
Sore hari, setelah Sisil sudah pulang ke rumah nya..
Tok. Tok. Tok.
Nura mengetuk pintu kamar Tio dengan terburu-buru.
Tok. Tok. Tok.
"Sebentar! Kak Nura ya?!" Teriak suara dari dalam kamar.
Cklek.
Dan pintu pun terbuka.
Tio mendapati sang kakak yang kini menyengir lebar di depan pintu kamar nya. Ia sudah menebak apa yang ada dalam pikiran kakak nya itu saat ini.
Dengan tak nyaman, Tio buru-buru berkata.
"Mau apa sih? Gedor-gedor pintu orang aja sesuka hati! Kalau gak ada yang penting, pergi sana! Tio mau nyelesain PR dulu!" Ujar Tio seraya hendak kembali menutup pintu.
Akan tetapi Nura gesit mendorong pintu tersebut sebelum tertutup. Setelah nya ia merangsek masuk ke dalam kamar dan duduk di atas kasur adik nya itu.
Seringaian yang sama masih juga terpasang di wajah nya yang manis.
"Hey! Seenak nya masuk ke kamar orang! Gak sopan tahu!" Gerutu Tio terlihat panik.
Ia lalu bergegas hendak mengambil sesuatu yang ada tepat di bawah bantal yang ada di belakang Nura.
'Bisa gawat kalau Kak Nura sampai nemuin itu!' gumam batin Tio terlihat sangat panik.
Nura yang cerdas pun mengikuti arah pandang sang adik. Dan Tio kian kalap saja panik nya.
Dalam hitungan detik, Nura langsung mengangkat bantal dan meraih selembar foto yang tadi tersembunyi di bawah bantal itu.
Di detik yang bersamaan, Tio pun melompat dan hendak mengambil foto yang sudah berada di tangan kakak nya itu. Namun sayang, Nura sudah terlanjur melihat isi foto nya, sebelum foto tersebut berhasil direbut kembali oleh Tio.
"Foto siapa tuh tadi?" Seru Nura sambil menyengir lebar.
"Bukan siapa-siapa! Udah sana keluar! Gue mau ngerjain PR dulu nih!" Usir Tio dengan wajah merah padam.
"Itu foto Sisil sama Lo lagi bergaya peace peace an! Wahh.. kayaknya ada cerita yang belum Kakak tahu nih!" Ledek Nura kembali.
"Mana sini, coba kakak lihat lagi?? Mana? Mana?"
Nura mencoba mengambil kembali foto yang kini dipegang Tio jauh-jauh. Ia melompat, memutar bahkan juga mengelitiki perut sang adik, demi bisa mendapatkan foto itu lagi. Sayang nya, usaha Nura berakhir gagal.
"Nura! Keluar sana gih! Bisa gak jadi cewek tuh jangan nyebelin banget?!" Omel Tio di sela usaha nya menghindari tangan sang kakak yang gigih ingin merebut foto milik nya.
"Ayo lah, Yo! Aku cuma mau lihat aja! Itu jelas foto Sisil kan? Tapi waktu kapan? Kayak nya baru deh. Jangan bilang kalau sebenar nya kalian tuh paca..mmppphh!!" Nura tak sempat menyelesaikan kalimat nya, karena Tio yang sudah menutup mulut nya rapat-rapat dengan tangan nya yang lebar.
"Diam! Jangan berisik napa? Kalau Emak dengar kan bisa gawat!" Tegur Tio sangat panik.
"Mmmpphh!! Mmpphh!!" Nura mencoba mengatakan sesuatu namun hanya suara tak jelas saja yang bisa terdengar.
Tio lalu melepas sekapan nya pada mulut sang kakak.
"Awas kalau berisik!" Ancam Tio lagi
__ADS_1
"Hehehe.. kalau mau tutup mulut ku, caranya gampang banget! Mana sini fotonya, aku mau lihat!" Todong Nura dengan berani.
"Gak mau! Sana pergi aja deh! Nyiksa banget punya kakak tengil kayak Lo!" Gerutu Tio sambil mendorong punggung sang kakak.
"Ehh?? Kok malah ngusir kakak sendiri sih?" Tukas Nura tak terima.
"Bodo amat! Kakak nya nyebelin kayao Lo sih gue gak rugi-rugi amat kalau Lo buruan pergi!" Usir Tio kembali.
Nura akhirnya berada di luar kamat Tio kembali saat ini. Dengan kesal nya ia hendak mencoba kembali untuk masuk ke kamar Tio. Sayang nya Tio jelas memiliki tenaga yang lebih kuat untuk mendorong pintu hingga tertutup.
Brak. Dan pintu pun akhirnya tertutup rapat.
"Tiio! Buka pintu nya!" Teriak Nura merasa kesal.
"Gak mau! Balik aja sono ke kamar Lo sendiri! Usir Tio dari dalam kamar nya.
Tok. Tok. Tok.
Lagi-lagi Nura mengetuk pintu kamar Tio berkali-kali. Namun Tio tak menggubris nya lagi.
"Oke! Kalau gitu, aku bilang nanti ke Emak kalau kamu udah punya pacar sekarang!" Ancam Nura yang geram karena tak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan nya.
Tap. Tap. Tap. Tap.
Brak!
Seketika pintu mendadak terbuka lebar. Tampak lah Tio dengan wajah geram nya, memandang sebal ke arah Nura.
"Jangan berani-berani Lo!" Ancam Tio.
"Lo? Kakak, Yo. Panggil aku Kakak lah! Kamu lupa atau amnesia sih?" Ledek Nura dengan seringaian yang telah kembali ke wajah nya lagi.
"Kakak! Kakak! Panggil aku 'kakak', Yo!" Tegur Nura masih sambil menyengir pada pemuda tersbeut.
"...kakak! Jangan bawa-bawa Emak deh soal ini!" Ancam Tio kembali.
"Aku gak bawa-bawa Emak kok! Mana bisa, Yo! Emak kan lumayan berat. Mana bisa ku tenteng-tenteng atau gendong? Kamu ngelindur ya? Hehehe.."
"Nura!"
"Tio!"
Dua kakak beradik itu lalu saling beradu pandang. Setelah beberapa lama Tio akhirnya menyadari kalau posisi nya sangat lemah untuk berargumentasi dengan Nura.
Alhasil. Ia pun akhirnya mengalah.
"Ya udah lah. Gue nyerah. Mau lo apa sih Nur?" Tanya Tio dengan wajah pasrah.
Mendengar ucapan sang adik. Nura pun akhirnya tersenyum puas.
"Nah! Gitu dong. Adek ku yang penurut.. pertama! Aku mau kamu perbaiki cara mu manggil nama ku! Panggil aku Kakak!" Ucao Nura mengatakan permintaan nya.
"Termasuk di sekolah juga?" Tanya Tio tetiba.
Nura berpikir sebentar.
"Mm.. kalau di sekolah gak perlu panggil Kakak deh. Bisa ribet nanti nya kalau afa cewek penggemar mu minta titip tanda tangan mu ke aku," gerutu Nura setengah kesal.
__ADS_1
Tio memang cukuo populer di sekolah.
"Oke. Udah kan itu aja? Ka..kak..?" Panggil Tio dengan nada sarkastis.
"Belum! Selama seminggu ke depan, kamu bayarin ongkos kakak ke sekolah!" Ucao Nura menyampaikan permintaan nya yang ke dua.
"Gak mau! Kan Lo.. mm.. Kakak punya ongkos sendiri!" Protees Tio.
"Anggap aja ini uang retribusi karena kamu udah buat Kakak jengkel berkali-kali. Apalagi beberapa hari lalu kamu juga minta bayarin ongkos angkot kan ke kakak!" Tuding Nura mengingatkan kesalahan Tio.
"Tapi itu kan cuma sekali doang! Kenapa Kakak malah minta ongkosin seminggu? Itu maruk nama nya!" Protes Tio.
"Jadiin itu sebagai pelajaran, biar lain kali kamu gak asal ngerjain orang lain. Karena hukum karma pasti berlaku!" Ujar Nura yang bersikap sok bijak menasihati.
Tio mendnlengus kesal.
"Ya udha. Satu minggu aja ya!"
"Iya satu minggu aja. Deal ya?" Tanya Nura.
"Deal! Udah kan?"
"Belum lah. Mana sini foto yang tadi! Kakak mau lihat fotonya!" Pinta Nura sambil menodongkan tangan nya ke arah Tio.
"Buat apa sih? Gak ada faedah nya juga coba lihat-lihatin foto orang!" Rutuk Tio menolak permintaan Nura.
"Ya ada lah! Aku pingin mastiin, itu beneran Sisil bukan? Bagi lihat sini! Jangan pelit napa sama kakak sendiri!" Tegur Nura kembali.
Dengan wajah kesal, Tio akhirnya masuk kembali ke kamar nya untik mengambil foto. Setelah itu ia menjulur kan foto tersebut untuk dilihat oleh Nura.
Sayang nya, sedetik kemudian Nura langsung menjambret foto tersebut dan membawa nya kabur ke dalam kamar.
Tio pun segera mengejar sang kakak yang berhasil kabur. Sayang nya, saat ia sudah berada di depan pintu kamar Nura yang tertutup, Tio tak bisa membuka nya lagi. Lantaran Nura yang sudah mengunci slot pintu kamar nya itu.
"NURA!!!" Teriai Tio yang merasa kesal.
Sementara itu Nura malah menyengir sendirian di dslan kamar sembari menstao dua wajah yang tersenyum malu-malu di foto milik Tio.
Benar saja. Dalam foto tersebut Nura melihat wajah Sisil dan juga Tio berdamplingan.
"Hahaha!! Gak nyangka banget, si Bujang udah gede juga ya ternyata!" Tawa Nura terdengar lepas daari dalam kamar nya.
"Nuura!! Keluar Lo!" Teriak Tio smabil menggedor-gedor pintu kamar sang akkak.
Tok. Tok. Tok.
"Sebentar! Aku belum puas lihatin foto kalian!" Balaa Nura kemudian.
Tok. Tok. Tok.
Tio terus menggedor pintu kamar sang kakak. Dan itu cukup membuat suasana rumah menjadi sangat bising.
Tak lama kemudian, gedoran di pintu Nura akhirnya terhenti saat Emak tiba-tiba saja muncul dari arah dapur.
"Kenapa sih berisik banget?! Ada apa Tio? Nura?!" Tanya Emak dengan nada meninggi.
Glek.. seketika itu pula gedoran Tio pada pintu kamar sang kakak pun berhenti. Dan begitu pun dengan Nura di dalam kamar nya, yang kini juga terdiam tak bersuara.
__ADS_1
"Nura! Keluar sini!" Titah Emak tak bisa ditolak oleh Nura akhirnya.
***