
Setelah sesi curhat dengan Kak Eci, Nura semakin mawas diri dengan perasaan nya sendiri. Tatapan nya sering mengikuti sosok Yon tanpa ia sadari. Namun setelah ia sadar kalau dirinya sudah menatap Yon terlalu lama, Nura akan buru-buru memalingkan pandangan nya menjauh.
"Kamu suka sama Yon ya, Nura?" Todong Sisil pada suatu ketika di toilet sekolah.
Saat itu hanya ada mereka berdua di dalam toilet. Jadi Nura sangat terkejut saat ditodong dengan pertanyaan itu oleh Sisil.
Akhir-akhir ini, ia selalu pergi dengan Sisil berdua ke mana pun. Sebut saja mereka berdua ternyata memiliki banyak kesamaan di beberapa hal.
Hanya saja. Penampilan Sisil jelas lebih terlihat fashion dibanding penampilan cupu nya Nura. Walaupun keduanya sama-sama mengenakan kaca mata minus.
"Aku.. gak tahu, Sil.." elak Nura menutupi perasaan sebenar nya terhadap Yon.
Sisil memandang nya lama. Ia telah lebih dulu selesai berganti baju olah raga. Sebentar lagi memang ada pelajaran olah raga. Dan semua teman mereka sudah ada di lapangan sedari tadi.
Nura yang kedatangan hadi tiba-tiba, tadi menyempatkan diri ke kantin untuk membeli pembalut. Karena nya ia dan Sisil jadi yang terakhir berada di toilet.
"Hh.. maafin aku ya. Ku pikir kamu gak punya perasaan apa-apa ke si Yon," kini Sisil pun ikut menyebut John dengan nama Yon. Mungkin karena Nura sering menyebut pemuda itu dengan nama Yon.
"Kalau tahu begini, aku gak akan larang-larang kamu untuk dekatin Yon. Terserah kamu deh, Ra. Yang jelas. Dari pengalaman ku, memendam perasaan itu rasanya jauh lebih menyakitkan dibanding menyatakan dan ditolak. Setidak nya, kalau udah ditolak, kita kan gak jadi penasaran lagi ya.." Ujar Sisil dengan pandangan menerawang.
"Kamu pernah mendam perasaan ya, Sil?" Terka Nura saat melihat ekspresi Sisil.
"Hh.. iya. Jadi ku harap kamu gak perlu ngalamin seperti yang kayak aku rasain, Ra. It's so hurt, you know.." komentar Sisil dengan tatapan pedih.
Dengan spontan, Nura langsung meraih vahu Sisil dan memeluk nya. Dengan pelan, ia mengusap-usap punggung Sisil beberapa kali sebelum akhirnya melepaskan nya lagi.
"Mau cerita tentnag pengalaman cinta mu itu, Sil? Siapa tahu nanti kamu bakal ngerasa lebih lega setelah nya?" Tawar Nura sambil tersneyum hangat.
Sisil menggeleng.
"Gak apa-apa. Nanti aka, Ra. Aku udah terbiasa dengan perasaan ini kok. Lagipula, bentar lagi Pak Ngo juga udah mau mulai. Kita ke lapangan sekarang yuk!" Ajak Sisil kemudian.
Selanjutnya, kedua mudi itu pun berdampingan jalan menuju lapangan. Tempat di mana teman-teman mereka telah berkumpul. Tak lama kemudian Pak Ngo, guru olahraga mereka pun muncul dengan membawa bola voli.
Pagi itu, sebuah tragedi akan terjadi di lapangan basket sana. Dan karena tragedi itulah hubungan Nura dan juga Yon akan berkembang ke arah yang tak mereka duga, secara perlahan.
***
Jadi, Pak Ngo mengajarkan tertang permainan bola voli di jam pelajaran saat itu. Terdapat dua bola voli yang akan dipergunakan oleh masing-masing dua grup untuk bertanding.
__ADS_1
Dua Grup putra dan dua grup putri. Grup putra bertanding di lapangan baslet. Sememtara grup putri bertanding di lapangan tenis. Keduanya terletak berdampingan. Jadi grup putra bisa tetap melihat penampilan grup putri saat bertanding. Begitu pun sebalik nya.
Suatu ketika, saat sedang bermain, Nura ternyata gagal membalas lemparan voli dari teman nya karena mata nya kesilauan oleh cahaya matahari. Bola voli tersebut malah jatuh mengenai wajah nya. Alhasil Nura pun jatuh terjengkang dengan cukup kencang.
"Aduh!" Keluh Nura saat ia terkatuh ke lantai lapangan yang mulai panas oleh cahaya matahari.
"Nura!" Teriak teman-teman nya khawatir.
Nura lalu mencoba bangkit, meski ia harus melawan rasa pusing yang lumayan masih cukup berat menyerang kepala nya. Sayang nya, pekikan kemudian dari teman-teman nya membuat Nura sempat ikutan panik jadinya.
"Nura! Hidung kamu berdarah!" Pekik suara Sisil di dekat Nura.
"Hah?!"
Nura refleks menyentuh area di bawah lubang hidung nya. Dan ternyata memang benar. Hidung nya telah mengeluarkan darah. Melihat darah tersebut, Nura malah jadi pingssn setelah nya.
Bruk. Dan gadis itu pun kembali jatuh ke lantai lapangan yang panas.
Serta merta setelah nya kepanikan pun terjadi.
Tapi, belum sempat teman-teman Nura mengerubung di dekat gadis itu. Saat tiba-tiba saja sosok Yon sudah melesat ke sisi Nura yang sudah tak sadarkan diri.
"Kita perlu bicara sebentar, Sil. Sepertinya, akhir-akhir ini kamu selalu lain sama si Upik Abu dan jarang kumpul dengan ku dan Tiwi lagi.." komentar Siska sambil tersenyum sinis.
Dan Sisil akhirnya tak jadi mengikuti langkah Yon yang membopong Nura. Kini, ia harus menghadapi Siska yang sepertinya menyimpan rasa marah untuk nya.
***
Di ruang UKS, Nura akhirnya tersadar setelah beberapa lama.
"Huh? Di mana aku?" Tanya Nura saat oertama kali ia membuka kedua matanya.
"Di UKS. Kamu masih ngerasa pusing?" Tanya Yon, yang ternyata duduk menunggui Nura sedari tadi.
Nura terkejut dengan keberadana Yon di dekat nya. Apalagi pemuda itu juga mengajaknya bicara.
"Apa ini mimpi?" Gumam Nura bertanya pada diri nya sendiri.
Yon oun mendengus kesal dan langsung berdiri. Pemuda itu lalu berbalik sebelum akhirnya menyahut singkat.
__ADS_1
"Sayang nya, ini bukan mimpi buruk, Nuura. Kalau begitu, sebaiknya aku pergi saja. Aku gak mau kehadiran ku malah bikin kamu ngerasa gak enak hati!" Tukas Yon sedikit ketus.
"Yon! Tunggu dulu! Jangan pergi!" Panggil Nura menahan Yon.
Sayang sekali, tepat pada saat itu juga seorang perawat di UKS muncul dari balik tirai ruangan, tempat Nura terbaring saat ini.
"Kamu udah baikan, Dek?" Sapa perawat itu dengan ramah.
"Ehh.. ee.. masih pusing sedikit sih, Kak." Jawab Nura seketika.
"Ini.. minumlah dulu teh nya. Semoga setelah nya kamu sudah membaik," ucap sang perawat sambil menyodorkan segelas kecil teh hangat kepada Nura.
"Makasih ya Kak.." ucap Nura kemudian.
Setelah Nura menengok kembali ke tempat Yon berdiri tadi, ternyata pemuda itu telah pergi lagi.
"Hhh.." Nura menghela napas sesal.
'Aku harus meminta maaf kepada Yon. Rasa-rasanya aku gak bisa diam lebih lama lagi darinya. Minimal, aku meluruskan kesalahpahaman di antara kami,' putus Nura akhirnya di dalam hati.
Setelah itu, Nura masih sempat mendengar ocehan perawat di UKS terkait pesan nya untuk Nura menjaga kesehatan diri.
"..kamu lagi haid kah?" Tanya perawat muda tersebut.
Nura pun mengangguk.
"Pantas saja, muka mu pucat banget. Lain kali, kalau lagi hadi, sebaik nya kamu lebih banyak konsumsi air putih ya. Bila perlu, minum juga tablet penambah darah untuk menghindari kejadian anemia seperti ini lagi," pesan sang perawat yang kemudian diketahui oleh Nura bernama Kak Ivanka.
"Aku anemia, Kak?" Tanya Nura terheran-heran.
Anemia adalah gejala kekurangan darah. Penyakit ini dapat menimbulkan rasa pusing, mual-muntah dan bahkan juga kehilangan kesadaran. Gejala ini biasanya menyerang remaja putri yang baru mengalami haid, para manula, serta ibu hamil. Berat ringan nya anemia berbeda-beda pada setiap orang.
"Iya. Jelas banget dari kelopak bawah mata kamu yang warna nya pucat. Tengok aja sendiri!" Sahut Kak Ivanka kemudian.
Nura pun lalu bangkit dan mendekati sebuah cermin di ruangan tersebut. Ia lalu menarik sedikit kelopak bawah mata nya. Dan memang benar, warna nya sangat pucat. Hampir putih malah.
"Lain kali, ikuti saran Kakak tadi ya, Dek. Kamu masih merasa pusing? Kalau ya, istirahat saja dulu. Sementara itu, kakak mau pamit sebentar ya," pamit Kak Ivanka sebelum akhirnya berlalu dari luar ruangan itu.
***
__ADS_1