
Nura kemudian langsung menelpon Tio. Dan pada dering pertama telepon nya diangkat oleh adiknya itu.
"Kak Nura! Kakak ke mana aja?! Cepat datang ke rumah sakit sekarang juga, Kak! Emak kecelakaan dan sekarang..Emak kritis. Tio udah hubungin Kak Eci dan Kak Lili juga. Mereka lagi di perjalanan sekarang!" Tutur Tio panjang lebar.
"I..iya, Yo! Sekarang juga Kakak ke sana!" Sahut Nura segera.
"Ya udah! Cepat datang ya, Kak! Tio takut.." suara Tio terdengar begitu tertekan bahkan meski lewat sambungan telepon.
Mendengar ketakutan dalam suara adik nya itu, Nura pun lantas menguatkan dirinya. Bagaimanapun juga, ia adalah kakak Tio. Jadi ia harus kuat untuk adik nya itu.
"Iya, Yo! Kami tenang ya! Kakak akan cepat datang ke sana!" Sahut Nura dengan suara yang lebih kukuh.
Klik. Dan sambungan telepon pun akhirnya terputus.
"Sekarang, ayo kita ke Bu Laksmi dan minta ijin!" Ajak Sisil menjadi pemandu.
Dan Nura serta Yon langsung mengikuti langkah gadis itu dari belakang.
***
Ketika meminta ijin untuk mengantar Nura pergi ke rumah sakit pada Bu Laksmi, terjadi hal ganjil. Yakni Yon sempat tak mendapatkan ijin dari Bu Laksmi, guru pengawas kesiswaan.
Tapi lalu, tiba-tiba saja Bu Laksmi seperti memandang tak fokus ke satu titik. Dan tahu-tahu, Yon pun diberikan ijin pula olehnya.
Nura sempat memberi pandangan berarti ke arah pemuda itu. Namun pemuda itu seperti menghindari tatapannya. Entah kenapa gadis itu yakin kalau Yon memiliki andil dalam proses diberinya ijin dari Bu Laksmi tadi. Namun karena masih ada Sisil bersama mereka, jadi Hinata menunda untuk bertanya pada pemuda itu.
Akhirnya setengah jam kemudian, ketiganya sampai juga di lobi rumah sakit. Tanpa membuang waktu, Nura langsung pergi ke ruang IGD. Di mana ia mendapati Tio tampak berjalan mondar-mandir di depan pintu IGD.
"Tio!" Panggil Nura seraya mempercepat langkah nya.
Tio pun langsung menengadah. Dan ia turut menghampiri sang kakak yang datang mendekatinya.
"Kak Nura! Sil!" Sapa Tio pada Nura dan Sisil. Sementara kepada Yon yang mengikut di belakang kedua gadis itu. Tio hanya memberi anggukan singkat saja kepadanya.
"Gimana sama Emak?" Tanya Nura to the point.
"Belum ada kabar, Kak. Masih ditangani di dalam. Tadi dokter sempat keluar ruangan. Katanya kondisi Emak kritis banget. Benturan di kepala nya terlalu kencang. Jadi ada pembuluh darah di otak yang pecah. Terus.. Tio bingung. Lupa. Apa lagi yang dibilang sama dokter nya. Tio takut, Kak!" Ucap Tio dengan suara rendah.
Nura menepuk pelan kedua pipi Tio dengan tangan nya. Lalu ia membuat Tio beradu pandang dengannya. Dan selanjutnya, Nura pun berkata.
__ADS_1
"Kita harus tetap optimis, Yo! Emak pasti akan baik-baik aja! Insya Allah! Emak kan kuat! Emak gak akan kalah sama apapun yang lagi dihadapinya saat ini. Kita berdoa aja ya!" Seru Nura menyemangati.
Di hadapan sang adik, Nura tampil tangguh dan tenang. Padahal sebenarnya dalam hati gadis itu, ia pun sama takutnya seperti yang kini dirasakan oleh Tio.
Tak henti-henti nya Nura melirihkan doa dalam diam. Di saat keempat remaja SMA itu menunggu kabar Emak dari balik ruang IGD.
'Mak.. cepat bangun, Mak! Emak harus kuat ya!' mohon Nura dalam hati.
Tak lama kemudian, Kak Lili dan suaminya datang. Kaka Lili tampak pucat sekali. Mungkin karena efek kehamilannya yang cukup mabuk parah akhir-akhir ini.
Apalagi minggu lalu Kak Lili baru saja diinfus di rumah. Mengingat tak adanya asupan gizi yang cukup untuk janin dalam kandungan nya. Lantaran Kak Lili selalu memuntahkan semua makanan dan minuman yang masuk ke mulut nya.
"Kak Lili!" Panggil Nura dan Tio secara bersamaan.
Dua bersaudara itu bergegas menghampiri Kakak sulung mereka itu, lalu menyalami tangan nya. Tambahan bagi Nura, karena setelah bersalaman ia juga langsung memberikan Kak Lili sebuah pelukan.
"Kak.. Emak, Kak.." lirih Nura yang akhirnya kini bisa melepaskan sedikit kekhawatiran nya pada seseorang.
Di hadapan Tio, Nura mewajibkan dirinya untuk bersikap tenang. Namun dengan kedatangan Kak Lili saat ini, gadis itu akhirnya bisa menjadi dirinya yang sebagaimana mestinya. Yakni bocah yang butuh tempat untuk berkeluh kesah.
Dan di antara ketiga saudara kandung nya, Kak Lili lah yang paling membuat Nura merasa nyaman untuk bertukar cerita.
"Syuut.. istighfar, Ra.. istighfar.. tenangkan dirimu ya, Dek.. insya Allah Emak akan baik-baik saja. Kita cukup berdoa yang terbaik buat Emak, ya," tegur Kak Lili mengingatkan.
Setelah beberapa lama, Nura melepaskan pelukannya.
"Kak Lili udah baikan? Kata Emak, Kakak mabok hamilnya parah banget ya?" Tanya Nura memancing pembicaraan tentang topik lain.
Selanjutnya, perbincangan antara dua bersaudara itupun terus berlanjut di barisan kursi yang berderet tak jauh dari ruang IGD. Sesekali Tio ikut nimbrung ke dalam pembicaraan.
"Ini teman-teman kamu, Dek?" Tanya Kak Lili kemudian.
Ia memandang ramah kepada Sisil dan juga Yon.
"Iya, Kak. Inj Sisil dan Yon, teman sekelas Nura.." tutur Nura memperkenalkan kedua temannya.
"Saya Sisil, Kak.." ucap Sisil memperkenalkan diri.
Sementara Yon hanya berujar singkat, "Yon" saja.
__ADS_1
"Terima kasih, karena kalian sudah menemani Nura sampai ke sini. Kalian berdua teman yang baik.." puji Kak Lili dengan tulus.
Sisil pun tersipu malu. Sementara Yon tetap dengan ekspresi datarnya.
Meski tampak diacuhkan oleh Yon, Kak Lili tetap menyapa keduanya kembali.
"Rumah kalian jauh dari sekolah kah?" Tanya Kak Lili sambil melirik ke Sisil pertama kali.
"Iya, Kak. Sekitar setengah jam.." jawab Sisil sambil tersenyum malu.
"Dan.. Yon? Kamu juga kauh?" Tanya Kak Lili masih dnegan keramahan yang sama.
"Dekat, Kak," jawab Yon singkat dsn padat.
Kak Lili sejenak menatap Yon cukup lama. Setelah itu, ia mengembalikan pandangannya kembali kepada Nura.
"Kamu sudah makan, Dek? Kalau belum, ajaklah Tio dan juga teman-teman mu makan dulu di kantin rumah sakit. Ini, bawa uang nya. Biar kakak, dan Kak Alif yang menunggu Emak.." tutur Kak Lili begitu pengertian.
"Nura masih kenyang, Kak.. Nura mau tungguin Emak.." elak Nura menolak saran dari Kak Lili.
"Nura.. kasihan teman-teman mu.. mereka mungkin haus dan juga lapar. Apa kamu tidak kasihan pada mereka yang sudah capek-capek menemani mu sampai jam sebelas lewat di sini? Sekarang sudah waktunya makan siang, Dek.. makan lah. Jangan khawatir, Emak akan baik-baik saja," hibur Kak Lili meyakinkan Nura.
Menyadari kebenaran ucapan Kak Lili, akhirnya Nura pun mau mematuhi saran dari kakak sulung nya itu.
"Sil, Yon, Yo, kita makan dulu yuk ke bawah?" Ajak Nura pada ketiganya.
"Aku gak ikut deh, Ra.. Masih kenyang.. aku mau pamit ke sekolah lagi ya?" Pamit Sisil kemudian.
"Oh.. oya. Gak apa-apa. Makasih ya, Sil.." sahut Nura sambil memeluk erat kawan karibnya itu.
Setelah melepas pelukannya dari Sisil, Nura beralih kepada Yon.
"Kalau kamu, Yon?" Tanya Nura kepada nya.
"Aku ikut kamu, Nura.." jawab Yon begitu lugas.
"Ya udah. Yuk kita ke bawah!" Ajak Nura kemudian.
"Kak, kita ke bawah dulu ya.." pamit Nura, Tio dan juga kedua teman lainnya.
__ADS_1
"Ya.." sahut Kak Lili sambil tersenyum teduh.
***