
"Hay, Nura! Kita berangkat ke sekolah bareng-bareng, yuk!" Sapa Yon, dengan senyum terkembang sempurna.
"A..apa?! Be.berangkat bareng?!"
Sudah terkejut dengan kedatangan Yon yang tiba-tiba ke rumah nya, kini Nura semakin terkejut dengan pernyataan Yon berikutnya.
'Apa Katanya tadi?! Dia mau ngajak berangkat bareng?? Ya ampun.. gimana ini.. jangan sampai Emak ketemu Yon deh!' gumam Nura dalam hati.
Tak lama kemudian, terdengar suara Emak dari dalam rumah.
"Siapa yang datang, Nur?" Tanya Emak dari dalam rumah.
Nura merasa panik seketika. Kepada Yon, gadis itu pun berkata.
"Tunggu sebentar ya, Yon! Aku pamit dulu ke Emak!" Ucap Nura sebelum akhirnya terburu-buru masuk ke dalam rumha.
Sayangnya, baru juga gadis itu membalikkan badan, tahu-tahu Emak sudah berdiri did epan pintu. Wanita paruh baya itu kini menatap wajah Yon dengan ekspresi bingung.
"Teman Tio ya?" Tanya Emak menyapa sang pemuda.
Yon yang sempat tertegun karena baru bertemu dengan Emak untuk pertama kalinya pun buru-buru mendekat dan mengajak salim.
Sikapnya yang mengenal sopan santun itu alhasil berhasil menerbitkan seulas senyum di wajah Emak.
"Bukan, Mak. Saya tem-"
Ucapan Yon buru-buru dipotong oleh Nura.
Gadis itu tiba-tiba saja memekik dengan suara kencang.
"I..iya Ma! Yon ini teman nya Tio. Tunggu sebentar di sini ya, Yon! Aku panggilin Tio nya dulu!"
Sementara berkata seperti itu, Nura buru-buru menarik Emak untuk masuk ke dalam rumah lagi.
"Ayo, Mak! Udah kesiangan ini. Nura mau berangkat sekarang!" Ucap Nura terburu-buru mengajak Emak menyiapkan sekeranjang gorengan yang akan ia titipkan ke kantin sekolah nantinya.
"Kamu kenapa sih, Nur? Kalau mau apa-apa tuh jangan terburu-buru. Lagipula ini masih terlalu pagi kok. Biasanya juga kamu berangkat lebih lewat dari jam sekarang kan?" Tegur Emak mengingatkan.
"Ee.. Nura.. Nura mau mampir ke tukang alat tulis dulu, Ma. Pul..pulpen Nura udah habis!" Kolah Nura beralasan.
__ADS_1
Alasan yang tak berbohong juga sih, karena memang, tinta pulpennya sudah mau habis. Meski mungkin masih bisa digunakan untuk menulis dua lembar esai lagi sih..
"Begitu.. ya sudah. Itu gorengannya sudah siap dibawa. Emak mau beresin bekas masak dulu ya. Kamu kalau mau berangkat, berangkat aja. Oya, tolong bilangin ke Tio itu temannya sudah nunggu di depan!" Titah Emak kemudian.
"Iya, Mak!" Jawab Nura dengan hati yang mulai merasa lega.
'Duh. Ini termasuk bohong ya berarti? Aku dosa dong ke Emak.. maaf ya, Mak.. Nura malu.. takutnya nanti Emak malah salah paham lagi..' bisik hati Nura diam-diam.
Setelah itu, Nura langsung bergegas pergi, ke depan kembali sambil membawa keranjang gorengan. Namun baru juga langkahnya keluar dari dapur, mata Nura menangkap sosok Tio yang sudah berjalan terlebih dulu di depannya.
Adik bungsunya itu kini sudah mencapai pintu.
'Gawat! Tio bakal ngelihat Yon nih pasti!' hati Nura dilanda genting.
"Tio!" Nura segera memanggil sang adik. Berharap Tio belum sempat melihat Yon.
Syukurlah Tio langsung berbalik dan menghadap Nura. Akan tetapi..
"Kak, kok anak baru itu ada did epan rumah kita sih?" Bisik Tio saat ia sudah berada di depan sang kakak.
'Ah! Gawat! Tio udah keburu lihat Yon!' rutuk Nura penuh penyesalan.
Gadis itu pun jadi bingung untuk menjelaskan alasan keberadaan Yon di depan rumah mereka. Karena itulah. nura hanya bisa bergumam tak jelas saja.
"Tunggu sebentar. Kayaknya, ada yang mencurigakan nih!" Tutur Tio dengan pandangan menyelidik.
Mendengar ucapan sang adik, Nura makin merasa gugup jadinya.
Wajahnya pun spontan jadi memerah. Dan ia menggaruk-garukkan kepalanya yang sebenarnya tak terasa gatal.
"Aha! Tio tahu! Apa jangan-jangan, kakak dan anak itu sekarang udah jadi--mmpphh!!" Ucapan Tio tak sempat ia selesaikan karena Nura sudah menutup mulutnya dengan tiba-tiba.
"Jangan berisik! Kalau kedengaran Emak gimana coba?! Malu tahu!" Ancam Nura sambil berbisik.
Tio lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Pertanda janji untuk tidak berisik seperti tadi. Melihat itu, Nura pun melepaskan bekapan tangannya di mulut Tio.
"Jadi, kakak dan anak itu beneran udah jadian nih?" Tanya Tio sambil menyengir lebar.
Melihat cengiran di wajah sang adik, Nura bisa menduga kalau hari-hari berikutnya ia akan terus diledeki oleh adik bungsunya itu.
__ADS_1
'Duuh.. apes banget sih!' gerutu Nura dalam hati.
"Enggak! Jangan langsung nyimpulin yang aneh-aneh deh! Siapa juga yang janjian sama Yon! Dia cuma.."
Nura seketika menutup rapat mulutnya. Hampir saja ia keceplosan mengatakan kalau Yon telah menembaknya.
Belajar dari pengalaman, tak aman untuk menceritakan rahasia pada adik lelakinya itu. Tak aman bagi isi dompetnya maksudnya. Karena pasti nanti Tio akan meminta jatah untuk tutup mulut. Entah pulsa lah.. atau ongkos ke sekolah selama satu pekan, dan juga jatah tutup mulut lainnya.
"Cuma...??" Tanya Tio sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Aksinya tiu terlihat menyebalkan di mata Nura. Sehingga ia pun langsung mengusap kasar wajah Tio dengan tangannya.
"Udah! Mending berangkat aja sana! Keburu kesiangan nanti!" Titah Nura begitu mendesak.
"Ah! Gak seru! Kasih tahu dulu lah, Kak! Jadi sekarang hubungan Kakak sana anak itu tuh gimana?" Tanya Tio yang sungguhan kepo.
"Heran! Kamu tuh cowok! Tapi kok kepo banget sih sama urusan beginian?" Nura menyindir.
"Ya memangnya kenapa? Rasa ingin tahu adalah ciri pasti dari seseorang yang punya IQ tinggi, lho, Kak!" Tutur Tio membela diri.
"Iya, memang?? Jangan asal ngomong, deh!" Sahut Nura yang skeptis dengan pernyataan sang adik.
Dengan terburu-buru, Nura langsung melewati Tio. Sayangnya Tio tak menyerah begitu saja. Ia terus mengejar Nira hingga keduanya kini sudah berada di teras.
Kakak beradik itu lalu sama-sama melihat ke arah Yon yang sedang duduk di teras rumah mereka.
Sadar kalau Nura sudah keluar lagi, Yon pun lantas menoleh dan berdiri. Pemuda itu sekilas beradu pandang dengan lelaki di belakang Nura. Ekspresi di wajah Yon tak berubah. Seolah ia sudah mengenali identitas Tio sebenarnya.
"Yon, kita berangkat sekarang. Yuk!" Ajak Nura terburu-buru.
Yon hanya mengangguk singkat. Akan tetapi langkah keduanya kembali ditahan oleh Tio.
"Sebentar dulu lah, Kak! Kakak gak mau kenalin Tio nih ke teman kakak ini?" Panggil Tio yang juga terburu-buru mendekati Nira dan Yon.
"Hello, Bro! Gue Tio. Adik nya Kak Nura. Mm.. kita udah pernah ketemu beberapa kali. Mungkin lo gak ingat tapi gue jelas banget inget muka Lo.." tutur Tio yang menyerobot untuk memperkenalkan dirinya sendiri ke Yon.
Sebenarnya dalam hati Tio, ia merasa gugup saat berhadapan dengan Yon. Karena ia masih diliputi kebimbangan tentang identitas Yon dan segala kemisteriusan kekuatan yang dimiliki oleh pemuda itu.
Tapi demi sang kakak, yang sepertinya malah dekat dnegan si Anak Baru, Tio harus memberanikan diri untuk mendekati Anak Baru itu juga.
__ADS_1
Tio ingin memastikan bahwa Yon adalah lelaki yang baik. Ia tak ingin jika Kak Nura berada dalam bahaya nantinya. Karena itu adalah tugasnya sebagai satu-satunya lelaki di keluarga kecil mereka ini.
***