
Keesokan pagi nya..
Tumben sekali. Hari ini Tio tak bergegas berangkat seperti biasanya. Padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lewat.
Ternyata, Tio bermaksud untuk berangkat bersama dengan Nura hari ini.
"Tumben enggak nebeng ke Heru?" Tanya Nura sambil lalu.
"Motor dia lagi di bengkel," jawab Tio singkat.
"Ooh.. pantes.."
Beberapa saat, keheningan mengisi suasana di antara kakak beradik itu. Sampai tiba-tiba Tio kembali mengajak Nura berbincang.
"Hey, Nur.." panggil Tio dari belakang.
"Nura! Jangan Nur, kenapa?" Tegur Nura tak suka.
Tio terkekeh. Ia tahu pasti alasan Nura tak ingin dipanggil dengan nama Nur. Karena kebetulan tetangga mereka yang sudah udzur bernama Nur pula. Dipanggil nya, Ninik Nur.
Dan, baru sekitar dua bulan yang lalu beliau meninggal dunia. Dan Nura mengaku kalau dia pernah melihat Ninik Nur di malam seharusnya sang nenek telah tiada.
Betapa itu pengalaman yang paling horor bagi Kakak perempuan nya itu.
"Hehe.. iya deh.. Nura..!" Panggil Tio mengulang.
"Hmm? Kenapa?" Tanya Nura tanpa menoleh ke belakang.
"Anak baru di kelas Kakak itu.."
Tiba-tiba Nura membalikkan badan. Sambil berjalan mundur, gadis itu memotong ucapan Tio.
"Ciee.. tumben panggil kakak? Biasanya juga oy! Woy! Aye! Aye! Hihihi!" Goda Nura sambil menyengir lebar.
Tio membalas dengan menjulurkan lidah.
"Serius nih! Tentnag cowok yang juga anak baru di kelas Kakak.. kalau bisa, jangan terlalu dekat sama dia ya, Ra!" Ujar Tio memberi nasihat.
Seketika langkah Nura pun terhenti. Ia lalu bertanya bali kepada adik nya itu.
__ADS_1
"Memang nya kenapa, Yo?" Tanya Nura kemudian.
"Soalnya..."
Flashback.
Tio sedang dibonceng oleh Heru seperti biasanya, setiap ia hendak berangkat ke sekolah.
"Eh, mampir bentar ya ke Bang Tedi. Mau minta jatah mingguan gue," ujar Heru tiba-tiba.
Heru adalah teman sekelas Tio. Usia mereka memang terpaut tiga tahun. Karena Tio pernah mengalami lompat naik kelas dua kali saat ia duduk di bangku SMP.
Heru sendiri adalah anak bungsu dari pasangan Ayat-Adi yang sudah lama meninggal. Kini Heru tinggal berdua dengan kakak nya, Bang Tedi. Hanya saja, Bang Tedi lebih sering tidur di bengkel motor nya yang terletak tak jauh dari stasiun kota sebelum melewati sekolah mereka.
Jatah mingguan yang dimaksud oleh Heru tadi adalah uang makan berikut juga uang ongkos nya selama satu pekan ke depan. Karena Bang Tedi yang jarang sekali pulang ke rumah peninggalan orang tua mereka.
"Ya udah. Tapi cepetan ya. Jangan sampai keduluan kereta lewat. Nanti kan harus nunggu lama, baru bisa lewatin rel!" Pesan Tio pada kawan karib nya itu.
"Siipp lah!"⁷
Heru pun mengebut. Dan mereka berhasil tiba di bengkel Bang Tedi sebelum kereta melewati stasiun.
Melihat palang pintu yang hendak turun, Heru malah mengebut dan hendak melewati rel sebelum palang pintu benar-benar tertutup. Naas, tiba-tiba saja motor yang dikendarai nya kesulitan saat melewati rel. Bahkan juga sempat mengalami mogok. Mati mesin!
Kini palang pintu pun meenutup sempurna. Dan suara kereta terdengar kian mendekati stasiun tempat motor Heru mogok di tengah-tengah rel.
Banyak orang meneriaki keduanya untuk segera turun dan menjauh dari rel kereta. Sehingga Tio pun langsung turun dari motor dan berlari ke pinggir.
"Ru! Buruan cabut! Kereta udah mau lewat!" Teriak Tio di antara teriakan orang yang panik dengan keberadaan mereka di badan rel.
"Tapi motor gua, Yo!" Teriak Heru balik.
Tio merasa kesal. Namun ia menyempatkan diri untuk kembali menoleh ke sisi kanan. Jarak kereta dengan mereka kini hanya berkisar kurang dari seratus meter kira-kira. Hanya beberapa detik lagi saja sebelum kereta itu melibas Heru yang masih berusaha menenteng motor nya yang mogok.
"Cabut aja Ru! Keretanya udah mau sampai!" Teriak Tio panik sekaligus juga kesal.
"Maka nya bantuin gua dong, Yo!" Teriak Heru yang lebih terlihat kesal daripada takut.
Dengan segera, Tio pun hendak maju, namun tangan nya ditahan oleh petugas penjaga palang pintu kereta.
__ADS_1
"Jangan mendekat, Dek! Berbahaya!" Tegur Pak Penjaga mengingatkan Tio.
"Tapi teman saya, Pak!" Ujar Tio seraya menunjuk ke arah Heru.
Terlambat. Kereta sudah berada dalam jarak yang sangat dekat. Tio sendiri langsung mundur menjauhi rel, mengikuti tarikan pada tangan nya yang dilakukan oleh Pak Penjaga palang pintu.
Tio menatap ngeri ke arah Heru yang masih berusaha menarik motor nya menjauhi rel. Kawan karib nya itu seperti nya tak sadar kalau maut telah berada sangat dekat sekali dengan nya.
Di saat kereta benar-benar lewat, dan melibas motor Heru beserta pemilik nya, seketika Tio menjadi lemas dan terjatuh duduk di pinggiran rel.
"Heru!!" Teriak Tio dengan nada menyayat hati.
Pemuda itu menangisi nasib tragis kawan karib nya yang pemurah hati. Tak menyangka, kalau akhir hidup Heru ternyata berada di atas rel yang menjadi perantara nya menuju bengkel sang kakak.
"Heru!!" Teriak Tio lagi dengan suara menyayat hati.
Pandangan nya nanar menatap ke titik tempat Heru berada tadi. Titik yang kini masih dilewati oleh kereta express yang melaju dengan begitu kencang.
Dan, ketika kereta telah lewat, serta palang pintu kembali terangkat, Tio pun bergegas pergi ke tempat ia melihat Heru sesaat tadi.
Ia sudah membayangkan akan ada banyak genangan darah di sekitar sana. Atau juga rongsokan motor Heru yang terlibas kereta. Namun ternyata ia tak mendapati apa-apa.
Petugas penjaga palang pintu lah yang kemudian mengejutkan Tio dengan berteriak dan menunjuk ke satu arah di sisi terjauh palang pintu. Tampak motor Heru telah rusak karena tertabrak oleh kereta express tadi.
Kerusakan nya cukup parah. Karena stang motor nya bahkan sampai bengkok.
Tio mendekati tempat motor Heru berada. Namun aneh nya ia tak juga mendapati tubuh Heru di mana-mana. Berdua dengan Pak Penjaga Palang pintu, Tio menyusuri pinggiran kereta, demi mencari jejak keberadaan Heru. Sayang nya. Mereka benar-benar tak mendapati Heru di manapun.
Sampai di kemudian, tiba-tiba saja Tio menangkap citra dua orang pemuda berseragam putih abu-abu seperti nya. Keduanya berada di belakang kerumunan orang yang ikut melihat motor Heru yang rusak parah.
Salah satu pemuda itu memegang bahu pemuda lain nya yang seperti sedang duduk selonjoran di atas tanah. Yang membuat Tio tercengang adalah, ia sangat mengenal baik, pemuda yang sedang duduk selonjoran di tanah itu. Karena dia adalah Heru.
"Heru!" Pekik Tio bergegas berlari menuju tempat kawan karib nya terduduk lemas dengan wajah sangat pucat.
Selagi berlari, pandangan Tio sempat terangkat dan bertatapan dengan pemuda lain yang sepertinya telah menyelamatkan Heru. Tapi sesuatu di luar nalar terjadi.
Belum sempat dua detik berlalu saat kedua matanya bertatapan dengan pemuda asing tersebut, tiba-tiba saja pemuda itu menghilang. Bak ditelan angin.
Ya. Pemuda itu sungguhan menghilang dalam sekejap mata, seolah-olah ia adalah hantu saja!
__ADS_1
***