
Malam harinya, Nura sedang mendengarkan musik di kamarnya ketika Kak Eci tiba-tiba masuk ke kamar dan mengagetkan nya.
"Dor!!" Teriak Kak Eci mengejutkan Nura.
"Aaa!! Kak Eci! Jahil banget sih?! Kan Nura lagi asik dengerin musik juga!" Dumel Nura yang merasa kesal karena waktu me-time nya terganggu.
"Idih.. lagi dengerin lagu apa sih memang nya? Kayaknya lagi roman banget deh.. sampe ikut nyanyi segala lagi.. 'Ku mencintai mu.. tapi tak dicinta..'" Kak Eci menirukan lagu yang sedang didengar oleh adik perempuannya itu.
Nura pun merengut sebal. Mungkin malu karena tertangkap basah telah sempat bernyanyi sesaat tadi.
Gadis itu lalu mengacuhkan keberadaan Kak Eci di belakang nya. Dan kembali memasang headset nya ke telinga.
"Hey! Gak sopan banget sih! Ditanya, bukannya ngejawab. Malah nyuekin Kakak! Kakak bilang ke Emak lho ya, biar kamu kena omel nanti!" Ancam Kak Eci yang iseng mencabut eard bud dari telinga Nura.
Mendengar ancaman Kak Eci, anehnya Nura tak merasa takut. Ia malah menantang Kak eci untuk membuktikan ancamannya itu.
"Bilang aja ke Emak! Nura gak takut kok! Kan, Nura gak salah!" Sahut Nura dengan berani.
"Diih.. nih anak beneran nyebelin ya! Maakk! Emaakk! Nura nih Mak! Gak sopan banget!" Kak Eci langsung berteriak memanggil Emak.
Setelah beberapa detik berlalu, tak jua ada sahutan dari Emak. Eci yang memang masih letih karena baru pulang dari bekerja akhirnya baru menyadari kalau Emak tak ada di rumah.
"Emak ke rumah Kak Lili lagi ya, Ra?" Terka Kak Eci dengan sangat tepat.
"Iya. Tadi sore pergi nya. Kak Lili hamil muda nya mabok parah. Kata Emak sih sampai perlu diinfus gitu.. bed rest!" Seru Nura memberi tahu.
Kak Eci mengerutkan kening.
"Kasihan banget ya Kak Lili. Hh.. nanti kalau aku hamil, kayak gitu juga gak ya..? Jadi ngeri deh ngebayangin nya.." gumam Kak eci yang ikut merebahkan badan di samping Nura.
"Dih, Kakak mikirnya udah kejauhan aja! Nikah dulu lah, Kak! Jangan mikir tentang hamilnya dulu!" Koreksi Nura.
"Mikir nikah juga kakak masih buram, Dek..hh.."
Mendengar Kak Eci yang tak biasanya berceloteh, perhatian Nura pun seketika terusik. Ia lalu ikut merebahkan badan di samping Kak Eci dengan posisi tidur menyamping menghadap kakak perempuannya itu.
"Kayaknya ada cerita nih yang bisa digali. Diam-diam kakak udah punya pacar ya?" Nura menyelidik sang kakak.
__ADS_1
Eci langsung melempari Nura dnegan bantal guling kecil di atas kasur.
"Mulai deh, main detektif-detektifan! Jangan sok tahu deh, bocah! Kamu tuh mending fokus belajar aja dulu. Gak usah mikirin soal roman-roman deh, Ra!" Ujar Kak Eci menasihati.
Nura langsung merengut, karena pertanyaannya tak dijawab.
"Ishkk.. Kak Eci gak asik ah! Apa salahnya sih cerita aja ke Nura? Yah.. walau Nura mungkin gak punya pengalaman soal pacaran, tapi kalau Kakak ada masalah, Nura siap kok jadi pendengar yang baik! Kita kan satu keluarga! Ingat kata Emak kan, Kak?"
Dan Eci langsung menyambung ucapan Nura tadi. Ia meng copy ucapan Emak yang sering dinasihatkan kepada anak-anaknya hampir setiap hari.
"'Kita ini satu keluarga. Ibarat sekumpulan batang lidi yang diikat menjadi satu. Seperti itulah seharusnya sebuah keluarga. Di mana ketika kita bersatu, maka kita bisa menjadi sesuatu yang kokoh dan lagi bermanfaat. Tak mudah dipatahkan. Tak mudah dicerai-beraikan," tiru Kak Evi.
Selanjutnya, Nura melanjutkan ucapan kakak nya itu.
"Lain halnya bila batang-batang lidi itu tak diikat. Maka ia akan tercerai berai dan mudah dipatahkan. Dalam kesendiriannya, batang lidi itupun tak memiliki guna seperti layaknya sapu saat ia bersatu dengan batang lidi yang lain," tutup Nura meniru ucapan Emak mereka.
Selesai Nura berkata, kakak beradik itu pun saling melempar senyum.
"Hh.. kamu benar, Ra. Oke. Kakak mau curhat deh nih. Sebenarnya, Kakak lagi dekat sama cowok di kantor kakak.." ungkap Kak Eci sejujurnya.
Nura diam menyimak cerita sang kakak.
"Ganteng, gak, Kak?" Tanya Nura tetiba.
"Yah.. lumayan lah. Gak ganteng-ganteng amat sih. Tapi dia jelas berwibawa banget, Ra. Keren lah pokoknya! Dua Minggu lalu, dia nembak Kakak.." tutur Kak Eci melanjutkan ceritanya.
"Mati dong, di tembak? Kok masih hidup?" Celetuk Nura bercanda.
"Iishhk! Lanjut gak nih?!" Ancam Kak eci seraya melototkan matanya kepada sang adik.
"Ehehe.. lanjut kak, lanjut!" Nura berkata terburu-buru.
"Ya udah. Gitu deh. Dia nembak Kakak. Tapi kakak bingung mau nerima dia atau enggak!" Ucap Kak eci menyimpulkan.
"Kenapa bingung, Kak?" Tanya Nura kebingungan.
"Soalnya.. banyak alasan sih.. pertama, dia itu bos kakak.."
__ADS_1
"Wih.. keren! Terima aja lah Kak! Bos Kakak kan berarti orang kaya dong!" Celetuk Nura dengan spontan.
"Ngawur kamu, Dek! Matre dong kamu!" Tuding Kak eci mengomeli sang adik.
"Yah.. apa salahnya kalau ada kesempatan bisa nikah sama orang kaya, Kak? Kan hidup jadi lebih enak nantinya!" Komentar Mura kembali.
"Tauk ah! Lanjut gak nih?!" Kak eci kembali mengingatkan Nura untuk bersikap serius.
"Lanjut..lanjut!" Pinta Nura sambil menyengir kuda.
"Kedua.. dia itu udah pernah nikah, Ra.. dan itu yang--"
Nura tiba-tiba memotong ucapan Kak Eci.
"Hah?!! Auto wajib ditolak itu sih, Kak! Tolak aja! Tolak! Udah nikah ngapain berani nembak Kakak sih?! Cowok gak bener itu kak berarti!" Ujar Nura berapi-api.
"Iishkk! Dengerin Kakak ngomong sampai selesai dong, Dek!"
"Ehh? Belum selesai ya? Tapi beneran, Kak.. jangan terima cowok yang suka mendua deh! Yang ada nanti kakak malah baperan lagi! Nura pernah baca novel tentang poligami, dan ending nya tragis banget. Nura gak mau nasib kakak nanti malah adu cakar-cakaran sama istri pertama bos Kakak itu!" Lanjut Nura berkomentar.
Kak Eci hanya memandang tajam ke arah Nura tanpa berkata apa-apa. Menyadari kalau kakaknya kesal kepadanya, akhirnya Nura pun berkata.
"Mm.. kakak lanjut deh ceritanya. Nura diam deh nanti.." janji Nura pada Kak Eci.
"Istri bos kakak itu udah lima tahun lalu meninggal, Ra.. pas ngelahirin anak pertama mereka.." lanjut Kak Eci.
"Ya Allah.. tragis banget.. terus, Kak? Anaknya gimana tuh? Bertahan hidup atau..?" Tanya Nura menggantung.
"Anaknya masih ada, Dek. Nah. Itu jadi alasan ketiga yang bikin Kakak ragu untuk nerima perasaan Bos kakak itu, Ra. Apalagi.."
Kak Eci tampak ragu-ragu kemudian.
"Apalagi apa, Kak? Ngomong nya jangan sepotong-potong gitu dong! Bikin penasaran aja!" Komentar Nura.
"Apalagi bos kakak itu nembak bukan untuk ngajak kakak pacaran, Dek. Tapi dia nembak Kakak untuk ngajak nikah!" Jelas Kak Eci berterus terang.
"Hah?!"
__ADS_1
Kali ini, Nura benar-benar terkejut dengan cerita sang kakak.
***