Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Panggilan Merdu


__ADS_3

"Jadi, maksud kamu, Yon, si Anak Baru itu adalah pemuda hantu yang udah nyelamatin Heru, begitu?" Ujar Nura menyimpulkan cerita Tio.


Tio langsung mengangguk dengan tatapan bersungguh-sungguh.


Hening sejenak..


Nura menatap lekat adik lelaki satu-satu nya itu. Ia mencari kesungguhan di mata Tio, atas cerita aneh yang baru saja disampaikan nya tadi.


Sesaat kemudian..


Nura langsung berbalik dan pergi begitu saja. Jadilah akhirnya Tio bergegas mengejar langkah sang kakak.


"Kak Nura! Nura!" Panggil Tio mengejar Nura.


"Serius deh, Yo! Dari semua cerita mu tentang makhluk ajaib, menurut ku cerita tadi adalah yang paling gak masuk di akal! Pemuda hantu? Si Yon? Come on! Kreatif dikit lah! Kenapa gak sekalian cerita aja tentang alien atau lelaki super usai terkena gigitan radio aktif dari serangga mutan? Yah.. walaupun cerita tentang radio aktif juga gak masuk di akal sih. Karena kalau kita kena radio aktif, yang ada kan kita bisa metong ya?!" Gumam Nura mengoceh panjang.


"Aku serius, Ra!" Pekik Tio tak terima karena cerita nya dianggap sebagai canda.


"Well, i know you're serious, Yo. But.. seriously! Are you kidding me?" Gumam Nura yang terus berjalan meninggalkan Tio di belakang nya.


Kini keduanya sudah tiba di ujung gang yang juga adalah pinggir jalan besar. Pas sekali ada sebuah angkot kosong yang hendak lewat, dan Nura pun bergegas melambaikan tangan nya ke arah angkot tersebut.


Angkot putih biru itu berhenti. Dan Nura langsung naik ke dalam nya. Disusul Tio kemudian. Sampai di dalam angkot yang hanya berisi dua penumpang lain saja, Tio melanjutkan perkataan nya lagi.


"Kamu harus benar-benar berhati-hati sama anak baru itu, Ra. Apalagi ku lihat kayak nya dia gencar buntutin kamu terus!" Pesan Tio mengingatkan.


Nura langsung menoleh dan menyipitkan mata nya ke arah sang adik.


"Tahu dari mana kamu, kalau Yon buntutin aku?" Tanya Nura menyelidik.


"Ya aku lihat lah pake mata ku! Masa iya pake mata kaki ku!" Sahut Tio sedikit emosi.


"Cih.. tukang kuntit!" Ledek Nura sambil melengos ke luar jendela.


"Hey! Aku bukan tukang kuntit ya!" Pekik Tio tanpa sadar dengan suara kencang.


Seketika pemuda itu pun menjadi pusat perhatian dua penumpang lain di dalam amgkot. Akhirnya Tio menunduk malu, setelah sempat memelototi kakak perempuan nya itu.


Nura membalas nya dengan menjulurkan lidah.

__ADS_1


Sisa perjalanan angkot itu berlangsung dengan ketenangan. Karena Tio tak lagi mengajak bincang Nura setelah nya.


Sepuluh menit berlalu, angkot berhasil sampai di pinggir jalan tempat gang sekolah kedua nya berada.


Kakak beradik itu pun lalu turun. Kali ini Tio yang turun terlebih dulu. Menyusul Nura di belakang nya.


Yang membuat Nura sebal adalah, Tio langsung bergegas lari, setelah mengatakan pada Sopir angkot kalimat berikut.


"Ongkos nya di kakak saya, Bang!" Teriak Tio, lalu melarikan diri.


Perhatian sopir angkot itu pun beralih ke Nura. Dan pemudi itu akhirnya menjadi sasaran mata elang sang sopir angkot. Pikir si Abang, mungkin Nura juga hendak kabur seperti rekan nya tadi.


Dengan sebal, Nura menyerahkan ongkos nya berdua dengan Tio. Dan setelah menerima kembalian. Gadis itu pun berlari mengejar Tio.


"Tio!!"


Sayang sekali, Tio sudsh sangat jauh meninggalkan nya.


"Iiishkk! Ade sialan! Apes banget sih punya adek kayak dia!" Rutuk Nura sambil ngos-ngosan usai berlari-lari.


Mengaku kalah dari mengejar sang adik, Nura akhirnya memutuskan untuk berjalan santai saja. Sambil berjalan, Nura merapihkan kembali kacamata nya yang hampir terjatuh usai ia berlari tadi.


"Heyy! Teriak Nura spontan sambil berbalik.


Dan gadis itu terkejut, karena kedua netra nya langsung berpapasan dengan sepasang mata gelap milik Yon, Si Anak Baru.


"Yon!" Panggil Nura tanpa sadar.


Pemuda itu langsung memberikan senyuman paling cerah milik nya. Sehingga ketampanan wajah nya pun kian terpancar sempurna.


Deg. Deg.


Ba dump. Ba dump.


Jantung Nura seketika berdetak sangat cepat. Jauh lebih cepat dari normal biasanya.


'Ya ampun! Ini jantung kok deg deg ser gini ya? Pesona cowok ganteng kali ya? Agh..! Sayang banget, cowok di depan ku ini udah haram buat ku dekatin. Kalau enggak, alamat aku bisa dibikin perkedel nanti sama Siska dan kroni nya!' gumam batin Nura, tanpa suara.


Teringat dengan ancaman Siska kemarin, Nura pun langsung berbalik dan berjalan cepat. Ia meninggalkan Yon begitu saja di belakang nya.

__ADS_1


Tak pelak, pemuda itu pun mengernyit bingung. Ianpikir, Nura akan membaik padanya hari ini. Tapi ternyata gadis itu masih tampak kesal padanya.


Dengan bergegas, Yon langsung mengejar langkah Nura.


"Nuura! Tunggu aku!" Panggil Yon dengan suara barito yang bernada.


"Nuura!" Panggil nya lagi dengan nada merdu yangs ama.


Dna Yon terus memanggil Nura dengan suara bernada selama beberapa kesempatan berikut nya. Sampai keduanya menjadi pusat perhatian siswa lain yang mereka lewati di jalan.


Merasa kelewat malu, Nura pun langsung berhenti dan menarik tangan Yon ke pinggir jalan. Ia lalu berbisik kepada pemuda itu.


"Yon! Jangan panggil aku sambil nyanyi gitu dong! Aku kan jadi malu!" Tegur Nura dengan suara berbisik.


"Huh? Aku gak nyanyi. Aku cuma panggil kamu aja. Nuura!" Ujar Yon diakhiri aksi memanggil nama Nura dengan nada merdu yang sama.


Buru-buru Nura langsung menutup mulut Yon dengan telapak tangan nya.


"Syuutt!! Itu maksud ku! Jangan panggil aku dengan cara begitu! Bisa kan panggil dengan nada biasa? Eh.. tapi gak usah manggil-manggil lagi juga deh! Nanti Siska malah salah paham lagi!" Gumam Nura sambil merenungkan ancaman Siska yang kemarin.


"Siska? Siapa dia? Dan kenapa juga dia perlu salah paham? Apa hubungan nya dengan kita?" Tanya Yon dengan raut bingung.


Deg. Deg.


Ba dump. Ba dump.


'Kita..? Ya ampun..! Nih cowok bisa banget sih bikin hati cewek deg deg ser! Dia cuma bilang 'kita'. Dan itu udah bikin hati ku ngerasa senang gak jelas! Duh, gawat! Jangan bilang kalau aku mulai suka sama nih cowok! Sadar, Nura! Sadar! Kamu jelas gak se-level sama cowok ini!' tegur Nura pada dirinya sendiri di dalam hati.


"Nura? Kamu kenapa?" Tanya Yon saat melihat Nura tampak merenung diam agak lama.


"Ehh?" Nura akhirnya sadar. Dan merasa jengah, karena tangan nya yang tadi menutupi mulut Yon kini berada dalam genggaman pemuda itu.


Apalagi sesaat kemudian muncul suara lain yang menegur kedua nya.


"Nura! Ngapain kalian gandengan tangan begitu? Jangan bilang kamu udah jadian sama si Anak baru?!" Tuding suara barito yang sangat dikenal baik oleh gadis berkacamata itu.


"?!!"


***

__ADS_1


__ADS_2