Cinta Dari Luar Angkasa

Cinta Dari Luar Angkasa
Bahan Kecengan


__ADS_3

"Hihihi! Nura bisa aja! Sekarang, gantian kamu, Ra. Apa yang mau kamu obrolin ke aku, sampai-sampai ajak aku ke mushola gini?" Tanya Sisil penasaran.


"Aku.."


Teeeet..Teeet..


Bel kembali berbunyi nyaring. Pertanda jam belajar yang akan segera dimulai.


"Yah.. Udah masuk. Kita ke kelas aja deh sekarang. Aku curhat nya nanti lagi aja," tukas Nura kemudian.


"Maaf ya. Gara-gara aku kelamaan curhat, jadinya kamu yang ngajakin ke sini malah gak sempat curhat.." ujar Sisil menyesal.


"Iya, gak apa-apa. Udah yuk ke kelas sekarang. Takut keduluan Bu Retno kan bisa gawat!" Seru Nura sambil meringis ketakutan.


Bu Retno adalah guru pelajaran Sejarah Nura dan juga Sisil. Beliau dikenal sebagai guru yang paling strict soal kedisiplinan dibandingkan dengan rekan guru nya yang lain.


Flashback.


Pernah suatu ketika Nura telat masuk dari berganti baju usai jam olahraga. Pada akhirnya ia harus menerima hukuman dari guru killer tersebut.


Di mana hukuman nya tak tanggung-tanggung! Yakni Nura diharuskan membuat esai tentang Zaman Neolitikum sepanjang satu lembar kertas folio. Dan itu harus dikumpulkan pada keesokan hari nya saat jam istirahat!


Nura mengingat jelas, malam nya, ia berada di rental komputer untuk menge-print materi tentang zaman Neolitikum tersebut. Setelah itu, Nura meng copy ulang seluruh materi yang berhasil ia copy ke selembar kertas folio.


Keesokan pagi nya, tangan Nura sudah mengerucut karena semalaman bergadang menulis ulang materi Zaman Neolitikum.


Sejak saat itulah gadis tersebut sangat kapok untuk datang terlambat lagi pada jam pelajaran Bu Retno.


Flashback selesai.


Akhirnya, kedua mudi itu pun bergandengan tangan menuju kelas mereka. Dengan seulas senyum yang terlihat lebih lepas dibanding sebelum mereka datang ke tempat shalat tersebut.


***


Letika masuk ke dalam kelas, Nura tak sengaja bersinggungan dengan bahu Siska yang juga hendak masuk. Alhasil ia pun mendapat tatapan sengit dari Siska. Dan ia segera menundukkan pandangan nya ke bawah.


Sejujurnya, Nura tak suka bersikap pengecut seperti ini. Tapi, mau melawan pun, ia bukan siapa-siapa dibandingkan dengan Siska.


"Nura, jangan dianggap. Nanti juga dia capek sendiri," hibur Sisil yang kembali menarik tangan Nura untuk duduk di bangku mereka kembali.


Tak lama kemudian, bu guru Retno pun datang. Dan seketika, suasana kelas pun menjadi hening mencekam.


***


"Sil, siang ini, kamu jadi main ke rumah ku?" Tanya Nura setelah bel pulang berbunyi.


Keduanya kini sedang membereskan peralatan menulis mereka ke dalam tas. Begitu juga dengan kawan kelas mereka lain nya.


"Iya, jadi. Boleh kan, Ra?" Tanya Sisil kembali.

__ADS_1


"Boleh.. tapi.. jangan kaget ya pas kita sampai di rumah nanti," Nura memberi peringatan awal kepada Sisil.


"Kaget kenapa, Ra?" Tanya Sisil penasaran.


"Jangan kaget kalau kamu ketemu pangeran es di rumah ku nanti!" Bisik Nura langsung ke telinga Sisil. Tak lupa seulas senyum menghiasi wajah Nura yang manis.


"Huh? Pangeran es?" Sisil tampak jelas kebingungan.


"Udah.. nanti aja lihat deh di rumah!" Ujar Nura misterius.


***


Sesampainya di rumah Nura..


"Assalamu'alaikum!" Sapa Nura dan Sisil bersamaan.


"Wa'alaikum salam warohmatullah!" Sahut Emak dari dalam rumah.


"Siapa ini, Ra? Teman sekolah kamu?" Tanya Emak sambil tersenyum ramah.


"Iya, Mak. Teman sebangku Nura. Nama nya Sisil," Nura memperkenalkan kawan nya itu.


"Mak.. saya Sisil.." gadis itu malu-malu memperkenalkan diri.


"Ajak masuk ke dalam, Ra. Suguhi gorengan nanti. Itu tadi Emak ninggalin sepiring di meja. Makan aja. Emak mau ke warung sebentar ya. Kemarin lupa beli tepung. Kehabisan. Emak titip jemuran. Udah mendung soal nya," pesan Emak sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah.


Nura pun mengajak Sisil pergi ke kamar nya.


"Kamar ku jelek ya?" Nura mengomentari kamar nya sendiri.


"Bagus kok. Rapih.. aku suka.." komentar Sisil menghibur Nura.


"Tadinya, ini kamar ku berdua sama Tio dan Kak Eci. Tapi, sejak SMP, Tio pindah ke ruang gudang. Kalau Kak Lili sih udah tinggal di kontrakan nya sendiri sama suami nya," cerita Nura panjang kali lebar.


"Huh? Jadi kamu punya berapa saudara, Ra?" Tanya Sisil masih tampak bingung.


"Tiga. Dua kakak perempuan, Kak Eci dan Kak Lili. Dan satu adik lelaki, nama nya Tio," jawab Nura dengan lugas.


"Tio..?" Ekspresi Sisil sedikit berubah.


"Ya. Tio itu.."


"Assalamu'alaikum!" Suara barito terdengar menyapa dari depan rumah.


"Wa'alaikum salam!" Teriak Nura dengan suara lantang.


"Itu pasti Tio! Jadi Sil, kamu jangan kaget ya. Karena sebenar nya Tio adik ku itu adalah.."


Belum selesai Nura bicara, sosok Tio tiba-tiba saja menyembulkan kepala nya dari muka pintu kamar nya.

__ADS_1


"Kamu lagi ngobrol sama siapa, Nuur?!! Si..Sisil?!" Pekik Tio terkejut.


"Tio?!" Dan Sisil pun sama terkejut nya dengan pemuda itu.


"Ehh?? Kalian udah saling kenal?!" Tanya Nura pada keduanya.


"Kami.." Sisil nampak canggung sambil melirik ke arah Tio.


Begitu pun dengan Tio. Ia menggaruk kepala nya sekali, lalu buru-buru pamit ke kamar nya sendiri di belakang rumah.


"Gue..ee.. Tio.. ke kamar dulu ya Kak!" Pamit Tio terburu-buru dan salah tingkah.


Tinggal lah Nura menatap nya dengan terheran-heran.


Sesaat kemudian, Nura menoleh ke Sisil dan bertanya pagi kepada nya.


"Kamu udah kenal Tio, Sil?" Selidik Nura.


"Mm.. yah.. dia.. kakak kelas kita kan?" Jawab Sisil tanpa menatap mata Nura secara langsung.


Tapi kemudian Sisil menyadari sesuatu. Dengan cepat, kepala nya menoleh ke Nura dan balik bertanya.


"Tunggu dulu! Kenapa Tio ada di rumah kamu, Ra?"


Nura tak segera menjawab. Ia masih merasa tak puas dengan jawaban Sisil tadi.


"Ya iya lah.. Tio kan adik ku!" Jawab Nura pada akhirnya.


"Hah?!! Adik?! Ta..tapi.. dia kakak kelas kita kan?! Ehh, apa kamu sempat enggak naik.."


Sisil menggantungkan kalimat nya. Ia langsung merasa tak enak hati kepada Nura.


Menyadari apa yang ada dalam pikiran teman nya itu, Nura pun menjelaskan.


"Tio sempat lompat kelas dua kali. Padahal sebenarnya umur Tio setahun lebih muda dari ku," papar Nura menjelaskan.


"Ooh.."


Kembali hening.


Hingga Nura akhirnya tak lagi bisa sabar untuk menunggu penjelasan dari Sisil atas hubungan nya dengan Tio.


"Jadi, kamu dan Tio itu.. pernah kenal dekat ya?!" Tanya Nura langsung menuding.


Pertanyaan nya itu seketika membuat wajah Sisil sedikit memerah. Melihat itu, sebuah seringai pun muncul di wajah manis nya Nura.


'Wah.. kayak nya ada bahan kecengan nih buat ngeledekin Tio! hihihi..' kekeh Nura dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2