentar Nura.
"Iya. Lupa ya, Kak? Mau Tio beliin sekarang? Tapi uang nya..?" Imbuh Tio penuh harap.
"Dasar bocah! Kalau soal makanan aja, kompak banget kalian berdua! Mak! Mereka salah tahun kali ya pas lahir? Sebenarnya mereka ini umur enam belas tahun apa enam tahun sih?!" Canda Kak Eci sambil menghadap Emak.
Emak hanya terkekeh kecil. Setelah itu, ia langsung menegur Nura dna juga Tio.
"Nura.. Tio.. kalian ini gimana sih.. minimal buatkan Kakak kalian minuman apa gitu. Kak Eci kan capek baru pulang dari kerja. Ini malah ditodong martabak!" Tegur Emak dengan wajah dibuat serius.
Kemudian Emak berkata lagi kepada Kak Eci.
"Ci, kamu udah ambil untuk ongkos dan jajan kamu bulan depan belum dari sini?" Tanya Emak sambil mengajak putri nya itu duduk di sofa.
"Belum, Mak. Eci belum sempat ambil. Emak yang atur deh! Eci paling mumet kalau soal mengatur uang.." ungkap Kak Eci dengan jujur.
Dan Emak mengakui kebenaran dari ucapan putri kedua nya itu. Memang, Eci tak sepandai Lili jika menyangkut tentang mengatur uang.
Karena itulah, sejak SMA, Eci selalu memberikan uang jajan nya yang lebih kepada Emak kembali. Kata Eci, uang itu biar disimpan saja oleh Emak. Karena jika ia yang memegang nya, besar kemungkinan uang itu akan habis tak ada rupa.
Semenjak itulah, Emak membantu memegang tabungan Kak Eci. Jadi, saat hari lebaran tiba, putri nya itu bisa membeli baju nya sendiri dari uang tabungan nya itu.
Dan kebiasaan itu terus berlangsung hingga saat ini.
"Ci.. Kamu harus mulai belajar mengatur uang sendiri. Caranya gampang kok. Kamu anggarkan dulu kebutuhan pasti, seperti uang makan dan juga ongkos. Lebihkan sedikit untuk sedekah dan juga kebutuhan mendesak. Kalau sudah, masukkan sisa nya ke celengan. Gampang kan?" Emak tetiba menasihati Kak Eci.
"Tuh! Dengerin tuh, Kak! Nura aja bisa atur keuangan sendiri!" Aku Nura dengan nada bangga.
Di samping nya, Tio berdehem aingkat, sebelum akhirnya meng copy ucapan Nura.
__ADS_1
"Ehem! Tio juga pandai mengatur uang, kan Mak?" Imbuh Tii.
Dna Emak pun mengangguk seraya tersenyum pada kedua bungsu nya itu.
Gantian Kak Eci memandang sebal pada dua adik nya. Sementara yang dipandangi malah ber high five berdua. Puas karena posisi mereka kini ganti berkebalikan denga Kak eci. Di mana gantian Kak eci lah yang ditegur oleh Emak. Hahaha!
"Iya. mak.. Eci belajar pegang duit sendiri deh.." ujar Kak Eci dengan nada kalah.
Setelah jeda sebentar, wanita berusia awal dua puluhan itu kemudian berkata lagi.
"Tapi nanti aja ya, Mak.. gajian yang sekarang, biar Emak yang pegang aja dulu.." imbuh Eci dengan tetiba.
Ucapan nya itu langsung disoraki oleh Tio dan juga Nura.
"Huuu!! Payah! Mau belajar kok diundur-undur!" Ledek keduanya kompak.
Eci kembali emmelototi kwdua adik nya. Sementara Emak hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala nya saja saat menyaksikan interaksi di antara ketiga anak nya itu.
"Ya sudah. Bhat ongkos kamu bulan depan berapa, Ci?" Tanya Emak sambil membuka amplop di tangan nya.
"Sejuta aja, Mak.." jawab Eci.
"Itu cukup? Plus makan dan sedekah juga kan?" Tanya Emak memastikan.
"Insya Allah cukup, Mak.." jawab Eci dengan yakin.
"Kalau begitu, ini uang pegangan untuk sebulan ke depan ya, Ci.."
Emak lalu menyerahkan kembali uang sebanyak satu juta kepada Kak Eci.
"Mak, Nura bagi juga dong!" Pinta Nura tanpa malu-malu.
"Tio juga, Mak?" Cicit Tio mengikuti aksi Nura.
"Kalian ini. Tanya nya ke Kakak kalian lah. Ini kan uang Kak Eci. Bukan uang Emak.." tegur Emak langsung.
Kini posisi Kak Eci pun kembali melambung di atas Nura dan juga Tio.
Alhasil menit-menit berikut nya, demi menerima uang jajan tambahan dari Kak Eci, Nura dan Tio pun harus rela menjadi babu mendadak dari kakak ke dua mereka malam itu. Hihihi.
***
__ADS_1