Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Penjelasan Yon


__ADS_3

"I'm coming home, Nura.. ya.. ini aku.. Yon.." ujar Yon membenarkan tebakan Nura tadi.


Nura masih sangat terkejut dengan kemunculan Yon yang tiba-tiba ini. Setelah satu tahun lebih sejak pemuda itu pergi dengan tiba-tiba, Nura sering dirundung oleh rasa rindu dan juga sedih karena kepergian pemuda itu.


"Kamu beneran Yon kan?" Tanya Nura kembali, masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Yon pun terkekeh kecil.


"What should i do to make you sure, that i'm really here for you, Nura?" (Apa yang harus ku lakukan untuk membuat mu yakin kalau aku benar-benar berada di sini untuk mu, Nura?) Tanya balik Yon dengan senyuman tipis nya.


"Kamu!!"


Nura tiba-tiba kehabisan kata-kata. Segala macam pikiran dan rasa kini campur aduk berkumpul di pikirannya. Tak bisa memutuskan harus bersikap apa, akhirnya gadis itu memilih untuk meninggalkan Yon begitu saja.


Sambil berjalan menjauhi Yon, emosi amarah pun mulai menguasai pikiran Nura.


'Dia.. dia kembali datang?! Dia pergi dan datang tanpa mengatakan apa-apa! Setelah satu tahun lebih aku coba mencarinya ke mana-mana, dia tahu-tahu muncul begitu saja sekarang?!' amuk Nura dalam hati.


Belum ada sepuluh langkah Nura beranjak dari pinggir panggung, tahu-tahu Yon sudah berada di depannya dan membopong nya ala bridal style. Dan tak sampai sedetik kemudian, pemuda itu membawa Nura melesat cepat meninggalkan keramaian acara di sekolah, menuju tempat yang lebih sepi, yakni di area pekuburan di samping sekolah.


Nura pun terkejut karena Yon baru saja menggunakan kekuatan nya untuk membawanya ke tempat ini. Ia lebih terkejut lagi karena pemuda itu malah mengajak mereka ke area pekuburan sini.


"Apa yang kamu lakukan, Yon?! Kenapa kamu membawa ku ke sini?!" Amuk Nura dengan suara meninggi.


Sesaat kemudian, angin tiba-tiba berdesir kencang di belakang Nura. Dan benak gadis itu pun seketika dihinggapi oleh perasaan gentar. Ia teringat pada ucapan Yon tentang para penghuni lain di tempat ini.


Merasa takut, akhirnya Nura tak lagi berteriak marah-marah. Ia juatru mendekatkan posisi nya berdiri di dekat Yon. Melihat aksi Nura itupun Yon tersenyum.


"Aku tak tahu, tempat mana lagi yang lebih sepi dari sini," jawab Yon membela diri.


Nura langsung memelototi pemuda itu tanpa berkata apa-apa.


"Kau tahu, Nura. Aku baru saja datang ke bumi. Tidakkah kaunakan menyambutku dengan suka cita?" Yon menegur Nura sambil memasang wajah memelas.


Lagi-lagi hanya pelototan saja yang Nura hadiahkan kepada Yon. Alhasil pemuda itu pun lalu berujar.


"Baiklah. Kalau kau tak merindukan ku. Mungkin sebaiknya aku meninggalkan ku sekarang.." pamit Yon yang berlagak seperti hendak pergi saat itu juga.

__ADS_1


Nura tersentak kaget mendengar ucapan Yon. Ia langsung saja memegang erat kaos bagian depan yang dikenakan oleh pemuda itu.


"Jangan berani-bernainya kamu pergi setelah membawaku ke tempat menyeramkan ini!" Ancam Nura.


Dan Yon pun membalasnya dengan senyuman tipis saja.


Kembali, angin dingin berdesir di belakang Nura. Membuat buiu kuduk gadis tersebut seketika meremang.


"Se..sebaiknya kita pergi ke tempat lain saja, Yon.. ke.. ke ruang kelas juga kan cukup sepi.." ujar Nura sambil melirik takut-takut ke sekitarnya.


"Baiklah.. kalau begitu, aku akan menggendong mu lagi. Ayo Nura!"


"Ja..jangan gendong dengan cara seperti tadi!" Protes Nura seketika dengan wajah yang kembali memerah karena rasa malu.


"Lalu aku harus menggendong mu dengan cara bagaimana? Papan seluncur ku tertinggal di rumah ku.. maksud ku, di planet Terian. Jadi aku tak bisa membawamu pergi dengan itu," tutur Yon menjelaskan kondisinya.


"Oh.. mm.. kalau begitu, piggy back saja!" Pinta Nura kemudian.


Alhasil, setelahnya Yon pun menggendong Nura dengan cara piggy back. Yakni menggendong Nura di belakang punggung kekar pemuda tersebut.


***


"Kamu ke mana saja, Yon? Kamu benar-benar pulang ke tempat asalmu, kah?" Nura mencecar Yon dengan pertanyaan-pertanyaan.


"Ya. Aku memang pulang ke planet ku, Nyra. Ada beberapa hal yang harus ku urus di sana, sebelum aku bisa kembali ke sini lagi," jawab Yon dengan nada lugas.


Nura terdiam. Saat ini, keduanya sedang berdiri di balkon depan kelas. Keduanya sama-sama memandang pemandangan hamparan sawah yang terletak di kejauhan sana. Ada jarak satu meter yang memisahkan keduanya saat ini. Jarak yang bagi Nura, terasa seperti jurang yang sulit untuk ia lewati kini.


"Kamu tahu, Nura. Sebenarnya, tujuan awalku datang ke sini adalah untuk meminta batu nun yang dulu pernah ku berikan kepada mu, Nura. Tapi karena kamu lupa tentang keberadaannya, jadi aku harus menjelaskannya kepada orang tua ku di planet asal ku," terang Yon.


"Maksud mu, batu nun itu adalah ini kan?" Tanya Nura seraya menunjukkan sebuah bandul kalung yang sedang ia kenakan saat ini.


Tersemat pada kalung Nura, adalah sebuah batu dengan ukiran huruf Nun Arab berwarna merah. Batu tersebut seperti kerikil, dengan ukuran sebesar biji kelereng.


Yon tercengang mendapati batu nun miliknya kini berada di tangan Nura. Pemuda itu pun segra memegang bandul kalungnya Nura tersebut. Lalu bertanya kepada Nura.


"Bagaimana kamu bisa memilikinya lagi, Nura? Bukankah katamu kau tak mengingat tentang batu ini?" Tanya Yon kemudian.

__ADS_1


Sesaat kemudian, kesadaran pun memukul telak benak pemuda tersebut.


"Tunggu sebentar! Apa ini berarti, kamu sudah mengingat tentang saat aku memberikan mu batu ini, Nura? Kamu ingat saat pertama kalinya kita bertemu, sewaktu kita masih kecil dulu, begitu?" Cecar Yon kembali.


Nura menatap Yon sekilas, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Dengan ragu-ragu, gadis itu pun berujar.


"Ya, Yon. Aku sudah mengingat semuanya. Itulah sebabnya aku bisa menemukan batu ini kembali. Walau itu harus kudapatkan dengan susah payah.." gumam Nura di ujung kalimat nya.


"Di mana kamu menemukannya, Nura?" Tanya Yon kembali.


"Di sungai. Di pinggir sungai. Itupun sebenarnya kutemukan secara tak sengaja Yon. Aku tak mengira kalau aku akan benar-benar menemukannya di sana. Ku kira aku tak akan bisa menemukannya setelah sepuluh tahun berlalu.." lanjut Nura masih sambil bergumam.


Yon tercenung diam memandangi batu nun milik nya. Melihat Yon terdiam, Nura pun akhirnya menyampaikan rasa penasarannya atas batu tersebut.


"Memangnya, apa gunanya sih batu itu, Yon?" Tanya Nura, memandang pemuda itu penasaran.


"Batu ini.." mulanya Yon tampak ragu untuk menjawab pertanyaan Nura. Namun setelah berpikir lama, pemuda itu akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan kebenaran dengan sejujurnya kepada gadis di sampingnya itu.


"Kamu masih ingat gak dengan penjelasanku tentang batu ini, sewaktu kita masih kecil dulu?" Tanya balik Yon.


Nura pun mengangguk singkat.


"Ya. Aku mengingatnya. Batu itu adalah batu kelahiran kan? Seingat ku, dulu kamu pernah bilang kalau batu ini terlahir bersama dengan mu, bukan? Dia yang memberi kekuatan awal kepada mu. Begitu?" Tanya Nura memastikan.


"Benar, Nura. Itulah yang dulu ku ketahui tentang batu ini. Sayangnya aku telat mengetahui tentang kegunaan lain dari batu nun ini," jawab Yon menggantung.


"Memangnya, apa kegunaannya, Yon?"


"Batu ini juga biasa digunakan sebagai benda sakral untuk ditukarkan dengan tunangan kita. Begitulah tradisi di planet asal ku, Nura.."


"Ya, Nura. Tunangan. Jujur saja. Kedatangan awal ku ke bumi ini adalah untuk mengambil kembali batu nun milikku yang ada padamu. Karena aku hendak melangsungkan pertunangan dengan anak dari sahabat ayah ku di planet Terian," ujar Yon menjelaskan.


"Apa?!! Tu.. tunangan??!" Kali ini, Nura benar-benar terkejut dibuatnya.


Gadis itu sungguh tak mengira, jika lelaki yang selama ini sudah ia sukai itu ternyata sudah memiliki seorang tunangan.


***

__ADS_1


__ADS_2