
Sayang nya, langkah Dominiq untuk mengejar Nura harus dihentikan oleh bel masuk yang berbunyi. Sementara itu, Nura dan John pun kembali ke kelas mereka kembali.
Begitu duduk di kursi nya, Nura langsung berpura-pura sibuk membaca buku paket Biologi, selagi menunggu guru nya yang belum datang.
Akan tetapi aksi Nura itu tak menghentikan John untuk menyapa nya.
"Kamu gak apa-apa? Siapa lelaki tadi?" Tanya John to the point.
Nura berpura-pura tak mendengar. Hati nya masih sedikit kesal pada ledekan teman-teman Dominiq tadi.
"Kenapa mereka berkata jahat tentang mu? Apa kamu melakukan kesalahan pada mereka? Tapi.. ku pikir.."
Brak.
Hinafa tiba-tiba menutup halaman buku yang sedang dibaca nya. Setelah nya, ia langsung menoleh ke kanan. Dan terkejut, karena ternyata John sudah mendekatkan kursi nya ke kursi Nura. Sehingga kini, jarak wajah keduanya hanya berkisar kurang dari tiga puluh senti. Teramat dekat.
Seketika Nura pun memundurkan kepala nya ke belakang.
"Bisa tolong geser sedikit?" Pinta Nura dengan nada yang masih menyisakan rasa kesal.
Jhon langsung menurut. Ia pun langsung bergeser ke.. depan. Alhasil jarak nya dengan Nura kian dekat saja.
"Yon! Maksud ku mundur!" Pekik Nura dengan suara yang sedikit lebih kencang.
Pekikan nya itu membuat Nura langsung diperhatikan oleh teman-teman yang duduk dekat dengan nya.
Dengan malu, Nura pun kembali meluruskan pandangan nya ke depan. Tak lupa ia tundukkan pula kepala nya. Menatap cover buku paket Biologi yang menampilkan gambar pepohonan dan ikatan DNA.
"Nura?" Panggil Jhon kembali.
"Yon, bisa tolong jangan tanya-tanya soal kejadian di kantin tadi? Aku malas untuk cerita nya.." ujar Nura dengan jujur.
"..Okay.. Aku gak akan tanya soal kejadian di kantin, kalau begitu. Tapi.. aku cuma penasaran. Lelaki yang tadi ngomong ke kamu itu siapa? Sepertinya kalian punya hubungan yang cukup dekat?" Tanya Jhon kelewat penasaran.
Pemuda itu menopangkan sebelah pipi nya pada tangan kanan nya. Sehingga saat menanyakan hal tadi, John harus memiringkan badan nya ke kiri dan menghadap ke Nura.
Nura langsung memelototi John.
"Itu sih sama aja nanya juga!" Rutuk Nura dengan bisikan jelas.
"Hmm? Beda lah. Aku kan gak nanya tentang kejadian. Berarti maksud nya soal peristiwa di kantin kan? Sementara yang mau ku tanyain tuh tentang identitas lelaki tadi. Jelas beda kan?" Ujar John menyampaikan argumen nya.
"Hh.. bikin tambah kesal aja!" Rutuk Nura dengan bisikan yang terlampau pelan.
Dipikir gadis itu, John tak mungkin bisa mendengar gumaman nya tadi. Namun ternyata anggapan nya meleset.
Pemuda itu seperti nya memiliki pendengaran di atas rata-rata.
__ADS_1
"Aku membuat mu kesal? Maaf. Kenapa begitu? Apa salah ku?" Tanya John dengan kalimat beruntun.
Nura kian merasa kesal. Hampir saja ia akan melempar buku paket Biologi nya ke wajah John, jika saja Bu Rita, Guru Biologi mereka tak masuk ke ruang kelas, pada detik itu juga.
"Siang, semua!" Sapa Bu Rita kepada murid-murid nya.
Dan John pun tak lagi mengusik Nura. Membuat gadis itu menghela napas lega pada akhirnya.
***
Bel pulang berdering nyaring ke seantero sekolah. Dengan bergegas, Nura langsung membereskan peralatan sekolah nya. Sementara John yang telah selesai lebih dulu tampak berdiri di sisi meja untuk menunggu nya.
"Aku antar kamu pulang?" Tawar John.
"Gak perlu, Yon. Aku biasa naik angkot kok. Kamu duluan pulang aja," jawab Nura tanpa memandang ke pemuda itu.
Tampak kecewa, namun Jhon akhirnya mengikuti permintaan Nura. Pemuda itu pun kemudian berlalu pergi.
"Kalau begitu, aku pulang duluan ya. Jumpa besok.." pamit John kemudian.
Nura tak menjawab. Ia hanya mengangguk dan memberi senyuman tipis kepada teman sebangku nya itu.
Setelah memastikan sosok John telah keluar kelas duluan, barulah Nura berdiri dari kursi nya. Namun, tiba-tiba saja ada sepasang tangan yang mendorong dada nya dengan kasar. Sehingga Nura pun terjatuh kembali ke kursi nya.
Brak!
"Siska?" Tanya Nura tak mengerti.
Ya. Di hadapan nya kini berdiri Siska dan juga dua kroni nya. Mereka adalah teman sekelas Nura.
"Hey, Upik Abu! Lo kok bisa akrab gitu sih sama si John? Memang nya kalian udah kenal duluan ya?!" Tanya Siska dengan kasar.
"Yon? Enggak! Aku baru kenal dia juga kok tadi pagi, sama kayak kalian semua.." sanggah Nura terburu-buru.
"Halahh! Bokis banget sih!" Komentar Tiwi, salah satu kroni nya Siska yang penampilan nya paling tomboy di antara dua teman nya yang lain.
Bokis \= bohong
"Enggak! Aku gak bohong! Aku serius baru kenal Yon tadi pagi!" Kukuh Nura dengan argumen nya itu.
Tiwi lalu menoyor kening Nura, hingga kepala gadis itu lagi-lagi terbentur ke dinding di belakang nya.
Jdug!
"Aduh!"
"Heh! Dengerin lo ya, Upik! Jangan sok dekat sama si John lagi deh! Lo tuh gak se level sama dia! Lihat penampilan Lo sekarang! Cupu seratus karat gak ketulungan!" Ledek Tiwi dengan kalimat pedas.
__ADS_1
Gadis tomboy itu kemudian mengambil kaca mata Nura dan melempar nya ke lantai.
"Tiwi, jangan!" Pekik Nura dengan nada memohon.
"Maka nya! Jangan sok kecentilan deh Lo! Penampilan kayak Upik Abu aja sok kegatelan pingin punya cowok cakep kayak si John Lennon!" Lanjut Tiwi meledek Nura.
Nura menunduk. Ia sungguh geram karena perlakuan teman sekelas nya itu. Ingin hati nya melawan, namun ia tahu. Perlawanan hanya akan membuat nya semakin dibully nanti nya.
Akhirnya Nura pun memutuskan untuk diam mengalah saja.
"Iya. Maaf.. aku gak akan dekat-dekat lagi sama, Yon," janji Nura.
'Semua cowok ganteng memang bikin masalah! Dulu Dominiq, sekarang Yon!' keluh Nura dalam hati.
"Bagus! Gue pegang ya janji Lo!" Sahut Siska seraya tersenyum puas.
"Gini aja deh! Mending besok Lo tukeran tempat duduk aja deh sama gue!" Usul Siska kemudian.
"Yey! Gue juga mau lah duduk sama si John Lenon!" Seloroh Tiwi dengan spontan nya.
"Tiwii.. Lo mau gue bilangin ke Ronald kalau Lo mau main mata ke cowok lain apa, hah?" Ancam Siska tanpa tedeng aling-aling.
Ronald adalah pacar Tiwi yang sekolah di SMA lain.
"Cih! Asem kecut! Ya udah. Gue relain deh tuh si Lennon buat Lo. Yang penting lo bayar PJ aja ya nanti!" Tuntut Tiwi kemudian.
PJ \= pajak. Biasanya berupa traltiran atau hadiah yang diterima karena suatu alasan.
"Tenang aja.. " ujar Siska kemudian.
Kepada Nura, Siska lalu berkata lagi.
"Jadi mulai besok, Lo duduk sama Sisil ya!" Titah Siska seraya menunjuk ke Sisil, kroni nya yang sedari tadi hanya diam saja.
Nura berpandangan dengan Sisil. Dan gadis pendiam itu memberinya senyuman kecil.
"Heh! Malah ngelamun! Denger gak Lo?!" Tegur Siska sambil menoyor bahu Nura.
"Iya! Aku besok duduk sama Sisil!" Cicit Nura mengikuti permintaan Siska.
"Nah! Gitu dong! Ya udah. Yuk gals, kita cabut! Bye bye Upik Abu.. ahahahaha!!"
Siska, Tiwi san Sisil pun kemudian pergi meninggalkan Nura sendirian di kelas.
Dan Nura memandangi kepergian ketiga teman kelas nya itu dengan hati yang dongkol.
"Ini semua gara-gara Yon!" Tuding Nura dalam gumaman pelan.
__ADS_1
***